Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Mengunci Tangan


__ADS_3

“Apa masih sakit?” Tanya Kalala bingung.


“Ya jelas lah sakit! Lagi pula, itu tangan apa beton sih! Gila sakit banget ke ulu hati,” ucap Edwin masih merasakan sakit di bagian perut dan ulu hatinya.


“Iya, iya maaf! Lagian kamu tiba-tiba ada di sini emangnya mau ngapain sih?!” tanya Kalala tidak ramah.


“Ngurus surat izin Shira!” jawabnya ketus.


“Shira? Memangnya kenapa dengan Shira?”


“Enggak kenapa-napa, dia izin lagi liburan bersama tuanku,” jawabnya.


“Liburan? Ke mana Shira liburannya? Kok dia enggak ajak-ajak aku sih,” ucap Kalala sambil mencebikkan bibirnya.


Edwin meliriknya sinis, sambil mencibir.


“Mana aku tahu! Lagi pula kalau kau diajak kau hanya akan jadi pengganggu mereka saja!” cetus Edwin dengan kasar.


Ucapan yang cukup kasar dari Edwin itu, langsung mendapat liliran sinis dari kedua mata Kalala. “Dih, biasa aja kali ngomongnya enggak usah ngegas begitu!”


“Udah, udah, cepat sekarang bantu aku buat ngurusin surat izin Shira ke dosennya,” ujar Edwin.


“Dih, urus aja sendiri!” Kalala hendak berdiri ingin meninggalkan Edwin sendiri di sana. Akan tetapi sebelah tangan Edwin lebih dulu berhasil menahan tangan Kalala. Membuat Kalala langsung menoleh dengan kesal.


“Lepasin gak?!” Kedua netra Kalala tampak membulat menakutkan.


“Bantu aku dulu, baru aku lepaskan,” ucap Edwin serius.


“Lepaskan!” Kalala berucap penuh penekanan.


Ia mencoba menepiskan tangan Edwin dari tangannya itu, akan tetapi sulit, dan sangat disayangkan lagi, sebelah tangan Kalala tidak bisa membantu karena harus memeluk buku-buku yang cukup banyak itu.


“Tuan Edwin! Lepaskan sekarang juga tau Anda akan—”


“Akan apa hah?” Edwin menatapnya penuh tantang, masih dengan tangannya yang menggenggam erat pergelangan tangan Kalala, tidak ingin melepaskannya.


Kini kedua mata mereka saling memandang satu sama lain. Bukan pandangan yang menggelora di dada, tapi pandangan penuh kekesalan di antara keduanya.


“Ekhem, masih pagi udah saling pandang aja, ini kampus loh,” ucap seorang mahasiwi yang berjalan melewati mereka, membuat Edwin dan Kalala langsung membuang wajah mereka masing-masing tidak ingin saling menatap.

__ADS_1


Tapi tetap saja, Edwin tidak melepaskan Kalala dari genggamannya.


“Ish!” Kalala hanya bisa mendesah kesal. “Ya udah ayo! Aku antar,” ucapnya terpaksa.


“Oke, ayo.”


“Tapi lepaskan dulu tanganku!” pinta Kalala mendelik sebal.


Edwin berdiri dari duduknya, ia mengangakat tangan Kalala yang digenggamnya. “Tidak akan! Karena aku bukan orang yang mudah ditipu!” ucapnya pelan penuh penekanan.


Lagi, Kalala hanya bisa mendelik sambil memutar kedua bola matanya merasa sebal. “Terserah!” ucapnya langsung berjalan menuju ruangan Pak Haru.


Sepanjang mereka berjalan tatapan mahasiwa dan mahasiwi yang melihat mereka seolah tampak aneh. Banyak yang menyangka kalau itu adalah pacarnya Kalala. Tapi tidak sedikit juga yang menyayangkan kalau lelaki itu benar pacarnya Kalala mereka menilai Kalala tidak cocok bersanding dengan lelaki tampan seperti itu.


“Ini, ruangan Pak Haru, kamu masuk saja ke sana,” ucap Kalala dengan malas.


“Baiklah.” Edwin melangkahkan kakinya hendak memasuki ruangan tersebut, masih dengan tangannya yang memegang lengan Kalala.


“Tuan Edwin! Tolong lepaskan tangan saya, Tuan!” pinta Kalala dengan geram.


Edwin menoleh. “Tidak, kamu juga harus ikut ke dalam untuk membantu saya berbicara dengan dosen itu!”


“Udah ayo.” Tarik Edwin mengajak Kalala masuk ke ruangan tersebut menemui dosen bernama Pak Haru.


***


Setelah selesai dengan perbincangan dan segala macam obrolan, kini Edwin dan Kalala pun bisa keluar dari ruang dosen tersebut.


Dan saat ini, Edwin sudah melepaskan tangan Kalala. Membuat Kalala sedikit bisa bernafas lega, karena jujur saja, Kalala merasa tidak nyaman jika dirinya disentuh oleh lelaki, termasuk ia tidak nyaman dengan perlakuan Edwin padanya seperti tadi.


“Udah ya, enggak ada urusan apa-apa lagi!” Kalala menggerutu karena saat ini ia harus buru-buru untuk masuk ke kelasnya.


“Iya, udah makasih,” ucap Ewin pelan.


“Bilang makasih tapi kayak gak ikhlas!” cibirnya.


“Terima Kasih Nona Kalala atas bantuannya,” lanjut Edwin membenarkan ucapan terima kasihnya. Mencoba bersikap setulus mungkin.


“Hm, sama-sama,” jawabnya malas lalu bergegas pergi meninggalkan Edwin di sana sendirian.

__ADS_1


“Huh, dasar  gadis galak!” umpat Edwin dan ia pun begegas pergi ke tempat parkir, di mana mobilnya berada.


Tidak lupa, ia juga mengirimkan pesan singkat lewat surel email kepada Akash.


(Subject : Tugas izin Shira sudah selesai, Tuan. – edwinaksn@demail.dom)


Sementara itu pelajaran pertama dikelas pun kini sudah selesai, sebentar lagi akan ada pergantian dosen. Dan beberapa orang masih sibuk menggosipkan masalah Kalala yang tadi pagi dengan lelaki asing.


“Hey Culun! Lo udah punya pacar ya sekarang?” tanya Kea sahabatnya Nancy.


“Apaan sih?” Kalala tidak ingin menjawabnya.


“Cie... yang culun udah dapet yang ganteng nih, pake pelet apa sih?” Sherly menggoda sambil memfitnah secara halus.


“Jaga ya omongan kalian! Lagian cowok tadi bukan pacar gue!” tegas Kalala dengan tatapan sinisnya mengarah ke mereka.


“Uhuhu ... syukurlah kalau lo bukan pacar dari pria tampan tadi. Lagi pula mana ada sih cowok yang mau sama cewek culun, dekil dan jelek kayak lo!” Sherly dengan puas mengolok-olok Kalala.


“Iya tahu gue dekil, culunc dan jelek. Dan kelak cowok yang mau sama gue cuma cowok buta!” Serunay agar mereka merasa puas.


“Ah hahaha, benar juga ya, kayaknya cuma cowok buat yang mau sama lo.”


Kalala kini terdiam, ia memilih fokus untuk menyiapkan mata kuliah selanjutnya. Ia tidak ingin menghabiskan waktunya dengan percuma hanya gara-gara masalah omongan dua orang yang tidak berguna itu.


Akan tetapi sejak tadi, ada sesuatu yang membelenggu di pikrian Kalala. Yaitu mengenai kepergian Shira yang secara mendadak, dan bilang kalau dia akan berlibur salama satu minggu lamanya.


“Shira kok bisa sih pergi liburan sama lelaki itu, lama banget lagi,” gumamnya dalam hati.


Dan anehnya lagi ternyata yang izin selama satu minggu dari kelas itu bukan hanya Shira saja, melainkan Boy juga. Kalala mendapat kabar setelah ketua kelas mengumumkannya.


“Aneh banget, kok bisa sih barengan izinnya satu minggu,” batin Kalala menerka-nerka.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Mohon maaf untuk bab 72-76 ada kesalahan naskah, insyallah secepatnya akan author perbaiki, jadi jangan dulu di baca ya gaes.


__ADS_2