Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Menanti Pertemuan


__ADS_3

Mentari pagi menebarkan cahaya indahnya di permukaan bumi. Udara pagi ini terasa benar-benar sejuk, jika dihirup rasanya paru-paru tengah beriang gembira karena mendapat oksigen yang luar biasa dari hari-hari sebelumnya. Dan Jackson saat ini tengah berdiam tepat di depan teras rumahnya, memandangi tanaman dan bunga hias yang basah berembun dari sisa hujan semalam.


Bibirnya melengkung, menarik dari pipi hingga ke telinga menampilkan senyuman indahnya serta binar mata yang tampak terang berbunga-bunga. Sepertinya keadaan hati Jackson saat ini tengah berada di atas rata-rata bahagia.


Mobil mercy berwana hitam pun tiba, lalu berhenti tepat tiga meter di depannya, dan muncullah seseorang yang tidak lain adalah Haru—sekretarisnya.


“Pagi, Tuan, maaf saya terlambat,” ucap Haru tidak enak hati, saat ia sadar dirinya terlambat lima menit dari jadwal yang seharusnya.


Namun, karena hari ini perasaan Jackson sedang senang, telat lima menit tidak akan menjadi masalah baginya. “Tidak apa-apa, ayo kita jalan saja,” ucap Jackson menebarkan senyuman manisnya, menampilkan dumple pipinya yang begitu memesona.


Haru sedikit terkejut mendengarnya, karena jika pada bisanya ia telat Jackson pasti akan memarahinya, tapi kali ini tidak. Tidak ingin berpikir aneh-aneh, lelaki berjas hitam ini langsung membukakan pintu untuk Tuannya tersebut.


“Silakan, Tuan.”


“Terima kasih,” ucap Jackson saat ia memasuki mobil tersebut.


___


Sementara itu, di pulau rahasia yang ditempati oleh Akash dan Shira, pagi ini di rumah kediaman mereka tengah terdengar keributan kecil, tapi tenang saja, itu bukan keributan karena sebuah amarah, melainkan keributan manja yang dilakukan oleh wanita cantik yang tengah berbadan dua.


Shira, yang tahu kalau hari ini Akash akan mengadakan pertemuan dengan Jackson dan membawa Kalala bersamanya, ia juga menginginkan dirinya diajak oleh suaminya tersebut. Namun Akash menentangnya dengan keras.


“Sayang ... please, aku juga pengen ikut, kalau aku gak boleh ikut ya udah Kalala juga harus di sini, jangan ikut sama kamu!” rengeknya yang terus bergelayut manja di lengan Akash.


“Enggak! Aku bilang enggak, ya enggak!”


“Ahhh... Sayang!” rengeknya semakin keras.


“Shira Sayang ... perjalanan ini terlalu bahaya buat kamu dan anak kita! Aku enggak bisa kalau harus ajak kamu ketemu sama Jackson. Lain kali aja ya Sayang ya,” ucap Akash membujuknya.


Shira yang sejak tadi bersikeras membujuk dan merayu Akash, ia pun sudah naik pitam. Habis sudah kesabarannya karena terus-terusan dilarang oleh suaminya tersebut.

__ADS_1


“Ya udah! Sekalian aja kamu pergi gak usah balik lagi!”


Akash berdecak. “Sayang ... tolong mengerti kali ini saja ya ... aku janji, nanti sepulang aku ketemu dengan Jackson aku akan ajak kamu jalan-jalan khusus keluar dari pulau ini, gimana?” tanya Akash mencoba membujuk istirnya yang benar-benar sedang manja itu.


Shira masih mencebikkan bibirnya, memasang muka juteknya tidak ingin melihat suaminya, meski Akash sudah menangkup kedua pipinya.


“Sayang ....” Akash memanggilnya pelan, berusaha mendapat tatap mata dari Shira.


“Ya udah pergi aja, nanti kalau ada apa-apa sama aku di sini, janga nyesel!” imbuhnya masih dengan intonasi suara yang terdengar kesal.


Akash mendesa pelan, menundukkan kepalanya menempelkan keningnya dengan kening Shira. Lalu, lelaki itu pun memelukknya, mendekapnya dengan penuh kehangatan.


“Baiklah, aku akan memikirkannya lagi,” ucap Akash pasrah, karena sebenarnya ia pun juga khawatir jika meninggalkan Shira di sini hanya dengan ibu serta pengawalnya saja.


Sementara itu, di dapur Kalala dan Edwin tengah sibuk membuat sarapan. Wanita itu tampaknya masih dilanda dengan rasa kalut di hatinya. Pikirannya masih tidak tenang akan pertemuan yang akan ia hadiri hari ini. Namun jelasnya, Kalala dan Edwin pun masih belum tahu jam berapa mereka akan mengadakan pertemuannya. Entah itu siang, sore atau malam.


“Edwin, kamu yakin mau ajak Kalala buat ketemu sama Jackson?” tanya Tessa yang tengah sibuk mengaduk-aduk spagethi di atas teflon.


“Tante berharap kedepannya hubungan kalian akan baik-baik saja. Tapi ingat Edwin, janganlah bermain api jika kamu tidak ingin terbakar,” ucap Tessa diiringi senyuman tipis, lalu mengambil piring untuk menuangkan spagheti yang sudah matang itu.


Edwin terdiam, mencerna perkataan yang baru saja Nyonya besarnya katakan. Jujur saja, mendapat petuah seperti itu, semakin membuat Edwin ragu dan takut, takut kalau hal buruk akan menimpa hubungan antara dirinya dengan Kalala.


“Sudah jangan dipikirkan, ayo kita sarapan dulu,” ajak Kalala, yang sebenarnya ia pun merasa takut mendengar ucapan Tessa barusan.


Edwin pun mengangguk lalu pergi ke ruang makan mengikuti Kalala.


***


Satu jam, dua jam, tiga jam, sudah beberapa jam Jackson menunggu kabar dari Edwin, akan tetapi untuk yang kesekian kalinya ia memeriksa ponselnya, pesan itu tidak kunjung masuk juga ke dalam ponselnya.


“Tidak mungkin ‘kan dia berbohong mengenai pertemuan hari ini? Kenapa dia tidak mengabariku?” gumamnya dalam hati, sambil memandangi layar ponselnya yang hanya menampilkan chat kemarin antara dirinya dengan Edwin.

__ADS_1


“Apa perlu aku telepon Kalala untuk memastikannya?” pikirnya, ia pun mengotak-atik kontak di ponselnya mencari nama Kalala di sana. Dan saat ia menemukannya ia pun langsung meneleponnya.


Namun, bukannya suara jaringan tersambung yang terdengar, malah melainkan suara operator yang mengatakan. “Maaf, nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi.”


“Aish! Kemana mereka ini? Kenapa tidak ada satu pun yang mengabariku? Apa pertemuan ini hanya aku sendiri yang excited menyambutnya?” rutuknya kesal.


“Argh! Sudahlah, aku tidak perlu berharap banyak akan pertemuan ini. Tapi, awas saja kau Edwin, kalau kau sampai mengingkari janjimu padaku, aku tidak akan tinggal diam!” umpatnya kesal.


Sementara itu, dikediaman rumah milik Tuan Baker, terlihat Asten yang tengah sibuk menelepon seseorang lewat sambungan handphonenya.


“Baiklah, tetap standby, aku akan mengabari kalian lagi nanti. Ingat! Jangan persiapkan semuanya, dan bawa barang yang aku inginkan,” ucap Asten diakhir pembicaraannya.


“Baik Nyonya, kami sudah menyiapkan semuanya, kami hanya menunggu aba-aba dari Anda saja, Nyonya.”


“Hm, baguslah. Aku akhiri dulu teleponnya,” ucap Asten menyunggingkan bibirnya, tersenyum jahat.


“Huft... penantian panjangku akan terbalaskan hari ini. Aku sudah tidak sabar menunggu mereka semua,” ucapnya dengan tatapan mata yang terlihat sinis dan sebelah alis yang diangkat meruncing.


“Kau lihat saja Akash, aku akan membuktikan siapa diriku sebenarnya. Dan aku tidak akan pernah membiarkan kebahagiaan menghampiri kalian!” gumamnya pelan lalu tertawa keras.


“Ah ha ha ha ha ha ....”


.


.


.


Bersambung...


Waduh detik-detik berakhir nih. Kira-kira gimana nih kelanjutannya? Ada yang bisa nebak? Haha.

__ADS_1


__ADS_2