Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Rencana Yang Gagal


__ADS_3

Asten menyimpan baki yang berisi dua piring omelet itu di atas meja makan. Menatanya di kursi yang biasa Akash duduki.


"Apa dia merencakan sesuatu untukku?" batin Akash merasa curiga. Kedua alisnya saling beratutan, ia mengulum lidahnya menatap Asten dari kejauhan dengan penuh selidik.


Akash tidak ingin mengambil resiko lebih dengan membiarkannya, ia harus mengacaukan apa yang sudah direncakan oleh ibu tirinya itu.


"Tumben, Tante ikut nyiapin makanan," ucap Akash dari belakang tiba-tiba. Yang langsung membuat Asten terkejut bukan main melihat kehadiran anak sambungnya di situ.


"Hah? Ah haha iya, ini kan pertama kalianya kamu dan istrimu menginap di sini, jadi tidak ada salahnya saya membantu menyiapkan sarapan untuk kita semua," ucap Asten tersenyum gugup.


"Oh ya?" tanya Akash menatap penuh curiga sambil sedikit menyipitkan matanya.


Asten yang terlihat sedikit panik, wanita itu berusaha sebisa mungkin untuk menutup rasa gugupnya.


"Hm, iya."


Keadaan pun semakin terasa canggung karena kini di ruang makan hanya ada mereka dan satu orang pelayan yang tengah menuangkan minuman ke dalam geals-gelas yang berjajar di meja.


Tidak lama kemudian Baker datang seolah memberi celah kepada Asten agar bisa bernafas lega. Wanita itu sedikit bisa mengurangi rasa gugupnya saat melihat kehadiran suaminya di sana.


"Ayahmu sudah datang, ayo duduk," ucap Asten mempersilakan Akash untuk duduk.


"Tidak terima kasih, aku akan duduk jika Ayahku sudah duduk terlebih dahulu," ucap Akash yang lebih mementingkan adabnya kepada Ayahnya.


"Oh, kau sudah ada di sini ternyata. Di mana istrimu?" tanya Baker mendekati kursi keagungannya.


"Sebentar lagi dia kemari," jawab Akash.


"Ya sudah, ayo duduk, kita tunggu Jakcson dan Istrimu datang," ucap Baker lalu mendudukan tubuhnya di kursi khusus miliknya.


Asten dan Akash pun bersama-sama duduk dengan posisi duduk saling berhadapan bersebrangan.


Tidak lama kemudian, Shira dan Jackson pun datang lalu ikut mendudukan tubuh di kursinya masing-masing. Jakson duduk di kursi bersebelahan dengan Asten. Sedangkan Shira duduk di kursi yang bersebelahan dengan Akash.


Akash masih mengawasi setiap gerak-gerik dari ibu tirinya itu. Ia sangat yakin kalau Asten sudah menaruh sesuatu di piringnya itu.


Ia harus mencari cara, bagaimana caranya agar ia dan Shira tidak memakan, makanan yang ada di piringnya saat ini.


Tiba-tiba sebuah ide tersemat di pikirannya. Ia tersenyum penuh maksud saat melihat saus dan air di meja makan.


Baker pun melakukan doa terlebih dahulu sebelum makan dimulai. Dan saat mereka hendak menyantap makanannya, Asten masih fokus memperhatikan Shira dan Akash.

__ADS_1


"Eh, Shira tunggu, jangan dulu memakannya," ucap Akash menahan Shria yang hendak menyuapkan potongan omelet itu ke mulutnya.


"Kenapa?" tanya Shira dengan polosnya, tanpa merasakan kecurigaan apa-apa.


"Bukannya kau suka saus barbaque?" tanya Akash, Shira pun mengangguk mengiyakan.


Akash pun langsung mengambil botol saus berbaque yang ada di tengah meja. Lalu membuka botol itu dan dengan sengaja Akash menuangkan saus berbaque itu ke omelet Shira begitu banyak. Membuat omelet itu dipenuhi dengan saus babaque yang berwarna cokelat itu.


Shira malah bengong melihat omelet miliknya dipenuhi saur barbaque, dan tentunya kini ia sudah tidak bisa memakannya. Dan raut wajah Shira pun tiba-tiba berubah menjadi muram.


Baker, Asten dan Jackson melihat perlakuan Akash itu dengan tatapan aneh.


"Sialan! Apa yang dia lakukan dengan piring istrinya itu!" gumam Asten dalam hati, merasa kesal, karena rencananya pasti akan gagal.


"Akash, kenapa sausnya kebanyakan? Kalau begini bisa-bisa omeletnya jadi asin," keluh Shira pelan, memandang suaminya dengan tatapan mendung.


"Maafkan aku Shira, emh, kalau begitu kamu makan punyaku saja ya," tawar Akash melebarkan senyumannya, dan saat ia hendak memberikan piringnya kepada Shira, dengan sengaja ia mengangkatnya dan menjatuhkan piring tersebut hingga piring beserta omelet itu pun jatuh ke atas lantai.


Prang.


Piring itu pun membelah jadi dua dengan sebagian serpihannya yang berhamburan.


Kini mimik wajah Asten tampak begitu kecut ia langsung berdiri dari duduknya. "Ya ampun Akash! Kok bisa sih sampai jatuh begitu, omeletnya jadi terbuang 'kan, kau ini pagi-pagi sudah membuat kekacauan?!" seru Asten tampak sedikit kesal.


Baker yang melihat respon berlebihan dari istrinya kepada anak sulungnya itu ia sedikit merasa aneh.


"Asten duduk!" titahnya tegas, membuat Asten yang tadi sempat refleks berdiri itu, ia langsung kembali mendudukan tubuhnya.


"Tidak perlu bersikap berlebihan seperti itu, Asten. Lagi pula itu hanya sebuah omelet! Biar pelayan mengambilkan omelet yang baru untuk mereka," ucap Baker menatapnya sinis.


"Sialan! Gagal sudah rencanaku untuk membuat mereka berdua mersakan sakit! Argh! Dasar anak sialan, dari dulu dia memang selalu menjadi pengacau rencanaku," batinnya memandang kesal ke arah Akash.


Shira hendak beranjak dari duduknya untuk membersihkan pecahan piring tersebut akan tetapi Akash menahannya.


"Jangan! Biarkan pelayan yang membersihkannya," ucap Akash menahan lengan Shira dengan kuat. Shira pun mengedarkan pandangannya ke arah Baker, Asten dan Jackson.


Lalu tidak lama kemudian, pelayan pun datang menghampiri mereka. Baker pun meminta pelayan itu untuk mengambilkan omelet baru untuk Shira dan Akash. Dan setelah selesai membersihkan pecahan dan omelet yang terjatuh itu pelayan itu pun bergegas pergi ke dapur untuk melaporkan kepada koki di sana, kalau Tuan Baker memesan omelet baru untuk anak sulung dan menantunya.


Kini Akash melirik ke arah Ayahnya. "Ayah, maafkan aku karena sudah mengacaukan acara sarapan pagi ini," ucap Akash sedikit merasa tidak enak, karena bagaimana pun kekacauan ini dia lah yang membuatnya secara sengaja.


"Sudah tidak apa-apa. Kalau begitu kita tunggu omelet Akash dan Shira siap, baru kita mulai sarapannya," tegas Baker kepada anggota keluarganya.

__ADS_1


***


Siang harinya, Shira dan Akash kembali ke kediaman mereka di sana mereka sedang bersiap-siap untuk packing, karena besok pagi adalah jadwal keberangkatan mereka ke Kanada.


Shira masih menyangka kalau acara bulan madunya itu tetap akan ke Kanada, sementara Akash, lelaki itu sepertinya tengah menyiapkan strategi agar mereka nanti jika transit dan berpindah bisa lolos dari si penguntit.


"Akash, baju kamu mau ditambah lagi gak?" tanya Shira yang tengah menata pakaian Akash ke dalam koper.


Akash masih terdiam di tepi ranjang sambil fokus mengotak-atik handphonenya.


"Akash!" panggil Shira. Tapi Akash masih terdiam fokus akan pikirannya sendiri.


"Akash ih! Dipanggil kok diem aja!"


Akash pun menoleh. "Hah? Iya ada apa?"


"Kamu kenapa sih? Pulang dari rumah ayahmu kok malah banyak bengong diem kayak begitu!"


"Hah? Oh aku enggak kenapa-napa kok," jawab Akash dengan tatapan kosong.


Shira mencebik kesal. Lalu kembali mengajukan pertanyaan sebelumnya. Dan Akash pun menjawabnya agar Shira tidak perlu menambah pakaiannya.


"Oh ya Shira, apa kamu bilang ke temanmu yang kemarin kalau kamu akan ke Kanada?"


"Tidak, memangnya kenapa?" Tanya Shira heran.


"Baguslah kalau begitu, nanti jika sudah di sana, kamu jangan mengaktifkan handphonemu ya, dan jangan membuka sosil media punyamu juga," ucap Akash.


"Loh, memangnya kenapa?" Shira masih sibuk melipat beberapa baju untuk di masukan ke koper.


Akash terdiam, ia sebenarnya bingung, apakah ia harus jujur kepada Shira kalau sebenarnya ada hal yang begitu membahayakan yang tengah mengancam mereka sekarang ini. Akan tetapi ia juga tidak mau membuat Shira bimbang dan ketakutan akibat dari kabar buruk itu.


Surat kaleng itu benar-benar membuat kepala Akash rasanya mau meledak. Ia sangat pusing, ingin rasanya ia sesegera mungkin memecahkan masalah ini, tapi waktu tidak memungkinkan, karena sekarang yang terpenting adalah menghilangkan jejak untuk beberapa waktu.


"Baiklah, aku akan mengatakannya kalau keadaannya sudah memungkinkan," batin Akash di dalam hati.


Bersambung....


hai teman-teman, besok hari Senin nih, boleh dong minta bantuan buat nambah votenya hehe, terima kasih buat pembaca tersayang semuanya.


Big love pokoknya.

__ADS_1


__ADS_2