Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Dia Memang Manis


__ADS_3

“Kau sudah siap, Shira?” tanya Akash meyakinkan istrinya.


Shira menarik nafas panjang. Ia mengangguk pelan menyetujuinya. “Iya, aku sudah siap,” jawabnya sedikit gugup.


“Ya sudah, ayo, kita jalan.” Akash pun mengajak Shira untuk keluar dari kamarnya, lalu menemui Tessa yang sudah menunggu mereka sejak sepuluh menit yang lalu.


Sore ini mereka akan pergi ke rumah Baker, untuk mengikuti acara makan malam bersama atas permintaan Akash, sekaligus malam nanti Akash juga akan memberi tahu ayahnya soal kehamilan Shira yang kini sudah menginjak 18 minggu.


Meski sebenarnya Shira masih ragu karena alasan ibunya Jackson yang takut melukai dirinya, ia juga jadi was-was, kalau seandainya nanti Nyonya Asten sudah tahu semuanya, apakah yang dikatakan Boy waktu itu akan terjadi?


Akash membukakan pintu mobil untuk istri sekaligus untuk mamanya. “Mama dan Shira duduk di belakang saja ya, aku biar sendiri menyetir di depan,” ucap Akash.


Shira dan Tessa pun masuk ke dalam mobil.


Tessa mengusap pelan puncak kepala menantunya itu, lalu menangkup sebelah tangan Shira denagn kedua tangannya.


“Tenang ya, Shira. Kalau pun Asten atau pun Jackson berbuat macam-macam, Akash, Mama, Edwin dan para bodyguard akan selalu mengawasi kamu. Kamu tenang saja, kamu dan bayimu akan selalu ada dalam lindungan Tuhan.”


Shira menarik nafasnya pelan, ia tersenyum kepada ibu mertuanya itu, sambil mengangguk mencoba menenangkan diri, meski ketakutan tetap menyelimuti hati dan pikirannya. “Iya, Bu.”


“Sudah pakai sabuk pengaman?” tanya Akash memastikan, sebelum ia melajukan mobilnya.


“Sudah,” jawab Tessa dan Shira bersamaan.


“Baiklah, kalau begitu kita jalan sekarang.” Akash pun menginjal pedal gasnya, melajukannya dengan kecepatan sedang meninggalkan halaman rumahnya.


***


Setelah bangun tidur dari istirahatnya, Kalala pun menggeliatkan tubuhnya, meregangkan punggungnya ke kanan dan ke kiri sambil menarik tangan ke atas.


Krek, krek.


Suara tulang punggung yang membuat rasa nikmat dan menghilangkan pegal membuat Kalal semakin melengkingkan tubuhnya ke belakang, lalu setelahnya ia kembali duduk di tepi ranjangnya dengan lesu.


“Hoam ....” Ia menguap sambil menggaruk kepalanya yang sedikit gatal itu, lalu pergi ke luar kamarnya untuk menemui mamanya.


Sambil meniti anak tangga, ia memanggil manggil mamanya dengan suara yang cukup keras.


“Udah gede juga masih teriak-teriak manggil Budhe!” seru Ardian yang hendak naik ke lantai atas berpapasan dengannya.


“Yeee... biarin aja kali! Mulut-mulut aku!” jawabnya sewot.


“Gue gak nyangka, selain galak lo juga play girl ya.” Ardian menyeringai lalu kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.


“Play girl, play girl, pacaran aja enggak pernah gimana ma—” Perkataan Kalala terhenti saat ia baru saja menginjakkan kakinya di anak tangga paling bawah.


Kedua mata Kalala membeliak sempurna, saat netranya itu mendapati sosok seseorang yang dikenalnya sudah duduk di atas sofa sana bersama mamanya.

__ADS_1


“Tidak, ini pasti mimpi,” gumamnya sangat pelan, masih melongo melihat ke arah ruang tengah.


“Kalala, ini ada tamu katanya—”


“Tidak!” teriak Kalala menyela ucapan Mamanya, sambil melongo penuh keterkejutan.


“Sial, bisa-bisanya dia ada di sini! Sedangkan penampilanku saat ini ... Aish!” umpatnya dalam hati.


“Kalala, dia katanya te—”


“Aku harus pergi,” batin Kalala langsung berlari kembali menaiki anak tangga, bahkan di saat panik seperti ini bisa-bisanya kakinya itu terpeleset, hingga membuat sebelah tulang betisnya terbentur sisi tangga, membuat Kalala mengaduh kesakitan, tapi dari pada merasakan rasa sakit ini, ia lebih tidak ingin penampilannya yang memalukan di lihat oleh Edwin.


“Eh, Kalala!” Sarah berdiri dari duduknya melihat tingkah laku anaknya yang dirasa sangat aneh.


“Ya ampun, Nak Edwin, maaf ya, Kalala kayaknya ngelindur, baru bangun tidur soalnya,” ucap Sarah tidak enak hati.


Edwin yang sejak tadi melihat kehadiran Kalala dengan rambut yang acak-acakan, hanya memakai celana pendek di atas lutut serta kaos oblong putih yang cukup besar, benar-benar membuat tampilan Kalala cukup manis dan menggemaskan di mata Edwin, padahal kalau orang lain yang melihatnya penampilan Kalala tadi itu seperti singa baru bangun dari tidurnya.


“Iya, Tante tidak apa-apa,” jawabnya tersenyum tipis, menahan tawa bahagianya bisa melihat Kalala yang berpenampilan seperti itu.


“Ya sudah, nanti biar Tante suruh dia mandi dulu, baru ketemu kamu,” ucap Sarah.


“Niss,” panggil Sarah memanggil nama adiknya.


Tiba-tiba, Ardian kembali turun dari tangga.


“Eh, Ardian kemari, tolong temani dulu ya Nak Edwin ini, Budhe mau nengokin dulu Kalala di atas,” ucap Sarah.


“Kaget ya, tadi liat penampilannya?” tanya Ardian sok asik dan sok dekat.


Edwin tersenyum mesem, menahannya agar tidak tertawa. Ia mengangguk, sambil menundukkan wajahnya yang tengah berseri-seri dengan kedua pipi yang sedikit kemerahan.


“Hm, tapi dia manis,” jawabnya.


“Hoek!” Ardian bereaksi terlalu lebay. “Manis apaan! Asem bau ketek begitu di bilang manis,” ucapnya sambil melahap kacang sukro yang ada di tangannya. Edwin tidak menjawab, lelaki itu hanya bisa merekahkan senyumannya mendengar ucapan Ardian.


Sementara itu, jantung dan perasaan Kalala kini tengah berdebar hebat. Wanita itu dibuat salah tingkah dengan kehadiran Edwin di rumahnya.


“Ya Tuhan, memalukan, memalukan, memalukan!” ucapnya geregetan, sambil berjalan bolak-balik tidak karuan.


Ia mengusap wajahnya dengan kasar. “Aish... kenapa dia bisa tiba-tiba muncul di sini sih! Mana penampilanku tadi kacau sekali lagi, aaaaa .....” Kalala merasa begitu frustrasi.


Ia berdiam di depan cermin rias miliknya, memandangi pantulan wajah dan penampilannya di dalam cermin besar itu.


“Huft... tamatlah sudah kau Kalala, Edwin sudah mengetahui keburikanmu,” ucapnya pelan memasang wajah yang sendu seolah kecewa pada dirinya sendiri.


Selagi berdiam memandangi dirinya sendiri, tiba-tiba suara ketukan pintu kamar terdengar.

__ADS_1


Tok, tok, tok.


Di susul dengan suara mamanya yang memanggil namanya. “Kalala.”


“Mama,” gumamnya pelan.


“Iya, Ma, masuk aja,” teriak Kalala dari dalam, buru-buru duduk di tepi ranjang.


Pintu terbuka, Sarah pun masuk mendekati Kalala.


“Kalala, kamu lagi ngapain diem begitu?”


“Enggak nagapa-ngapain, Ma. Masih negrasa kaget aja.”


“Kaget sama Nak Edwin?”


Kalala mengangguk lemah, lalu mendongak menatap wajah mamanya. “Ma, kok dia bisa ada di sini sih? Kapan datangnya?” tanyanya menatap resah.


Sarah tersenyum. “Emh, sejak satu jam yang lalu, mungkin. Dia ke sini katanya memang sengaja mau ketemu sama kamu, sekaligus dia juga bawain titipan Shira.”


“Tititpan Shira?” Kalala mengerutkan dahinya.


Sarah mengangguk. “Iya, katanya Shira mau ngasih cotto Makassar buat Mama, tapi kamunya lupa enggak bawa. Jadi Nak Edwin yang nganterin ke sini, sekaligus dia mau ngobrolin hal penting sama kamu.”


Kalala menautkan kedua alisnya. “Hal penting?”


“Iya! Kamu sekarang cepat mandi deh, itu rambut udah acak-acakan kayak singa. Terus abis itu dandan yang cantik,” ucap Sarah seolah bermaksud lain.


"Hah, dandan?"


“Tumben Mamah nyuruh aku dandan?” gumamnya dalam hati.


Karena jujur saja, sejak kasus saat Kalala masih SMP itu, Sarah selalu melarang anaknya berpenampilan cantik, dan selalu menyuruh Kalala untuk memakai pakaian yang kuno bahkan sebagian pakaiannya hanya kaos-kaos oblong disamakan dengan Ardian.


“Mama ke bawah lagi ya, mau nemuin temanmu itu, cepat mandi sana,” ucap Sarah tersenyum, lalu segera pergi meninggalkan kamar Kalala.


Kalala masih duduk termenung mendengar perintah mamanya. “Ada apa sebenarnya? Terus, apa tujuan Tuan Edwin datang ke sini?” batin Kalala terus berpikir keras.


"Ah, sudahlah lebih baik kau mandi dulu."


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Hai readers kesayangan, author boleh minta bantuannya enggak untuk bantu vote lindungi karya author yang berjudul Menikahi Pria Misterius di banner Karnaval Toon.


Yang sudah kirim dukungan dan vote buat cerita Akahs dan Shira ini, author sangat berterima kasih sekali. Semoga yang maha kuasa membalas kebaikan kalian semua. Aamiin.


__ADS_2