Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Menyuapi Dua Pria Manja


__ADS_3

Setelah pamit kepada Shira dan Tessa, Kalala  dan Edwin pun pergi untuk kembali menjenguk Jackson ke rumah sakit. Dan tepat hari ini, adalah hari ke empat Jackson sudah sadar dari masa kritisnya.


Sementara itu, sejak kemarin Kalala masih sibuk berganti tugas dengan Baker dalam menjaga Jackson. Dan hari ini Kalala akan ditemani oleh Edwin. Karena dalam beberapa hari kemarin Edwin masih sibuk mengurus data-data perpindahan dan pergantian nama Akash dan Shira.


Kalala masuk ke dalam ruang rawat milik Jackson, sebelumnya tentu ia mengetuk pintunya terlebih dahulu. Baker dan Jackson yang tahu akan kedatangan Kalala, keduanya tampak senang. Namun, raut wajah Baker tiba-tiba berubah datar saat Edwin ikut masuk ke dalam.


“Pagi, Tuan,” sapa Kalala dengan senyuman cerahnya yang biasa ia tampilkan di depan Baker saat menyapanya.


“Hm, pagi,” jawab Baker terdengan dingin.


“Kalala, kamu datang bareng Edwin?” tanya Jackson, biasa saja, lelaki itu selalu merasa senang jika ada Kalala yang selalu menghiburnya akhir-akhir ini.


“Emh, iya ... kebetulan pekerjaannya hari ini tidak terlalu banyak, jadi bisa kesini, sekalian jenguk dan mau jagain kamu,” jawab Kalala, tersenyum manis.


Jackson mengangguk tersenyum. “Hm, begitu ya.”


“Ya sudah, Ayah, kalau begitu Ayah biar istirahat saja, nanti Ayah bisa kemari lagi saat malam,” ucap Jackson.


Baker hanya menoleh sejenak, lalu mengangguk pelan. “Ya, Ayah akan pergi menemui dokter dulu. Dokter bilang ada hal yang harus dibicarakan soal kesehatanmu ini.”


Semuanya terdiam.


“Nanti, akan Ayah kabari. Kalau begitu Ayah pamit, ya.” Jackson mengangguk pelan, masih terbaring di tempat tidurnya.


“Kalala, tolong jaga anak saya ya,” ucap Baker, menepuk sebelah bahu Kalala.


“Baik, Tuan.”


Baker pun menganggukan kepalanya, lalu melirik sinis kepada Edwin sejenak, kemudian keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


“Apa kau sudah sarapan?” tanya Kalala, saat ia duduk di atas kursi di samping brankar Jackson.


“Belum.”


“Baguslah, aku membawakan bubur ayam untuk kamu. Ini special, aku yang buat loh,” ucap Kalala menyimpan tas kecil yang dibawanya di atas nakas, lalu mengeluarkan satu mangkuk bekal di dalamnya yang berisi bubur ayam buatannya.


“Apa kau akan menyuapinya?” tanya Edwin, saat ia melihat Kalala sedang mengaduk-aduk bubur tersebut.


Kalala yang selalu jujur, ia mengangguk. “Kenapa memangnya?” tanyanya dengan polos.


Raut wajah Edwin seketika berubah, kedua alisnya menaut merasa tidak suka saat tahu kalau pacarnya itu akan menyuapi Jackson.


Jackson tiba-tiba terkekeh, saat melihat raut wajah Edwin yang berubah sedikit lucu. Karena baru kali ini Jackson melihat raut wajah berbeda dari Edwin yang seringnya memasang wajah datar dan kaku.


Kalala langsung menoleh. “Kenapa tertawa?”


Edwin pun ikut menoleh heran ke arah Jackson.


“Cemburu?” Kalala langsung mengalihkan pandangannya kepada Edwin, sambil tersenyum menggoda, karena ketahuan kalau pacarnya itu tengah cemburu padanya.


“Apa benar, kamu cemburu padaku?” tanyanya sengaja, dengan suara yang terdengar menggemaskan.


Kedua pipi Edwin langsung memerah, layaknya buat tomat. Lelaki itu malu, saat Jakcson menjelaskan kalau ia tengah cemburu padanya. Lalu, Edwin pun membuang pandangannya, sambil menunduk.


Kalala langsung mendepak tangan Edwin. “Uh, gemesin banget sih!”


“Aw!” pekik Edwin, pura-pura kesakitan, karena tangannya yang baru sembuh itu baru saja disenggol dengan sengaja oleh Kalala.


“Aduh! Maaf, sakit ya?” tanya Kalala.

__ADS_1


“Hm!” jawabnya ketus.


“Duh, maaf ya, aku lupa kalau tangan kamu masih sakit.” Kalala menggaruk kepalanya merasa tidak enak.


“Sudah tidak apa-apa! Mana, bubur punyaku?” tanya Edwin. Kalala mengambilkannya dan menaruh terlebih dahulu bubur milik Jackson.


Saat Kalala menyodorkan mangkuk tersebut, Edwin malah diam tidak menerimanya.


“Aku tidak bisa memakannya sendiri, tanganku sakit!” keluhnya pelan, karena merasa malu. Padahal sebenarnya tangannya tidak begitu sakit, hanya saja sepertinya Edwin ini ingin dimanja oleh Kalala.


Jackson kembali terkekeh, karena paham akan maksud dari Edwin yang ingin makan disuapi oleh Kalala juga.


Kalala menarik nafas. Hingga pada akhirnya, kini tangan Kalala tengah dibuat sibuk untuk menyuapi dua lelaki manja yang ada di sampingnya. Satu kali suap kepada Jackson, satu kali suap kepala Edwin, ia melakukannya dengan sabar, layaknya seorang ibu yang tengah menyuapi anak-anaknya makan.


Jackson yang disuapi sambil bersandar di tempat tidurnya, serta Edwin duduk di depan Kalala, menarik bangku yang ada di sudut ruangan agar ia bisa berhadapan langsung dengan pacarnya itu.


Sungguh, ini adalah salah satu moment yang cukup lucu dan menyenangkan bagi mereka bertiga, yang kemungkinan tidak akan pernah terulang di masa depan.


Dan hari ini, Jackson dibuat senang oleh mereka, mengobrol dan bercanda bersama-sama. Sebelum pada akhirnya sebuah kabar buruk datang, tepat saat Baker kembali di malam hari.


“Kalala, saya ingin berbicara denganmu,” ucap pria tua itu.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


Wah kira-kira apa nih kabar yang dibawa sama Tuan Baker?


Ramaikaan kolom komentarnya ya, jangan lupa like dan votenya terima kasih.


__ADS_2