Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Keadaan Mencekam


__ADS_3

“Tuan, sadarlah, jangan tertidur di bahuku,” ucap Kalala mencoba membangunkannya. Akan tetapi Jackson masih tidak merespon.


Dan tiba-tiba ....


Duk ....


Kepala Jackson terbentur ke sisi meja, karena lelaki itu benar-benar sudah kehilangan keseimbangan dan sudah tidak sadarkan diri.


Kalala yang melihatnya ia langsung menganga, lalu menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.


“Tuan!” pekiknya panik. Buru-buru Kalala membenarkan posisi Jackson dan memundurkan tubuhnya untuk direbahkan di sisi sofa.


“Ya ampun, sampai merah,” ucapnya panik.


Buru-buru Kalala berdiri dari duduknya, lalu berusaha mengangkat tubuh Jackson yang cukup berat itu mencoba menaikkannya ke atas sofa panjang yang sejak tadi didudukinya.


“Astaga daragon! Berat banget, uh, ini tubuh apa beton sih!” keluh Kalala masih berusaha mengangkat tubuh Jackson ke atas sofa.


Tampak sekali dari ekspresi wajah kalala, apalagi melihat urat-urat di tangannya yang ikut berjuang menahan beban dari tubuh Jackson.


Dan hingga akhirnya ia pun berhasil membaringkan tubuh kekar lelaki itu di atas sofa. Ia menepuk-nepukkan tangannya pelan. Lalu mengusap sedikit keringat di dahinya menggunakan punggung tangan.


“Huh! Akhirnya bisa juga,” ucap Kalala kelelahan.


Ia memandang wajah tampan lelaki itu. Ia seolah tidak asing dengan wajah tersebut, akan tetapi ia lupa apakah dirinya pernah bertemu sebelumnya atau ia hanya merasakan sesuatu semacam de javu.


Dari pada memikirkan yang lain, lain, kini matanya terfokus ke arah memar merah yang terdapat di dahi bersih lelaki itu.


Kalala pun membuka kotak P3K yang tersedia di kamar mandi di kamar hotel itu. Lalu ia pun mengeluarkan obat khusus memar, agar memarnya itu tidak sampai menjadi benjolan.


Kalala duduk di atas karpet, tepat di sisi wajah Jackson.


Ia menuangkan obat anti memar itu ke selembar kapas yang ada di tangannya. Lalu perlahan ia mengusapkannya di atas jidat Jackson yang merah memar itu. Mengobatinya pelan-pelan dan penuh kelembutan. Setelah itu, ia kembali membereskan obat P3K itu dan menyimpannya di atas meja. Lalu, ia pun bergegas untuk segera keluar dari kamar tersebut.


Akan tetapi, sebuah pemandangan yang tidak mengenakan membuat dirinya undur. Ia memandang ke arah Jackson yang tertidur tanpa bantal atau pun selimut. Dan Kalala pun berinisiatif untuk mengambilkan bantal serta selimut untuk Jackson.


Setelah mengambil satu bantal dan selimut putih tebal, Kalala kembali mendekati Jackson, perlahan dan dengan hati-hati ia mengangkat kepala Jackson lalu menyimpan bantal di bawah tengkuknya, dan kini Jackson pun bisa tertidur dengan bantal empuk yang menyangga kepalanya.


Hanya saja, saat Kalala hendak melepaskan tangannya dari bawah bantal, ia sedikit kesulitan karena tangannya terjepit.


Dan saat ia berusaha melepaskan tangannya dari bawah bantal itu, tiba-tiba Jackson merangkul tubuhnya, mendekapnya hingga membuat Kalala terjatuh menumpu tubuh Jackson.


Jantung Kalala langsung berdebar tidak karuan, jarak wajah diantara mereka benar-benar sangat dekat. Dadanya kembang kempis, seiring dengan deru nafas mereka yang terasa saling bersahutan.


“Astaga! Tuan, tolong lepaskan! Saya bukan guling, Tuan, saya manusia.” Kalala masih berusaha menjauhkan tubuhnya dari dekapan Jackson, akan tetapi Jackson malah mengeratkan pelukannya itu sambil tersenyum lebar seolah tengah memimpikan sesuatu.


Dan dengan paksa, Kalala memundurkan tubuhnya menjauh dari Jackson. Dan gerakannya itu hampir saja membuat Jackson terbangun dari lelap tdiurnya.

__ADS_1


“Temani aku,” gumam Jakcson tidak sadar, dengan suranya yang parau dan terdengar lemah.


“Huft! Untung saja, aku bisa meloloskan diri,” gumam Kalala, membenarkan pakaiannya yang sedikit berantakan itu.


Ia pun membalutkan selimut tebal itu di setengah badan Jackson, lalu mengatur temperatur AC, agar tidak terlalu dingin, ia mengalihkannya ke 20 derajat celcius. Dan setelah semuanya dirasa selesai, baru lah Kalala keluar dari kamar tersebut.


Ia meregangkan otot-otot tangan dan lehernya. Memijit sebelah bahunya yang terasa pegal. Lalu ia pun pergi menuju ruang ganti khusus para karayawan hotel.


“Mbak, saya pulang dulu ya,” pamit Kalala kepada salah satu temannya yang kebagian jaga malam.


“Loh, saya kira kamu udah pulang dari tadi. Wah, ngelayanin Tuan pemilik hotel pasti capek ya,” ucap Desi rekan kerjanya.


“Hm, ia capek banget. Harusnya sih dapet bonus kalau begini haha,” jawab Kalala diiringin gurauan soal gaji.


“Tenang aja, biasanya kalau kamu kepakai kerjanya, pasti bakalan dikasih bonus kok,” jawab Desi. Setelah itu pun Kalala pamit pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Kalala berdiam di depan jalan raya sebrang hotel. Ia tengah menunggu datangnya ojek onlen yang dipesannya.


Jalanan malam ini sudah tampak sepi sekali. Hanya ada beberapa kendaran yang berlalu lalang di jalan sana.


Dan setelah menunggu kurang lebih 10 menit, ojek yang dipesannya pun datang.


“Kalala ya?” tanya Abang ojek itu.


Ojek online yang memakai jaket hitam serta menggunakan motor yang berbeda dari motor yang tertera di aplikasi.


“Maaf ya, pakai motor yang beda dengan di aplikasi.”


“Oh, i-iya. Tapi, kenapa enggak pakai jaket khusus?” tanya Kalala sedikit curiga, apalagi Abang ojeknya terbilang masih muda, hanya saja ada sedikit aura-aura tidak mengenakan yang Kalala rasakan dari Abang ojek tersebut.


“Anu, itu jaketnya keujanan, jadinya pakai jaket yang saya punya aja,” jawabnya. Kalala ber-oh panjang sambilng mengangguk pelan.


Lalu ia pun segera naik ke tas motor matic tersebut. Masih dengan pakaiannya yang terbilang cukup sexy karena Kalala tidak sempat ganti baju karena ingin buru-buru pulang.


Abang ojek itu, membawanya pergi menuju alamat rumahnya, hanya saja, saat dipertigaan lampu merah, tiba-tiba Abang ojek itu membelokan motornya ke arah yang salah.


“Loh, Bang, tapi jalan ke rumah saya lurus enggak belok,” ucap Kalala sedikit ketakutan.


“Tenang saja, saya bawa kamu lewat jalan pintas, di depan sana tadi ada kecelakaan, makanya jalannya di tutup sementara lagi olah TKP.”


“Benarkah?” tanya Kalala sedikit takut.


“Iya, tenang aja, saya bukan orang jahat kok,” ucap Abang ojek tersebut.


Meski si Abang ojek bilang seperti itu, akan tetapi hati Kalala masih merasa bimbang, ia cukup takut, karena semakin lama, Abang ojeknya ini membawanya melewati jalan yang semakin terasa sepi.


“Bang, jalannya kok makin sepi ya. Apa enggak salah jalur?” tanya Kalala dengan pikiran dan perasaan yang sudah tidak tenang.

__ADS_1


“Benar kok Mbak jalannya ke sini.”


“T-tapi—”


Belum sempat Kalal meneruskan ucapannya, tiba-tiba motor yang ditumpanginya itu berhenti mendadak di sisi jalanan yang cukup sepi, yang di pinggir-pinggrinya terdapat bangunan kosong dan jerami yang tinggi.


“Loh, Bang motornya kenapa?” tanya Kalala waspada, langsung turun dari motor tersebut.


“Waduh, kayaknya motornya mogok, Mbak,” jawab Abang ojek tersebut lalu melepas helmnya. Ikut turun dari motor dan melirik ke arah Kalala dengan tatapan yang sulit di artikan.


Dug, deg, dug, deg, jantung Kalala semakin berdebar tidak karuan. Tangannya sudah tremor gemetaran. Ketakutan yang sejak tadi menyelimuti pikirannya seolah semakin membuncah. Ia memundurkan langkahnya masih dalam mode waspada.


“Mbak, tunggu sebentar ya, saya cek dulu motornya,” ucap Abang ojek tersebut, menyeringai.


Kalala mengangguk, sambil terus memundurkan langkahnya sedikit demi sedikit menjauh dari Abang ojek tersebut.


Abang ojek itu membuka bagasi motornya, lalu mengambil sebuah benda yang tidak bisa dilihat dengan jelas oleh mata Kalala.


“Mbak cantik, kenapa berdirinya jauh-jauh? Sini di dekat saya aja, takut loh di situ gelap,” ucap Abang ojek dengan nada suara yang cukup membuat bulu kuduk Kalala merinding dan bahunya bergidik.


“Mbak, udah punya pacar belum?” tanya Abang ojek penuh goda, yang tiba-tiba berjalan mendekat ke arah Kalala dengan tatapannya yang cukup membuat Kalala tahu, kalau itu adalah tatapan dari lelaki yang sedang menginginkan sesuatu.


“Tidak, jangan mendekat!” teriak Kalala bergetar ketakutan.


Lelaki itu menyeringai, mengusap dagunya sambil menatap Kalala dari atas hingga bawah seolah tengah menikmati kecantikan dan kemolekan tubuh Kalala.


“Kamu, sexy banget ya, Beby.”


.


.


.


Bersambung....


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2