Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Makan Bersama


__ADS_3

Shira yang tahu Kalala tengah mematung di pintu, ia pun buru-buru menghampiri temannya itu.


“Suamiku pasti sudah pulang,” gumamnya.


Dan benar saja, saat Shira keluar, Akash dan Edwin tengah berjalan mendekat padanya.


“Akash, ka-kamu sudah pulang? Kok cepat?” tanya Shira.


Akash melebarkan senyuman manisnya. Lalu mendekat dan merangkul Shira. “Iya, hari ini pekerjaanku lebih cepat dari biasanya,” jawabnya.


Kalala menyembunyikan kantung berisi bakso itu kebelakang punggungnya. Sedangkan Edwin, mata lelaki itu terus melirik curiga padanya.


“Kantong apa itu?” tanya Edwin.


Kalala menoleh sedikit panik. “Hah, ah ini ... emh, bakso,” jawabnya sambil tersenyum kaku menampilkan deretan gigi putihnya.


“Bakso? Kamu nyuruh dia beli bakso?” tanya Akash pada Shira.


Shira menggeleng pelan. “Hah, e-enggak kok, itu Kalala yang pesan, iya kan, Kal?” tanya Shira sedikit melebarkan matanya memberi kode.


“Menyebalkan! Aku lagi yang kena imbasnya,” batin Kalala.


“Hah, i-iya, ini bakso buat aku kok, kan lagi dingin-dingin begini enaknya makan yang anget-anget pedes,” jawabnya terpaksa, sambil sedikit mendelik ke arah Shira.


“Oh, aku kira, kamu yang sengaja nyuruh temanmu beli bakso. Ingat! Kamu lagi sakit, kalau enggak ada aku, jangan makan yang aneh-aneh ya!” tegas Akash pada Shira.


“Yah... baksoku ....” Shira mengeluh dalam hati, terpaksa harus merelakan bakso yang diinginkannya, karena terlalu takut akan larangan suaminya.


Mereka pun masuk ke dalam. Sementara Kalala dan Edwin pergi ke dapur.


“Ngapain kamu ngikutin aku?” tanya Kalala saat ia hendak membuka pintu dapur.


“Geer! Siapa juga yang ngikutin kamu! Aku mau ambil minuman di dalam!” serunya.


“Oh ... ku kira kau mengikutiku,” jawab Kalala pelan sambil membulatka bibirnya.


“Sungguh percaya diri sekali, dia ini,” gumam Edwin dalam hati.


Kalala mengeluarkan dua mangok berukuran cukup besar, lalu menuangkan dua kantung bakso tersebut ke dalam mangkok.


Edwin meraih satu kaleng es kopi dari dalam kulkas. Ia menoleh ke arah Kalala melihat gadis itu tengah menuangkan bakso yang cukup banyak.


Lalu ia pun mendekat, sambil bersender di meja bar di samping Kalala.


“Kau makan bakso sebanyak itu?” tanya Edwin, sambil meneguk minuman kopi yang baru saja dibukanya.


“Kau pikir saja,” jawab Kalala simple, masih sibuk menyisikan kantong baksonya.


“Rakus sekali,” gumam Edwin pelan.


Mendengar kata tersebut, Kalala langsung menoleh tajam. “Kau bilang apa?!” tanyanya melotot.


Edwin tersentak. “Apa? ... Aku tidak bilang apa-apa,” kilahnya, karena tidak ingin ribut yang berbuntut panjang.


“Memangnya aku tidak dengar apa! Kau barusan mengumpatiku!”


Edwin mendesah pelan. “Tidak, Kalala ... mana mungkin aku mengumpati Nona Cheetah sepertimu,” jawabnya.


“Apa?! Nona Cheetah?”


“Iya, kau kan galak seperti cheetah, jadi mana mungkin aku mengumpatimu,” ucap Edwin tersenyum paksa.

__ADS_1


Kalala mengerungkan dahinya, ini untuk pertama kalinya ia melihat Edwin tersenyum padanya. Meski senyumannya sangat tampak kaku sekali.


Hening .... Kalala kembali mengaduk-aduk dua mangkuk bakso yang sudah tersaji di hadapannya itu.


Edwin kembali menoleh kepada Kalala. Sejak tahu kalau Kalala sudah mengaku akan hubungan mereka pada Jackson, Edwin sedikit merasa sedih, entah kenapa, tapi seolah ada yang mengganjal di hatinya, dan ada hal yang ia takutkan, jika Kalala benar-benar menerima tawaran dari Jackson.


“Gimana?” tanya Edwin pelan, yang sudah tidak tahan ingin bertanya pada mantas pacar bohongannya itu.


“Gimana apanya?” tanya Kalala, menoleh kepada Edwin.


“Tawaran tuan Jackson padamu?” tanya Edwin pelan, seolah ragu.


Kalala terdiam, kembali memikirkannya. “Entahlah, aku pun bingung harus mengambil keputusan bagaimana.”


“Kenapa bingung?”


“Ya namanya orang bingung pasti karena bingung. Malah nanya kenapa!” jawabnya ketus.


Edwin tidak ingin terpancing oleh jawaban ketus dari gadis yang ada di sampingnya itu.


“Kau tertarik, bukan?”


“Tertarik apa?”


“Tawarannya.”


Kalala terdiam, ia bingung harus mengatakan iya atau tidak.


Hening dalam beberapa detik. Keduanya terdiam dalam pikirannya masing-masing.


“Jika seandainya ada orang lain yang menawarkan tawaran yang sama padamu, apa kau akan menolak tawaran dari tuan Jackson?” tanya Edwin, pelan, menatap dengan serius.


Kini kedua mata mereka saling bertautan. Menatap dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


“Kalala!” panggil Shira tiba-tiba, yang sudah muncul di balik pintu masuk ke dapur.


Kalala menghentikan ucapannya yang masih menggantung pada Edwin. Ia menoleh kepada sahabatnya itu.


“Kenapa kau kemari?” tanya Kalala.


Shira tidak menjawab, ia mendekat lalu menggelayutkan tangannya di lengan Kalala dengan manja.


“Baksonya sisakan untukku ya,” bisiknya.


Kalala tersenyum kecut, sudah tahu niat dari sahabatnya itu. “Dasar kau ini! Tidak bisa, dua mangkuk bakso ini sudah menjadi milikku,” jawabnya pelan agar tidak terdengar oleh Edwin.


“Ah... Kalala, please ya....” rengeknya pelan.


Kalala tidak menggubris rengekan sahabatnya itu. Ia pun kembali mengalihkan fokusnya pada Edwin.


“Tuan Edwin, apa kau ingin bakso?” tanya Kalala.


“Yah... Kalalal.” Shira masih merengek.


“Kenapa memberikannya padaku?” tanya Edwin begitu heran.


“Tidak apa-apa, aku hanya tidak ingin makan sendirian. Kalau kau mau, mari kita makan bersama di sana.” Tunjuk Kalala ke arah meja makan kecil yang ada pojok sana.


"Uhuk, uhuk." Edwin langsung terbatuk mendengar ajakan dari Kalala.


“Please... Kalala ....” Shira masih berharap kalau Kalala akan menyisakan sedikit bakso untuknya.

__ADS_1


Edwin masih bengong, ia terheran-heran dengan sikap Kalala yang tiba-tiba cukup ramah padanya, bahkan sampai menawarinya makan bersama.


“Kenapa diam saja? Ayo bawa mangkukmu ini,” seru Kalala.


Buru-buru Edwin manaruh kaleng kopi yang belum sempat ia habiskan itu di meja bar, lalu mengambil mangkuk bakso itu ke meja yang ditunjukan oleh Kalala.


Mereka bertiga pun berjalan menuju meja kecil yang ada di pojok sana. Shira masih membuntuti sahabatnya itu, berbisik-bisik merengek meminta Kalala agar berbelas kasihan padanya.


“Shira!” Tiba-tiba, suara Akash mengejutkannya.


Shira menoleh ke belakang.


“Kau sedang apa di situ?” tanya Akash, mendekat.


“Hah? T-tidak apa-apa, aku hanya ingin melihat mereka makan saja,” jawab Shira gelagapan, langsung melepaskan tangannya dari lengan Kalala.


Kalala tersenyum lalu duduk manis di meja, bersama Edwin.


“Sudah ketemu buah melonnya?” tanya Akash.


Shira lupa, kalau ia tadi ke sini hendak mengambil buah melon. “Emh ... melonnya tidak ada,” jawab Shira beralasan.


Karena tadi ia izin kepada Akash untuk mengambil buah melon ke dapur, tapi nyatanya sesampainya di dapur ada maksud dan tujuan lain, yaitu ingin meminta Kalala agar menyisihkan sedikit bakso untuknya.


“Loh, bukannya stok melon masih banyak di lemari es, ya,” seloroh Edwin sengaja.


Shira langsung mendelik sebal kepada sekretaris kaku itu.


“Benarkah?” tanya Akash bingung.


“Iya, Tuan. Mau saya ambilkan?” tawar Edwin langsung berdiri, namun langsung dicegah oleh Akash.


“Tidak usah, biar aku saja,” jawabnya langsung pergi menghampiri lemari es, dan membukanya. Dan ternyata benar, masih ada tiga box, buah melon potong yang tersedia di lemari pendingin itu.


“Shira, bukannya ini yang kau inginkan?” Akash menunjukkan satu box melon potong itu pada istrinya.


“Ah, iya ... maaf, tadi aku tidak melihatnya dengan fokus,” jawabnya sambil menyengir, kaku.


“Ya sudah, kalau begitu, ayo ... kita kembali ke kamar,” ajak Akash tersenyum.


Dengan berat hati, akhirnya Shira hanya bisa pasrah dan terpaksa merelakan bakso yang diinginkannya itu dimakan oleh Kalala dan Edwin.


“Oh no, bakso kesayanganku,” batinnya, sambil melangkah gontai, pergi meninggalkan mereka.


Kalala dan Edwin pun, kini menikmati bakso mereka dengan tenang. Namun, tiba-tiba sebuah kejadian tidak diinginkan pun terjadi.


Kalala.


.


.


.


Bersambung....


Haha, lanjut lagi gak nih? Ramaikan kolom komentarnya dong... hehe, insyaAllah author mau usahakan buat update 3 bab sehari, doakan ya biar lancar.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2