Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Selesaikan Semuanya Sekarang Juga


__ADS_3

“Ada apa Jackson?” tanya Akash saat adiknya itu baru selesai melakukan panggilan telepon dengan ayahnya.


“Akash, sebaiknya kita semua harus segera pergi. Ibuku masih mengincar keberadaanmu, kau tidak membawa ibumu dan Shira ke sini ‘kan?” tanya Jackson, karena jika sampai Shira dan Tessa ikut ke sini, nyawa mereka yang akan jadi taruhannya.


Akash terdiam tidak menjawab.


“Akash? Kau tidak membawa mereka ke mari bukan?” tanya Jackson.


Akash menarik nafas, menatap wajah Jackson dengan penuh ketegangan. “Aku membawanya.”


“Apa?!”


“Tuan Akash terpaksa membawa istri dan ibunya karena keinginan Anda untuk bertemu dengan Kalala,” timpal Edwin yang tiba-tiba bersuara.


“Loh, t-tapi aku ‘kan—”


“Nona Shira tidak ingin ditinggal pergi oleh Kalala, dan Nyonya Tessa tidak mungkin dibiarkan sendirian di tempat kami.”


“Terus, sekarang bagaimana? Di mana mereka?” tanya Jackson begitukhawair.


“Mereka ada di kamar,” ucap Akash langsung bangkit dari duduknya.


“Kalau begitu ayo kita harus segera pergi dari tempat ini.” Ucap Jackson, mereka pun mengangguk lalu bergegas pergi menuju kamar yang ditempati oleh Shira, Tessa dan Kalala di hotel ini.


Akash mengetuk pintu kamar bernomor F111, dan begitu pintu terbuka, ternyata Kalala yang muncul.


“Tuan,” ucap Kalala sedikit terkejut, melihat wajah panik di ketiga lelaki yang ada di depannya saat ini.


“Kalala, kita harus pergi sekarang juga,” ucap Akash lalu menerobos masuk menemui Tessa dan Shira yang ada di dalam.


“Loh, Sayang udah selesai?” tanya Shira yang saat itu tengah asyik menonton TV bersama Tessa.


“Shira, Ibu, kita harus pergi sekarang juga, secepatnya. Situasi kita saat ini sedang tidak baik-baik saja, tante Asten masih mengincar kita.”


“Apa?! Mengincar kita?” tanya Shira dan Tessa secara bersamaan.


“Hm, ayo cepat, kita tidak punya waktu.”


Sementara Kalala, Edwin dan Jackson yang masih ada di pintu kamar, mereka pun sama bimbangnya saat tahu kalau keadaan akan menjadi seperti ini.


“Tuan Jackson, cepat selesaikan urusan Anda dengan Kalala, kita tidak punya waktu lagi, dan dilain waktu kemungkinan kita tidak akan pernah bertemu lagi.”


Jackson kebingungan, karena suasananya jadi panik seperti sekarang ini. Tidak mungkin ia harus memberikan pilihan kepada Kalala di situasi seperti sekarang ini.


“Tuan Jackson, cepat selesaikan sekarang juga urusan Anda!” seru Edwin, karena kesal melihat Jackson masih diam.

__ADS_1


Jackson pun terpaksa mengeluarkan kotak perhiasan titipan dari ayahnya. “Ini, ini hadiah dari ayahmu, sudah sejak lama ayah memebrikan ini padaku, tapi aku baru bisa memberikan hadiah ini padamu sekarang.”


“Hadiah?” tanya Kalala kebingungan, ia sejenak melihat ke arah Edwin, seolah meminta pendapat apakah ia harus menerimanya atau tidak.


Edwin pun mengangguk sebagai tanda kode ‘iya’ dan Kalala pun mengambilnya.


Dan saat Kalala membuka kotak hitam tersebut, ternyata di dalamnya adalah sebuah gelang indah yang diukir sedemikian rupa dengan berlian ungu yang menjadikan gelang tersebut semakin tampak mewah dan indah.


“Ayahmu menginginkan kau memakainya jadi aku harap kau bisa menerimanya,” ucap Jackson.


Kalala kembali menatap wajah lelaki yang ada di depannya itu, ia sedikit tidak menyangka, kenapa tuan Baker sampai memberikannya hadiah yang sangat mahal ini.


“T-tapi, Jackson ini—”


“Tolong terima saja.”


“Ayo! Kita sudah tidak punya waktu, kita harus pergi sekarang juga dari sini,” ucap Akash yang baru saja selesai mengemasi beberapa barangnya.


Edwin yang melihat tangan Akash menenteng tas besar, ia pun mengambil alih tas tersebut. “Kemari, Tuan biar saya yang bawa.”


“Kalala, ini tasmu, kau tidak ada yang ketinggalan lagi ‘kan?” tanya Shira memberikan sling bag milik Kalala.


“Hah? I-iya tidak ada, semua barangku ada di tas ini,” jawab Kalala setelah ia memeriksa tasnya sekaligus memasukan hadiah yang baru saja Jackson berikan padanya.


“Edwin, kita jalan lewat pesisir pantai saja, jangan lewat jalan utama,” ucap Akash saat mereka sudah ada di dalam mobil.


“Baik, Tuan.”


Jackson juga ikut masuk ke dalam mobilnya. Ia kebingungan, apakah ia harus pergi dan berpisah dengan mereka begitu saja, atau mungkin ia harus mengikutinya agar menjamin keselamatan Akash setelah ini.


“Baiklah, aku harus mengikutinya,” ucapnya.


Mobil mereka pun mulai melaju meninggalkan area hotel itu, dan saat tengah melaju di tengah jalan, Edwin melihat ke belakang, di mana mobil Jackson masih mengikutinya.


“Tuan, sepertinya Tuan Jackson akan mengikuti kita,” ucap Edwin. Akash yang duduk di depan pun melihat ke belakang, dan benar saja ternyata mobil adiknya itu ada di dalam jarak yang cukup dekat dengannya.


“Berhenti dulu di pertigaan sana,” titah Akash, Edwin pun menurutinya.


Lalu tepat di pertigaan simpang jalan, Edwin menyisikan mobilnya, dan mobil yang Jackson tumpangi pun ikut berhenti di samping mobil Edwin.


“Tuan Jackson, kenapa Anda mengikuti mobil kami?”


“Maaf, tapi aku khawatir, biarkan aku mengikuti kalian sampai ujung pantai sana.”


“Bagaimana bisa kau tahu kami akan jalan ke sana?” tanya Edwin sedikit curiga.

__ADS_1


“Aku tahu, kalian pasti tidak akan mengambil jalan utamanya, makanya aku ingin memastikan kalian selamat sampai ujung jalan sana. Karena aku juga tahu, jalanan di sini terlalu sepi jauh dari penduduk desa.”


“Bagaimana, Tuan?” tanya Edwin kepada Akash.


“Tidak apa-apa, biarkan dia mengikuti kita sepanjang jalan ini sampai ujung sana. Aku percaya padanya,” ucap Akash. Edwin pun mengangguk.


“Baiklah, Anda bisa mengikuti mobil kami hanya sampai ujung jalan pantai ini,” teriak Edwin yang sejak tadi mereka berkomunikasi lewat jendela mobil.


Jackson mengangguk paham lalu mereka pun kembali melajukan mobilnya memasuki area jalanan pesisir pantai yang di mana, di sisi jalan kanan hanya ada pepohonan dan hutan yang lebat, dan di sisi kiri adalah perbatasan jalan.


Jalanan tersebut terkenal sepi dan cukup angker, karena sudah beberapa kali di sana sering terjadi tragedi kecelakaan dan pembegalan. Namun, demi biar menghindar dari jangkauan Asten, mereka terpaksa harus menempuh jalan tersebut.


***


Sementara itu, saat ini Baker dan juga Pak Bram tengah kebingungan, karena dirinya ternyata tengah berada di situasi yang sangat mencekam.


“Bagaimana ini, Tuan?” tanya Bram ketakutan.


“Tunggu selama 10 menit, jangan dulu keluar,” ucap baker, karena dengan begini ia juga bisa memeprhitungkan kedatangan polisi yang mungkin akan melewati jalur ini.


“Hey! Keluar kau, atau aku akan pecahkan kaca mobil ini!” ancam pria jahat yang membawa kapak di tangannya.


Bram semakin gugup ketakutan.


“Cepat keluar, atau aku pecahkan kaca mobilmu ini!” teriak penjahat semakin keras.


“Tu-Tuan, sa-saya harus bagaimana?” Pak Bram semakin ketakutan, bahkan pria tua yang sedikit gendut dan dipenuhi brewok di wajahnya itu, ia malah menangis.


Sementara Baker, pria itu masih terlihat tetap tenang seperti tengah memperhitungkan sesuatu.


Tiba-tiba ....


.


.


.


Bersambung...


Maaf ya updatenya satu aja dulu. Authornya lagi liburan dulu wkwkwk haha...


Besok up lagi ya. happy weekend gaes...


jangan lupa komen, like dan votenya, terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2