Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Aku Menyukainya


__ADS_3

Edwin, Jackson dan Ardian kini mereka bertiga tengah duduk di atas bangku di taman yang ada di perumahan tersebut, taman yang bersampingan dengan lapang volli. Sementara Kalala, wanita itu entah pergi ke mana, mereka sudah tidak bisa mengejarnya.


“Nih!” Ardian mengeluarkan satu botol vodka yang terkenal akan rasa pahitnyta itu, di atas meja bulat yang terbuat dari keramik, meja tanam khusus yang tersedia di taman.


“Untuk apa ini?” tanya Jackson dengan heran.


“Kita lakukan permainan, dan sebagai hukumannya, bagi orang yang tidak bisa menyelesaikan permainan ini, dia harus meminum secangkir dari vodka ini, gimana kalian setuju?” tanya Ardian.


Edwin mendengus pelan. “Aku kemari untuk bertemu dengan Kalala, bukan ingin memainkan permainan seperti ini!”


Ardian terkekeh garing. “Kalau Kalala ada di sini dan dia ikut bermain dengan kita, apa kau akan ikut juga?” tanya Ardian begitu serius.


Edwin menatapnya sinis, sambil melipat kedua tangannya di dada. Sebenarnya ia merasa enggan untuk memainkan permainan ini, tapi jika memang benar yang dikatakan Ardian kalau Kalala akan ikut bermain dengannya di sini, tentunya ia akan setuju saja.


Edwin melirik ke arah Jackson, yang sejak tadi belum memberikan tanggapan.


Jackson mengerti akan tatapan dari Edwin. “Baiklah, aku dan dia akan melakukan permainan ini jika Kalala juga ikut bermain dengan kita,” ucap Jackson.


“Oke, baiklah.” Ardian mengembangkan senyumannya, lalu ia mengirimkan pesan singkat kepada Kalala via aplikasi hijau.


Kalala yang waktu itu tengah duduk di depan warung, baru selesai membeli minuman, tiba-tiba ponselnya berdering, membunyikan suara notifikasi pesan masuk.


Ia meneguk terlebih dahulu air mineral dalam bolot itu, sambil sebelah tangannya yang sibuk membuka ponselnya.


Dan saat ia hendak menelan air minum yang sejak beberapa detik lalu terus mengalir di kerongkongannya, tiba-tiba dirinya tersedak dan langsung memuncaratkan air dari mulutnya itu, lalu mengelapnya dengan cepat menggunakan punggung tangannya.


“Pingsan?!” pekik Kalala setelah membaca pesan dari Ardian yang mengatakan kalau ada salah satu teman Kalala yang pingsan akibat mengejarnya tadi.


“Ardian, kamu di mana?” tanya Kalala panik.


“Ini di taman, buruan ke sini.” Suara Ardian di balik ponsel.


Dan dengan kecepatan secepat kilat, Kalala kembali berlari menuju taman yang dimaksud oleh Ardian.


Sementara itu, Ardian kini begitu puas, karena sebentar lagi sepupunya itu pasti akan datang ke mari.


“Hey kalian berdua, berbaringlah terlebih dahulu, Kalala akan masih lama ke sininya,” ucap Ardian.

__ADS_1


Edwin dan Jackson yang masih merasa kelelahan itu, mereka membaringkan tubuh mereka di atas kursi bata yang panjang yang mengelilingi meja bulat di tengannya.


Begitu pun dengan Ardian, ia juga ikut membaringkan tubuhnya di bangku kayu panjang, yang tengah didudukinya saat ini.


“Ardian! Siapa yang pingsan!” teriak Kalala dari kejauhan menghampiri mereka.


Baru saja beberapa detik mereka membaringkan tubuhnya, saat itu pula mereka langsung bangkit, bahkan saking terkejutnya, saat Edwin hendak bangkit, lelaki itu malah jatuh dan sebelah tangannya tidak sengaja menumpu ke batu yang ada di tanah, membuat dinya kesakitan, dan menimbulkan sedikit luka sobek di dekat pergelangan tangannya.


“Ah, sial!” umpatnya, langsung berdiri.


Kalala masih mengatur nafasnya, wanita itu benar-benar tampak kelelahan, bahkan keringat di dahinya pun tampak sekali bercucuran.


“Edwin, apa kau pingsan?” tanya Kalala masih hah-heh-hoh mengatur nafas.


Edwin terdiam, mengerungkan kedua alisnya menatap Kalala dengan bingung. “Aku? Pingsan?” tanya Edwin.


Kalala mengangguk. “Iya, tadi Ardian bilang ada yang pingsan, siapa yang pingsan?!” tanyanya. “Apa kau Jackson?” tanya Kalala.


Jackson menggeleng ragu, karena ia juga bingung.


“Aish! Kau ini.” Kalala meraih kerah kaos milik Ardian yang duduk di sampingnya. “Kau membohongiku ‘kan Ardian!” teriaknya begitu emosi.


“Bercanda?!” Kalala semakin memutar erat kerah baju milik sepupunya itu, wanita ini merasa kesal karena Ardian sudah mempermainkan kekhawatirannya.


Tiba-tiba ....


Duk!


Kalala tidak segan meng-adu-kan jidatnya dengan jidat Ardian, membuat lelaki itu meringis kesakitan dan meminta ampun.


Jackson dan Edwin yang melihat sikap bringas dari Kalala, mereka cukup terhenyak, karena jauh dari penampilannya ternyata Kalala memang benar-benar galak.


Kalala pun melepaskan Ardian, ia hendak pergi meninggalkan mereka, namun secepat kilat tangan Ardian kembali menarik lengan Kalala, membuat wanita itu menoleh ke belakang.


“Apa lagi?! Apa masih kurang?” tanyanya tidak santai.


“Tidak, tidak, tidak, sudah cukup. Tapi tolong tetap di sini saja, temani aku bermain dengan mereka  ya,” ucap Ardian memohon sambil memelaskan wajahnya.

__ADS_1


Kalala berdecak kesal. “Memangnya kalian ingin bermain apa?” tanya Kalala mulai penasaran.


“Nah, dari pada kamu penasaran mending kamu ikut bermain dengan kita, gimana?” tanya Ardian membujuk.


“Gak ah! Ogah!”


“Eh... please, Kalala ... nanti aku kasih kamu album terbaru dari Blackpink deh,” pinta Ardian, karena hanya itu senjata paling ampuh untuk memberikan penawaran kepada sepupunya agar sepupunya itu mau ikut bermain dengannya.


Kalala menyunggingkan sebelah sudut bibirnya. “Baiklah, awas kalau kau berbohong!” ancamnya, lalu duduk di samping Ardian.


Kini Ardian pun menjelaskan terlebih dahulu permainan itu. Ini adalah sebuah permainan semacam kejujuran, setiap orang hanya akan diberikan dua kesempatan bermain, dan kalau dia tidak bisa melakukannya, maka itu dianggap kalah dan harus meminum vodka sebanyak satu gelas.


Permainan pun dimulai oleh Kalala, wanita itu disuruh oleh Ardian untuk memutarkan botol vodka yang Ardian bawa, dan nanti jika botol vodka itu mengarah pada salah seorang di antara mereka, maka mereka akan diberikan pilihan ‘jawab atu lakukan.’


“Oke, aku mulai ya,” ucap Kalala.


Botol vodka itu pun mulai berputar di tengah meja, dari kecepatan tinggi hingga sedang lalu semakin melambat dan kini botol itu berhenti dengan tutup botol yang mengarah kepada Ardian.


“Ya ... kena kau! Sekarang kau pilih, jawab atau lakukan?” tanya Kalala.


Ardian berpikir sebentar. “Jawab!”


“Silakan, ada yang mau memberi dia pertanyaan?” ucap Kalala kepada Jackson dan Edwin.


“Aku.” Jackson mengangkat tangannya. “Jawab sejujur-jujurnya, apa kamu menyukai sepupumu ini?” tiba-tiba sebuah pertanyaan aneh keluar dari mulut Jackson, entah apa dan kenapa lelaki itu malah mengajukan pertanyaan semacam itu.


Edwin dan Kalala pun cukup terkejut mendengarnya.


Hening ....


“Ya aku menyukainya,” jawab Ardian.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2