Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Pertemuan Edwin dan Jackson


__ADS_3

Hal yang ditunggu-tunggu oleh Jackson pun akhirnya datang. Sebuah pesan singkat yang baru saja masuk ke dalam nomor ponselnya. Membunyikan dering singkat yang membuatnya buru-buru membuka dan membaca pesan itu, memastikan dimana alamat lengkap yang dikirimkan Edwin untuk jadwal pertemuan mereka berdua.


Tampak sudut bibir Jackson melengkung, menciptakan sebuah senyuman manis penuh kebahagiaan. “Okay, mari kita bersiap,” ucapnya saat ia selesai membalas pesan singkat itu kepada Edwin.


Lalu ia pun bergegas pergi ke ruang wardrobe, di mana baju-baju dan semua perlengkapannya tersedia di sana. Ia membuka lemari putih khusus jas berada.


Kini deretan jas yang disusun sesuai warna yang senada terpampang di depannya. Alih-alih mengambil jas di sana, ia malah membuka satu lemari yang ada di sampingnya, lalu dengan cepat tangannya mengambil jaket bomber berwarna navy yang kini sudah ada di tangannya.


“Oke, pakaian santai seperti ini, mungkin lebih cocok. Lagi pula aku hanya bertemu dengan Edwin, bukan dengan wanita,” gumamnya.


***


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 14.35 Jackson masih berada di mobilnya, karena saat ini dirinya tengah terjebak dalam kemacetan di sebuah pertigaan karena adanya kecelakaan.


“Sial! Kenapa lama sekali!” umpatnya, kesal.


Kerumunan orang di depan sana, terlihat berpencar perlahan, dan sebagian polisi pun mulai kembali mengatur jalannya lalu lintas. Setelah menunggu kurang lebih lima belas menit, akhirnya mobil Jackson pun mendapat giliran untuk menerobos jalanan yang tengah macet tersebut.


Setelah itu, ia pun langsung membanting setirnya, belok ke kanan menuju restoran yang ada di sebuah hotel ternama di daerah itu.


Setelah memarikirkan mobil dan melepas seat belt yang terpasang di tubuhnya, buru-buru Jackson keluar dari mobilnya, melihat jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul 14.50 masih ada waktu sekitar sepuluh menit lagi, untuk dirinya sampai di tujuannya.


Jackson pun berjalan cepat menuju area restoran, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, dan ternyata terlihat di pojok bangku sana, seorang lelaki dengan pundak datar yang kekar dan gagah, tengah duduk sendirian.


“Itu pasti Edwin.” Jackson pun melangkahkan kakinya menghampiri pria tersebut. Dan ternyata, saat ia sampai, itu bukanlah Edwin, melainkan orang lain.


Orang tersebut, mendongak menatap heran kepada Jackson yang hampir menarik bangku di depannya.


“Oh, maaf, saya kira Anda teman saya,” ucap Jackson dengan sopan, sambil mengatupkan kedua tangannya di dada. Lalu ia pun melangkar pergi, kembali mengitari area restoran, dan ternyata seorang lelaki yang berdiam terhalang pintu, tengah melambaikan tangannya.


“Ah, itu ternyata,” gumamnya, menghampiri Edwin sesegera mungkin.


“Maaf, apa aku terlambat?” tanya Jackson dengan dada yang naik turun, mengatur nafas.


“Tidak apa-apa, Anda hanya terlambat dua menit saja, jadi sisa waktu Anda, hanya tinggal 13 menit lagi, Tuan.”


“Apa! Dua menit pun di hitung?!”


“Silakan, Tuan, pergunakan sisa waktu ini dengan sebaik mungkin,” ucap Edwin dengan ekspresi wajahnya yang terlihat dingin dan datar seperti talenan.


Jackson pun memilih duduk terlebih dahulu, lalu pertanyaan pertama yang terlintas dibenaknya adalah. “Katakan, nomor ponsel Kalala yang bisa aku hubungi,” ucapnya.


Edwin langsung terdiam, dengan binar tatap mata yang berubah tajam, seolah tidak suka.


“Kau tidak boleh mengatakan tidak! Kau sudah berjanji bukan kepada ayahku untuk menjawab semua pertanyaanku dengan jujur,” sela Jackson, sebelum pria itu memebrikan jawaban padanya.

__ADS_1


Tidak ada pilihan lain, Edwin hanya bisa berpasrah, lalu ia pun menyebutkan nomor ponsel kekasihnya yang sudah sangat ia hafal. Dan Jackson menuliskannya dengan begitu semangat di ponselnya.


“Untuk apa Anda menanyai nomor pacar saya?” tanya Edwin sinis.


Jackson yang tengah menunduk menatap ponselnya, ia langsung mendongak lalu tersenyum kecut. “Apa saya harus menjawabnya dengan jujur?”


Edwin terdiam, ia membuang muka, karena lagi dan lagi kesabarannya saat ini tengah diuji oleh lelaki tidak tahu malu yang duduk di depannya.


“Baiklah, tidak perlu. Lanjutkan saja, hal apa lagi yang ingin Anda tanyakan. Sisa waktu Anda hanya tinggal 10 menit lagi.”


Dan pertanyaan kedua yang selalu ingin ia ketahui adalah. “Berikan alamat lengkap di mana Akash berada, aku ingin menemuinya.”


Edwin teridam, memandang serius kedua bola mata Jackson. “Mohon maaf, saya hanya akan menjawab semua pertanyaan, kecuali pertanyaan yang ini,” ucap Edwin.


Jackson tidak terima. “Loh, bagaimana bisa? Bukannya ayahku bilang semua akan kamu jawab, apapun pertanyaannya.”


“Ya benar, saya memang bilang seperti itu, tapi saya juga sudah memebri tahu tuan Baker, saya akan menjawab semua pertanyaan Anda, kecuali pertanyaan soal alamat tuan Akash,” jawabnya dengan tegas.


“Lalu, apa aku boleh menemuinya dan membuat janji dengan saudaraku?” tanya Jackson.


“Bisa, jika memang Anda ingin menemui tuan Akash, saya bisa mengatur jadwal pertemuannya.”


Jackson mengangguk. “Baiklah, kalau begitu, tolong jadwalkan besok! Aku harus bertemu dengannya secepatnya,” ucap Jackson.


“Baiklah.”


Sementara itu, di sisi lain, ternyata, Asten masih sibuk mengawasi Jackson dan Edwin di luar restoran, ia sebenarnya dari tadi mendengarkan pembicaraan antara Jackson dan Edwin, lewat penyadap suara yang sengaja ia pasang di saku jaket yang digunakan Jackson.


Flash back on.


Jadi sepulangnya Jackson dari hotel tadi pagi, Asten buru-buru menelepon pelayannya dan menyuruhnya untuk memantau Jackson, bahkan Asten juga menyuruh kepada pelayannya itu agar dia memasukan alat penyadap suara ke dalam saku atau tas yang Jackson gunakan, dan pelayan bayaran itu pun menurut saja.


Dan tepat, saat Jackson keluar dari kamarnya, pelayan itu dengan sengaja menyenggol bahu Jackson, hingga lap yang dibawanya tidak sengaja jatuh mengenai kaki Jackson.


“Maaf, Tuan, s-saya tidak sengaja.” Dan dengan lancangnya pelayan itu, mengusap-usap sepatu Jackson lalu berdiri dan mengusap jacket bagian pinggangnya sambil memasukan benda kecil seukuran ibu jari, yang tidak lain adalah alat penyadap suara.


“Tidak perlu! Jangan memegang baju saya,” ucap Jackson merasa tidak nyaman.


“Maaf, Tuan kalau saya lancang, t-tapi takut terkena debu dari lap ini jacket Tuannya.”


Jackson mengerutkan dahinya. “Sudah, tidak apa-apa.” Lalu Jackson pun pergi menuruni anak tangga, untuk menemui terlebih dahulu ayahnya.


Flash back off.


“Sial! Kenapa sekretaris itu tidak mau menjawab pertanyaan Jackson sih! Kurang ajar sekali dia. Mempersulit aku untuk bisa bertemu dengan si anak sialan itu!” rutuk Asten dengan kesal.

__ADS_1


Lalu terdengar kembali di earphone yang tengah digunakannya itu, percakapan lanjutan antara Jackson dan Edwin.


“Tolong, informasi ini cukup Anda yang tahu saja, Tuan Jackson. Saya tidak ingin hal-hal privacy seperti ini sampai tersebar kepada orang lain, selain Anda.”


“Baiklah, sekretaris Edwin. Saya memahaminya, tenang saja, lagi pula hanya saya dan ayah saya yang tahu soal pertemuan kita ini.”


Asten yang mendengarnya ia hanya tersenyum sinis. “Baiklah, sepertinya bermain dengan mereka harus secara diam-diaman. Kau juga Jackson! Sekarang kau menjadi pembangkang terhadap ibumu ini,” batinnya sedikit kesal, karena tahu kalau anak dan suaminya itu merahasian soal ini darinya. Meski pada akhirnya diketahui juga olehnya.


“Baiklah, kalau begitu sampai berjumpa besok. Jangan lupa, ajak Kalala besok,” ucap Jackson sambil tersenyum miring.


“Maksud Anda apa, Tuan? Bukankah cukup hanya Anda dengan tuan Akash saja yang bertemu, tidak perlu membawa calon istri saya segala.” Edwin semakin tidak nyaman, karena Jackson terus saja menginginkan pertemuan dengan kekasihnya itu.


“Oh ho ho ho ... calon istri ya? Hm ... terdengar sedikit tak nyaman ya ditelingaku ini,” ucap Jackson, meledek perkataan Edwin, sambil mengusap dagu.


“Tapi tenang saja, itu baru calon istri kan?” tanya Jackson, sambil mengangkat sebelah alisnya, menatap Edwin dengan tatapan sinis.


Edwin langsung meringsutkan wajahnya, melayangkan tatapan tajam dan ekspresi garangnya.


Jackson pun tersenyum kecut, sambil mendengus pelan. “Oh tenang saja Tuan Edwin ... saya hanya ingin memberikan dia hadiah kok, tidak bermaksud apa-apa,” lanjut Jackson sambil terkekeh pelan melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Edwin.


Edwin menilik jam yang melingkar di tangannya. “Maaf, waktu kita sudah habis, saya harus pergi,” ucap Edwin langsung berdiri dari duduknya dan berlalu begitu saja meninggalkan Jackson.


"Haha, benar-benar posesif sekali dia ini!" batin Jackson, menatap rendah kepergian Edwin.


“Dasar, lelaki macaam apa dia itu! Kenapa harus wanitaku yang dia incar, bukankah wanita di dunia ini masih banyak! Kenapa harus selalu Kalala ... argh sial! Dasar pria menyebalkan!” umpatnya dengan kesal, sambil berjalan penuh tenaga menuju mobilnya yang terparkir di luar hotel.


Namun, saat ia hendak memasuki mobilnya, tiba-tiba bayangan seorang wanita terlihat di kaca mobil Edwin. Ia menautkan kedua matanya, menilik bayangan itu dengan fokus.


“Loh, bukannya itu nyonya Asten ya?” gumamnya, dan saat ia berbalik, ternyata wanita  yang benar itu adalah Asten, tengah berjalan terburu-buru masuk ke dalam mobil berwarna cream yang ada di jajaran paling ujung di lahan parkir ini.


Edwin semakin heran dan penasaran, lalu tidak lama kemudian, Jackson pun terlihat keluar dari dalam lobby. Edwin masih kebingungan, lalu mereka berdua pun saling menatap dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


Jackson menyunggingkan bibirnya dengan singkat, sambil berdecak. “Ck! Kenapa dia menatapku dengan seperti itu,” gumamnya menggelengkan kepalanya pelan, lalu berjalan menuju mobilnya yang terparkir di dekat pohon.


Edwin masih terdiam di tempatnya, memikirkan kenapa Jackson dan Asten bisa memakai dua mobil yang berbeda, padahal mereka ada di satu tempat yang sama. Apakah ini hanya kebetulan, atau mungkin ada sebuah rencana yang tengah mereka lakukan.


“Aku harus memastikannya!” gumam Edwin kemudian membuka pintu mobilnya dan masuk duduk di kursi setirnya.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


Lanjut gak nih?


__ADS_2