Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Tidak Pernah Pacaran


__ADS_3

Akash tengah duduk di dalam mobil, sambil mencoba menghubungi nomor handphone istirnya, kedua netranya secara tidak sengaja menangkap bayangan seorang wanita yang dikenalnya.


“Itu ‘kan Shira,” gumamnya, langsung membuka pintu mobil dan keluar, lalu mendongak ke jendela yang ada di lantai tiga gedung tinggi itu.


“Shira!” teriak Akash dari bawah.


Shira yang terkejut, ia langsung mundur dan menutup jendela itu rapat-rapat. Kalala yang tengah membenarkan rambutnya di depan cermin, langsung menengok kaget.


“Ada apa, Shir?” tanyanya terkejut.


Shira menggigit bibir bawahnya. “Sttt ....” Ia menempelkan telunjuk di bibirnya, meminta Kalala untuk tidak berbicara.


“Kenapa?” tanya Kalala tanpa suara.


“Dia datang ke sini, Kalala. Aku harus gimana?” tanyanya pelan dan panik, memegang kedua tangan Kalala, tidak tenang.


“Dia siapa?”


“Kekasihku,” jawabnya pelan.


“Nashira.” Tiba-tiba samar suara seorang lelaki memanggilnya di luar kamar.


“Shira ....”


Tok ... tok ... tok ....


Suara ketukan itu tepat berasal dari pintu kamar kost milik Kalala. Keadaan pun semakin terasa menegangkan, Shira tidak ingin menemui Akash saat ini, akan tetapi suara panggilan dan ketukan itu amat sangat mengganggunya.


“Shira, apa kau di dalam?” Suara Akash di luar ruangan terdengar memanggilnya panik.


“Shira....”


Shira kebingungan, ia tidak bisa diam, mondar-mandi di belakang Kalala, dengan wajahnya yang menampilkan kecemasan.


“Shira, tenanglah. Biar aku yang berbicara dengannya,” ucap Kalala pelan, mencoba menghentikan langkah Shira yang sedari tadi mondar-mandir tidak jelas.


Shira akhirnya bergeming di tempatnya, menatap netra Kalala dengan sendu.


Kalala kembali meyakinkannya. “Tenanglah, kau duduklah di tepi ranjang, biar aku yang menghadapinya di luar,” ucap Kalala pelan.


Meski dengan perasaan yang tidak tenang, akan tetapi Shira mengangguk menyetujuinya, ia percaya akan perkataan sahabatnya itu. Lalu, ia pun menurut dan memilih duduk di tepi ranjang.


“Jangan menengok ke belakang sebelum aku kembali masuk ya,” ucap Kalala, Shira kembali menganggukkan kepalanya.


“Baiklah, kalau begitu aku akan keluar," pamit Kalala. Menarik nafas pelan, lalu berancang-ancang siap untuk menghadapi sosok yang sudah membuat sahabtnya menangis semalaman.


Suara di luar sana masih terdengar suara berisik memanggil nama Kalala dan Shira secara bergantian. Kalala memutar kunci lalu membuka pintu dan keluar. Sebelum Akash hendak menerobos ke dalam, Kalala terlebih dahulu mencegatnya dengan tatapan tegas penuh interogasi.

__ADS_1


“Apa kau Kalala?” tanya Akash. Kalala menatapnya tajam lalau melirik waspada ke arah Edwin.


“Hm, ya aku Kalala.”


Akash hendak mendorong tubuh Kalala ingin menyingkirkannya dan menerobos masuk ke dalam. Tapi Kalala dengan sigap menahannya.


“Jangan seperti ini,” tegas Kalala dingin.


“Hey, siapa Anda melarang Tuanku untuk masuk ke dalam!” seru Edwin yang tidak suka dengan perlakuan Kalala terhadap Akash.


“Aku Kalala ... pemilik kamar ini, dan aku tidak memperbolehkan siapa pun masuk tanpa seizinku!” tegasnya berbicara judes kepada Edwin. Membuat kedua alis lelaki itu berkerut hebat.


“Kau kekasihnya Nashira ‘kan?” tanya Kalal pada Akash. Akash mengangguk cepat.


“Kau datang kemari untuk apa hah?” tanya Kalala.


“Ya untuk menemui Shira lah!”


“Ya maksudku kau ke sini ingin meminta maaf padanya atau apa?!” Nada suara Kalala terdengar tidak santai.


“Iya, aku ingin meminta maaf padanya atas kesalahan kemarin,” jawab Akash dengan mimik wajah yang mendung.


Kalala terdiam, mengembuskan nafasnya dengan kasar.


"Serius kau mau minta maaf padanya?" tanya Kalala tidak langsung percaya.


Setelah terdiam beberapa menit, akahirnya Kalala  memperbolehkan Akash untuk masuk ke dalam kost-annya.


“Baiklah, kau bisa masuk. Hanya 7 menit,” ucap Kalala dingin lalu memiringkan tubuhnya mempersilakan Akash untuk masuk. Akash yang tidak ingin membuang kesempatan ia langsung menerobos masuk dengan cepat.


Disusul oleh Edwin yang hendak ikut masuk. Namun, buru-buru Kalala menutup pintunya.


“Hey, kenapa kau menutup pintunya?!” Edwin menatapnya tajam.


“Hey, Tuan. Apa kau tidak mengerti? Mereka sedang bertengkar dan hendak berbaikan. Tidak baik jika ada kita di dalam sana!”


Edwin mengkerutkan dahinya.


“Apa kau tidak paham?” tanya Kalala memandang aneh.


“Aku harus menjaga Tuanku dari kemungkinan celaka!” jawab Edwin tegas.


Kalala langsung menepuk jidat. “Ya ampun, apa sebegitu khawatirnya kau kepada tuanmu itu? Lagi pula yang di dalam adalah Nashira, pacarnya sendiri. Tidak mungkin saling mencelakai satu sama lain.”


“Tidak! Aku harus masuk dan memastikan tuanku baik-baik saja," ucap Edwin mencoba menyingkirkan Kalala dari depan pintu.


Tapi sekuat tenaga pula, Kalala menahannya, agar lelaki itu tidak bisa melewatinya, dan keduanya pun masing-masing saling berusaha.

__ADS_1


“Ya ampun, Tuan. Kau ini keras kepala sekali sih!” gerutu Kalala merengutkan wajahnya dengan kesal.


“Apa kau tidak pernah pacaran hingga tidak tahu maksud dari perkataanku?!” tanya Kalala, masih menghalangi Edwin yang ingin menerobos masuk.


“Tidak! Pacaran hanya membuang waktu saja. Minggir kau anak kecil, aku harus masuk ke dalam sana!” paksa Edwin, lalu mendorong tubuh Kalala, membuat Kalala kehilangan keseimbangan karena tenanganya kalah kuat oleh Edwin.


Sekretaris serba guna itu, akhirnya berhasil membuka pintu begitu saja.


Akan tetapi, sesuatu yang mengejutkan hampir saja membuat jantung Edwin copot dari tempatnya. Ia berbalik dan menutup pintu itu dengan cepat.


Brak!


“Ya ampun! Apa yang aku lihat!” gumamnya dalam hati, langsung panik dan merasakan hawa panas.


“You see?!” Kalala melipat kedua tangannya di dada. Ia paham sekali dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh lelaki keras kepala itu.


Edwin begitu malu melihat tuan dan nona mudanya yang tengah berciuman itu. Ini untuk pertama kalinya ia melihat tuannya berciuman.


Kini bukan hanya rasa panik saja yang menyelimutinya, akan tetapi ketakutan dirinya yang tadi sempat membuat mereka berdua menoleh padanya, dan tentu itu akan mengganggu aktivitas mereka.


Kalala menatap wajah lelaki yang ada di sampingnya, kedua pipi lelaki itu sudah merah merona menahan malu.


“Hey, apa kau tidak pernah melihat adegan kissing seperti itu di kehidupan nyatamu?” tanya Kalala penasaran.


Edwin menoleh melayangkan tatapan sinisnya. “Hey! Jaga bicaramu ya!” Edwin mencoba menutupi rasa groginya.


“Tidak perlu begitu, aku melihatnya juga kok,” jawab Kalala santai sambil tersenyum simpul.


“Kau pasti tidak pernah bepacaran ya?” tebak Kalala langsung mendapat lirikan tajam dari Edwin.


“Siapa kau beraninya menebak aku seperti itu hah?!” Wajah Edwin tampak tidak ramah.


“Aku kan sudah bilang, aku Kalala pemilik kamar kost ini ... sudahlah mengaku saja, lagi pula sudah kelihatan kok, mana ada cowok kaku seperti kamu berpacaran," ucapnya berbicara sompral, sambil terkekeh garing.


Edwin yang merasa tidak terima dengan ucapan wanita itu, ia meringsutkan wajahnya merasa kesal. "Sialan, berani-beraninya perempuan ini menghinaku seperti itu!" batinnya.


“Memangnya kenapa kalau cowok kaku pacaran hah?” tanya Edwin, judes.


“Ya enggak apa-apa, tapi kayaknya cuma cewek aneh yang mau pacaran sama cowok kaku,” jawabnya langsung terbahak sendirian.


Berniat hanya bercanda, akan tetapi tatapan Edwin padanya semakin terlihat serius dan tidak ramah.


Kalala pun menghentikan tawanya, sambil menatap segan kepada Edwin. “Hehe, bercanda. Santai aja kali,” ucapnya tersenyum kikuk, mencoba menghilangkan ketakutannya.


“Ya dan cewek aneh itu kau sendiri!” seru Edwin begitu kesal, membuat bibir Kalala langsung mengerucut seperti keong India.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa komentar di bawah ya... terima kasih juga yang masih mengikuti cerita ini sampai bab ini. Author sayang kalian.


__ADS_2