
Edwin sudah tidak tahan, ia tidak bisa melihat tuannya itu terus bersikap bodoh seperti tadi. Akhirnya ia pun membuka suara untuk mengusulkan sesuatu pada Akash.
“Tuan, apa sebaiknya kita melihat CCTV kampus ini?” usul Edwin berbisik di dekat daun telinga Akash.
Akash mengangguk, lalu kembali mengarahkan pandanganya kepada Pak Satpam.
“Pak, kalau begitu bisakan saya melihat rekaman CCTV? Saya ingin tahu kemana dan dengan siapa Shira pergi.”
Pak Satpam sejenak berpikir, memandang Akash dari atas hingga bawah. Ia yakin kalau orang yang di depannya, melihat dari segi tampilan Akash dan Edwin, Pak Satpam memebrcayai kalau mereka itu termasuk ke dalam bagian penting dan orang besar di kota ini.
“Baiklah, mari ikut saya ke ruang CCTV.”
Mereka bertiga pun bergegas pergi menuju ruang CCTV, di sana Pak Satpam memberi tahukan terlebih dahulu kepada penjaga CCTV, bahwa ada orang yang tengah memerlukan informasi mengenai mahasiswi di kampus ini.
Setelah berbincang, Pak Satpam keluar, lalu menyuruh Edwin dan Akash untuk masuk.
Penjaga ruang CCTV, kemudian menanyai beberapa pertanyaan. Dan sebagian pertanyaan dibantu dijawab oleh Pak Satpam.
Dan saat CCTV di putar di waktu sekitaar jam 18.45 malam. Terlihat di depan gerbang ada Shira yang ke sedang berjalan ke luar bersama seorang wanita.
“Siapa wanita itu? Dan kemana mereka pergi?” Akash memerhatikan rekaman CCTV itu dengan saksama.
“Itu sahabatnya nona Shira, Tuan, kalau gak salah namanya nona Kalala,” ujar Pak Satpam, yang serba tahu, karena ia sudah sangat hafal dengan wajah dan nama-nama mahasiswa di kampus ini.
“Apa, Bapak tahu alamat rumahnya dia di mana?” tanya Akash, menampilkan kekhawatirannya.
Pak Satpam mengangguk, lalu memberi tahukan alamat rumah Kalala kepada Akash. Meski tidak lengkap akan tetapi itu sangat berguna untuk Akash saat ini.
"Baiklah, Pak. Terima kasih atas bantuannya."
__ADS_1
Setelah berpamitan dan berterima kasih, Akash dan Edwin pun bergegas pergi menuju kediaman Kalala.
Di jalan mereka mencoba menanyakan rumah Kalala, akan tetapi tidak ada yang tahu. Bahkan orang-orang di sana tidak mengenal dengan wanita yang namanya Kalala.
Dan sekarang jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Sudah dua jam mereka berkeliling kompleks, akan tetapi tetap saja tidak bisa menemukan keberadaan rumah Kalala.
Selain itu, di jam segini sudah sedikit orang-orang yang ada di jalanan yang bisa mereka tanyai.
Akash memerhatikan sekretarisnya itu, yang tampak sangat kelelahan. “Edwin, sebaiknya kita istirahat di mobil saja, besok pagi biar kita tanyakan lagi kepada warga di sekitar sini,” ucap Akash, sedikit memberi keringanan kepada Edwin.
Edwin mengangguk lalu memarkirkan mobilnya di dekat lapang, yang di sampingnya berdiri bangunan tinggi yang kokoh seperti kost-kostan.
"Syukurlah dia memberiku waktu istirahat. Bisa-bisa urat mataku putus kalau tiga hari berturut-turut aku tidak tidur," batin Edwin, lalu membernarkan kursi kemudinya agar bisa lebih landai.
***
Nashira menggeliatkan tubuhnya, matanya yang masih terpejam itu terasa begitu lengket dan sulit untuk di buka. Akan tetapi, perlahan mata bengkak itu kini sudah terbuka sipit. Ia menguap panjang, di tutup dengan punggung tangannya. Lalu segera membenarkan rambut panjangnya di ikat menggunakan jedai.
Shira turun dari ranjang milik Kalala, lalu tidak lama kemudian Kalala keluar dari kamar mandi, dengan sebagian tubuh yang masih terlihat basah tertutup oleh handuk putih yang melilit di dadanya.
“Shir, giliran kamu gih mandi dulu,” ucap Kalala. “Abis ini kita cari sarapan ya,' lanjutnya.
Kalala berjalan mendekati lemari, membukanya lalu mengambil handuk putih yang masih baru dan melemparkannya ke arah Shira.
Shira menangkapnya dengan tangkas, lalu wanita itu pun berjalan malas menggusur kedua kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
Dress berwarna lilac, selutut, melekat di tubuh mungil Kalala. Gadis itu baru saja selesai berdandan. Rambut yang diikat berbentuk buns, menampilkan leher putihnya yang begitu mulus. Riasan make up yang soft ikut menghiasi wajah Kalala yang cukup imut, tidak lupa kaca mata bulatnya yang selalu menempel di pangkal hidungnya, sebagai ciri khas Kalala, meski kaca mata itu sering membuatnya diejek dengan sebutan culun.
Bukan apa-apa, akan tetapi kaca mata bulat itu adalah hadiah terakhir dari ayahnya yang sudah tiada. Dulu Kalala tidak menyukai kacamata itu, akan tetapi setelah kepergian ayahnya, kacamata itu lah yang selalu melekat di wajahnya.
__ADS_1
Dan hari ini, adalah jadwal operasi mamanya, kabarnya mamanya akan dioperasi jam empat sore. Dan pagi ini ia harus reservasi ruangannya terlebih dahulu.
“Lama banget nih anak mandi,” gerutu Kalala, yang sudah menunggu hampir tiga puluh menit, tetapi Shira belum juga keluar dari kamar mandi.
Kalala pun menyenderkan dirinya di sisi jendela, membukanya lalu melihat ke luar ruangan, menikmati indahnya suanasa pagi di atas ketinggian gedung kost di lantai tiga.
Akan tetapi, matanya kini terfokus ke arah mobil lamborghini berwarna kuning yang ada di sisi lapangan.
“Mobil mewah punya siapa tuh parkir di sini?” gumamnya dalam hati.
Lalu, tak lama kemudian Shira keluar dari dalam kamar mandi.
“Kalala, kamu lagi liatin apa? Serius banget,” tanya Shira yang sudah memakai bajunya yang sempat kemarin di pakai. Mengeringkan rambut dengan handuk lalu mendekati Kalala.
“Itu, di bawah ada mobil mewah, tumben-tumbenan banget di sekitar sini ada orang pakai mobil keren begitu,” jawab Kalala kemudian menjauh dari jendela menghampiri nakas dan mengambil tas selempangnya.
Shira yang penasaran ia pun melihat keluar jendela, dan betapa terkejutnya ia saat melihat mobil sekretaris Edwin ada di sana.
Ia kembali mengucek-ngucek kedua matanya, barangkali ia hanya salah lihat, akan tetapi saat ia memastikannya dan meniliknya kembali, ternyata benar, itu adalah mobil milik Edwin.
“Loh, kenapa sekretaris Edwin ada di sini? Apa dia di suruh oleh Akash untuk mencariku?” gumamnya masih melihat ke bawah.
Tiba-tiba sesosok lelaki keluar dari dalam mobil, kembali membuat Shira terkejut bukan main.
“Akash!”
Bersambung....
Bantu voet dan kirim hadiahnya ya mentemen, terima kasih. Shira dan Akash butuh semangat nih buat bisa up lagi hehe
__ADS_1