
Waktu pun sudah beranjak sore, akan tetapi pesan dari Edwin masih belum masuk ke dalam ponsel Jackson. Pria itu merasa bimbang, karena takut kalau Edwin akan ingkar pada janjinya.
“Jackson,” panggil Baker tiba-tiba yang sudah muncul di ambang pintu kamar Jackson yang terbuka.
“Ayah,” ucap Jackson terhenyak dari lamunannya, lalu segera memasukan ponsel yang sejak tadi ia pandangi ke dalam saku bajunya.
“Bagaimana, apa sudah kabar?” tanya Baker mendekati.
Jackson menggeleng lemah. “Entahlah, apa Edwin akan benar-benar menepati janjinya atau tidak,” ucapnya pelan, seolah tidak ada semangat.
Baker tersenyum lebar, lalu duduk di samping anaknya tersebut sambil menepuk sejenak pundak Jackson. “Tenang saja, Ayah tahu Edwin orang yang seperti apa, dia pasti akan menepati janjinya. Bukankah masih ada waktu enam jam lagi menuju jam dua belas malam?”
Jackson mengangguk pelan membenarkan. “Iya sih, t-tapi—”
“Tetapi apa? Apa kau sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Akash dan Kalala?” tanya Baker menggoda.
Jackson hanya tersenyum simpul. “Ya, aku ingin segera bertemu dengan Akash, aku ingin mengatakan rasa terima kasihku karena bagaimana pun dia sudah menyelamatkan nyawaku, Ayah.”
Baker tersenyum mendengarnya. “Ayah sangat senang sekali, pikiranmu semakin hari semakin dewasa. Semoga kedepannya pun kau tidak akan mudah terpengaruh oleh orang lain.”
Jackson membalas senyum Ayahnya itu. “Iya, Ayah. Aku juga sekarang sadar, kenapa Ayah memperlakukan aku dan Akash dengan sangat berbeda. Semua ini tidak lain karena Ayah tidak ingin aku terjerat dalam lingkup kehidupan Akash yang baru aku ketahui lingkup hidupnya terlalu penuh tekanan,” ucap Jackson.
Baker kembali tersenyum. “Maafkan Ayah juga, jika perlakuan Ayah selama ini membuat kamu merasa dibedakan. Ayah sangat sayang kalian berdua, dan tentunya Ayah melakukan semua ini untuk kebaikan kalian berdua.”
“Makanya sejak awal Ayah selalu menyerahkan semuanya kepada Akash, semua itu tidak lain karena Ayah mempercayai dia, dan Ayah tidak ingin memposisikan kamu dalam bahaya.”
Jika sekilas didengar mungkin kalimat itu cukup menohok bagi Akash, karena dengan begitu, tandanya semua hal yang Baker limpahkan kepada Akash adalah hal-hal yang cukup berbahaya. Tapi diingat lagi dengan limpahan kepercayaan Baker kepada Akash, itu artinya Baker tahu bahwa Akash lebih unggul dalam menghadapi situasi tersebut.
Jackson hanya mengangguk pelan, mencoba memahaminya.
“Oh ya, Ayah, maaf kalau aku lancang, tapi apa ibu tahu soal pertemuan aku dengan Akash ini?” tanya Jackson.
Baker terdiam sejenak, ia pun dapat menebak, kalau anaknya itu pasti merasakan firasat yang sama dengannya. “Entahlah, meski kita sudah menutupi semuanya, akan tetapi sepertinya ibumu tahu soal ini, maka dari itu lebih baik kamu berhati-hati. Ayah juga tidak akan tinggal diam, Ayah malam ini akan mencekal ibumu agar dia tetap berada di rumah.”
“Haha dasar, ayah dan anak sama saja! Aku tidak akan tinggal diam. Kali ini aku harus bertindak lebih kepada suamiku, aku tidak bisa jika dia menghalangi rencanaku ini,” gumam Asten begitu ia mendengar percakapan Baker dan Jackson lewat alat penyadap suara yang masih terpasang di kamarnya Jackson.
***
__ADS_1
Makan malam pun tiba, Asten sengaja membuatkan beberapa minuman untuk dirinya, Jakcson dan juga suaminya, yang pasti ia melakukan semua ini karena ada maksud tertentu.
“Baiklah, semuanya sudah siap, semoga saja obat ini bisa bereaksi lebih cepat,” ucap Asten, menyeringai.
“Oh ya, Elin, nanti bawa ini ke depan ya, suami sama anak saya pengen minum ini. Dan untuk gelas yang besar ini, tolong berikan kepada suami saya nanti di meja makan,” ucap Asten kepada pelayan bernama Elin.
“Baik, Nyonya.”
Selagi menikmati makan malam kali ini, dua orang pelayan pun datang membawakan minuman untuk mereka serta hidangan penutup.
Elin yang tidak tahu menahu soal minuman tadi, ia hanya menuruti perintah dari nonyanya, lalu memebrikan satu gelas besar berisi lemon tea kepada Baker. Kemudian dua gelas lagi diberikan kepada Jackson dan juga Asten.
“Oh ya, Istriku, malam ini selesai makan malam tolong pijit aku di kamar,” ucap Baker, sengaja memerintah Asten agar istrinya itu tidak curiga dengan kepergian Jackson nanti.
“Hm, baik Suamiku,” jawab Asten.
Dan setelah selesai makan malam pun, mereka kembali ke kamarnya masing-masing.
“Malam ini tolong temani aku di kamar, kamu jangan kemana-mana,” ucap Baker saat ia melepaskan bajunya untuk menggantinya dengan piyama.
“Baik, Suamiku,” ucap Asten menurut saja.
Kini jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam. Asten masih sibuk memijit punggung suaminya tersebut hampir sudah 20 menit. Ia sedikit kesal kenapa suaminay itu belum tidur juga.
“Suamiku, apa kamu belum mengantuk?” tanya Asten sambil melirik sedikit ke arah Baker yang tengah telungkup menikmati pijitannya.
“Belum, kenapa memangnya?” tanya Baker pura-pura, padahal sejak tadi ia sudah benar-benar mengantuk bahkan ingin seger tidur.
Namun mengingat Jackson belum juga pergi, ia menjadi tidak tenang, karena takut kalau Asten akan mengagalkan rencana pertemuan anaknya itu.
"Emh, tidak apa-apa, aku kira kamu sudah mengantuk dan ingin tidur," jawab Asten gugup.
Padahal di dalam hati wanita ini ia terus menggerutu karena suaminya belum juga tidur. "Aish! Kenapa reaksi obatnya lama sekali sih, harusnya setelah lima belas menit meminumnya suamiku bisa langsung tidur pulas," rutuknya begitu kesal.
Menguap dan terus saja menguap, sampai kedua mata Baker sudah benar-benar tidak kuat menahan rasa kantuk yang semakin menyerangnya.
Asten masih sibuk memijit lengan pria tua itu. Namun tiba-tiba suara grasak-grusuk terdengar dari luar, sepertinya memang Jackson sudah bersiap untuk pergi.
__ADS_1
“Waduh bagaimana ini? Kenapa suamiku belum juga tidur sih!” gerutunya dalam hati.
“Emh, suamiku a-aku izin ke toilet dulu ya sebentar aku ingin pipis,” ucap Asten mencari akal.
“Ya, jangan lama-lama dan kembali lagi ke sini,” ucap Baker mengizinkan.
“Baik, Suamiku.” Asten pun buru-buru pergi ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya, tidak lupa membawa ponselnya untuk mengirimkan pesan singkat kepada orang suruhannya.
(Awasi depan rumah. Jackson sepertinya baru saja berangkat, dan jika memang benar itu Jackson kalian ikuti dan awasi jangan sampai dia curiga. Kirim info kepadaku secepatnya.)
Pesan singkat itu pun terkirim ke nomor yang dinamai ‘Black’ oleh Asten.
Sementara itu, memang benar adanya, saat ini Jackson baru saja keluar dari rumah. Langkahnya terlihat begitu semangat dengan raut wajah yang tampak bahagia. Lelaki itu pun memasuki mobil porche hitam kesayangannya.
Vroommm....
Mobil mahal dan keren itu pun melaju meninggalkan area pekarangan rumah. Dan benar saja, di luar halaman rumah milik Baker, sudah ada satu mobil berisi dua orang lelaki di dalamnya, mereka adalah pria suruhan Asten yang diperintahkan untuk mengikuti Jackson.
“Ya benar, dia Jackson anaknya Nyonya Asten. Ayo cepat, kita ikuti mobilnya.” Mobil penjahat itu pun melaju mengikuti ke mana mobil Jackson pergi.
Jackson melebarkan senyumannya, lagi dan lagi ia merasa hatinya saat ini tengah berbunga-bunga, selain ia akan bertemu dengan Akash, ia juga akan bertemu dengan Kalala. Dan pastinya momen yang akan datang nanti adalah moment yang paling dinantikannya.
“Hah, aku benar-benar sudah tidak tahan ingin bertemu mereka,” gumamnya dalam hati, sambil fokus menyetir memandang lurus ke arah jalan.
Alih-alih membayangkan oborlannya dengan Akash, pikirannya kini malah teringat akan senyum manis dari wanita galak yang sering ia sebut sebagai macan tutul. Bayangan wajah dan senyum masin dari Kalala tiba-tiba tergambar di benaknya. Bahkan gelak tawa wanita itu seolah terngiang di telinga Jackson.
“Sial! Bisa-bisany aku kepikiran dia terus!” umpatnya sedikit malu dan tidak ingin mengakui.
“Baiklah, malam ini aku akan memutuskan, apakah kau wanita yang berhak aku perjuangkan atau mungkin harus aku relakan,” ucapnya menoleh ke arah paper bag yang berisi dua kotak hitam berisi perhiasan untuk Kalala. Satu kotak amanah dari Baker, dan satu kotak lagi adalah khusus hadiah darinya untuk Kalala.
“Aku akan memutuskan semuanya lewat kotak hadiah siapa yang kamu ambil, Kalala,” ucapnya tersenyum simpul.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....
Wah gimana nih? Lanjut gak?