
Keadaan jalanan menuju Menara CN pagi ini cukup lah padat.Karena berhubung ini adalah hari libur dan pasti akan banyak sekali pengunjung wisatawan yang datang ke destinasi bersejarah ini.
Mobil yang di tumpangi Boy baru sampai di pintu kedatangan utama. Mengikuti mobil yang beberapa meter ada di depannya, yaitu mobil yang ia sangka itu adalah mobil yang ditumpangi Shira.
Setelah itu, mobil pun melaju ke arah tempat parkir, mobil mereka juga berjajaran, hanya terhalang oleh dua mobil milik orang lain.
Boy buru-buru turun dari dalam mobilnya itu, ia menunggu di belakang mobil, sambil terus mengawasi dua orang yang sudah turun dari mobil juga.
“Loh, kok ....” Boy kebingungan, ia sedikit terkejut melihat bahwa mobil yang ia buntuti sejak tadi ternyata tidak menampung Shira atau pun suaminya.
Itu orang yang berbeda, hanya saja pakaiannya hampir sama mirip dengan Shira.
“Bagaimana bisa? Tapi itu benar nomor plat mobilnya,” batin Boy, berdebar tidak karuan.
Ia pun kembali memastikan dua orang yang tengah berjalan santai itu. Dan tetap saja, kedua matanya dapat melihat dengan jelas, kalau itu bukan Shira.
Dan jantung Boy semakin dibuat terkejut saat wanita yang tengah berjalan dengan pria itu ternyata memang orang lain. Ia tidak mengenalnya.
“Sial! Bagaimana aku bisa salah mengikuti orang?!” gerutunya berdecak kesal, sambil mengacak rambutnya.
“Ya Tuhan ... kenapa aku bisa salah sih!” batin Boy.
Ia pun segera menghubungi nomor Jackson untuk memastikan apakah biro jasa antar itu sudah mengatarkan Shira ke Menara CN atau belum.
Tuuuttt ... tut ... tuttt.
Panggilan pertama, masih tidak diangkat. Jackson tidak boleh menyerah, ia kembali meneleponnya.
Tuuuttt ... tut ... tuttt.
Panggilan kedua pun masih sama, tidak mendapat jawaban dari Jackson.
“Ya Tuhan, bagaimana ini? Ini pertama aku mengambil job seperti ini, tapi kenapa mataku bisa sampai salah mengenali orang!” ucapnya risau.
Ia pun berjalan tanpa ada arah dan tujuan, ia sudah tidak mungkin jika ia harus pergi menikuti orang-orang yang tadi. Tapi, besar kemungkinan ia akan menemukan Shira jika memang benar, Shira datang ke destinasi bersejarah ini.
__ADS_1
***
Sementara itu, di Hotel Shangri La—Paris, Shira dan Akash baru saja selesai mandi bersama, awalnya Shira kekeh ingin mandi sendiri karena takut di dalam bathtup suaminya itu akan memintanya lagi, akan tetapi Akash
juga kekeh, dengan paksa ia membuka pintu kamar mandi dan menghampiri Shira yang ada di dalam. Dan di dalam kamar mandi pun sempat terjadi perdebatan di antara keduanya. Hanya saja, pada akhirnya Shira mengalah dan membiarkan suaminya itu untuk ikut berendam bersamanya di dalam bathtup yang kebetulan memang muat
untuk di pakai berdua.
Kini Shira membuka lemari, mengambil baju miliknya lalu kembali ke kamar mandi untuk memakainya, sementara Akash, ia berganti pakaian di kamar saja, dekat tempat tidur. Dan setelah selesai, Shira keluar dari kamar mandi, mengenakan baju musim semi yang cukup tebal, tapi tetap terlihat anggun dan cantik. Karena di musim semi seperti ini, cuaca biasanya sering mendung dan turun hujan, meski cahaya matahari ada pula.
Perlahan Shira mengitari kamarnya itu, mencari-cari keberadaan suaminya, tapi ternyata Akash sudah tidak ada di sana.
“Loh, kemana Akash?” gumamnya dalam hati.
“Akash!” panggil Shira sedikit berteriak. Tapi tidak mendapat sahutan. Ia pun keluar menuju balkon, tapi tetap saja ia tidak bisa menemukan Akash, hanya saja, saat ini dirinya tengah terpaku di tempatnya, kedua matanya
terpukau saat ia salah satu ciptaan Tuhan yang sangat indah, yaitu langit sore yang berwarna jingga.
“Wah ... cantik sekali langitnya,” gumam Shira tersenyum lebar, menatap penuh takjub langit jingga yang sedikit menurunkan gerimis kecil.
Ini benar-benar sebuah moment yang pas sekali, datang ke Paris di saat awal musim semi. Kalau mereka datang ke Kanada, di sana pasti masih musim dingin bersalju.
Shira pun mendudukan tubuhnya di atas kursi panjang yang tersedia di sana, duduk berselonjor, sambil menghirup udara dalam-dalam, merasakan nikmatnya wangi kota Paris. Dan di ujung sana, ia dapat melihat, menara Eifel yang berdiri tegap, menjulang dengan indah, sore-sore seperti ini, ternyata lampu-lampunya sudah mulai di nyalakan, menambah kesan indah di menara tersebut.
Setelah kurang lebih menunggu tiga puluh menit sambil menikmati pemandangan indah di atas balkon kamar, tiba-tiba pintu balkon terbuka, membuat Shira yang tengah berdiri di sisi pagar kaca balkon langsung menoleh ke belakang.
“Akash?! Kamu dari mana saja?” tanya Shira mencebik kesal.
“Ini ....” Akash mengangkat dua paper bag besar yang di dalamnya berisi sesuatu.
“Apa itu?” tanya Shira menghampiri Akash yang sudah duduk di atas sofa. Ia juga ikut mendudukan tubuhnya di samping Akash.
“Makanan,” ucap Akash, tersenyum tipis sambil mengeluarkan makanan itu dari dalam paper bag dan menatanya di atas meja.
Ada dua cup spagheti, dua botol minuman manis, dan juga ada salad buah serta beberapa camilan, seperti french fries, nugget, sosis bakar, dan cup cake.
__ADS_1
Shira mencebik kesal, entah kenapa, tapi ia begitu kesal, karena kalau dengan cara begini, ia pasti tidak akan diajak keluar oleh Akash.
“Emh, kita enggak makan di luar ya?” tanyanya ragu.
“Di luar? Ini kan kita sedang di luar, tuh lihat menara eifelnya bagus sekali ya, tunjuk Akash melihat ke arah menara eifel yang berada jauh di sana.
“Hih, enggak peka banget sih jadi cowok!” batin Shira, memilih diam tidak menanggapi ucapan Akash.
“Oh ya, kamu mau makan apa dulu?” tanya Akash.
Shira tidak menjawab, ia langsung mengambil satu box nugget ukuran medium lalu melahapnya dengan wajahnya yang tampak kesal.
Akash mendengus pelan. “Kenapa dia?” gumamnya dalam hati.
“Ini, minumannya, kamu mau yang mana? Rasa teh atau lemon?” tanya Akash.
Dan lagi, Shira tidak ingin menjawabnya. Ia langsung mengambil minuman rasa teh itu dan menyedotnya dengan rakus.
Akash tersenyum melihat tingkah lucu yang Shira tunjukkan padanya. Lelaki itu pun mengacak sedikit rambut Shira.
“Selain cantik, kamu memang menggemaskan,” puji Akash, lalu kembali fokus ke arah makanannya, karena
jujur saja, perutnya itu sudah keroncongan dari tadi karena belum di isi makanan apa-apa sejak pagi.
Shira yang mendapat perlakuan tersebut dari Akash, bukannya senang, wanita itu malah makin merasa kesal.
“Dasar! Tidak peka, ngapain jauh-jauh liburan ke Paris kalau hanya diam di kamar! Huh, sungguh menyebalkan! Bukannya basa-basi bicarain masalah jalan-jalan, malah ngengombal aku dengan gombalan pasaran!” gerutunya di dalam hati.
Bersambung...
Lanjut enggak nih?
Yang mau lihat visual Jackson bisa cek di ig author ya.
Selamat bertemu di episode selanjutnya mentemen.
__ADS_1