
Setelah berkeliling mencari-cari keberadaan penjual rujak mangga. Akhirnya, Kalala pun mendapatinya.
“Tuan Edwin, di depan sana berhenti ya. Itu penjual rujak mangganya.” Tunjuk Kalala ke depan persimpangan dekat pasar malam.
Edwin pun mengangguk, lalu ia menepikan mobilnya di pinggir jalan khusus tempat parkir di sana. Mereka pun turun dari mobil dan bergegesar pergi mendekati penjual rujak mangga.
“Pak, rujak mangganya masih ada?” tanya Kalala berdiri di depan tanggungan si Bapak penjual rujak.
“Masih ada, Neng. Mau berapa bungkus?”
“Emh, satu bungkus aja, Pak, yang pedes ya,” ucap Kalala.
Si Bapak pun mengangguk mengiyakan, lalu segera membuat rujak mangga sesuai pesanan Kalala.
“Neng, mau pakai cuka apa asem asli?” tanya si Bapak.
“Oh, pakai asem asli aja, Pak, biar tambah enak,” jawab Kalala, ia sendiri pun ngiler melihat rujak yang tengah dibuat oleh si Bapak.
“Beli berapa bungkus?” tanya Edwin, yang baru saja sampai dan berdiri di samping Kalala.
“Satu aja.”
“Kamu enggak beli emang?” tanyanya.
“Enggak ah, takut sakit perut,” jawabnya.
Selagi menunggu rujak mangga itu selesai di buat, mereka berdua melihat-lihat ke area pasar malam yang saat itu masih terlihat begitu ramai. Banyak anak-anak dan pasangan-pasangan muda yang berlalu lalang di sana.
Kalala juga melihat-lihat berbagai macam permainan yang ada di sana, mulai dari kora-kora, kincir, kereta anak, balon air, dan berbagai macam permianan lainnya.
“Aaaaa....” Teriakkan dari para penumpang kora-kora, terdengar memekik di telinga mereka.
Benda berbentu perahu itu tengah melayang-layang, memebrikan sensai menegangkan bagi para penumpangnya.
“Tuan Edwin, kau berani tidak naik kora-kora?” tanya Kalala.
“Kora-kora apa? Kura-kura maksud kamu?” tanya Edwin, yang memang pada dasarnya ia tidak begitu tahu soal nama-nama permianan, bahkan nama kora-kora saja masih terasa asing di telinganya.
“Bukan kura-kura tapi emang kora-kora, tuh lihat!” Kalala menunjuk ke arah perahu kora-kora yang tengah mengayun-ayun itu.
“Kamu pasti belum pernah mencobanya ya?” tanya Kalala meledek sambil menyenggol lengan Edwin dengan sikutnya.
“Lagian, untuk apa main-mainan anak kecil seperti itu,” jawabnya, begitu angkuh.
Kalala melengkungkan bibirnya ke bawah. “Emh, ngeledek mainan anak kecil, itu tuh mainan anak dewasa tahu, tuh kamu lihat aja, yang naik rata-rata remaja dan dewasa.”
“Neng, rujaknya, Neng.” Si Bapak penjual rujak menginterupsi mereka.
“Oh iya, Pak. Ini uangnya ya, Pak.” Kalala memberikan uang lembar 100 ribu kepada si Bapak itu.
“Duh, Neng, tapi saya belum ada kembaliannya, ada uang kecil enggak, Neng?” tanyanya.
“Oh, udah enggak apa-apa, kembaliannya buat Bapak aja. Makasih ya, Pak.”
__ADS_1
“Loh ....” Si Bapak sempat merasa kaget, karena kembaliannya cukup banyak, padahal harga rujak mangganya saja cuma 15.000.
“T-tapi, Neng ini kembaliannya kebanyakan.”
“Udah enggak apa-apa, udah rezeki, Bapak,” jawab Kalala tersenyum, lalu ia pun pergi meninggalkan penjual rujak itu dan melangkah menuju permainan kora-kora.
Edwin masih membuntuti Kalala, ia mengikuti langkah wanita itu pergi. Lalu mereka berhenti di depan stand karcis.
“Mbak, tiket kora-koranya dua ya.” Kalala memberikan selembar uang 100 ribu kepada wanita yang berjaga di loket karcis.
“Loh, kamu ngapain beli tiket itu?”
“Ya ‘kan, kita mau naik kora-kora. Kamu belum pernah mencobanya ‘kan?”
“T-tapi siapa yang mau. Kau saja lah sendiri yang naik, aku tidak mau.”
Kalala menyipitkan matanya, menatap penuh curiga kepada lelaki yang berdiri di sampingnya. “Ahhh... aku tahu, kamu pasti takut ‘kan naik permainan ini? Ha ha ha, wajah aja sangar, tapi naik kora-kora enggak berani!” ejeknya.
Edwin yang tidak terima, ia pun merengutkan wajahnya. “Kau bilang apa! Aku tidak berani!”
“Iya, kau penakut. Kalau kau memang benar-benar berani, ayo naik!” tantang Kalala, menatapnya penuh tantang.
“Siapa takut! Ayo!”
Para penumpang kora-kora pun tururn setelah mereka diayun-ayunkan selama kurang lebih 5 menit di atas kora-kora, dan kini giliran para penumpang yang menunggu di bawah tangga yang naik ke atas kora-kora itu, termasuk Kalala dan Edwin.
Karena bangku tengah sudah terisi full, mereka berdua pun terpaksa duduk di bangku paling ujung, bangku yang orang bilang adalah bangku jantung copot, karena siapa pun yang duduk di sana, pasti akan merasakan jantung mereka mau copot.
Edwin masih biasa saja, duduk mengikuti arahan yang diberikan oleh petugasnya. Kalala yang memang sudah sering bermain seperti ini, ia hanya cengar-cengir siap-siap ingin melihat bagaimana ekspresi Edwin jika menaiki wanaha ini.
“Hem, hanya begini?” ucap Edwin melirik ke arah Kalala.
“Belum lah, ini masih pemanasan,” jawabnya.
Satu ayunan, dua ayunan, hingga tiga ayunan, masih terasa biasa saja. Tapi saat ayunan ke empat, kora-kora ini pun mulai mengayun cukup tinggi.
Dug, deg, dug, deg, jantung Edwin sepertinya tidak bersahabat. Lelaki itu menggengam erat besi pengaman yang dipegangnya. Matanya melotot, dengan wajahnya yang mulai pias, dan tampak sangat tegang.
Semakin mengayun dan semakin lama Edwin merasakan tubuhnya seolah tengah melayang ke awang-awang, hingga ia merasakan tubuhnya seolah ingin jatuh dari tempat duduknya.
Dan ketkutannya semakin memuncak, hingga ia berteriak sekencang mungkin, membuka mulutnya begitu lebar dengan matanya yang semain melotot dan juga rambutnya yang tersingkap tertiup angin menampilkan jidat lebarnya.
“Aaaa....”
Kalala yang melihat ekspresi dan ketakutan di wajah Edwin, ia hanya terbahak, sambil menikmati sensani ayunan yang menguji jantungnya.
“MAMA!!!” Edwin semakin mengencangkan teriakannya, memanggil mamanya, saking takutnya.
“Hey, Tuan, katanya kau tidak takut!”
“Diam kau Cheetah! Nyawaku sedang terancam!” seru Edwin berkata begitu cepat.
“Ahahahaha.” Kalala semakin tertawa kencang menikmati semuanya, terlebih ia menikmati ketakutan sekretaris kaku itu.
__ADS_1
Teriakan Edwin dan penumpang lain pun semakin keras terdengar. Ayunan kora-kora pun kini mulai melambat, semakin melambat dan setelah beberapa menit, kora-kora pun berhenti dengan sendirinya.
Edwin masih terdiam merasakan pusing dan mual yang tiba-tiba menyerangnya. Lelaki itu bengong dengan wajahnya yang terlihat semakin pucat.
“Hey, Tuan ayo turun!”
“Kau saja sana!” teriak Edwin tidak santai.
“Ya sudah, kalau kau tidak turun, nyawamu terancam dua kali, Tuan.” Kalala berkata sambil tersenyum puas, bisa mengerjai lelaki kaku itu.
Meski masih merasakan pusing, akhirnya Edwin pun turun dari kora-kora itu, ia tidak ingin menaiki wahana pencabut nyawa itu.
Kini mereka pun masuk ke dalam mobil. Edwin masih merasakan pening yang luar biasa di kepalanya. Kini tatapannya pun beralih ke pada Kalala yang tengah sibuk mengaitkan seat belt di tubuhnya.
“Kenapa?” tanya Kalala tersenyum kaku, sedikit takut saat melihat tatapan Edwin yang begitu tajam padanya.
“Masih bertanya kenapa?!”
“Kau berencana ingin membunuhku ya?!”
“Membunuh? Membunuh apa?” tanya Kalala sedikit meringkuk ketakutan.
“Jantungku hampir saja copot gara-gara wahana itu!” Dan tiba-tiba, Edwin menarik kepala Kalala, mendekapnya dengan erat.
“E-e-eh eh.”
Dug, deg, dug, deg, Kalala dapat medengarkan detak jantung Edwin yang benar-benar jauh dari kata normal.
“Kau mendengarnya?!” Edwin melepaskan kepala Kalala dari dekapannya.
Buru-buru wanita itu menjauhkan dirinya dari jangkauan Edwin. Kalala mengangguk.
“Kenapa bisa sampai ratug begitu?” tanya Kalala dengan polosnya.
Edwin berdecak kesal, tidak ingin menjawabnya.
“Ma-maaf, Tuan, saya tidak tahu kalau ternyata, Tuan setakut itu,” ucap Kalala, merasa bersalah.
“Aku tidak takut! Aku hanya tidak suka, jantungku dipermainan seperti itu!”
“Bahkan jika ada pilihan, lebih baik aku bertarung dengan 10 orang penjahat dari pada menaiki wahana pencabut nyawa itu!” gerutunya dengan nafas yang masih naik turun tidak beraturan.
“Kora-kora, Tuan, bukan wahana pencabut nyawa,” jawab Kalala pelan.
“Alah! Terserah, yang pasti aku tidak ingin menaikinya lagi!” seru Edwin masih terbawa emosi saking tidak sukanya dengan permainan itu.
“Waduh, salah ngajak orang kayaknya nih. Ternyata dia benar-benar setakut itu sama ketinggian,” gumam Kalala dalam hati.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....
Ih, Bang Edwin penakut ternyata haha...