
Mohon maaf ya semalam author salah masukin naskah. Hari ini diperbaiki, sekaligus mau crazy up.
Happy reading and enjoy~~~
***
Satu persatu para modeling berjajar di atas panggung, karena saat ini adalah waktunya untuk pengumuman pemenang. Dan Nama Shira pun terpanggil menjadi salah satu pemenangnya.
Pentas model itu, dimenangkan oleh Shira, meski ia hanya masuk di juara tiga, akan tetapi setidaknya dengan seperti ini, ia akan mempunyai bayangan karir sebagai modeling yang ternama ke depannya.
“Sialan! Kok bisa sih dia yang masuk juara tiga besar.” Luna menatap Shira yang tengah berdiri di panggung memegang piala beserta piagamnya. Luna merasa kesal, karena dirinya tidak masuk dalam tiga besar, bahkan sepuluh besar pemenang pun tidak.
“Iya, aneh banget. Padahal pakaian yang digunakannya hanya pakaian koboy, tidak mewah, tidak istimewa, malah terlihat kampungan!” sahut Kea yang berdiri di samping Luna.
Luna semakin merasa gerah mendengar penuturan dari sahabatnya itu.
“Iya, seharusnya Sweety kita yang menang. Bukan si Shira norak itu yang menang!” Sherly ikut berkomentar dengan kesal.
Kini raut wajah Luna tampak muram, aura kebencian semakin menyelimuti wajahnya.
“Pasti ada yang tidak beres. Dia sepertinya bermain curang di belakang!” ujar Luna menatap Shira dari kejauhan dengan tatapan penuh keirian.
“Ah sudahlah, aku tidak betah berlama-lama di tempat ini. Sungguh panas sekali!” Luna menepiskan rambutnya ke belakang dengan sebelah tangannya, lalu mereka bertiga pun pergi dari Aula pentas tersebut.
“Nashiraaaa ... akhirnya kamu menang juga,” pekik Kalala begitu senang sambil melebarkan tangannya siap memeluk Shira.
Shira tersenyum lebar, lalu segera berlari mendekati Kalala menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Kalala. Dan saking senangnya, Kalala mengeratkan pelukannya sampai membuat Shira merasakan sesak.
“Lepaskan, lepaskan!” pinta Shira saat keduanya masih saling berpelukan kegirangan.
“Uhuk, uhuk.” Shira terbatuk, lalu ia terkekeh.
“Ha ha, maafkan aku Shira, aku terlalu excited dengan kemenanganmu, kamu tidak apa-apa ‘kan?” tanya Kalala tertawa sambil melepaskan pelukannya.
Shira pun ikut tertawa, sambil masih mencoba mengatur nafasnya. “Iya, tenang saja, aku tidak apa-apa kok," jawabnya tersenyum lebar pada Kalala. Keduanya tampak benar-benar terlihat berbahagia.
"Akhirnya, sahabatku ini menjadi juara juga. Setelah ini, kamu tidak perlu bekerja di rumah orang kaya itu lagi, Shira. Setelah ini kamu pasti bakalan dapat pekerjaan sebagai model dimajalah-majalah, uhuyyy," ucap Kalala begtiu semangat.
Shira tersenyum melihat raut bahagia di wajah Kalala. Ini mengingatkannya akan salah satu cita-cita Shira yang ingin dicapai, yaitu menjadi model profesional.
"Iya, Kala. Semoga saja dengan peluang ini, cita-citaku untuk menjadi model profesional bisa tercapai," ucapnya.
“Hey, selamat ya.” Tiba-tiba seorang lelaki muncul di antara mereka, membuat Kalala dan Shira langsung menoleh terkejut ke arah sumber suara.
“Eh, kamu ....” Shira teringat bahwa lelaki itu adalah lelaki yang tadi bertabrakan dengannya di panggung.
Dia adalah Boy, mahasiswa baru di kampus ini. Mengambil kelas yang sama dengan Shira dan Kalala. Sebenarnya, Boy sudah mengetahui Shira sejak satu minggu yang lalu, akan tetapi keberadaannya masih belum disadari oleh Shira dan Kalala.
Lelaki itu tersenyum, menampilkan lesung pipinya yang membuat senyumannya tampak sangat manis.
“Oh ya kenalkan, aku Boy.” Boy menjulurkan tangannya mengajak Shira berjabat tangan.
Shira sejenak terpaku, terpana akan senyuman manis yang cukup menggetarkan hati. Lalu Shira pun membalasnya. “Em, Shira.”
Setelah berjabat tangan dengan Shira, lelaki itu menaglihkan pandangannya kepada Kalala. “Aku Boy.”
__ADS_1
Kalala juga sama seperti Shira, ia terpesona akan senyuman dan lesung pipi dari lelaki itu.
“Kalala,” jawab Kalala membalas jabat tangan Boy.
“Oh ya, aku ada ini buat kamu.” Boy menyodorkan satu buket bunga kepada Shira.
Shira dan Kalala sejenak beradu pandang, merasa heran, kenapa lelaki itu tiba-tiba memberinya bunga.
“Untuk ... aku?” tanya Shira ragu-ragu, sambil menunjuk dirinya sendiri.
Boy mengangguk, melebarkan senyuman manisnya pada dua gadis di depannya. Terlebih senyuman itu ia tujukan kepada Shira.
“Iya. Bunga dariku sebagai ucapan permintaan maaf aku padamu, atas kejadian tadi.”
Shira tersipu. “Oh... itu, kau tidak perlu repot-repot memberiku buket bunga seperti ini. Lagi pula, masalah yang tadi tidak apa-apa kok.” Shira menjawab sambil menyelipkan sebagian rambutnya ke belakang telinga, merasa malu.
“Sudah, tidak apa-apa. Ambilah, aku memberikannya tulus padamu," ucap Boy masih kekeh menyodorkan buket bunga itu.
Shira dan Kalala kembali beradu pandang. Lalu Shira pun tersenyum mengangguk pelan.
“Baiklah, terima kasih,” ucapnya malu-malu, seraya mengambil buket bunga itu dari tangan Boy.
Dan tiba-tiba, lelaki berwajah tampan itu memeluk Shira sekilas. Membuat Shira sangat terkejut, bahkan Kalala ikut membulatkan kedua matanya melihat adegan di depannya itu.
“Nashira!” gelegar suara seseorang yang terdengar marah, membuat mereka semua langsung menoleh ke arah sumber suara.
Buru-buru Boy melepaskan pelukannya. Dan ikut menoleh ke arah sumber suara.
Shira semakin membeliakan kedua matanya saat melihat sesosok lelaki berkaca mata hitam, yang tak lain ialah Akash—suaminya.
Akash berdiri mengepalkan kedua tangannya dengan urut-urat yang menonjol saking menahan emosinya. Rahangnya mengeras, hatinya bergejolak panas, lalu ia melepaskan kaca mata hitamnya dan kini sorot mata tajamnya dia layangkan pada Shira dan kedua temannya itu.
Kalala menatap heran kepada lelaki yang masih berdiri itu. “Bukankah itu lelaki yang pernah aku lihat sebelumnya?” gumam Kalala dalam hati, merasa tidak asing melihat sosok pria tersebut.
“Ah... iya, dia kan lelaki yang waktu itu menjemput Shira,” batinnya.
"Akash," ucap Shira pelan, saat lelaki itu mulai berjalan mendekatinya.
Tanpa berbasa-basi, tanpa kata, bahkan tanpa etika, begitu sampai di hadapan Shira, Akash angsung menarik lengan istrinya itu, membawanya pergi menjauh dari kedua temannya itu. Shira sejenak menoleh ke arah Kalala, saat suaminya itu menariknya pergi dari sana.
Kalala memandangnya dengan bingung. "Siapa dia sebenarnya? Kenapa perlakuannya kepada Shira sangat kasar?" lirihnya. Kalala tidak berani untuk mengejar mereka, karena ia tahu itu sudah menjadi ranah pribadi Shira, ia tidak bisa ikut campur begitu saja urusan mereka.
“Akash," ucap Shira pelan, sedikit takut.
“Akash, tunggu!” Shira hendak melepaskan tangannya akan tetapi, genggaman tangan Akash sangatlah kuat. Akash terus membawanya berjalan dengan cepat. Tidak memedulikan panggilan Shira. Bahkan saat Shira meringis kesakitan pun Akash tidak memedulikannya.
Mereka berhenti di sebuah lorong menuju ruang labolatorium, yang kebetulan saat itu sedang sepi karena tidak ada praktik apapun selain mahasiswa yang sibuk berkecimpung di area aula festival.
Akash menepiskan tangan Shira dengan kasar, hingga Shira terjembab ke sisi tembok.
“Apa yang kau lakukan dengan lelaki tadi hah?!” tanya Akash tidak ramah. Kini sorot matanya dipenuhi dengan luapan api emosi.
Sorot mata yang sedikit menusuk itu membuat Shira ketakuan dengan sosok suaminya. “A-aku tidak melakukan apa pun, Akash. Tadi dia yang tiba-tiba me--.”
“Kau kira aku buta hah?!" Akash memotong ucapan Shira. "Kau tadi pentas dengan lelaki itu kan di panggung? Dan barusan aku juga melihatmu berpelukan dengannya. Apa itu yang namanya tidak melakukan apa-apa?!” sentaknya penuh amarah.
__ADS_1
Kedua mata Shira tampak berkaca-kaca, wanita itu tidak terbiasa di sentak seperti ini. Entah kenapa, sentakan dari Akash terasa begitu menusuk di relung hatinya. Meski terkadang Shira bersikap keras kepala dan sedikit bar-bar, akan tetapi, hatinya yang lemah dan rapuh itu, tidak bisa menahan sentakan sedikit pun. Apalagi dari orang yang sudah ia kenal.
“Aku tidak pentas dengan lelaki itu, Akash. Aku hanya ikut kompetisi model, dan barusan itu dia yang—”
Sebelum Shira menyelesaikan ucapannya, Akash kembali memotong ucapannya.
“Lalu, ini foto apa hah?! Kau memenangkan juara model dengan dia ‘kan?” tanya Akash menunjukkan foto diponselnya yang tadi dikirimkan oleh Jackson. Akash tidak memberi celah sedikit pun kepada Shira untuk membela.
Shira tercengang melihat foto itu. "Loh, foto itu. Kenapa foto itu bisa ada di kamu?" tanyanya pelan, mendongak, menatap sendu ke arah Akash.
"Kenapa? Kau bertanya kenapa foto ini bisa ada padaku?!"
"Hey, Nashira! Seharusnya aku yang bertanya kepadamu. Kenapa kau bisa-bisanya berpose seperti ini! Dan kenapa kau tidak bilang kepadaku kalau kau mengikuti pentas sialan seperti ini hah!? Kau ingin ayahku juga tahu foto ini?!"
“Seharusnya kau ingat akan perjanjian kita, Shira. Apa kau sudah melupakan syarat di keluarga kita hah?" tanya Akash semakin emosi. "Ingat Shira! Menantu perempuan di keluarga Atkinson, dilarang bersentuhan dengan pria lain selain suaminya!” tegasnya penuh penekanan.
“Dan kau ... gara-gara kecerobohanmu ini, sekarnag aku terancam, Shira. Kalau sudah terancam seperti ini, memangnya kau mau mengganti rugi atas kekuasaan yang diberikan oleh ayahku hah?!” seru Akash penuh emosi.
Air mata Shira sudah tak bisa dibendung lagi. Perkataan demi perkataan yang dilontarkan oleh Akash, sangatlah menyakitkan di hatinya. Ia tidak menyangka, kalau Akash berani berbicara seperti itu padanya.
Hatinya terasa sesak, ingin berbicara tapi tidak bisa, tenggorokan pun terasa tercekat. Shira menelan salivanya dengan kuat. Bibirnya bergetar, dengan kedua pipi yang sudah basah oleh air matanya. Ia menarik nafas mencoba mengatur emosinya, lalu tersenyum getir mencoba tegar meski hatinya tengah rapuh.
“Akash, dengarkan aku ...."
Meski berat dan terasa menyakitkan, Shira harus bisa mengutarakan perasaannya saat ini.
"Akash, Aku tidak pernah melupakan satu pun syarat dari keluargamu! Aku juga tidak pernah melupakan janjiku padamu, Akash! Tapi, apakah harus seperti ini kamu berbicara padaku? Apa harus kamu mengungkit kelemahanku? Sedari tadi aku ingin menjelaskan kesalah pahamman ini padamu. Tapi kenapa? Kenapa kamu tidak memberiku sedikit waktu untuk menjelasakan apa yang sudah terjadi?!” Shira memandang nanar, dengan perasaan yang campur aduk tidak karuan.
Air matanya semakin berderai membasahi kedua pipinya, sejenak Shira menghapusnya perlahan. “Aku tahu, aku memang tidak memiliki harta Akash! Jika kamu menyuruhku mengganti kekuasaan yang diberikan oleh ayahmu itu, tentu aku tidak akan bisa. Sangat bodoh jika aku bersombong mengatakan 'bisa' padamu!” lanjutnya dengan suara yang semakin memberat.
Keduanya terdiam, lalu saling memandang dengan nanar yang penuh kekecewaan. “Kalau kamu menganggapku sebagai ancaman dihidumu, sekarang juga lebih baik kau buat permintaan keduamu itu untuk menyuruhku pergi dari hidupmu!”
Akash menautkan kedua alisnya. Ia sebenarnya tidak bermaksud untuk mengatakanitu semua, akan tetapi karena ia kurang mmapu menguasi emosinya, secara tidak sadar semua perkataan menyakitkan itu pun terlontar dari mulutnya.
Jika sudah seperti ini, sungguh Akash tidak tega melihat Shira yang sudah menangis dengan kedua pipi yang terus basah dialiri air mata. Akan tetapi, ia masih merasa kesal terhadap istrinya tersebut yang sudah melanggar peraturan keluaraga.
“Shira, jangan salah paham aku tidak pernah mengatakan atau menganggpmu sebagai ancaman."
"Jangan salah paham?" tanya Shira dengan kedua alis yang bertautan, mengulang ucapan Akash.
"Oh ... jadi yang boleh salah paham cuma kamu ya?"
"Tidak seperti itu, Shira. Seharusnya kamu juga sadar diri Shira. Aku hanya tidak ingin apa yang sudah aku dan kamu lakukan selama ini ... gagal hanya karena ulahmu hari ini.
"Gagal karena ulahku?" Lagi dan lagi, Shira merasa perkataan Akash sangat menyudutkannya. Kenapa harus dirinya sendiri yang disalahkan.
"Stop Shira! Jangan memotong ucapanku! Dengarkan .... Seharusnya kamu juga berpikir, aku bisa semarah ini karena ulahmu! Kamu sudah melanggar peraturan keluarga, Shira!”
Shira teridam, terisak, menahan pedih di hatinya. Ia tidak habis pikir kalau Akash akan seegosi ini padanya. Ia yang disudutkan, ia juga yang sisalahkan.
"Aku tidak pernah melanggar peraturan keluarga!" teriaknya saking emosi. “Terserah kau menganggapku apa! Yang pasti aku tidak pernah melanggar peraturan di keluargamu Akash! Tidak pernah Akash ... tidak pernah!” serunya dengan emosi yang membeludak, lalu pergi meninggalkan Akash begitu saja.
Akash mengacak rambutnya merasa frustrasi. “Argghhh! Perempuan dari dulu memang selalu menyusahkan!" umpatnya kebingungan.
__ADS_1
Bersambung...
Di tunggu ya part selanjutnya. Komen dulu dong di bawah ehehe.