Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Wajah Mengejutkan


__ADS_3

Pagi itu, Asten sengaja bangun lebih pagi dari biasanya, wanita setengah baya itu buru-buru pergi ke dapur untuk melihat para pelayan yang tengah memasak.


"Oh ya, menu sarapan pagi ini apa?" tanya Asten kepada koki yang tengah memasak di dekat kompor. Mengaduk-aduk sebuah makanan di atas wajan.


"Menu sarapan pagi ini, kamu membuat sandwich dan omelet, Nyonya," jawab si Koki yang masih sibuk membalikkan omelet.


"Oh, begitu, apa semua orang akan sarapan dengan menu yang sama?" tanyanya lagi penasaran.


"Iya, Nyonya. Apa Nyonya ingin sarapan dengan menu yang berbeda?" tanya si koki.


"Oh, baguslah kalau begitu. Tidak, aku hanya ingin bertanya saja, nanti kalau sudah jadi, aku akan bantu kalian untuk menghidangkannya ya," ucapnya lalu pergi kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap sarapan bersama.


Sementara itu, Shira baru saja selesai mandi, pagi ini ia sudah selesai dari haidnya, ternyata setelah menikah durasi haidnya jadi berkurang, yang biasanya ia haid sekitar 5-7 hari. Tapi ini baru hari ke empat darah sudah berhenti.


Hanya saja, ketakutan masih menyelimuti Shira, ia tidak akan memberi tahu Akash kalau dirinya sudah selesai haid, karena ia takut kalau Akash sampai tahu, bisa-bisa dia akan mengunboxingnya lagi.


Shira mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. Ia mendekat ke tepi ranjang ingin membangunkan suaminya itu dari tidurnya.


Sebelum tangannya berhasil menyentuh tubuh Akash, Shira malah terpaku meliaht wajah pulas Akash. Wanita itu tuba-tiba terdiam, dengan berbagai macam pikiran yang menyelimutinya.


Entah kenapa, tetapi melihat Akash yang tertidur pulas seperti orang kelelahan itu, hatinya tiba-tiba bergetar, ada hal yang membuat hatinya terenyuh memandangnya.


Lelaki ini, bukanlah lelaki yang ia kenal lama, tetapi entah kenapa Akash selalu menjadi penolong baginya. Shira jadi berpikir, kalau seandainya ia tidak bertemu Akash di club malam itu, tentunya hari ini ia tidak akan ada di sini, dan bisa saja nasibnya akan jauh lebih buruk, yaitu menjadi anak buah Tuan Hellboy, si lintah darat yang haus akan uang.


Shira juga berpikir, kenapa bisa-bisanya lelaki tampan dan kaya raya seperti Akash mau menikahi dirinya. Padahal sudah jelas, dirinya banyak sekali memiliki kekurangan.


Shira berjongkok tepat di samping ranjang yang tengah ditiduri oleh Akash. Ia tersenyum tulus memandang wajah tampan suaminya itu.


"Takdir memang penuh kejutan ya. Aku dan kamu tidak pernah saling mengenal, tapi tiba-tiba takdir mempersatukan kita menjadi sepasang suami istri," gumamnya pelan tersenyum simpul.


Seperti ada yang aneh dengan kalimat yang ia ucapkan, Shira mengulangnya kembali. "Suami istri?" lirihnya jadi tersenyum kecut.


"Haha, lucu banget ya, hanya karena sebuah perjanjian sepele, kita bisa sampai berumah tangga seperti ini," ucapnya tersenyum getir seolah ada yang membelenggu di hatinya demi mengingat bagaimana kisah ini dimulai atas dasar perjanjian.


Ia menghela nafas dengan berat. Lalu Shira pun berdiri dan melanjutkan niatnya untuk membangunkan Akash.


"Akash, bangun sudah siang," ucapnya menggoyang-goyangkan tubuh Akash cukup pelan.


"Akash!" panggilnya lagi. Akan tetapi, masih tidak ada respon atau pergerakan lebih dari suaminya itu.


Shira tersenyum jahil, lalu ia pun mengambil lipstik dari dalam tasnya, membukanya pelan sambil tersenyum jahil.


Ia memastikan terlebih dahulu situasi saat ini, jangan sampai ada CCTV di kamar ini. Setelah di rasa aman, Shira pun mulai mengoleskan lipstik itu di wajah Akash, membuat tiga garis panjang di kedua pipi suaminya itu.


"Uh... cute banget sih kamu, kaya meong," ucap Shira dengan gemas, melihat wajah Akash sudah seperti ada kumis kucingnya.


Buru-buru ia mengambil handphonennya dan memfoto wajah Akash beberapa kali.


Cekrek, cekrek, cekrek.


"Yeay, sudah," ucapnya langsung melihat hasil jepretannya.


Shira tampak begitu senang, ia tertawa cekikikan sendirian sambil memandang foto-foto Akash yang dirasa sangatlah begitu lucu, ia pun menjadikan salah satu dari foto yang diambilnya itu sebagai wallpaper di handphonenya.


"Haha, ternyata dia bisa selucu ini ya," ucapnya. "Uh... meong gemas," ucapnya memandang ponselnya dengan geregetan.


Selagi sibuk memandang wallpaper baru di handphonenya itu. Tiba-tiba terdengar suara ketukan kamar, di susul dengan suara seseorang di luar pintu sana.


"Sebentar," teriak Shira, langsung menggulung terlebih dahulu rambutnya menggunakan handuk dan pergi untuk membukakan pintu.


"Ayah," pekik Shira begitu tercengang melihat kahadiran ayah mertuanya yang tiba-tiba sudah muncul di hadapannya.


"Di mana Akash?" tanya Baker begitu dingin.


Shira terlihat gugup. "Oh, A-Akash masih tidur, Ayah."


Baker menarik nafas, lalu ia menengok ke belakang Shira, mengintip sekilas anak sulungnya yang memang masih terbaring di tempat tidur.


"Bolehkan Ayah masuk?" tanya Baker.

__ADS_1


"Apa? Masuk?" batinnya terkejut.


Deg, jantung Shira terasa berdetak kencang, entah kenapa, permintaan dari Ayah mertuanya itu bisa membuat jantungnya berdesir hebat. Mungkin karena ia merasa ketakutan sudah menjahili suaminya dengan mencoret-coret wajah Akash.


Tapi, ia juga tidak mungkin melarang mertuanya untuk menemui anaknya itu. "Waduh, gimana ini? Mana wajah Akash masih banyak coretan lipstik lagi," gumam Shira dalam hati begitu panik.


Dengan gugup dan gemetar, Shira pun memilih mengangguk, mengizinkan ayah mertuanya itu untuk masuk menemui Akash di dalam kamar.


"Silakan, Ayah." Shira membuka pintu kamar itu lebar-lebar.


"Oh ya, Ayah akan duduk di sofa, kamu tolong bangunkan Akash ya," ucap Baker, ia masuk dan berbelok ke arah sofa bulat yang tersedia di sana.


"Waduh gawat, harus bagaimana ini?" gumam Shira semakin panik. Ia pun mendekati Akash, dan duduk di sampingnya. Lalu sejenak menengok ke arah Baker yang sudah duduk di sofa sana. Ia pun tersenyum kaku ke arah Baker, lalu kembali menoleh ke arah suaminya.


Shira mulai menggoyang-goyangkan tubuh Akash, sambil memanggil namanya pelan.


"Akash, bangun Akash," ucap Shira.


Akash masih tertidur pulas, sepertinya lelaki itu benar-benar kelelahan karena malam kemarin sampai malam tadi ia tidak tidur-tidur.


"Akash, ayahmu datang, cepat bangun Akash," ucap Shira masih berusaha.


Selagi menggoyang-goyangkan tubuh Akash, Shira sambil berpikir keras bagaimana cara menghapus lipstik di wajah suaminya itu.


"Kalau pakai tisu basah, nanti belepotan. Aduh, aku juga gak bawa micellar water lagi," batinnya.


Ia pun kembali menengok ke arah Baker yang masih setia menunggu Akash untuk bangun.


"Sebentar ya, Ayah. Sepertinya Akash sedang nyenyak-nyenyaknya," ucap Shira tersenyum kaku.


Kini ia menegdarkan pandangannya ke arah cermin rias, dan keberuntungan pun seolah berpihak padanya. Di meja kaca rias itu terdapat micellar water dalam satu botol yang cukup besar.


"Akhirnya, aku menemukannya," batinnya begitu senang, ia pun buru-buru mengambil micellar water itu, dan kini ia sudah berdiri di pinggir ranjang, tepatnya di sisi Akash.


Ia buru-buru membuka micellar water yang sepertinya masih baru, karena segelnya pun masih terkunci. Shira pun membukanya terlebih dahulu. Dan saat ia hendak menuangkan micellar water itu ke tisu basah miliknya, ia seidkit kesulitan.


"Loh, kenapa airnya gak keluar sih," gumamnya, Ia pun terus mengkocok-kocok botol tersebut, berusaha menuangkan micellar water tersebut ke tisu basah miliknya.


"Ish, gimana sih ini!" gerutunya.


"Oke aku harus beursaha maksimal!" gumamnya serius.


Ia kembali membalikan botol tersebut, lalu meniliknya dengan serius, dan ia pun dengan menekan-nekan bulatan yang ada di tengah botolnya. "Aduh, mentang-mentang micellar water orang kaya, ini gimana gunainnya sih!"


Dengan kesal ia pun memutar, menekan dan menggigit tutup botol micellar water itu, dan ini yang terakhir kalinya, ia membalikan botol itu dengan geram. Dan tiba-tiba ....


Byur ....


Tutup botol itu tiba-tiba terlepas dari tempatnya, air micellar itu langsung tumpah mengenai wajah Akash. Tidak hanya Akash yang terkejut karena mendapat siraman di tengah lelapnya, Shira yang ceroboh pun ikut terkejut dan buru-buru membalikan botol tersebut dengan benar.


"Ya ampun Shira, apa yang kau lakukan?!" gerutu Akash langsung bangun dan mengusap-usap wajahnya yang terkena air itu dengan kasar.


"A-Akash, maaf aku benar-benar tidak sengaja," ucapnya panik.


Akash membuka matanya ia menatap kesal ke arah Shira yang sudah berdiri di depannya.


"Tidak sengaja bagai--" Tiba-tiba kedua mata Akash terfokus kepada ayahnya yang sudah duduk di pojok sofa.


"Ayah!" pekiknya terkejut.


Ayahnya malah lebih terkejut saat melihat wajah anaknya yang sangat berantakan. Bukan hanya berantakan, tapi wajah Akash kini lebih terlihat seperti tomat merah.


Dan seketika itu pula Baker terbahak melihat wajah lucu dari anak sulungnya itu. "Aha ha ha ha ha ...." Lelaki tua itu seperti sedang digelitik, demi melihat ekspresi cengo dari anaknya.


Dan tawanya Baker, membuat Akash semakin terkejut bahkan merasakan sedikit takut. Karena setelah sekian lama, bahkan sudah hampir 10 tahun, ia tidak pernah melihat ayahnya terbahak seperti itu.


Ia bahkan lupa, bagaimana tawa ayahnya menggelegar. Dan kini, tawa yang sudah lama meenghilang itu, kini kembali ia dengar.


"Shira? Apa yang terjadi dengan Ayahku?" Dengan polosnya Akash malah bertanya seperti itu kepada Shira.

__ADS_1


Shira tidak menjawab, wanita itu hanya terdiam sambil menyengir bingung. "Aku tidak tahu Akash," jawabnya berbohong.


Akash yang panik pun langsung berlari mendekati Ayahnya.


"Ayah? Apa yang terjadi Ayah?" tanyanya dengan mimik wajahnya yang panik.


Baker sejenak membuka matanya, dan tawanya pun semakin keras menggelegar saat melihat wajah Akash yang benar-benar sangat menggelitik di perutnya.


"Bwhahahaha ...."


Baker tidak bisa  menjawab, pria tua itu malah semakin terbahak sambil memegang perutnya yang terasa sakit saking kuatnya ia tertawa.


Akash yang melihatnya malah semakin panik. Ia pun berteriak memaanggil pelayan-pelayannya.


"Pelayan! Pelayan! Hey, petugas keamanan cepat kemari!" teriaknya begitu kencang dengan perasaan yang campur aduk tidak karuan.


"Ayah, apa yang terjadi Ayah? Apa perut Ayah sakit?" tanyanya begitu khawatir.


Shira semakin merasa bimbang, ini jelas bukan karena mertuanya yang kenapa-kenapa, akan tetapi wajah Akash lah yang kini menjadi permasalahnnya.


"Akash, sebenarnya Ayahmu--" Sebelum Shira menyelesaikan ucapannya, tiga pelayan dan dua pengawal pun datang memasuki kamar.


"Siap Tuan ada apa?" tanya para penagwal dan pelayan itu berbarengan.


Akash berbalik, dan berdiri tegap di hadapan mereka, dan keterkejutan pun kembali terjadi kepada para pelayan dan pengawal itu.


"Pfffttt ...." Mereka langsung menahan tawa melihat wajah Akash yang sudah memerah seperti buah tomat.


"Kalian ini, malah bertanya ada apa! Cepat bantu Ayah saya pergi ke rumah sakit. Telepon ambulans sekarang juga!" seru Akash begitu emosi.


Akan tetapi tiba-tiba, tangan Baker memegang lengan Akash, membuat Akash langsung berbalik ke arah Ayahnya.


"Sudah, sudah, tidak perlu ha ha ha ...." Baker sekuat tenaga menahan agar tidak tertawa.


"Ayah ... Ayah tidak apa-apa 'kan?" tanya Akash mendekat.


Baker tidak ingin melihat wajah anaknya, ia tidak ingin usahanya untuk berhenti tertawa ini sia-sia jika kembali menatap Akash.


"Sudah, biarkan pengawal dan pelayan pergi, Ayah tidak apa-apa. Ayah hanya tidak tahan melihat wajahmu itu," ucap Baker.


Akash yang mendengarkan ucapan Ayahnya, ia langsung menautkan kedua alisnya merasa bingung.


"Maksud Ayah apa?" tanyanya bingung.


"Sudah, sana! Kamu lihat dicermin saja," ucap Baker. Akash pun kembali menengok kepada para pelayan dan penagwal yang masih berdiri di sampingnya.


Dan lagi-lagi, para pengawal dan pelayan itu melebarkan senyumannnya, mereka ingin tertawa namun sebisa mungkin mereka menahannya.


"Sepertinya ada yang tidak beres," gumam Akash dalam hati.


Kini tatapannya beralih ke arah wanita yang sedari tadi berdiri di dekat cermin rias.


Shira yang merasakan tatapan tajam dari suaminya itu, ia pun langsung membuang muka, pura-pura tidak tahu apa-apa dan tak melihat apa-apa.


"Ya sudah, kalian kembali bekerja sana!" Titah Akash kepada para pengawal dan pelayannya itu, mereka pun mengangguk segan lalu segera berlalu meninggalkan kamar tersebut.


Dan kini, fokus utama Akash tertuju kepada istrinya. Tatapannya semakin terlihat dingin, dengan perasaan yang tiba-tiba terasa kesal.


Ia pun berjalan mendekati Shira, akan tetapi sebelum ia sampai di hadapan Shira, ia sendiri terkejut saat melihat sekelebat bayangan dirinya di dalam cermin.


"Wajahku?!"


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


 


 


__ADS_2