Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Ajakan Boy


__ADS_3

“Ini.” Akash menyerahkan ID card kepada Kalala.


“Untuk apa ini, Tuan?” tanya Kalala mengambil alih dengan pelan ID card itu. Meniliknya dengan baik, ternyata namanya tertulis di dalam ID card tersebut.


“Sekarang kau sudah resmi, menjadi bagian pegawai keluarga Atkinson. Jadi, kau tidak perlu bekerja di hotel lagi. Kau hanya perlu menjaga dan menemani Shira jika saya tidak ada di rumah,” ucap Akash dengan tegas.


Kalala mengangguk mengerti.


“Gajimu, akan saya naikkan menjadi 15 juta perbulan,” lanjut Akash, langsung membuat kedua mata Kalala membeliak dengan sempurna saat mendengarnya, bahkan jantungnya pun hampir saja copot dari tempatnya.


“Lima belas juta?!” pekik Kalala mengulangi ucapan Akash.


“Hm, asal dengan syarat, kau harus menjaga Shira sebagaimana kau menjaga nyawamu sendiri,” lanjutnya.


“Gila! Kerja cuma ngejagain istrinya aja digaji sebesar ini. Apalagi kalau aku jagain anaknya, wah, bisa-bisa aku jadi rich baby sister,” batin Kalala begitu senang.


“Siap, Tuan. Te-terima kasih,” ucap Kalala, masih dengan bibirnya yang senyum terkembang, menampilkan mimik wajahnya yang terlihat senang.


“Jangan hanya siap di mulut saja. Karena sekarang, ada dua nyawa yang harus kau jaga dan perhatikan. Dan kau pun harus bersiap untuk segala kemungkinan, karena jika misiku sudah berhasil, ancaman untukku dan keluargaku pasti semakin besar,” tutur Akash, membuat senyuman di wajah Kalala perlahan menyurut.


“Kau paham ‘kan maksudku?” Akash menatapnya begitu serius.


Kalala mengangguk pelan, mengiyakan. “Paham, Tuan.”


“Hm, baguslah kalau begitu. Dan mulai hari ini, kau akan tinggal dan ikut bersama kami.”


“T-tapi, Tuan, apa saya punya waktu libur?”


“Libur?”


“Iya, Tuan. Sebulan sekali saya pasti akan menengok mama saya ke Surabaya,” ucap Kalala.


Akash terdiam sejenak. “Hm, baiklah, saya akan memberikan waktu libur dua hari dalam sebulan,” ucap Akash.


“Dua hari?” tanya Kalala begitu terhenyak.


“Kenapa? Apa kau keberatan?”


“Hah? T-tidak, Tuan, cukup, bahkan sangat cukup,” jawabnya gugup.

__ADS_1


“Ya ampun, liburnya hanya dua hari?” gumamnya dalam hati. “Tapi, naik bus ke Surabaya aja kan makan waktu yang cukup lama, mana bisa hanya dua hari,” batinnya.


“Eh, lupa, nanti gajiku ‘kan lima belas juta, jadi aku tidak perlu naik bus lagi, bisa langsung naik pesawat,” lanjutnya, dalam hati, sambil senyum-senyum sendiri kegirangan.


***


“Silakan, Nona muda,” ucap Kalala tersenyum lebar membukakan pintu mobil untuk Shira.


Shira menautkan kedua alisnya merasa heran dengan sikap Kalala yang jauh berbeda dari biasanya. Bahkan sejak tadi pagi, Kalala lebih banyak memperhatikannya, bahkan saat Shira hendak mengikat tali sepatunya pun, Kalala lah yang lebih dulu berjongkok dan mengikatnya.


“Apa sih, Kalala, udah deh, jangan berlebihan,” tegur Shira memasuki mobil hitam yang khusus diperuntukan oleh Akash untuk mengantar jemput Shira ke kampus.


Sebenarnya, sedari dulu Akash sudah memberikan fasilitas ini, tapi Shira selalu menolak, dan memilik untuk pergi ke kampus menaiki taksi atau ojek. Tapi, kali ini Shira tidak bisa menolaknya lagi karena asalan kehamilannya.


Sementara itu, Edwin masih berlibur tidak masuk kerja. Seharusnya hari ini ia pergi untuk mengatasi masalah proyek Akash di Kalimantan untuk investasi saham di perusahaan batu bara, tapi, semuanya gagal dan Akash pun melarang Edwin untuk pergi ke sana sebelum dirinya benar-benar sembuh.


Sesampainya di kampus, Kalala tidak pernah melepaskan gandengan tangannya dari lengan Shira. Bahkan, Shira sudah protes berulang kali pun Kalala enggan menurutinya, ia harus benar-benar menjaga majikan sekaligus sahabatnya itu.


“Utung saja sekarang udah enggak ada si Luna, kalau masih ada, huh bisa-bisa repot aku karena ulahnya,” gumam Kalala dalam hati.


Mereka berjalan di koridor kelas, melewati lorong menuju kantin.


“Eh, gak boleh Shira!” tegur Kalala begitu tegas.


“Jangan, Bu. Ganti jus jambu saja, dua ya, Bu,” ucap Kalala tersenyum lebar pada ibu penjual jus itu.


“Kau ini, ada-ada saja, lagi isi juga malah mau minum jus nanas!” ujar Kalala nyerocos tapi pelan.


“Emang kenapa sih?”


“Ish, kamu ini, emang kamu enggak tahu apa, nanas itu bisa berbahaya buat kandungan kamu, apalagi kandunganmu masih muda begini,” bisiknya begitu pelan.


Shira mengangguk pelan, karena ia baru tahu kalau jus nanas bisa berbahaya untuk kehamilan muda. Karena yang selama ini ia tahu, hanya nanas muda lah yang bisa menyebabkan keguguran. Tapi ternyata sama saja. Meski pada faktanya, ini hanya untuk berjaga-jaga saja, menjauhi resiko keguguran.


“Shira, Kalala.” Tiba-tiba Boy dari belakang menyapa mereka.


Shira dan Kalala langsung menoleh ke belakang. “Boy,” ucap mereka bersamaan


“Oh ya, kalian lagi sibuk enggak?” tanya Boy.

__ADS_1


Shira dan Kalala menggeleng. “Enggak, tapi abis ini kita mau masuk kelas,” jawabnya.


Boy mengangguk tersenyum simpul. “Kalau jam istirahat kalian kosong enggak?” tanya Boy lagi.


“Memangnya kenapa?” tanya Kalala penasaran.


“Emh, sebenarnya ada hal yang pengen aku omongin sama kalian, terutama sama Shira,” jawab Boy.


Shira dan Kalala sejenak beradu pandang. “Ya sudah, nanti istirahat ketemu lagi di sini,” jawab Shira.


“Eh, tapi kalau bisa aku pengen ketemu di atap aja,” ucap Boy.


“Gimana?” tanya Shira pada Kalala tanpa suara.


“Oke boleh, di atap gedung kelas ya,” ucap Kalala memastikan. Boy pun mengangguk pelan dengan senyuman yang terkembang di wajahnya.


Lalu Boy pun pamit meninggalkan mereka.


Shira dan Kalala kembali beradu pandang saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang penuh kebingungan.


“Ada apa ya? Kok tiba-tiba banget?” tanya Shira.


Kalala mengangkat kedua bahunya. “Entahlah, kita tunggu siang saja,” jawabnya.


.


.


.


Bersambung....


Waduh, kira-kira si Boy mau apa atau lagi ngerencanain apa ya?


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2