Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Membawa Calon Istri


__ADS_3

Akash dan Edwin memasuki sebuah ruangan khusus di lantai tiga, ruangan yang biasa di pakai untuk rapat keluarga atau sekedar berganti ruangan kerja.


Tirai merah di ruangan itu masih menutup sisi jendela, membuat penerangan di ruangan tersebut hanya bermodalkan lampu saja.


Akash pun membuka tirai itu, hingga silau sinar matahari masuk ke dalam, merubah cahaya ruang yang awalnya sedikit redup menjadi terang benderang.


Kini mereka berdua mendudukan tubuhnya di atas sofa yang tersedia di sana. Akash mulai memasang wajah seriusnya.


“Mana?” tanya Akash, menantikan sesuatu.


Edwin merogoh saku jas dalamnya, lalu menyerahkan satu flashdisk kepda Akash, yang di mana di dalam flashdisk tersebut, terdapat beberapa bukti screen shoot, voice not dan rekaman panggilan  atas dalang yang ingin mencelakai Baker dan Akash.


“Kau sudah mengecek semuanya?” tanya Akash sebelum ia mengambil alih benda kecil yang tergeletak di atas meja kaca itu.


“Sudah, Tuan. Dan dari bukti itu juga, saya bisa menyimpulkan, kalau—” Edwin tampak ragu untuk mengatakannya.


“Kalau apa?” tanya Akash semakin serius.


“Kalau ... sebenarnya, dalangnya adalah orang terdekat dan bisa jadi ada di keluarga ini,” jawab Edwin pelan.


Akash langsung tercengang. Antara percaya atau tidak, tapi kalau masalah seperti ini sudah diselidiki oleh Edwin, sudah dipastikan dugaan itu tidak akan meleset.


“Tapi, alangkah baiknya, Tuan mengeceknya kembali. Kemungkinan, Tuan juga akan tahu siapa orangnya,” jelas Edwin.


_


Jackson melangkahkan kakinya mendekati wanita yang tengah duduk di ruang tamu. Ia memandangnya sejenak, melihat tampilan wanita yang tengah duduk itu terlihat sedikit acak-acakan. Rambut yang hanya dikuncir kuda, rok span berwarna hitam yang tampak seperti rok semalam, pun wajahnya yang sepertinya tidak memakai riasan apapun, sangat jauh dengan tampilannya semalam yang terbilang cukup cantik.


“Hey, kau sedang apa di sini?” tanya Jackson tiba-tiba, mengejutkan Kalala yang tengah tenggelam dalam lamunannya sambil menunduk.


Kalala langsung berdiri, menatap lelaki yang semalam di temaninya ada di rumah ini. “Ka-kamu,” ucap Kalala tergagap, saking terkejutnya. “Kok, bisa ada di sini?” Dengan bodohnya, Kalala malah bertanya balik kepada Jackson.


Jackson langsung tersingahak. “Loh kok malah nanya balik! Harusnya aku dong yang nanya sama kamu, ngapain kamu ada di rumahku?!”


“Hah, rumah kamu?” Kalala melongo.


“Iya, ini rumah aku, kenapa memangnya?” Kalala menggeleng pelan sebagai jawaban.


Jackson menyipitkan matanya, menatapnya penuh interogasi. “Oh... kamu pasti ngikutin aku ya? Kenapa? Kamu mau minta bonus yang semalam?” tanya Jackson dengan penuh percaya diri dan sedikit songong.


Kalala termenung, menatap Jackson dengan penuh kebingungan. “Tidak! Ngapain aku ngikutin kamu. Lagi pula aku ke sini diajak tuan Edwin, bukan mau minta bonus sama kamu,” jawab Kalala.


“Edwin?” Jackson tampak berpikir. “Edwin sekretarisnya Akash?” tanyanya, Kalala pun menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


“Pacarnya?”


“Hah?”


“Kamu pacarnya dia?”


“Dia siapa?” tanya Kalala sedikit lemot.


“Ya si Edwin lah, masa aku!” seru Jackson, sedikit emosi.


“Dih! Bukan! Mana ada aku pacara sama dia.”


“Terus?” Jackson kembali menatapnya waspada.


“Ya enggak ada terusannya,” jawab Kalala lantang.

__ADS_1


“Heh! Maksud aku itu, terus... kalau kamu bukan pacarnya si Edwin, kamu siapanya? Istrinya kah, adiknya kah, atau kau gebetannya?”


“Bukan! Gak ada yang benar dengan tebakan kamu itu. Yang pasti saya bukan temannya, bukan pacarnya apalagi istrinya!” jelas Kalala.


Jawaban Kalala itu, seolah membuat Edwin semakin curiga. “Apa dia orang suruhan Akash buat mata-matain aku ya,” gumamnya dalam hati berprasangka buruk.


“Nih cewek, kayaknya agak aneh!” batin Jackson menatap Kalala dari atas hingga bawah.


“Kenapa?” tanya Kalala menatap heran, karena Jackson memandangnya sampai sebegitunya.


Jackson menggeleng. “Enggak apa-apa.”


“Oya, terlepas tujuan kamu ke sini untuk apa, tapi aku cuma mau bilang, makasih,” ucap Jackson, tersenyum tipis.


“Makasih buat apa?” tanya Kalala heran.


“Makasih karena semalam kamu sudah menemani dan mendengarkan aku,” jawab Jackson.


“Oh... itu, ya sama-sama, sudah tugasku sebagai pramu untuk melayani tamu,” jawab Kalala sedikit canggung.


Hening ....


Keadaan tiba-tiba berubah sedikit canggung dan hawa-hawa tidak nyaman terasa oleh keduanya.


Jackson pun kembali bersuara untuk mencairkan suasana.


“Oya, aku ingin memberi kamu bonus, apa kau ada rekening digital?” tanya Jackson.


“Hah? Ada, tapi tidak usah,” jawabnya sungkan.


“Tidak apa-apa, sedari pagi aku sudah berniat untuk memberimu bonus, tapi ternyata kamu tidak ada di hotel. Dan karena kebetulan kamu ada di sini, ya sudah aku kasih sekarang aja.”


“Sebutkan nomor rekeningmu,” titah Jackson.


“Duh, sebenarnya enggak enak sih, malu. Tapi, kalau udah urusan bonus kayak begini aku juga butuh,” gumam Kalala dalam hati.


Akhirnya mau tidak mau, Kalala pun menyebutkan nomor rekeningnya. Dan Jackson pun tampak sibuk mengotak-atik ponselnya. Dan beberapa jumlah dana pun dikirimkan ke nomor rekening Kalala.


“Sudah, kau bisa mengeceknya di handphonemu,” ucap Jackson kembali memasukkan ponselnya ke saku bajunya.


“Emh, terima kasih, Tuan. Nanti saya cek, soalnya ponsel saya ketinggalan di mobil,” jawabnya.


Tidak lama kemudian, Baker datang bersama dua bodyguard yang membuntutinya di belakang.


“Loh, siapa ini?” tanya Baker menatap serius ke arah Kalala. Lelaki tua itu cukup terkejut melihat penampilan wanita yang ada di depannya. Sedikit tidak rapi, namun tampak apa adanya.


“Ayah,” pekik Jackson ikut terkejut, karena sedari malam ia dan ayahnya itu belum bertemu.


Kalala menundukan kepala, sedikit takut melihat roman wajah dari lelaki tua yang ada di depannya itu.


“Duh, tuan Edwin kemana sih! Lama banget,” batin Kalala merasa tidak nyaman.


“Dia orangnya?” tanya Baker tiba-tiba, melirik ke arah Kalala sedikit sinis.


“Hah? Maksud, Ayah?” Jackson tidak mengerti.


“Apa dia calon istrimu? Katanya, kau mau mengajak calon istrimu ke rumah, jadi ... apa dia wanita yang kamu maksud itu?” tanya Baker, membuat kedua mata Kalala dan Jackson langsung membeliak, terkejut mendengarnya.


Karena dulu, setelah Akash menikah dengan Shira, Jackson pernah bertanya kepada ayahnya itu, jika ia membawa calon istri dan menikahinya, apakah ayahnya itu sama akan memberikan sebagian kekuasaan padanya.

__ADS_1


Dan waktu itu, Baker menjawab. “Ayah akan memberikannya, tergantung wanita mana yang kamu bawa.”


Dan saat ini, Baker dikejutkan karena ada wanita asing yang berani memasuki rumahnya.


“Bukan, Ayah. Dia ha—”


“Oh, apa semalam kau menghilang juga karena menemuinya?” tanya Baker, karena sebenarnya, Baker tahu kalau anaknya semalam pergi diam-diam dari rumah tanpa izin padanya.


Jackson semakin kebingungan untuk menjawabnya, begitu pun Kalala yang saat itu semakin merasa tidak nyaman berada di sana.


“Duh, menghilang aja bisa  gak sih? Kok obrolan mereka jadi kemana-mana,” batin Kalala, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Loh, jadi Ayahku tahu kalau aku pergi dari rumah semalaman,” batin Jackson sedikit terkejut.


“I-iya, aku semalam bersamanya, tapi dia buka—”


Lagi dan lagi, Baker memotong ucapan Jackson.


“Siapa namamu?” tanya Baker dengan serius kepada Kalala.


Kalala malah cengo, wanita itu sedikit terkejut karena pria tua itu tiba-tiba mengalihkan pembicaraannya padanya.


“Sa-sa-sa—”


“Oh, Sasa?” ulang Baker dengan serius.


“Hah, anu, bu-bukan, Pak. Na-nama saya, Kalala,” jawabnya dengan gugup gemetar melihat aura menakutkan dari sosok lelaki di depannya.


"Kalala?" ulang Baker memastikan, yang dijawab dengan anggukkan pelan oleh Kalala.


“Kalala!” pekik Shira memanggil nama sahabatnya itu dengan semangat.


Suara Shira tersebut, langsung menyita perhatian mereka semua, dan kini, semua mata mengarah kepada Shira yang tengah berjalan ke arah mereka.


Baker, sedikit keheranan, kenapa menantunya itu bisa mengetahui wanita yang baru datang ini. Dan memanggilnya seolah sudah sangat akrab.


Dan di saat yang bersamaan pula, Edwin dan Akash turun hendak menemui Kalala.


“Loh, kok rame, ada apa ini?” tanya Akash mendekat.


Dan ....


Bersambung....


Lanjutin enggak nih? Komen dulu dong di bawah


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2