Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Lelaki Bermulut Lemes


__ADS_3

Mobil yang tengah melaju pelan itu, tiba-tiba terhenti mendadak di depan gerbang. Tidak lain, hal itu terjadi karena permintaan Shira pada Akash.


“Sudah-sudah, cukup sampai di sini aja, aku tidak ingin orang-orang curiga padaku,” ucapnya pada Akash.


"Curiga apa?" tanya Akash heran.


"Ya curiga hubungan kita lah."


"Memangnya kenapa dengan hubungan kita?"


Shira tidak ingin memperpanjang pembicaraannya ini. Ia sengaja diam-diam tidak memberitahukan statusnya dengan Akash pada khalayak banyak.


"Tidak apa-apa, aku hanya tidak nyaman saja kalau diantar sampai dalam kampus." Shira pun segera melepas seatbealtnya. Lalu keluar dari mobil.


“Makasih ya,” ucap Shira tersenyum tipis, lalu pergi begitu saja meninggalkan Akash.


Akash termenung, menatap kepergian istrinya tersebut. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap Shira padanya.


"Curiga hubungan kita?" ulang Akash, mengingat perkataan Shira. Ia masih memikirkannya. "Kenapa harus ada yang curiga?" batinnya, ia masih berpikir akan tetapi tidak dapat mengerti maksud dari perkataan Shira.


Tidak ingin mengambil pusing, Akash kembali melanjukan mobilnya meninggalkan area kampus tersebut.


***


Shira berlari kegirangan memasuki ruang kelas, wajahnya tampak ceria, pun matanya yang berbinar-binar penuh kebahagiaan. Ia langsung memeluk Kalala yang waktu itu tengah berdiri menggeser kursinya.


“Kalala ....” Ia memeluk Kalala begitu erat, seperti orang yang sudah lama tidak bertemu.


Kalala hampir saja kewalahan menahan beratnya bobot tubuh Shira, yang kini tengah menempel erat padanya.


“Ya ampun, Shira, ada apa sih pagi-pagi udah heboh begini,” gerutu Kalala, ingin melepaskan lengan Shira yang melingkar di badannya, karena jujur saja, Kalala paling anti jika dipeluk erat apalagi pelukannya gereget kayak Shira sekarang.


Shira melepaskan pelukannya. Lalu membalikkan tubuh Kalala agar berhadapan dengannya.

__ADS_1


Dengan wajah yang penuh kebahagiaan, dan bibir yang tidak surut menampilkan senyuman lebar, ia memandangg Kalala dengan mata yang berbinar. “Kalala, aku punya kabar baik buat kamu,” ucap Shira begitu semangat.


Kalala yang masih dirundung masalah, ia seolah tidak ingin tahu kabar baik itu. Ia malah membuang muka, lalu menjauhkan tangan Shira dari pundaknya. Dan Kalala pun uduk lemas di atas kursinya.


“Tidak akan ada kabar baik dalam hidupku, Shira. Itu semua hanya ada di bayanganku saja,” ucapnya pelan seolah begitu pasrah.


“Eits, Kalala ... kamu gak boleh bicara begitu. Pokoknya aku ada kabar yang sangat-sangat-sangat menyenangkan buat kamu, nanti aku kasih tahu pas kita pulang ya," ucapnya dengan centil.


Kalala masih tidak percaya akan kabar baik itu. Ia tidak ingin memedulikannya. "Terserah," jawabnya simple.


"Oh iya, aku juga sekalian mau ajak kamu ke sesuatu tempat,” ucap Shira masih dengan wajahnya yang riang gembira layaknya anak kecil yang mendapat hadiah mainan dari ciki.


"Ya ya ya, terserah kamu saja lah, mau ngajak aku kemana saja, yang penitng gak ngajak ke liang kubur saja," jawabnya malas.


"Haha, kau bisa saja Kalala." Shira terkekeh sambil menepuk keras pundak Kalala dengan refleks.


"Tenang saja, pokoknya hari ini kita akan bersenang-senang.  Ingat Kalala, kita bakalan happy-happy!" Lanjutnya begitu semangat.


***


Bel pulang sudah berbunyi, Shira sudah tidak sabar memmberikan kabar mengejutkan untuk sahabatnya itu.


“Ayo cepat, Kalala,” ucap Shira buru-buru mengajak Kalala keluar kelas.


“Iya sebentar, bawel!” Kalala sebenarnya begitu penasaran dengan hal apa yang akan dilakukan oleh Shira, tidak biasanya wanita itu segirang ini.


Dan saat mereka keluar dari kelas, tiba-tiba seorang lelaki menghadang, menghalangi jalan mereka untuk pergi dari sana.


Shira menatapnya tajam pun dengan perasaan kebenciannya yang kembali menguar di dadanya.


“Minggir!” seru Shira kepada Haris—mantannya.


“Wih ... santai dong,” balas Haris tersenyum kecut. Lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Shira. Membuat Shira langsung memundurkan langkahnya, tidak ingin dekat-dekat dengan lelaki pengkhianat itu.

__ADS_1


“Kayaknya, sekarang lo udah bisa lupain gue ya,” ucap Haris tiba-tiba membahas hal yang seharusnya tidak perlu dibahas.


“Jelas!" Shira menjawab dengan mimik wajahnya yang sok songong. "Sangat mudah sekali bagiku melupakan lelaki pengkhianat sepertimu!” lanjut Shira begitu tegas.


“Cih, gak percaya," balas Haris tersenyum kecut membuang wajah. "Cowok yang lo peluk di pinggir jalan itu siapa? Suami orang ya?” tanya Haris meledek, karena yang Haris dengar dari gosip kampus, Shira berhubungan dengan lelaki kaya yang sudah beristri.


“Jaga tuh mulut! Jangan asal ceplos aja! Lagian mau dia suami orang mau bukan, itu bukan urusan lo ya!” Shira merengut kesal, masih memegang lengan Kalala, lalu menariknya untuk pergi meninggalkan Haris. Ia melewati Haris sambil mendepaknya dengan bahu.


Haris meringis sambil mengulum lidah, seolah tidak percaya dengan tingkah laku Shira saat ini. “Oh, kalau begitu sama aja dong, kalau lo itu pelakor!” seru Haris, membuat langkah Shira terhenti, lalu berbalik lagi.


“Apa lo bilang? Gue pelakor?! Please, otaknya pake dong, terus tuh mulut dijaga, jangan asal ngomong! Dasar jadi cowok mulutnya lemes banget!” seru Shira, semakin kesal.


“Haha, dasar ******!” balas  Haris, seketika membuat Shira naik darah. Akan tetapi, Kalala yang melihat reaksi dari sahabatnya itu, ia tidak bisa tinggal diam.


“Heh pengecut! Tutup ya mulut sampah lo itu, kalau lo enggak tahu apa-apa mengenai Shira, enggak perlu nyebar fitnah! Ngaca! Dasar cowok brengsek!” seru Kalala mengumpatinya, lalu menenangkan Shira dan mengajaknya untuk segera pergi dari sana.


“Huh dasar culun!” teriakan Haris masih terdengar di telinga Kalala dan Shira, akan tetapi Kalala mencoba mengabaikannya.


Shira masih sempat menggerutu dengan kemunculan Haris yang tiba-tiba datang dan menghinanya. Shira benar-benar dibuat kesal, tubuhnya terasa panas, karena aliran darahnya yang naik, membuat suasana begitu gerah.


“Udah tenang aja. Manusia modelan dia gak perlu kamu tanggepin,” ucap Kalala. Shira mencebik kesal, sambil melipat kedua tangan di dada.


"Tapi dia rese banget tau, Kal!" gerutunya masih merasa geram.


"Udah, udah." Kalala mengusap pelan punggung Shira mencoba menenangkannya.


Akan tetapi, Shira masih saja mengegrutu tidak jelas, mengumpati Haris. Kalala yang ingin mengalihkan suasana, ia pun ingat akan maksud dan tujuan Shira tadi pagi.


 


Bersambung...


Jangan lupa ramaikan kolom komentarnya gaes...

__ADS_1


__ADS_2