
Sudah empat hari Boy berada di Kanada, dengan segala kebimbangan hati yang tiada berkesudahan. Ia bingung, harus melakukan apa. Kemarin ia juga sudah menginterogasi Dean dan Dama sesuai arahan dan perintah dari Jackson, hanya saja mereka tetap bungkam tidak mau memberi tahu kemana perginya Akash dan Shira.
Terlebih ia semakin bimbang karena sudah dua hari ia tidak bisa menghubungi adiknya. Ia takut, kalau Jackson benar-benar akan menjadikan adiknya sebegai korban.
“Argh! Aku harus bagaimana, Tuhan?!” Ia menggeram, sambil mengacak rambutnya dengan kasar. Ia bangkit dari duduknya.
Dengan perasaan yang semakin kalut, ia pun langsung mengambil koper miliknya, memasukkan beberapa baju ke dalam kopernya itu dan memantapkan diri untuk bergegas pergi meninggalkan hotel tersebut.
“Aku tidak ada pilihan lain, aku harus pulang ke Indonesia secepatnya,” gumamnya, karena begitu khawatir akan masalah adiknya. Ia sudah tidak memedulikan masalah uang dan operasi adiknya, yang ia khawatirkan sekarang adalah keselamatan dan nyawa adik kesayangannya itu.
Karena, bagaimana pun Boy adalah seorang kakak yang bertanggung jawab. Apalagi sejak orang tuanya meninggal tiga tahun lalu, Boy lah yang harus mengurus adiknya bertanggung jawab akan hidup dan keselamatan adiknya.
Boy terlebih dahulu menghubungi Jackson, akan tetapi nomor telepon Jackson tidak aktif. Jackson pun bergegas memesan taksi bandara, dan setelah menunggu di lobby sekitar 15 menit, taksi yang dipesannya pun datang.
“Dayavittu nannannu vimana nildanakke karedoyyiri.” (Tolong antarkan saya ke Bandara), ucap Boy kepada sopir tersebut.
“Sari, Sara.” (Baik, Tuan), jawab sopir tersebut.
Sepanjang perjalanan, Boy masih terus berkutat dengan pikirannya. Kenapa dirinya bisa sampai salah mengikuti orang, padahal sejak menaiki pesawat dia sangat hapal dengan tampilan Shira dan suaminya itu. Tapi kenapa dirinya bisa sampai kehilangan jejak mereka.
“Sebenarnya, kemana sih mereka pergi?” batin Boy terus berpikir. Ia pun mengingat-ingat di mana saja dirinya transit, dan di setiap tempat transit itu dia tahu kalau Shira dan Akash masih ada dalam jangkauan pengawasan matanya.
“Apa sebaiknya aku mencari tahu lewat petugas bandara saja ya,” gumamnya dalam hati. “Lagi pula, aku masih ingat semua pesawat yang aku tumpangi,” gumamnya dalam hati.
Setelah sampai di terminal keberangkatan, Boy pun turun dari mobilnya memberikan beberapa lembar uang kepada sopir yang sudah mengantarkannya. Dan bergegas pergi menuju loket pemesanan. Ia begitu semangat untuk mencari tahu semua kebenaran ini, agar selain dirinya bisa tenang, setidaknya dengan mengetahui keberadaan Shira dan Akash, Jackson—bosnya itu juga bisa ikut tenang.
***
Sementara itu, hari ke empat berada di Paris ini, mereka sudah berpindah lokasi hotel, sejak kemarin. Masih dengan hotel yang berkualitas bintang lima. Hanya saja berbeda tempat.
Dan hari ini Shira mau pun Akash ingin mengunjungi destinasi wisata lain, sekaligus ingin berbelanja berabagai macam barang dan makanan unik untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh untuk Kalala.
Île de la Cité, salah satu destinasi wisata yang saat ini tengah mereka kunjungi, yaitu biasa disebut juga dengan jembatan gembok cinta.
“Kamu tahu, Shira? Kota Paris tua, bermula dari pulau ini ... bangunan-bangunan unik di sekitar pulau ini, menjadikan pulau kecil ini sangat bersejarah,” ucapnya lalu memandang lurus ke dapan.
“Dan aku ingin, moment kita disini akan menjadi sejarah untuk diceritakan ke anak cucu kita kelak,” ucap Akash memandang lurus ke arah pemandangan sungai yang ada di depannya.
Entah kenapa, tapi saat mendengar ucapan Akash, saat dia bilang, ‘anak cucu kita,’ harapan Shira untuk bersama Akash lebih lama, seolaah menggebu di hatinya. Tapi, sebisa mungkin ia harus bisa menyangkalnya, karena ia tahu, hubungan dirinya dengan Akash tidak seserius itu.
“Ingat Shira, pernikahan kalian ini tidak serius. Jangan biarkan hatimu terlalu berharap lebih padanya. Nanti, kamu juga yang akan kecewa dengan harapanmu, jika kelak semua keinginanmu tidak sesuai harapan,” gumamnya dalam hati, termenung dalam pikirannya sendiri.
“Hm,, begitukah?”
__ADS_1
Akash menoleh sambil tersenyum. “Tentu saja. Ayo, sekarang kita pasang gemboknya,” ajak Akash.
Shira mengangguk, lalu ia pun segera mengeluarkan satu gembok cinta yang sudah dibelinya tadi, yang di mana, di gembok tersebut sudah terukir nama mereka berdua. Yaitu, Akash dan Nashira.
“Kita pasang di mana?” tanya Shira, mencari tempat kosong untuk menggantungkan gembok cinta mereka.
Akash pun mencari celah di anatara ribuan gembok yang sudah terpasang di sepanjang jembatan yang mereka pijaki sekarang.
“Kemari, pasang di sini saja,” ucap Akash tersenyum.
Nashira pun mengangguk mengiyakan, dan ia pun mulai mengaitkan gembok tersebut di pagar besi yang menjadi pembatas aman jembatan.
“Kemarikan kuncinya,” pinta Akash menengadahkan tangannya di hadapan Shira.
Shira pun memberikannya. Baru saja satu detik Shira menyerahkan kunci tersebut, dengan mudahnya Akash langsung melemparnya sejauh mungkin ke sungai yang ada di depannya.
Dan kunci itu pun hilang, ternggelam begitu saja ke dasar sungai.
“Akash! Kenapa kuncinya kamu buang?” protes Shira.
“Ya, ‘kan memang begitu. Gemboknya kita simpan di sini, kuncinya kita buang ke sana. Biar apa coba?” tanya Akash tersenyum.
“Ya biar apa? Aku enggak tahu.”
“Abadi apanya?! Di dunia ini tidak pernah ada yang abadi, Akash. Kecuali Tuhan.”
“Lagi pula, mana mungkin hubungan kita bisa abadi, kita nikah saja hanya karena sebatas perjanjian waktu itu,” batinnya meringis.
“Kau berkata seperti itu, karena belum merasakannya. Nanti juga kau akan tahu sendiri, Shira. Selain Tuhan, ada hal abadi lainnya yang bisa kita rasakan,” ucap Akash penuh maksud.
“Apa?” tanya Shira sedikit mencebik.
Akash tersenyum tipis, lalu mengusap pelan puncak kepala Shira. “Nanti kau akan merasakannya sendiri,” jawabnya. Lalu meraih tangan Shira, menggandengnya untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka mengelilingi pulau kecil bersejarah itu—Île de la Cité.
***
“Apa?! Mereka pergi ke Paris?” pekik Jackson begitu terkejut, saat ia tahu kebenaran mengenai Akash dan Shira lewat panggilan teleponnya dengan Boy.
“Iya, Tuan. Dan sekarang saya sedang di Tokyo. Saya sempat melacak penerbangan mereka saat di Kannada, tapi tidak dapat ditemukan, dan saya ingat tempat transit pertama saya dengan mereka di Tokyo ini, dan ternyata benar, mereka melakukan penerbangan selanjutnya ke Tokyo menggunakan layanan khusus jet pribadi,” ucap Boy menjelaskan.
Jackson melemaskan tubuhnya, ia begitu tidak menyangka, kalau Akash bisa sampai melakukan hal itu padanya. Padahal sudah susah-susah ia memboking semua tiket penerbangan, hotel dan serba-serbi lainnya untuk pelayanan Akash selama di Kannada sesuai dengan perintah ayahnya. Tapi, saat mendengar kabar ini semua, Jackson jadi semakin curiga, kalau Akash dan ayahnya itu bermain di belakangnya.
Ia menarik nafas panjang, berusaha menenangkan hatinya yang saat ini tengah kalut tidak karuan. “Baiklah, kalau begitu, hari ini kau berangkatlah ke Paris.”
__ADS_1
“Tapi, Tuan. Sisa waktunya hanya tinggal dua hari lagi, apa tidak apa-apa?” sura Boy di balik ponsel.
Karena, sisa waktu yang digunakan Boy untuk perjalanan dari Kanada ke Tokyo saja sudah memakan waktu sekitar 8 jam, dan sekarang jika ia harus melakukan perjalanan ke Paris, ia harus memakan waktu kurang lebih 11 jam.
“Kerjakan saja apa yang aku katakan padamu, jangan banyak protes!” seru Jackson penuh amarah.
“B-baiklah, Tuan, maaf.”
“Hm, kabari aku kalau kau sudah sampai di Paris,” ucap Jackson menatap lurus dengan mata yang penuh dengan aura kebencian.
Jackson pun menutup panggilannya. Benda pipih yang ada ditangannya itu, digenggamnya sekuat mungkin, seiring dengan kuatnya kekesalan yang semakin menggumpal di dadanya.
“Kali ini, aku tidak akan meloloskan kalian, Akash!” gumamnya penuh tekad.
.
.
.
Bersambung...
Ramaikan kolom komentarnya dong hehe
__ADS_1