Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Berjuanglah Sampai Mendapatkannya


__ADS_3

“Siapa yang tidak kau restui hah?!” seru Baker, begitu emosi, karena baru kali ini Baker melihat Asten berteriak kencang kepada anak keduanya itu.


“Su-suamiku,” gumam Asten begitu panik.


“Apa yang kau maksud adalah gadis yang pernah Jackson bawa ke sini?” tanya Baker.


Meski takut, tapi Asten memilih untuk jujur saja, karena ia tahu, berbohong hanya akan memperkeruh suasana. “I-iya, Suamiku, a-aku tid—”


“Lancang sekali kau! Kau kira, kau ini siapa hah? Lagi pula, jika Jackson menginginkannya, dia tidak perlu meminta restu darimu!” seru Baker.


Jackson kembali terhenyak mendengar ucapan Ayahnya. Lalu tatapan Baker pun kini mengarah pada Jackson.


“Mana? Bukankah kau menjanjikan akan membawanya kemari seiring dengan keberhasilan tender yang kau menangkan, Jackson?” tanya Baker begitu serius.


Jackson terdiam, ia bingung harus menjawab apa, karena sebenarnya ia pun masih tidak menyangka, kalau dirinya bisa melihat secara langsung bagaimana Edwin dan Kalala malam itu berciuman. Bahkan masih tergambar jelas di benak Jackson, saat mereka berdua dengan begitu mesranya saling berbalas ciuman mereka.


Perasaan Jackson jadi semakin kesal, ia mengepalkan kedua tangannya, ambisinya untuk mendapatkan Kalala masih terasa begitu besar. Entah kenapa, padahal ia tidak mencintai Kalala, tapi ketika mengingat malam itu, Jackson jadi marah dan kesal.


“Kalau kau ingin menyerah, katakan saja, Jackson!” imbuh Baker.


Jackson langsung mendongak, mendatap wajah Ayahnya dengan serius. “Tidak, Ayah! Selagi dia belum sah menjadi istri orang, aku akan mendapatkannya, aku akan membawanya ke hadapan Ayah,” ucap Jackson bersungguh-sungguh.


Baker menyeringai, senang mendengar penuturan anaknya. “Ayah senang, jika keinginannmu sebesar ini. Kalau begitu, berjuanglah, berjuang sampai kau mendapatkannya,” ucap Baker penuh maksud.


***


Hari ke hari pun terasa semakin bergulir semakin cepat, hari yang dinantikan oleh Kalala dan Shira akhirnya tiba, di mana setelah tiga bulan terakhir mereka berjuang menyelesaikan skripsi dan sidang mereka, kini akhirnya mereka pun dapat mengikuti acara wisuda.


Kalala dan Shira tampil dengan jubah togo hitam mereka, serta tidak lupa seleber berplat putih yang mengalung menutupi dada.


Suasana di dalam gedung pun tampak begitu ramai, selain duduk di dekat Kalala, di depan Shira juga ada Kea dan Sherly serta Haris—mantannya. Mereka duduk bersamaan dalam lingkup yang cukup dekat.


“Ah... aku benar-benar masih tidak percaya, akhirnya perjuangan kuliahku di ibu kota akan segera selesai juga,” ucap Kalala, karena jujur saja, tidak mudah bagi Kalala untuk bisa tetap bertahan di kampus ini. Meski ia mendapat beasiswa, akan tetapi kebutuhan hidup serta yang lainnya tentu ia yang menanggungnya sendiri.


Dan kini, di saat perjuangan yang sangat melelahkan ini berakhir, Kalala benar-benar merasa bangga pada dirinya sendiri, karena ia sudah bisa melewati pahit perihnya kehidupan yang ia jalani selama kurang lebih tiga tahun ini.


“Setelah lulus, kau masih mau kerja di tempatku ‘kan, Kalala?” tanya Shira.


Kalala mengangguk semangat. “Tentu saja, aku akan tetap menemani kamu, sampai buah hati yang ada di dalam rahimmu ini lahir. Pokoknya tenang saja, sampai kapan pun aku akan menjaga kamu dan calon buah hatimu,” ucap Kalala pelan.


Shira tersenyum bahagia mendengarnya. “Kau memang sahabat terbaikku, Kalala,” ucapnya memeluk Kalala dengan begitu erat.


Acara wisuda pun terus berlangsung, selagi menunggu giliran mereka naik ke panggung, di depan sana mereka dapat melihat teman-teman seperjuangannya yang sudah dipanggil ke depan satu persatu berurutan.


“Ananda Putri Kalala Miraela.” Nama Kalala pun dipanggil.


Gadis yang terkenal dengan sebutan si Culun itu, langsung beranjak dari duduknya dan segera pergi menuju panggung seremoni berlangsung.


Dosen pun memberikan map yang berisi ijazah dan transkip nilai milik Kalala, lalu tidak lupa medali khusus yang dikalungkan di leher Kalala, serta setelahnya profesor pun mengalihkan kunciran yang ada di topi wisuda, dari kiri ke kanan.


Memindahkan kuncir tali topi wisuda ini bermakna bahwa pihak universitas berharap bahwa setelah lulus kuliah, sang mahasiwa bisa menjadi sarjana yang tidak hanya mengandalkan otak kiri (kemampuan berpikir hardskills) saja. Melainkan juga menggunakan otak kanan (kemampuan softtkills berkaitan dengan daya inovasi, imajinasi serta kreativitas).


Dan setelah beberapa orang yang dipanggil, akhirnya nama Shira pun ikut terdengar juga.

__ADS_1


“Selanjutnya, Ananda Nashira Davies.”


***


Shira, Kalala, Akash dan juga Edwin, serta Ardian dan Sarah—mamanya Kalala. Kini tengah berada di sebuah restoran mewah yang sengaja di sewa oleh Akash untuk hari perayaan istrinya itu yang baru saja sah menjadi seorang sarjana Akuntansi (S.Ak).


“Kalala, kenapa kita makan di sini? Bukankah tempat ini sangat mahal?” tanya Sarah berbisik pelan pada anak gadisnya.


“Mama tenang saja, yang traktir kita hari ini di sini, suaminya Shira,” ucap Kalala.


Sarah langsung menautkan kedua alisnya. “Suami?” tanya Sarah begitu terkejut.


Kalala tergugu, ia lupa, kalau sebenarnya Mamanya itu belum tahu kalau Shira sudah menikah. Dan pada akhirnya Kalala pun menceritakan semuanya, bahkan ia juga menceritakan soal dirinya yang sudah sejak lama berpindah tempat kerja. Serta, Kalala juga memberi tahu soal kehamilan Shira, yang saat ini sudah jalan 5 bulan lebih.


Sarah dibuat terkejut mendengarnya. Ia mengkonfirmasi semua ucapan Kalala langsung kepada Shira, sahabat anaknya.


“Iya, Tante, apa yang dikatakan Kalala semuanya benar kok, maaf ya, Tante, saya enggak bilang-bilang soal pernikahan saya ini.”


“Jangankan bilang sama Mama, sama aku aja dia enggak bilang, dia terlalu merahasiakan semuanya!” gerutu Kalala mengingat bahwa dulu Shira pernah tidak jujur padanya.


“Benarkah?” Sarah membeliakkan kedua matanya. Shira mengangguk pelan sambil tersenyum kaku karena merasa tidak enak.


“Wes, udah enggak apa-apa, Mama seneng dengar kamu sudah dapat pendamping yang baik, royal dan yang pasti sayang sama kamu. Mama doain biar kamu dan anak kamu nanti lancar lahirannya ya.”


“Iya, Tante, makasih, Tante,” jawab Shira.


“Kamu juga, kalau kamu memang kerja sama Shira, kamu harus jagain Shira sebaik mungkin, jangan lengah! Terus jangan asyik pacaran mulu!” seru Sarah dengan serius.


“Tuh dengerin tuh, jangan asyik pacaran mulu!” seru Ardian ikut bersuara.


“Ini pasti gara-gara si Ardian! Dia pasti selalu bilang kalau aku asyik pacaran sama Edwin,” gumam Kalala dalam hati.


“Haha, rasakan kau Kalala, lagian sih, tiap aku hubungi, apa-apa lagi sama Edwin mulu!” batin Ardian, menyeringai puas.


___


Setelah acara makan bersama di restoran, Edwin terlebih dahulu mengantarkan Sarah dan Ardian ke hotel. Sementara Kalala dia akan ikut kembali bersama Edwin ke rumah Shira, karena nanti malam akan ada acara makan malam di rumah Jackson.


“Nak Edwin, makasih ya, udah anterin Tante sampai sini, maaf jadi merepotkan,” ucap Sarah dengan begitu ramah.


“I-Iya, Tante, sama-sama, tidak merepotkan kok, nanti kalau ada apa-apa, Ardian bisa hubungi aku saja,” ucap Edwin dengan sopan.


“Tenang saja, Ed, nanti aku pasti repotin kamu kok,” ucap Ardian asal ceplos.


“Ardian!” Sarah menoleh sinis pada keponakannya itu.


“Iya, Budhe, iya, enggak bakalan ngerepotin kok, tapi nyusahin dikit enggak apa-apa lah ya,” ucap Ardian yang langsung mendapat cubitan kecil di pinggangnya dari Budhenya itu, membuatnya langsung mengaduh meminta ampun karena kesakitan.


“Nak Edwin, tolong antarkan Kalala dengan hati-hati ya, Tante harap kamu bisa menjaga Kalala dengan baik,” ucap Sarah penuh maksud.


“Ehem! Lampu ijo, bagus juga nih,” ucap Ardiam berdehem sambil mendongak melihat lampu warna-warni yang ada di dekat pintu hotel.


“Ardian ish, apaan sih!” gerutu Kalala langsung menimpuk pria itu dengan tas kecil miliknya.

__ADS_1


“B-baik, Tante, saya pasti akan menjaga Kalala selayaknya saya menjaga nyawa saya,” ucap Edwin, sedikit gugup.


“Duh, deep banget nih,” imbuh Ardian.


Lelaki itu tidak henti-hentinya selalu menyahut ucapan dari Budhenya, sepupunya serta Edwin.


Setelah itu, Sarah pun berpamitan dan segera memasuki area lobby hotel.


“Hey, pajak jadiannya jangan lupa!” seru Ardian cukup pelan.


“Ish! Kau ini!” Kalala mengepalkan tangannya ke arah Ardian yang tengah berjalan membuntuti Sarah.


Sarah menoleh. Lalu tertegun saat melihat kepalan tangan Kalala. “Kenapa, Kal?”


Kalala membeliak, lalu mengubah kepalan tangannya itu jadi lima jari yang berkibar, dia dadah-dadah kepada Ardian dan juga Sarah.


“Enggak kok, Ma, ini lagi dadah sama Ardian,” ucapnya sambil menekan gigi gerahamnya, senyum terpaksa, sambil melirik sinis sekilas ke arah Ardian.


Dan setelah itu, Kalala serta Edwin pun kembali masuk ke dalam mobil, pulang menuju rumah Akash.


“Oh ya, apa mamamu sudah tahu hubungan kita?” tanya Edwin menoleh sekilas kepada Kalala yang duduk di sampingnya.


Kalala mengangguk ragu lalu menggeleng pelan. “Aku enggak tahu, tapi sepertinya Ardian yang bilang sama mama soal hubungan kita,” ucap Kalala.


Kedua sudut bibir lelaki itu tampak tertarik, menciptakan sebuah senyuman manis di wajah tampannya. “Syukurlah, melihat reaksi mamamu tadi, aku yakin  kalau mamamu pasti merestui hubungan kita," ucapnya menoleh, menatap kedua manik Kalala dengan begitu dalam.


Kalala ikut menarik kedua sudut bibirnya, menciptakan senyum manis nan menawan di wajahnya.


Edwin menghela nafas panjang. “Aku benar-benar bahagia bisa memiliki kamu,” ucap Edwin dengan serius, lalu sebelah tangannya kini mulai meraih jari-jemari milik Kalala.


“Aku berharap, hubungan kita kedepannya akan semakin membaik dan menjadi lebih baik,” imbuhnya.


Mendengar ucapan itu dari mulut Edwin, sungguh hati Kalala kini tengah dibuat melambung, terbang ke angkasa, merasakan bahagianya saat dimiliki oleh seseorang yang kita sukai.


“Semoga saja ya,” jawab Kalala pelan, malu-malu.


Entah kenapa, meski mereka sudah sering jalan berdua, tapi Kalala masih begitu malu jika Edwin melakukan phisycal touch kepadanya, contohnya seperti saat ini, tangannya yang tengah digenggam erat oleh jari jemari Edwin, membuat jantung dan aliran darah Kalala terasa tidak normal.


Kini mereka pun sampai di rumah Akash. Sejak turun dair mobil, Edwin kembali menggenggam tangan Kalala, seolah tidak ingin jauh-jauh apalagi sampai melepaskannya. Bahkan sampai masuk ke dalam rumah sekali pun, mereka masih saling bergenggaman tangan.


Namun, langkah keduanya langsung terhenti saat mereka melihat kehadiran seseorang yang tengah duduk di ruang tamu sendirian, sambil menggengam satu buket bunga di tangannya.


“Kau!”


.


.


.


Bersambung....


Maaf ya baru bisa up lagi, pekan ini Dela enggak bisa janjiin update tiap hari, soalnya lagi ada problem, insyaAllah kalau semuanya udah beres, Dela bakalan update rutin lagi ya.

__ADS_1


Happy weekend temen-temen semuanya.


__ADS_2