Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Ambisi Jackson


__ADS_3

Kini mereka berempat sudah sampai di Bandara Narita Intl, Tokyo. Suasana di sana sangatlah ramai, terlihat begitu banyak orang yang berlalu lalang di sana. Ada petugas bandara, ada turis, ada juga mereka yang asli Tokyo tengah berkesibukan di Bandara.


Akash dan Shira berjalan terpisah dengan pengawal dan pelayannya. Beni dan Bella tetap mengawasi majikannya itu dari jarak beberapa meter, sementara pengawal Dean dan pelayan Dama, mereka berdua langsung menuju ke pesawat berikutnya untuk menuju ke Kanada.


"Jangan lepaskan maskermu, Shira," seru Akash, saat Shira hampir saja menurunkan masker hitam yang diguankannya.


"Tapi aku pengap, Akash. Kamu juga, jalannya kecepetan!"


"Udah ayo, kita sudah tidak ada waktu," ucap Akash tergesa-gesa.


Lalu Akash pun mengurus segala sesuatunya terlebih dahulu, dan saat ia hendak memasuki area untuk memesan tiket, tiba-tiba ada seseorang yang menegurnya.


"Keluarga Atkinson?" tanya pria tua bertubuh sedikit gemuk, berkumis tebal dan memiliki postur tubuh yang sedikit pendek.


"Maaf? Siapa ya?" tanya Akash sedikit menurunkan kacamata hitamnya.


"Perkenalkan, saya Roy. Saya diperintahkan oleh Tuan Baker untuk mengurus kepergian kalian ke Paris," ucap Pak Roy memperkenalkan diri, sambil menyodorokan tangannya tersenyum lebar.


"Akash," jawab Akash menjabat tangannya sejenak.


"Kalau begitu, mari ikut saya, Anda tidak perlu mengurus tiket kepergian lagi, semuanya sudah saya atur, dan jet pribadi sudah disediakan untuk mengantar penerbangan kalian," tutur Roy menjelaskan.


Akash pun mengangguk paham, lalu Akash menoleh ke belakang, memastikan kalau pelayan dan pengawalnya masih ada dalam radius yang dekat dengannya.


Akash pun menghentakkan kepalanya ke kiri, memberi kode kepada Beni dan Bella untuk mengikutinya. Beni dan Bella mengangguk paham, lalu bergegas mengikuti langkah Akash, Shira dan Roy yang pergi menuju tempat keberangkatan.


Kini mereka semua sudah berada di dalam jet pribadi milik Roy yang disewa oleh Tuan Baker untuk keberangkatan anak dan menantunya itu ke Paris.


Ada dua pilot dan empat pramugari di sana yang siap untuk melayani mereka semua.


"Tuan, jika ada apa-apa, Anda bisa menghubungi saya. Saya akan duduk di kabin belakang," ucap Pak Roy.


Akash pun mengangguk paham. "Terima kasih," ucap Akash, Roy pun mengangguk tersenyum, dan ia pun pergi ke kabin belakang bersama empat pramugari lainnya.


Langkah awal dari rencana Akash sudah berhasil, setelah ini dirinya bisa tenang, karena di dalam pesawat ini tidak ada orang lain yang bisa menguntitnya. Kecuali hanya orang-orang yang diperintahkan oleh ayahnya yang ada di lingkupnya.

__ADS_1


Sementara itu, di pesawat lain, Dean dan Dama sudah memasuki ruang VVIP di pesawat yang akan membawanya ke Kanada.


Dan dari class busines, terdapat seseorang yang sejak tadi menguntit mereka. Orang itu menyangka kalau orang yang ia buntuti itu adalah Akash dan Shira.


Lelaki penguntit itu adalah Boy, orang kepercayaan Jackson yang diperintahkan untuk mengawasi Shira dan Akash, bahkan selain mengawasi, ada hal dan maksud utama yang harus Boy jalankan demi mendapatkan upah dari Jackson, yaitu menyelakai Akash dan Shira.


Boy mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, sebelum pesawat kedua ini take off, dia menghubungi terlebih dahulu Jackson melalui sambungan telepon di sebuah aplikasi berwarna hijau.


"Hallo, Tuan, penerbangan kami selanjutnya sudah menuju Kanada, dan saya masih mengawasi mereka berdua, Tuan," ucap Boy saat sambungan teleponnya itu terhubung.


"Hm, baguslah, tetap awasi mereka, dan besok saya akan memberikanmu tugas pertama," suara Jackson di balik ponsel.


"Baik, Tuan." Boy pun mengakhiri teleponnya, dan mematikan ponselnya memasukannya ke dalam saku sweeternya.


***


"Ahaha ... tunggu saja kau, Akash! Kejutannku pasti akan membuatmu tidak pernah melupakan hal ini seumur hidupmu," ucap Jackson yang berdiri di balkon kamarnya.


Kedua mata Jackson berbinar, memancarkan aura kejahatan. Ia tersenyum menyeringai, menghirup angin malam dalam-dalam, lalu menghembuskan nafasnya pelan dan kembali tertawa lepas sambil membayangkan apa yang ia rencakan nanti akan berhasil.


Selagi tertawa puas seperti itu, tiba-tiba terdengar ketukan kaca yang sedikit mengejutkannya. Membuat ia langsung bungkam dan menoleh ke belakang.


"Ibu! ... Aku kira siapa," ucap Jackson, kepada wanita bergaun hitam yang tengah berdiri di ambang pintu menuju balkon.


Wanita setengah baya itu tersenyum dengan tatapan penu selidik, lalu ia melipat kedua tangannya di dada.


"Kenapa? Kau tampak sangat terkejut. Ada apa hah?" tanya Asten begitu lembut, lalu berdiri di sampin Jackson sambil menatap langit malam yang gemerlapan penuh bintang.


"Tidak apa-apa, Ibu. Aku hanya sedang merasa senang saja. Rencana kita kali ini pasti akan berhasil," ucap Jackson.


"Rencana? ... Rencana yang mana?" tanya Asten memandang bingung. Karena saking banyaknya hal yang mereka rencakanan, jadi Asten tidak paham akan rencana yang dimaksudkan oleh anaknya itu.


"Rencana untuk mencelakakan istrinya Akash di Kanada," ucap Jackson, menyeringai.


Binar mata Asten langsung berubah, wanita tua itu tampak begitu antusias mendengarnya. "Benarkah? Jadi lelaki yang waktu itu, dia jadi bekerja sama dengan kamu?" tanyanya semangat.

__ADS_1


Jackson mengangguk mengiyakan. "Iya, Ibu. Sepertinya lelaki itu benar-benar membutuhkan uang dari kita," ucapnya memeluk tubuhnya sendiri karena merasa dingin akibat semilir angin yang menerpanya.


"Baguslah, lalu, apa kau sudah merencakan sesuatu untuk tugas si lelaki itu?"


Jackson kembali mengangguk. "Tentu sudah, Ibu. Tapi, direncana kali ini aku akan mengatur semuanya secara hati-hati. Meski pelan, yang penting pasti," ucapnya penuh ambisi.


Asten pun tersenyum menyeringai mendengar penuturan dari anaknya itu. "Ternyata, anak Ibu sekarang jadi lebih berani ya," pujinya kepada Jackson.


Jackson tersenyum malu. Karena sebenarnya, sejak dulu Asten selalu berusaha ingin menyingkirkan Akash dari keluarga ini. Bahkan dulu, Asten sempat berencana untuk meracuni Akash. Akan tetapi, sejak dulu juga Jackson selalu melarangnya.


Jakcson selalu mengatakan. "Ibu bebas melakukan segala cara untuk menyingkirkan dia dari rumah ini, tapi tidak dengan membunuhnya!"


Kalimat itu lah yang dulu sering dikatakan oleh Jackson kepada ibunya. Namun, sekarang, sepertinya Jackson bukanlah Jackson yang dulu yang masih mempunyai hati nurani dan pri kemanusiaan.


Sepertinya, pandangan Jackson kepada Akash sudah dibutakan akibat harta. Apalagi saat mendengar, jika Akash dan istrinya mampu memberikan cucu kepada ayahnya itu dalam setahun ini, setengah kekuasaaan dari ayahnya akan diberikan kepada Akash.


Jujur saja, dulu Baker memang selalu memberi tantangan kepada Akash, kalau Akash seperti ini dia akan memberi ini, kalau Akash seperti itu, dia akan memberi itu.


Jackson mengira kalau ucapan Ayahnya yang memberi tantangan menikah kepada Akash dan akan memberikannya imbalan setengah kekuasaannya itu adalah sebuah candaan, akan tetapi setelah semua terjadi, ternyata ayahnya itu tidak main-main.


Sementara itu, selama ini, ia tidak pernah diberikan reward atas apa yang ia capai. Dan selama ini, ayahnya hanya mempercayakan padanya satu perusahaan saja dari banyaknya perusahaan dan kekuasaan yang Baker miliki.


"Aku berani karena Ibu, Bu," ucap Jackson memandang Asten dengan tatapan yang begitu dalam.


Asten tersenyum, lalu mengusap pelan sebelah pipi Jackson. "Ibu akan selalu mendukung usahamu, Sayang. Kamu harus bisa menjadi pewaris tunggal di keluarga ini."


"Hm, iya, Bu. Aku baru sadar, ternyata selama ini, Akash adalah penghalang dari segala keinginan dan impianku. Mulai sekarang, dan detik ini juga, aku ... Jackson Atkinson, akan berusaha sekeras mungkin untuk menyingkirkan benalu di rumah ini," ucap Jackson dengan tegas dan penuh penekanan.


Asten pun semakin merasa terharu dan bangga akan ambisi anaknya itu, ia pun memeluk Jackson sambil mengusap-usap punggung anaknya itu, memberi semangat.


"Semangat! Ibu percaya, kamu pasti bisa mengambil alih semua kekuasaan ayahmu, Nak."


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2