
Mohon maaf di bab sebelumnya author salah masukin naskah. Sudah author perbaiki kok, silakan yang mau baca bisa dibaca ulang bab 59 "Bertengkar."
Happy reading and enjoy~~~
****
Diliriknya jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul 22.00 malam, lagi dan lagi, Edwin dibuat mengeluh atas perintah tuannya. Namun, lagi dan lagi, Edwin tidak bisa menolak, selain menjalankan apa yang sudah ditugaskan untuknya.
“Tuanku ini, selalu saja menyuruh tanpa melihat waktu!” ucap Edwin begitu kesal. Dan lagi-lagi, Edwin yang sudah lusuh dan capek itu, terpaksa harus menjalankan tugas yang diberikan oleh tuannya.
“Ya Tuhan, apa hidup memang sekeras ini,” imbuhnya kesal, lalu segera memasuki mobilnya untuk menjalankan misi terbarunya.
Sementara itu, kini jam sudah menunjukkan pukul 24.00 dini hari. Akash masih tidak bisa tidur, ia merasa ada yang kurang. Berkali-kali ia mencoba memejamkan matanya untuk agar bisa tertidur, tapi usahanya sia-sia, pikirannya masih berkutat akan pertengkarannya dengan Shira tadi sore.
“Aneh sekali, kenapa aku terus memikirkan dia sih!” gerutunya merasa kesal, karena jujur saja, hari ini adalah hari yang cukup melelahkan baginya, beban pikirannya terus saja bertambah.
Belum masalah teror ayahnya, belum lagi masalah Jackson yang mencari gara-gara dengannya dan sekarang, Shira tengah bermusuhan dengannya akibat pertengkaran tadi sore.
Ingin rasanya Akash bisa terlelap, ketika badan sudah capek, tetapi otak masih berjalan memikirkan Shira, semuanya terasa percuma.
“Ini tidak akan benar, aku harus turun ke bawah dan tidur dengannya,” gumamnya. Lalu beranjak pergi menuju kamar Shira.
Pintu kamar itu masih dalam posisi sebelumnya, sedikit terbuka tidak tertutup rapat.
"Kenapa
Perlahan Akash mendorong pintu tersebut, begitu pelan. Lalu kedua matanya langsung membeliak saat melihat di dalam kamar tidak ada siapa-siapa.
“Shira!” panggilnya sedikit panik. Ia pun bergegas masuk dan mencari keberadaan Shira di dalam kamar itu, akan tetapi Shira tidak ada.
Ia berlari membuka pintu kamar mandi. "Shira!' teriaknya lagi, memanggil nama istrinya. Akan tetapi tetap, tidak ada sahutan dari Shira.
Akash seketika panik dan bingung. Karena yang ia tahu, tadi sekitar jam tujuh malam, Shira masuk ke kamarnya. Tapi, tiba-tiba, saat ini Shira menghilang dan pergi entah kemana.
__ADS_1
"Pengawal!!!" teriak Akash begitu kencang.
***
Sementara itu, saat ini Shira tengah duduk termenung meratapi kesedihannya di sebuah ruangan yang seidkit kecil dan tampak sedikit berantakan, yaitu di kostannya Kalala.
“Shira, kamu baik-baik saja 'kan?” tanya Kalala memberikan secangkir teh kepada Shira.
Shira menggeleng pelan. Ia kembali terisak saat mengingat sentakan dari Akash padanya. Pipinya kembali basah. Ini untuk pertama kalinya Akash membentaknya seserius itu. Membuat pikiran Shira menerka-nerka, kenapa harus sampai sekasar itu padanya.
“Apa kesalahanku sebegitu fatalnya ya? Sampai-sampai membuat dia marah dan membentakku seperti itu?” pikirnya dalam hati.
Cangkir teh yang dipegangnya, kini sudah sedikit mendingin. Uap dari air teh itu sudah menghilang. Dan Shira masih sibuk dengan pikirannya, mengabaikan minuman yang ada di tangannya saat ini.
Kalala melirik ke arah jam di dinding yang sudah menunjukkan waktu hampir tengah malam.
“Shira, ini sudah malam, lebih baik kamu beristirahatlah, kamu tampak kelelahan sekali hari ini,” ucap Kalala pelan. Sambil mengusap-usap punggung Shira.
Kalala terdiam, memandang heran kepada sahabatnya yang masih terisak itu. Kalala pun membenarkan duduknya.
Kalala menarik nafas, sambil berpikir berulang kali untuk menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu. “Tergantung, kalau peraturan yang dilanggarnya termasuk peraturan penting dan sangat berefek besar, tentu aku akan marah,” jawab Kalala. Sebenarnya ia pun bingung, kenapa Shira malah memberinya pertanyaan seperti itu.
“Lalu, jika pacarmu punya alasan tertentu kenapa dia melanggar peraturan itu. Apa kamu aka memberinya waktu untuk menjelaskan?” tanyanya lagi.
Kalala kembali terdiam sebelum menjawab. “Emh, tentu, aku harus tahu juga alasannya apa, kalau aku hanya menerka-nerka sesuai pikiranku yang sama sekali tidak aku ketahui alasan sebenarnya apa, tentu itu akan menjadi masalah besar ke depannya.”
Mendengar jawaban Kalala, malah membuat Shira semakin mengeraskan tangisannya, gadis itu kembali teringat akan kata-kata pahit yang diucapkan suaminya.
“T-tapi kenapa dia tidak mau mendengarkan penjelasanku, Kala....” Shira menangis sekencang-kencangnya sambil bersender di bahu Kalala.
Membuat kaos yang digunakan Kalala basah terkena air mata Shira. Kalala mencoba menenangkannya, mengelus punggung dan kepala Shira dengan lembut.
“Menangislah Shira, menangislah jika tangisan ini bisa meredakan kesedihanmu,” ucap Kalala menenangkan.
__ADS_1
“Apa kamu bertengkar dengan pacarmu yang tadi?” tanya Kalala. Shira menggerakan kepalanya, mengangguk.
“Owalah, jadi benar ya kalau lelaki tadi itu adalah pacarnya Shira,” batin Kalala.
“Tenanglah, dalam sebuah hubungan, bertengkah atau salah paham itu memang hal yang wajar. Kalau boleh tahu, apa permasalahannya sampai kamu nangis begini?” tanya Kalala begitu lembut.
Shira semakin terisak keras ketika Kalala menanyai permasalahannya. “Di-dia membentakku ka;karena masalah aku dengan lelaki baru tadi Kalala,” jawab Shira sesenggukkan dan menenggelamkan wajahnya di antara ketiak dan dada Kalala.
Kalala paham, pasti pacarnya Shira salah paham akan Boy yang memeluknya tadi.
“Kamu tenanglah, besok kamu ajak pacarmu itu untuk bertemu ya, aku akan membantumu untuk menjelaskan semuanya.”
“Tidak Kala, di-dia tidak akan percaya, a-aku saja tadi ingin menje-laskan t-tapi dia tidak ma-mau mendengerkanku ....” Tangisnya kembali mengeras, dengan suara yang tercekat karena sesenggukkan.
Kalala dapat merasakan kesedihan yang Shira rasakan. Memang sesak rasanya, ketika kita hendak menjelaskan tapi lawan tidak mau mendengarkan.
“Tenang saja, aku akan membuat dia percaya. Sekali pun tidak, aku akan memaksanya dan terus menjelaskan kejadian kemarin sampai dia paham dan meminta maaf padamu,” ucap Kalala sungguh-sungguh, terus membelai rambut Shira menenangkannya.
Shira menjauhkan badannya dari Kalala. Matanya yang sudah menyipit dan sembab itu menatap penuh harap ke arah Kalala. Ia mengelap ingus cair di hidungnya menggunakan punggung tangannya.
“Benarkah?” tanyanya sambil mencebik manja.
Kalala mengangguk. “Iya Nashira cantik," jawab Kalala tersenyum lebar. Ia tersenyum bukan karena ketulusannya, akan tetapi, ia sedang menahan tawa saat melihat wajah Shira yang saat ini tampak sangat lucu.
Hidung merah seperti badut, mata sembab dan sipit seperti habis ditonjok, pun sisa-sisa ingus yang meleber ke pipinya. Sungguh, Kalala tidak tahan ingin terbahak melihat wajah sahabatnya itu. Akan tetapi, sebisa mungkin Kala menahannya, karena ia tidak ingin menyinggung perasaan Shira di saat seperti ini.
Shira langsung memeluk tubuh mungil sahabatnya itu dengan erat, sampai membuat Kalala merasa sesak, lalu ia pun melepaskannya.
“Sudah, kamu cepatlah tidur sudah jam dua belas malam,” ucap Kalala, Shira mengangguk mengiyakan lalu segera berbaring di tempat tidur milik Kalala.
Dan saat Kalala hendak mematikan lampu kamar, Shira kembali memanggilnya dengan nada suara yang sedikit manja.
"Kalala ...."
__ADS_1