
Setelah menempuh perjalanan dari Tokyo menuju Paris yang memakan waktu kurang lebih 10 jam, kini mereka sudah sampai di Bandara.
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi waktu Paris. Akash, Shira, Bella dan Beni sedang berada di dalam sebuah taksi yang akan membawa mereka ke sebuah hotel yang sudah disiapkan oleh Baker.
Shangri-La Paris.
Hotel mewah yang cukup terkenal di Paris, akan menjadi tempat singgah mereka berempat selama di Paris. Khusus untuk Akash dan Shira mereka masuk ke kamar presiden suite, yang di mana ruangannya sangat begitu luas dan indah memanjakan mata, di tambah view dari ketinggian gedung, membuat mereka bisa menikmati indahnya menara eifel dan kota Paris dari kamar mereka. Sedangkan Beni dan Bella, mereka ditempatkan di kamar terpisah, tapi masih memiliki fasilitas mewah.
Jika di rupiahkan harga per satu kamarnya, mulai dari Rp. 26,600,000,- permalamnya untuk dua orang. Dan khusus kamar yang dipesan oleh Akash, itu permalamnya adalah Rp. 28,200.000,- Meski sedikit mahal, akan tetapi fasilitas yang diberikan pun terjamin kualitasnya. Mulai dari kebersihan, keindahan, kenyamanan, semua dijamin akan membuat setiap pengunjung merasa puas.
"Astaga Akash ... hotel apa ini? Kenapa bisa seindah ini?" Shira yang baru masuk ke kamar yang memanjakan mata itu, ia tampak kegirangan, ia meletakan kopernya begitu saja di tengah-tengah ruangan, lalu berlari menuju balkon melihat keluar, dan lagi-lagi kedua matanya dibuat takjub atas apa yang ia lihat kali ini.
"Oh my God! Sumpah, keren banget," pekiknya kegirangan.
Di balkon yang luasnya sekitar 4x5 meter itu, terdapat pula dua sofa empuk dan meja, serta beberapa tanaman hias yang ada di sisi balkon.
Kedua mata Shira tampak berbinar, memancarkan kebahagiaan di hatinya saat ini. Tatapannya fokus mengarah ke menara eifel yang begitu gemerlap indah dihiasi lampu di sekelilingnya, belum lagi lampu-lampu dari rumah, toko dan gedung-degung yang ada di sekitar hotel tersebut.
Ingin rasanya Shira berteriak kencang untuk mengekspresikan kebahagiannya, tapi di gelap malam menuju pagi ini tidak mungkin ia berteriak mengikuti keinginannya, yang ada nanti ia akan di protes oleh pihak hotel karena sudah menggangguk kenyamanan orang yang tengah tidur di kamar lain.
"Akash kemari! Lihat indah sekali, Akash!' ajak Shira begitu semangat, menoleh ke arah Akash yang masih ada di dalam kamar.
__ADS_1
Akash pun tersenyum melebarkan bibirnya. Entah kenapa, melihat binar kebahagiaan di wajah Shira, sangat-sangat membuat hatinya tersentuh. Lelaki itu juga ikut bahagia ketika melihat wanita yang selalu ada di sisinya itu bahagia.
Akash pun berjalan keluar menuju balkon. Ia juga cukup merasa takjub dengan keindahan yang saat ini tengah dilihatnya. Terlebih lagi, keindahan ini bisa ia rasakan bersama wanita yang sudah sah menjadi istrinya.
Akash pun mendekat ke arah Shira yang masih berpegangan di pagar balkon. Ia memeluknya pelan dengan penuh kehangatan dan kelembutan.
Membuat Shira yang merasakannya langsung berbalik menghadap Akash.
Keduanya saling memandang dengan tatapan teduh yang menyiratkan begitu banyak arti yang mendalam.
"Terima kasih ya, Akash," ucap Shira tersenyum.
"Terima kasih karena telah memeberikan aku kebahagiaan," jawabnya haru.
"Seriously? You happines?" tanya Akash meyakinkan.
Shira kembali mengangguk pelan, masih dengan bibir masnisnya yang tersenyum lebar. "Yeah, i'am serious."
Akash pun memeluk Shira dengan erat, merasakan kehangatan dan ketenangan jika berada di sisi istrinya itu. Meski mereka sudah berulang kali melakukan pelukan, tapi entah kenapa, jantung Akash masih selalu berdebar jika dirinya sedekat ini dengan Shira.
Kini ia juga bisa merasakan bagaimana rasanya bahagia ketika melihat orang lain bahagia. Jelas, Akash sangat tersentuh saat mendengar kalau Shira berhasil dibuat bahagia olehnya.
__ADS_1
Dan sepertinya, perasaan di antara keduanya akan dibiarkan mengalir begitu saja. Meski keduanya belum yakin akan perasaan mereka, akan tetapi sedikit rasa takut kehilangan sudah masing-masing mereka rasakan.
Shangri, Eifel, dan Shira, menjadi tiga point utamanya yang ada dipikiran Akash saat ini. Ia tidak akan pernah melupakan moment pelukan hangat ini, di malam dingin yang membahagiakan ini.
Lalu sejenak, Akash pun mengecup pelan puncak kepala Shira, memejamkan kedua matanya masih mersakan debaran yang membuatnya sangat-sangat bahagia.
.
.
.
Bersambung....
Mohon maaf ya mentemen, kemarin ada maintance, di beberapa bab, perlahan ini author perbaiki.
Silakan yang kemarin masih bingung sama isinya, kalian bisa baca ulang mulaii dari bab 72 ya.
Terima kasih, eh ya btw untuk visual, Akash, Shira, Kalala dan Jackson sudah author up di instagram author ya. Bisa kalian cek aja di @dela.delia25
Terima kasih banyak mentemen, ehh iya sekalian mau minta dukungannya ya mentemen, karna Dela lagi ikutan event tahunan di NT. Di team A dukung terus novel author dengen berbagi vote dan hadiahnya, jazakumuallah mentemen kesayangan.
__ADS_1