
Setelah diberi izin oleh Kalala, Akash langsung menerobos masuk ke dalam kamar. Terlihat Shira yang tengah duduk sendirian di tepi ranjang memeblakanginya.
Akash sejenak menghentikan langkahnya, entah kenapa, tetapi melihat Shira yang duduk sendirian di tepi ranjang itu, membuat hatinya terenyuh. Ada sesak yang ia rasakan, lebih tepatnya saat ia ingin menelan salivanya, tenggorokannya seolah tercekat.
“Shira,” panggil Akash berjalan mendekat. Shira yang terkejut mendengar suara tidak asing itu, ia langsung berdiri dan berbalik menghadap ke arah Akash.
Sungguh, rasa rindu yang ada di hati Akash, seketika itu pula membuncah. Lelaki itu langsung mendekap tubuh Shira dengan erat. Menenggelamkan wajahnya di tengkuk leher Shira.
Entah kenapa, Shira pun merasakan hal yang sama, pelukan yang diberikan oleh suaminya itu, tiba-tiba membuat kedua matanya kemabali beerlianangan ari mata.
“Shira, maafkan aku, Shira. Aku benar-benar minta maaf padamu, aku salah,” ucap Akash dengan tulus, masih mendekap Shira dalam pelukannya.
Shira hendak menjawab, akan tetapi tenggorokannya tiba-tiba tercekat, ia merasakan sesak yang teramat dalam saat mendengar permintaan maaf dari suaminya itu.
Tidak kunjung mendapat jawaban, Akash perlahan melepaskan pelukannya. Lelaki itu memandang sendu kedua mata Shira. Kedua saling beradu pandang, dengan tatapan yang begitu dalam menyiratkan kerinduan di antara keduanya.
“Shira, maafkan aku, Shira, aku tahu perkataanku kemarin pasti menyakiti perasaanmu, jadi aku—” Sebelum Akash menyelesaikan ucapannya, Shira terlebih dahulu menempelkan jari telunjuknya di bibir Akash, memberikan tanda agar Akash tidak banyak bicara.
Shira mengangguk pelan, menatapnya nanar. “Aku memaafkanmu, Akash, “ ucapnya pelan, sambil tersenyum getir.
Akash terperangah, ia tidak menyangka kalau Shira akan memaafkannya semudah itu. Ia begitu terharu, dan tanpa aba-aba, Akash langsung mendaratkan ciumannya di bibir Shira.
Air mata Shira masih menetes merasakan haru di hatinya. Ciuman mereka juga masih berlangsung, dengan Akash yang bisa merasakan tetesan air mata Shira yang membasahi pipinya juga.
Akash menangkup wajah Shira, dengan ibu jarinya yang perlahan mengusap air mata itu, mencoba mengeringkannya. Sejenak mereka melepaskann ciumannya. Masih dengan kedua tangan Akash yang memegang pipi Shira.
“Maafkan aku Shira, sudah membuatmu menangis,” lirihnya menatap sendu. Shira mengangguk, lalu memegang pergelangan tangan Akash. Dan mereka pun kembali menautkan bibirnya, melakukan french kiss, saling membalas satu sama lain.
Dan saat mereka tengah menikmati french kiss, tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar, menampilkan Edwin yang tibat-tiba menerobos masuk. Membuat Akash dan Shira sama-sama terkejut dan langsung menjauhkan wajah mereka secara bersamaan.
Keadaan sejenak terlihat begitu akward, Edwin yang tidak sengaja melihat mereka ciuman, dia langsung salah tingkah, dan dengan cepat Edwin berbalik menutup pintu sekeras mungkin hingga terdengar gebrakannya.
Shira tertawa kecil melihat ekspresi dari wajah Edwin. Begitu pun dengan Akash yang ikut tertawa saat istrinya itu tertawa.
Lalu, mereka berdua pun kembali saling memandang dan melanjutkan ciumannya yang berakhir dengan obrolan ringan di tepi ranjang.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi, kini mereka berempat tengah berada di dalam mobil, untuk mengantarkan Kalala ke rumah sakit.
__ADS_1
Edwin menghentikan mobilnya saat lampu merah di pertigaan menyala.
"Oh, iya, ayah menyuruh kita ke rumahnya malam ini," ucap Akash memberi tahu.
"Untuk apa?" tanya Shira menoleh ke arah Akash yang duduk di sampingnya.
Akash mengangkat kedua bahunya sejenak. "Tidak, tahu, tapi kemarin ayah hanya meminta aku untuk membawamu ke sana."
"Oh, begitu baiklah."
Keduanya terus melanjutkan obrolannya, sementara Edwin dan Kalala hanya terdiam di kursi depan. Edwin yang sibuk menunggu lampu hijau menyala, dan Kalala yang fokus melihat orang-orang menyebrang di zebra cros.
Tiba-tiba, sebuah ketukan terdengar dari samping jendela mobil Edwin.
"Om, bunganya, Om," ucap seorang anak kecil lelaki yang membawa banyak bunga mawar di tangannya.
"Ini." Edwin menyodorkan satu lembar uang 100 ribu kepada anak lelaki penjual bunga itu.
"Om mau beli semuanya?" tanya anak lelaki itu.
"Tidak, kau ambil saja uangnya," ucap Edwin begitu dingin.
"Maaf, Om, tidak bisa. Saya bukan mengemis, saya menjual bunga, Om," jawab anak penjual bunga itu.
Edwin langsung meliriknya sinis. Tampaknya, lelaki itu kurang menyukai gadis yang duduk di sampingnya.
"Iya Om, ambil aja buat pacar Om bunganya," timpal anak penjual bunga itu.
Edwin langsung meringsutkan wajahnya. "Eh, sembarangan! Dia bukan pacar saya!" seru Edwin tidak terima.
"Oh, maaf Om, pasti itu istrinya Om ya?" tanya anak itu dengan polos.
"Gegabah kamu bilang dia istri saya! Tidak, dia bukan pacar atau istri saya!" sangkal Edwin dengan tegas.
Shira dan Akash yang mendengar ucapan Edwin, mereka hanya bisa menahan tawa sambil saling memandang satu sama lain.
"Oh, maaf Om, kalau begitu kakak itu pasti tunangannya Om ya?"
"Asatagaaa .... makin ngaco aja kamu!" Seru Edwin tidak suka. "Sudah, saya ambil saja semua bunganya, itu berapa?" tanya Edwin dengan mimik wajah yang tampak kesal.
__ADS_1
"Baik, Om. Total semuanya delapan puluh ribu, Om."
Edwin pun mengambil alih semua bunga itu lalu memberikan uang 200 ribu kepada anak tersebut.
"Om, uangnya kelebihan, Om."
"Sudah, ambil saja, anggap itu bonus buat kamu," jawab Edwin.
"Beneran, Om?" tanya anak itu begitu antusias.
"Iya!" jawab Edwin dingin.
"Yeee, makasih ya, Om. Saya do'akan semoga rezeki Om semakin berlimpah, dan semoga Om berjodoh dengan Kakak cantik itu. Terima kasih, Om." Anak itu pun langsung berlari dari area lampu merah.
"Do'a macam apa itu?! Bisa-bisanya dia doain aku berjodoh dengan cewek jelek!" gerutu Edwin langsung menutup kaca mobil.
Kalala yang mendengar ucapan Edwin, ia sedikit tersinggung. "Gegabah kamu bilang aku jelek! Buta matamu hah?! Ciptaan Tuhan sebagus ini malah dibilang jelek!" seru Kalala.
"Dih, aku enggak bilang yang jelek itu kamu ya!"
"Halah, alesan saja! Jelas-jelas anak tadi nunjuk ke aku, dan kamu negdumel bilang aku jelek!"
"Apaan sih!"
"Apaan sih, apaan sih! Sudah ah, jalan tuh udah lampu ijo!" ucap Kalala melipat kedua tangannya di dada.
"Ya udah, nih makan tuh bunga!" Edwin melemparkan beberapa bunga mawar yang tadi sempat dibelinya ke lahunan Kalala.
"Cie... yang dikasih bunga," ledek Shira yang duduk di belakang menyaksikan pertengkaran mereka sedari tadi.
"Ih, Shira apaan sih!" Kalala menoleh sambil mencebik kesal kepada Shira, lalu ia pun kembali melemparkan bunga itu ke lahunan Edwin, saat Edwin tengah fokus melajukan mobil.
"Cie, saling balas ngasih mawar," seloroh Akash ikut menggoda mereka berdua.
"Sialan, Tuanku ini, bisa-bisanya dia ikut-ikutan menggodaku!" batin Edwin, ia tidak ingin peduli dengan situasinya saat ini. Bahkan ia pun membiarkan bunga-bunga itu berserakan di lahunananya, dan sebagian jatuh ke kolong kemudi.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....