
“Tuan! Ayo ikut saya!” ucap Edwin menarik paksa tubuh Jackson yang masih lemah itu.
Jackson yang sempat Shock, karena tadi ia mengira itu adalah anak buahnya Marvel, ternyata tidak lain adalah sekretaris dari saudaranya.
“Edwin!” ucapnya, bernafas lega.
Jackson pun terus melangkahkan kakinya yang semakin melemah itu. Ia tidak tahu ke mana Edwin akan membawanya pergi. Yang ia tahu, lelaki itu tidak lain pasti akan menyelamatkannya.
“Masuklah!” Edwin membukakan pintu mobil yang tertutup oleh dedaunan kering dan ranting-ranting.
Jackson yang sudah kelelahan ia pun mengangguk kemudian masuk. “Tuan, jika kau butuh makanan atau minum, ambil saja, semua ada di bawah jok,” ucap Edwin, Jackson kembali mengangguk dengan nafasnya yang sudah terengah-engah tidak karuan. Bahkan rasa pening kini terasa semakin dahsyat di kepalanya, pandangannya pun sesekali terasa gelap.
“Tetap diam di sini, sebelum Tuan Akash masuk. Jangan membuka pintu dan jangan bersuara! Saya akan pergi membantu Tuan Akash dulu,” ucap Edwin langsung menutupkan pintu mobil dengan kencang dan pergi begitu saja meninggalkannya.
Jackson masih terengah-engah, ia menyenderkan kepalanya di bahu mobil. Dengan keadaan di dalam mobil yang terasa pengap dan sangat gelap gulita tanpa ada setitik pun cahaya penerangan.
Jackson pun meraba-raba ke bawah jok yang didudukinya, ia memegang sebotol air mineral membukanya dengan susah payah karena ia benar-benar sudah kehabisan tenaga, lalu pada akhirnya ia berhasil meneguknya.
“Oh ****! Kenapa semuanya malah jadi begini,” gumamnya dalam hati.
Sementara itu, Akash kini tengah berdiam di tempat persembuyiannya. Beberapa pasukan Marvel ada yang tengah mengendap-endap mencarinya. Akash mencoba tetap waspada. Namun, yang menjadi incarannya kini bukanlah para pasukan itu, melainkan adalah Marvel.
Akash harus bisa menembak pria itu, entah itu langsung dengan membunuhnya atau hanya sekedar membuatnya sekarat. Namun, sampai detik ini, Marvel sepertinya tidak ikut mencarinya ke dalam hutan.
“Sial! Sepertinya dia memang ingin mengorbankan pasukannya saja,” batin Akash.
Tiba-tiba, sebuah tembakan terdengar dari arah kanan sana.
Duar!
“Astaga, ya Tuhan!” batin Edwin, yang hampir saja terkena senapan dari musuhnya.
Edwin bersembunyi di balik pohon besar yang ada di sana. Masih mencoba mencari keberadaannya Tuannya. Karena ia tahu, yang harus ia lakukan sekarang adalah membawa tuannya masuk ke dalam mobil.
Edwin terus mengendap-endap berpindah tempat, begitu pun dengan pasukannya Marvel mereka melakukan hal yang sama, dengan sangat berhati-hati.
__ADS_1
“Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus mengurungkan niatku untuk membunuhnya malam ini, aku tidak bisa membuang waktuku hanya demi mencari bedebah sia’lan itu,” batin Akash, memikirkan keselamatan Jackson yang ada di mobil.
Ia pun kembali bergerak dengan gerakan cepat kemudian mengendap, cepat lagi dan mengendap lagi. Hingga pada akhirnya, saat ia tengah berjalan membungkuk, tiba-tiba moncong senapan menghalangi wajahnya.
Akash begitu terkejut saat salah satu anak buah Marvel behasil mendapatinya. “Akhirnya aku men—”
Dorr!
Tiba-tiba anak buah Marvel itu langsung terbatuk mengeluarkan darah dari mulutnya, sedetik kemudian tubuhnya jatuh terkulai.
Akash cukup shok melihatnya, karena barusan hampir saja dirinya yang mati di tangan musuhnya itu.
“Tuan, kamu tidak apa-apa?”
Ternyata Edwin lah yang menembak musuh tersebut. Akash yang masih sedikit shock ia tidak menjawab ia hanya mengangguk pelan, sambil menatap bengong wajah sekretaris andalannya itu.
“Cepat, Tuan, kita tidak ada waktu lagi, helper A sebentar lagi akan melemparkan gas air mata,” ucap Edwin.
Akash pun mengangguk, lalu mereka berdua bergegas lari masuk ke dalam mobil yang ditumpangi Jackson.
Vrroooom .... mobil pun menyala, Edwin langsung menginjak pedal gasnya, dan cahaya dari mobil pun langsung menyinari jalanan yang ada di depannya.
Semua pasukan Marvel pun langsung terfokus ke arah mobil yang melaju kencang menubruk semua ranting yang menghalangi jalan.
“Aish! Sial!” Marvel yang mengetahui hal itu, ia semakin emosi.
Lalu ia pun mulai menodongkan senapannya, mengarah ke kaca mobil yang ditumpangi Akash. Dengan jarak kurang lebih 200 meter dari pekarangan rumahnya. Matanya begitu jeli, dan tidak perlu diragukan lagi, kemampuan menembak Marvel sebenarnya jauh lebih baik daripada Akash.
Karena Akash pun sempat belajar menembak jarak jauh darinya. Dan mungkin inilah yang dinamakan, murid menjadi musuh bagi gurunya.
Namun, saat Marvel hendak menarik pelatuknya, tiba-tiba sebuah kepulan asap menyerang di area sekitarnya. Membuat dirinya langsung terbatuk-batuk dan lari menjauhi asap tersebut.
Asap tersebut adalah gas beracun yang dilemparkan oleh helper A dari team Akash. Dan seketika itu pula, semua bodyguard, pengawal dan pasukan khusus milik Marvel langsung berpencar menjauhi area berasap tersebut. Termasuk dengan para pasukan dari Akash, mereka langsung berlari ke titik F, di mana mereka akan melarikan diri dari sana. Meski sebagian dari pasukan Akash pun ada yang terkena imbas dari gas beracun tersebut.
Marvel yang emosi, ia tidak bisa menyerah begitu saja, ia langsung berlari, sambil menutup wajahnya menggunakan jubah anti peluru yang dipakainya. Sambil memejamkan sedikti matanya ia berlari mengejar arah mobil yang ditumpangi Akash.
__ADS_1
“Sial! Dia mengejar kita,” ucap Akash saat ia berbalik ke belakang.
Dan tanpa di sangka, hanya dalam hitungan lima detik, setelah Marvel diam di posisinya, ia benar-benar kembali mengarahkan senapannya ke arah mobil Akash.
“Jackson! Merunduk!” Akash langsung menarik tengkuk kepala Jackson.
Namun naas, nasib baik memang tidak selamanya berpihak pada mereka. Tepatnya, saat suara tembakan itu memekik ditelinga mereka bertiga, disaat itu pula, tragedi yang tidak akan pernah terlupakan oleh Akash terjadi lagi padanya.
Duar!
Kaca mobil pecah seiring dengan percikan kacanya yang berhamburan mengenai wajah Jackson, karena ternyata pelatuk yang dilayangkan oleh Marvel berhasil menembus mobil Akash.
Dan hal yang paling mengejutkan pun disadari oleh Akash saat adik satu-satunya itu tahu-tahu sudah berlumurah darah.
“Tidak... JACKSON!” teriaknya begitu shock.
Dan dari sinilah, dendam sesungguhnya akan dimulai. Di mana, tragedi tidak termaafkan akan menjadi tameng seseorang untuk melepaskan amarahnya dan menghancurkan kehidupan Akash sesungguhnya. Namun, entah takdir apa yang akan dihadapi Akash dimasa depannya, yang ia tahu saat ini, ia harus bertanggung jawab atas apa yang menimpa adiknya saat ini. Meski ia sudah tahu, kalau ayah dan ibu tirinya pasti tidak akan memaafkannya.
"JACKSON...." teriaknya dengan perasaan hancur dan kalut, merasa begitu bersalah.
.
.
.
Bersambung....
Waduh... gimana ini????
Apa yang terjadi sebenarnya?
Tolong doakan yang terbaik buat Jackson ya mentemen. :(
Yang mau tahu kelanjutannya, tunggu besok lagi ya mwehehehe....
__ADS_1