Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Honeymoon?


__ADS_3

Shira masuk ke dalam mobil sesuai perintah Akash, lalu Akash menutupkan pintu mobil dengan kencang hingga terdengar suara gebrakannya.


Dirinya sadar diri, saat ini pasti Akash tengah marah padanya, karena ia melupakan suaminya dan tidak memberi tahu Akash, kalau ia akan menggantikan Kalala bekerja paruh waktu.


Akash memegang setir mobil, pandangannya lurus ke depan, seolah menahan kekesalan dan enggan menatap Shira.


“Apa kau begitu kekurangan uang hingga kau harus bekerja sebagai pelayan di sana hah?” tanya Akash memiringkan tubuhnya menghadap Shira.


Shira menatapnya sendu, ia tahu ia salah, tapi bukan itu alasannya ia bekerja. “Tidak Akash, a-aku bekerja untuk menggantikan temanku.” Shira menunjuk name tag yang terpasang di bajunya.


Akash dapat membacanya bahwa name tag itu bertuliskan nama lain, bukan nama istrinya.


"Kau ini menganggap aku apa sih?! Kenapa kau tidak menagbariku?!' tanyanya kesal.


“Apa kau marah padaku?” tanyanya takut, memasang ekspresi wajah memelas.


Akash mengembuskan nafasnya kasar. “Aku tidak marah padamu! ... Tapi, lain kali jangan bertindak gegabah, mereka orang-orang licik, kalau kau tidak dapat mengatasi situasi seperti tadi, wanita itu bisa saja melaporkanmu ke polisi. Apalagi saat ada bukti kalau kau mendorongnya. Kau juga seharusnya, kalau ada apa-apa itu telepon aku, Shira!” Meski Akash terbilang dingin dan cuek, tapi rasa khawatirnya kini menunjukkan bahwa ia adalah orang yang sangat peduli dan penyayang.


"Tapi aku tidak mau merepotkanmu, Akash!" balas Shira.


"Merepotkan apa hah? Kau ini sebenarnya menganggap aku suamimu atau tidak sih?" tanya Akash semakin kesal.


"Kamu memang suamiku, t-tapi ...." Ucapan Shira tiba-tiba terhenti, ia tidak bisa melanjutkannya.


Akash seketika terdiam, ia teringat akan perkataan Shira waktu itu, yang mengatakan kalau pernikahannya ini hanyalah sebuah permainan semata bagi Akash untuk mendapatkan harta kekayaan ayahnya.


"Tetapi apa hah? Tetapi kau tetap menganggap kalau pernikahan kita ini adalah permainan begitu?" tanyanya serius.


Shira tidak menanggapi, wanita itu hanya menunduk dan diam seribu bahasa.


"Terserah kau mau menganggap pernikahan ini serius atau tidak, tapi tanggung jawabku padamu sebagai suami, aku tidak pernah main-main, Shira!" tegasnya.

__ADS_1


Shira sedikit terenyuh mendengar perkataan Akash, entah itu tulus atau karena terbawa emosi saja, tetapi Shira merasakan haru yang membiru di hatinya.


“Kau paham?!” Akash kembali menatapnya dengan serius. Shira mengangguk, menandakan dirinya mengerti. Lalu, setelah itu Akash pun bergegas melajukan mobilnya, pulang ke rumah.


***


Di rumah ternyata sudah ada Tessa. Wanita itu ikut khawatir dan memutuskan untuk kembali ke rumah milik Akash, saat anaknya tadi sore mengabari kalau Shira belum pulang ke rumah.


“Ya ampun, Shira ... kau baik-baik saja ‘kan, Sayang?” Tessa mengapit kedua pipi menantunya itu dengan penuh khawatir.


“Ibu, a-aku baik-baik saja, Bu,” jawab Shira, sekilas melirik ke arah Hammas yang berdiri di sampingnya, merasa tidak enak hati.


Tessa langsung memeluknya sejenak. Lalu kembali menatap sendu kepada Shira.


“Shira sayang ... Ibu dan Akash begitu mengkhawatirkanmu. Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Kenapa kau sulit di hubungi oleh Akash? Dan kemana kamu pergi?” Seruntutan pertanyaan penuh khawatir keluar dari mulut Tessa. Tessa benar-benar takut kalau menantunya itu terluka.


Karena Tessa tahu, tidak mudah bagi seseorang untuk berada di lungkungan Akash, yang memang pada dasarnya, lingkungan Akash cukup membahayakan, apalagi jika urusannya dengan orang-orang elite di negri ini.


“Bekerja?” tanya Tessa.


Karena penampilan Shira sudah berubah, tadi di jalan Akash menyuruh Shira untuk mengganti pakaiannya. Jadi saat pulang ke rumah, Tessa hanya melihat Shira memakai baju biasa layaknya seorang mahasiwi.


“I-iya, mamanya temanku tadi masuk rumah sakit, dia tidak bisa berangkat bekerja karena harus menjaga mamanya, tapi pekerjaannya pun sangat penting baginya. Jadi ... untuk menghindari pemotongan upah gaji, aku membantu menggantikannya bekerja,” jelas Shira begitu runtut.


“Ya ampun Shira .... Kamu jadi orang jangan terlalu baik begitu. Lain kali, bilang saja pada Akash, jika kamu butuh bantuan, dia pasti akan membantumu untuk menyelesaikan masalahmu,” ucap Tessa, yang dibalas anggukkan oleh Shira.


“Sudahlah, ayo kita makan. Aku sudsah lapar,” ajak Akash kepada Ibu dan istrinya. Lalu mereka bertiga pun bergegas pergi ke ruang makan.


***


Setelah selesai makan, Shira bergegas untuk mencuci piring, akan tetapi Tessa melarangnya.

__ADS_1


“Eh eh eh, mantu Ibu jangan cuci piring, nanti tangannya kasar. Sudah, biar sama pelayan aja ya,” ucap Tessa menarik tubuh Shira agar menjauh dari wasbak.


Shira dan Tessa pun kini duduk di ruang keluarga. Ruangan yang luasnya 10 x 10 meter itu, di tata dengan gaya kerajaan eropa. TV yang besar layaknya layar tancap, menempel di atas dinding sana.


Tessa menyalakan TV dan mengoperasikan channel di acara TV sinetron.


“Oh ya, bagaimana tentang honeymoon kalian, apa kamu udah ada keputusan untuk mengambil bulan madu?” tanya Tessa yang duduk di samping Shira.


“Emh, belum, Bu,” jawabnya malu.


“Kamu kalau mau liburan tinggal bilang aja. Barangkali ada negara atau tempat yang ingin kamu kunjungi, kamu tinggal bilang sama Akash ya, nanti dia yang akan urus semuanya.” Tessa memandangnya penuh kasih sayang.


Shira sebenarnya merasa tidak enak hati. Ia bahkan merasa belum siap untuk menjadi menantu sungguhan dari Tessa. Tessa tidak mengetahui kalau sebenarnya Shira dan Akash belum saling mencintai, mereka menikah hanya terikat akan sebuah perjanjian saja.


“Iya, Bu. Nanti biar Akash saja yang menentukan tempatnya,” jawab Shira, menunduk sopan.


“Kalau begitu, besok kita ke Eropa.” Suara Akash tiba-tiba menyambar dari belakang.


Keterkejutan tampak di wajah Shira saat ia menoleh dan mendapati suaminya yang tengah berjalan ke arahnya.


“Wah, ide yang bagus. Eropa memang terkenal dengan keindahannya, apalagi yang terkenal di sosial media itu banyak tempat wisata yang menakjubkan di sana.” Tessa ikut kegirangan. Padahal yang berencana untuk bulan madu adalah anak dan menantunya, tapi girangnya sampai ke lubuk hati Tessa.


“Bagaimana? Kau siap?” tanya Akash, yang duduk di atas sofa, sebrangnya Shira.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


Waduh, Akash kalau ngajak bikin jantungan ya.


__ADS_2