
Bel pulang sudah berbunyi, dosen berjalan keluar, lalu para mahasiwa yang lainnya pun ikut meninggalkan kelas satu persatu.
“Kal, sore ini kamu kerja lagi?” Mereka berjalan menelusuri koridor tiap kelas.
“Tentu, aku akan bekerja, hari ini ada pekerjaan khusus yang diberikan bosku padaku, sekaligus hari ini aku akan menerima gaji pertamaku,” jawab Kalala dengan semangat.
"Nanti kalau aku udah nerima gaji pertamaku dari hotel itu, aku bakalan traktir kamu deh," lanjutnya. Membuat Shira terkekeh mendengarnya.
"Seriously?"
"Yap!" Kalala mengangguk sungguh-sungguh. Hellena pun merangkulnya dengan bangga.
"Baiklah, kalau kau gajian traktir aku beli es buble di kedai Pak Aden."
"Siap, siapa takut, mau beli dua, tiga atau lima sekali pun pasti aku belikan buat kamu, yang penting bukan soal harga, tapi soal murah, haha," ucapnya tertawa.
Kalala adalah seorang mahasiwi yang merangkap sebagai pelayan hotel, ia bekerja dari sore hingga malam pukul 11. Dan sore ini ia ditawari bosnya untuk menjadi peramu tamu di acara pesta khusus dari seorang model ternama di kota ini.
Shira tiba-tiba teringat akan mamanya Kalala. “Oh ya, bagaimana kabar mamamu? Apa keadaannya sekarang sudah membaik?”
Kalala menghela pasrah. “Ya ... seperti yang kamu tahu, mamaku masih sakit, malah sekarang tiap sebulan sekali harus cek darah,” jawab Kalala dengan lesu. "Terus, kemarin juga mamaku--" Kalala tidak melanjutkan ucapannya saat dering ponselnya menyala.
Drrttt ... drrttt ... drrttt ... ponsel Kalala bergetar membunyikan nada panggilan, ia segera merogoh tote bagnya dan mengambil ponselnya.
Terlihat satu panggilan masuk dari nomor mamanya. Ia segera mengangkatnya.
__ADS_1
"Hallo, ada apa M--"
“Apa? ... Mama masuk rumah sakit?” ucap Kalala begitu terkejut, sampai-sampai mereka menghentikan langkannya sejenak. Setelah itu ia langsung mematikan ponselnya.
“Kalala ada apa?” tanya Shira ikut panik.
“Shir, mamaku, Shir." Kalala tampak begitu resah, apalagi saat melihat kedua sorot matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Ada apa sama mamamu?"
"Shira, mamaku pingsan dan sekarang sama ibu kost sudah di bawa ke rumah sakit. Sepertinya aku harus ke sana sekarang,” ucap Kalala, begitu panik gemetar.
Shira yang mendengarnya ia ikut shock. “Oke, kalau gitu aku ikut. AYo!” Kalalan mengangguk. Lalu mereka berdua pun segera pergi keluar gerbang, mencegat taksi dan berlalu menuju rumah sakit.
Sesampainya di sana, Kalala langsung berlari mencari-cari mamanya yang katanya masih berada di UGD. Matanya menilik satu persatu brankar yang berjajar di sana, tapi Kalala tidak dapat menemukannya.
“Kala, itu mamamu di sana.” Shira menepuk pundak Kalala, lalu menunjuk ke arah brankar yang ada di ujung sana. Ibu kost Kalala juga melambaikan tangannya. Mereka berlari menghampiri.
“Sudah, kamu tenang saja, Mamammu sudah ditangani dokter. Tadi asmanya kambuh lagi. Kata dokter semalam ini harus dirawat dulu di sini.”
“Syukurlah kalau dokter sudah menangani Mama.” Kalala bernafas lega, begitu pun dengan Shira.
“Kalala, kamu jagain Mama kamu dulu ya, Ibu mau pulang, soalnya udah sore, suami Ibu sebentar lagi pasti akan pulang dari tempat kerjanya,” ucap Ibu Kost, Kalala mengangguk mengiyakan.
“Makasih banyak ya, Bu. Maaf sudah merepotkan.”
"Iya, sudah tidak apa-apa." Ibu kost pun pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
Kalal duduk di atas kursi yang tersedia di samping brankar, sementara Shira, gadis itu masih berdiri di samping Kalala.
“Kamu yang sabar ya, Kal.” Shira mengusap pundak Kalala dengan pelan.
Matanya memandang lurus ke arah mamanya Kalala. Shira begitu tidak tega melihat kondisi mamanya Kalala yang terbaring lemah tak berdaya. Seandainya ia masih memiliki banyak harta, sudah dipastikan Shira yang akan membayar semua biaya rumah sakit sekaligus menempatkan mamanya Kalala di ruang VVIP. Tapi, apalah daya, sekarang dirinya bahkan tidak punya uang untuk sekedar menebus obat. Hanya cukup untuk pulang pergi naik taksi.
Dalam hening, benda pipih milik Kalala kembali berdering. Satu panggilan masuk dari nomor bosnya.
“I-iya, Pak ada apa?” Kalala berbicara sedikit gugup.
“Kalala, kau masih di mana? Yang lain sudah ada di sini sejak tadi, apa kau mau gajimu saya potong? Cepat kemari! Atau kalau tidak gajimu besok tidak akan saya berikan!” suara bosnya memekik di telinga, membentaknya.
Sebelum Kalala menjawab, panggilan itu sudah terputus.
“Ada apa, Kala?” tanya Shira.
Kalala menatap wajah Shira dengan sendu, seolah menyiratkan permintaan bantuan pada sahabatnya.
“Apa barusan itu bosmu yang menelepon?” Kalala mengangguk mengiyakan.
“T-tapi aku bingung, Shir. Aku tidak bisa meninggalkan Mamaku di saat seperti ini." Kalala memandang sendu ke arah mamanya yang masih terkapar lemah.
"Tapi ... tadi bosku bilang, kalau aku tidak hadir gajiku akan dipotong,” adunya begitu lirih, dengan kedua netra yang sudah berkaca-kaca.
Shira sejenak terdiam. “Tenanglah, kalau begitu, biar aku yang menggantikanmu,” ujarnya.
Bersambung...
__ADS_1
Wah kira-kira kalau Shira yang gantiin jadi pramu di hotel bakalan jadi gimana ya???
Jangan lupa likenya ya guys.