Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Ini Bukan Salahmu


__ADS_3

Plak!


Tamparan keras itu melayang tepat mengenai pipi kanan Akash. Wajah pria itu terbanting. Seiring dengan rasa perih yang terasa panas di pipinya.


“Kalau sampai hal buruk terjadi kepada Jackson, aku tidak akan pernah memaafkanmu! Camkan itu, Akash!” teriak Asten, sambil berurai air mata.


“Asten! Hentikan! Ini bukan saatnya kau meluapkan emosimu kepada Akash!” seru Baker langsung menarik tubuh Asten agar menjauhi anak sulungnya itu.


Asten melepaskan tangan Baker yang ada di pundaknya, mata wanita itu tampak begitu memerah, emosinya semakin berapi-api, saat suaminya menegurnya.


“Bela saja! Kau bela anak kesayanganmu ini yang bisanya hanya mencelakakan keluargaku!” seru Asten begitu emosi, bahkan saat ini Asten sampai berani memelototi suami yang biasanya ia segani itu.


“Cukup! Diam! Hentikan omong kosongmu itu! Fokuslah kepada keadaan Jackson di dalam sana!” serunya.


Baker ikut emosi mendengar penuturan tidak benar yang diucapkan istrinya itu. Entah kenapa Asten selalu saja menganggap kalau dirinya selalu membela Akash. Padahal Baker sendiri lebih tahu, siapa yang lebih ia manjakan antara Akash dan Jakson.


Akash yang tengah gundah, ia akhirnya memilih untuk duduk di kursi tunggu di ujung sana.


Ia melemaskan badannya, dengan kedua sikut yang menahan di pahanya, dan kedua tangan yang ia usapkan ke wajahnya dengan kasar.


“Ya Tuhan, tolong selamatkan Jackson, semoga dia baik-baik saja, Tuhan,” lirihnya dengan perasaan yang semakin terasa kacau saat dirinya mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, saat tembakan itu menyerang ke tubuh Jackson.


Bahkan, suara ledakan dan rintihan Jackson masih terngiang jelas di telinganya.


Asten pun ikut mendudukan tubuhnya di atas kursi tunggu dekat ruang operasi. Dunianya saat ini terasa runtuh, semua kesedihan di dunia seolah tengah menerpanya. Ia merasa, kalau hidupnya kini sedang tidak baik-baik saja, apalagi saat tahu anak kesayangan satu-satunya tengah masuk ke ruang operasi.


Setelah satu jam menunggu, akhirnya bel singkat pun terdengar, lalu dokter keluar. Tanda bahwa operasi sudah selesai dilakukan. Dan disusul oleh Jackson yang didorong di atas brankar menuju ruang pemulihan.


Akash, Asten dan juga Baker langsung segera mengikuti kemana brankar yang ditiduri oleh Jackson itu dibawa.


Salah satu suster pun memasukan sebuah alat penghangat ke bagian bawah kaki Jackson, lalu memasang selang oksigen di hidung Jackson dan menempelkan beberapa alat bantu dan pendeteksi detak jantung di ujung-ujung jari Jakson.


“Dokter, gimana dengan anak saya? Apa yang sebenarnya terjadi, Dokter? Anak saya tidak akan mengalami efek buruk apapun kan, Dok?” tanya Asten begitu khawatir.

__ADS_1


“Operasi berjalan lancar, dan untuk saat ini, anak Ibu hanya perlu pemulihan. Untuk soal peluru yang ada di tubuh anak Ibu, sudah berhasil dikeluarkan, dan untuk efeknya mungkin dalam beberapa bulan kedepan, tuan Jackson akan mengalami rasa nyeri dibagian bahunya, dan disarankan untuk tidak mengangkat benda-benda berat karena itu akan beresiko pada saraf di tangan dan pundaknya,” ucap Dokter menjelaskan.


Baker dan Akash yang mendengar penjelasan dari Dokter, mereka sedikit bernafas lega. Lalu Dokter juga menjelaskan, kalau Jackson pingsan karena rasa keterkejutannya, bukan dari efek peluru yang tertanam di bahunya.


Setelah Dokter dan para suster itu pergi, Asten langsung mendekati brankar milik anaknya, di mana Jackson masih tidak sadarkan diri di sana.


“Malang sekali nasibmu, Nak. Maafkan Ibu karena tidak bisa melindungimu, maafkan Ibu, Jackson ....” Asten menangis tersedu sambil mengusap-usap kepala Jackson dan juga sesekali menciumi pipi anak kesayangannya itu.


Akash tidak berani untuk sekedar mendekat, ia masih berdiri tepat di samping Ayahnya. Lalu ia pun berbalik ke arah Baker. Menghadapnya dengan kepala yang ia tundukkan dalam-dalam, karena ia merasa begitu bersalah.


“Maafkan aku, Ayah,” lirihnya pelan, membuat perhatian Baker langsung beralih padanya.


Baker menarik nafas, lalu pria bertubuh tinggi itu tiba-tiba menari tubuh anak sulungnya tersebut, mendekapnya dalam pelukan hangatnya.


“Sudah ... tidak apa-apa. Ini bukan salahmu. Tenanglah, Jackson akan baik-baik saja,” ucap Baker dengan suaranya yang terdengar sedikit lembut dari biasanya.


Asten yang mendengar ucapan Baker, ia langsung menoleh sinis, ingin rasanya ia menyangkal ucapan suaminya yang mengatakan bahwa Akash tidak bersalah atas kejadian ini. Namun, tenanga saat ini terlalu lemah, ia pun memilih bungkam terlebih dahulu dan fokus kembali kepada Jackson.


“Terima kasih, Ayah,” ucap Akash dengan suaranya yang terdengar sedikit serak.


“Tidak. Seharusnya Ayah yang berterima kasih ... terima kasih karena sudah menyelamatkan Jackson. Terima kasih sudah melindunginya, dan terima kasih karena kamu sudah menjadi saudara yang baik untuknya,” ucap Baker, sambil mendongak menatap langit-langit plafon.


Ada sesak yang sama ia rasakan, karena di satu sisi ia sangat tahu betul kalau anak sulungnya ini selalu mendapat perlakuan yang berbeda darinya. Meski sadar, tapi itulah yang bisa Baker lakukan untuk mendidik kedua anaknya, meski didikan yang ia berikan kepada Akash dan Jackson sangat jauh berbeda, tapi dibalik didikkannya itu ia menyimpan maksud tertentu, agar karakter diantara kedua anaknya itu bisa tumbuh sesuai dengan karakter mereka masing-masing tanpa harus membandingkan atau menyamakannya.


“Maafkan Ayah juga, Akash. Maaf karena Ayah selalu berlaku keras padamu,” ucap Baker yang tanpa disadari setitik air matanya sudah terjatuh membasahi sebelah pipinya.


Akash semakin tidak kuat menahan kesedihannya. Ia hanya bisa diam, tidak berkutik sedikit pun.


Baker melepas pelukannya, dan hal yang paling tidak terduga bahkan sudah lama sekali tidak pernah Akash rasakan, yaitu ketika Baker tiba-tiba mencium puncak kepalanya, lalu mengusapnya pelan.


Akash terpaku, memandang wajah tua ayahnya yang sudah berkeriput.


“Kau lebih baik segera pulang. Ibu dan juga istrimu pasti akan khawatir padamu,” ucap Baker mengacak pelan rambut Akash, sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


“T-tapi Ayah, Jackson ‘kan belum—”


Baker menggelengkan kepalanya pelan. “Sudah tidak apa-apa. Dia sebentar lagi pasti akan sadar, lebih baik kau segera pulang,” ucapnya lagi.


Akash akhirnya mengangguk pasrah. Lalu menoleh ke arah Jackson dan Asten sekilas, menatapnya dengan iba. Dan Akash pun pamit pergi dan keluar dari ruangan tersebut.


Namun, saat Akash menyalami dan menciumi tangan Ayahnya, tiba-tiba Asten bangkit dari duduknya, kemudian berjalan pergi meninggalkan mereka berdua sambil menekuk wajahnya, begitu masam.


Bahkan saat Baker memanggil dan bertanya pun wanita itu tidak memedulikannya.


“Edwin, terima kasih karena sudah ikut menyelamatkan Jackson. Jasamu tidak akan pernah terlupakan, kau memang orang terbaik yang dikirim Tuhan untuk menjaga dan mendapingi anak saya,” ucap Baker, yang kini sudah berada di luar ruangan bersama Akash dan Edwin.


“Tidak perlu berterima kasih, Tuan. Itu sudah menjadi tugas dan kewajiban saya. Justru saya lah yang seharusnya berterima kasih kepada keluarga Tuan, karena Anda dan Tuan Akash mau mempercayai saya,” ucap Edwin sambil menunduk sopan.


Baker tersenyum tipis mendengarnya, lalu ia pun menepuk sebelah bahu Edwin dan mengelusnya pelan. “Kalian hati-hatilah, ingat, masih banyak cicak putih di sekitar kalian. Selalu waspada, dan tolong berkabar jika kalian sudah sampai,” ucap Baker.


Akash dan Edwin mengangguk paham. Lalu mereka pun pergi meninggalkan Baker.


Di basement rumah sakit, saat Akash dan Edwin baru keluar dari lift, mereka dikejutkan dengan hadirnya seseorang yang berdiri di dekat mobil mereka.


Siapa lagi kalau bukan.


.


.


.


Bersambung....


Hayoooo siapakah itu???? Ada yang bisa nebak?


Jangan lupa bantu like, komen, dan votenya  ya gengs. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2