
Akash memasuki sebuah ruangan gelap, hanya ada cahaya lampu remang-remang yang menerangi langkahnya.
Perlahan dan mengendap-endap, ia bersama Edwin memasuki ruangan kotor itu. Penuh debu dan pengap sekali, membuat pernafasan Akash terasa sedikit sesak.
Akash memberi ancang-ancang, tubuhnya menempel di dinding seperti cicak. Tatapannya sangat waspada, bergerak hati-hati dan penuh ketelitian.
Drap ... drap ... drap.
Derap langkah Edwin melangkah terdengar sedikit keras. Meski begitu ia tetap maju menjadi paling yang utama demi menjaga keselamatan bosnya tersebut.
Sebagai anak buah Akash yang sangat dipercayai, Edwin harus bisa menjaga keselamatan Tuannya tersebut.
Edwin mendekat ke sisi pintu yang terbuat dari kayu, ia menempelkan telinganya di pintu tersebut, mendengarkan saur-saur suara orang di dalam, lalu ia menoleh kepada Akash yang masih berdiri menempel ke tembok di belakangnya.
Dan saat Edwin mengangguk, tiba-tiba ....
Duar!!!
Akash menarik pelatuk pistol yang dipegangnya, menembaknya ke atap, hingga membunyikan suara ledakan yang dahsyat. Dan seketika itu pula pintu tersebut terbuka, lalu keluar lah seseorang dari dalam sana. Yang tidak lain ialah anak buah dari orang yang tengah diincar mereka.
“Bangsat! Mau apa kalian di sini hah?! Mau cari mati kalian!” Lelaki bertubuh besar itu memasang kuda-kuda, dengan sorot mata yang melotot menakutkan, dan tangannya yang mengepal sejajar dengan dada, matanya tajam lurus mengarah kepada Edwin.
Dan saat pukulan hendak dilayangkan ke wajah Edwin, cukup dengan satu kali tangkapan.
Hap!
Edwin berhasil memutar lengan lelaki tersebut, memerintilnya hingga lelaki itu mengaduh kesakitan. Edwin memutarnya 360 derajat, tidak segan mematahkan lengan dari orang yang hendak melawannya itu.
“Beri tahu, di mana keberadaan Bosmu!” seru Edwin!
Lelaki itu tidak bisa menjawab, hanya bisa meringis kesakitan sambil berusaha meloloskan diri, memberontak.
“Kau jawab atau kupatahkan kedua tanganmu hah?!” Edwin semakin mengencangkan cengkeramannya dengan penuh kekuatan.
Lelaki itu semakin mengaduk kesakitan. “Di-dia dibawa kabur ke ruang bawah,” ucapnya sambil memohon ampun.
Edwin melirik ke arah Akash. Tatapan Akash semakin terlihat tajam, lalu ia mengangguk dan sedetik kemudian Akash melangkah memasuki ruangan tersebut.
Masih dengan langkahnya yang hati-hati, ternyata di ruangan tersebut ada tangga yang menuju ke ruang bawah.
Pelan, dan semakin pelan, ia meniti anak tangga. Tidak ada siapa-siapa di sana, hingga pada akhirnya, ia melihat sekelebat bayangan dua orang yang keluar melalui pintu di ujung lorong sana. Di bawah cahaya yang remang-remang sedikit kemerahan, Akash berlari mengejar orang itu.
"Kalian! Berhenti!" teriak Akash.
__ADS_1
Dan hal tak terduga pun terjadi.
Bugh!!!
Dari samping tiba-tiba Akash dipukul begitu keras oleh seseorang, hingga ia terjatuh terjungkal ke lantai.
"Sialan!" Akash kembali bangun, menatap lelaki bertopeng yang tengah Beralri menuju pintu keluar.
Akash mengarahkan pistol yang dipegangnya ke arah kaki lelaki itu. Dan begitu pelatuknya ia tarik, suara ledakan pun kembali terdengar memekik di telinga.
Duar!!!
Akan tetapi sayang sekali, tembakan itu tidak menengasi kaki si pelaku, dia terlanjur berlari dan berhasil menghindari serangan Akash. Dan jadinya, pintu lah yang bolong akibat terkena tembakan itu.
Akash kemabali mengejar pria bertopeng itu keluar. Menaiki kembali anak tangga yang ternyata dari lorong bawah tanah tersebut, mengarah ke belakang halaman gedung tua ini.
Pria bertopeng itu terlanjur masuk ke dalam mobil. Di dalamnya terlihat ada seorang wanita. Dari bayangan kaca mobil, wanita itu memakai jubah besar yang ada pelindung kepalanya.
Akash berancang-ancang, mengarahkan pelatuknya dengan fokus ke arah ban mobil yang ditumpangi oleh dua pelaku itu.
Dooorrr!!!
Suara tembakan kembali terdengar, tepat saat mengenai ban belakang mobil.
“Aragh! Sial!” Akash mengumpat, lalu menurunkan tangannya yang masih pada posisi menembak.
Ia menyeka keringat di dahinya, dengan kepulan amarah yang menggelora di dadanya. “Arrgh!!! Bangsat! Lihat saja kalian bajingan-bajingan tidak berguna!” Akash mengacak rambutnya dengan kesal.
Keringat yang bercucuran di dahi dan di seluruh badannya, tidak ia pedulikan. Akash mengeluarkan ponselnya mengaktifkannya lalu segera menghubungi Edwin dan menyuruhnya untuk kembali.
"Siapkan mobil," ucap Akash dengan nafas memburu menatap benci kepergian dua pelaku teror tadi.
***
Tepat pukul 24.00 tengah malam, Edwin dan Akash baru saja sampai di rumah. Aktivitas mereka hari ini benar-benar menguras tenaga, emosi jiwa serta beban pikiran.
Akash menajtuhkan tubuhnya di atas sofa empuk di ruang tamu. Lelaki itu tampak kelelahan, terlihat dari tubuhnya yang sudah lemas, pun dada yang masih naik turun mengikuti ritme nafas. Ia benar-benar lelah dengan masalah yang harus dihadapinya saat ini.
Sementara itu, Edwin yang tidak kalah lelah dengan Akash, ia masih setia berdiri di dekat Akash. “Tuan, apa besok kita akan melanjutkannya lagi?” tanya Edwin dengan nafas yang sedikit terengah-engah.
Akash menatapnya sekilas, lalu berganti posisi duduk dengan kedua sikut yang bertumpu di atas kedua lututnya, dan jari-jarinya yang mengepal menahan dagu.
Ia menarik nafas pelan. Lalu menatap kosong ke arah meja yang ada di depannya. “Sepertinya, untuk sementara waktu, kita hentikan dulu masalah ini. Dia pasti lebih licik dari kita," ucapnya seolah sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Sebaiknya kita membiarkannya selama satu bulan ke depan, dan kita lihat lagi kedepannya, apa mereka masih akan mencari masalah dengan kita atau tidak,” lanjut Akash begitu serius.
“Baik, Tuan.” Edwin mengangguk patuh.
Akash kembali menengok kepada Edwin. “Kau ... segeralah pergi ke kamar tamu, malam ini kau beristirahat di sini saja,” ucap Akash.
Sekretaris setia itu kembali menganggukkan kepalanya, lalu Edwin pun berpamitan dan pergi ke kamar tamu yang ada di lantai satu.
Setelah beberapa menit melelapkan kedua matanya, dengan kepala yang bersandar di bahu sofa, Akash kembali bangun. Ia ingat, kalau sejak tadi ia belum bertemu Shira.
"Ah iya, di mana istriku?" gumamnya.
Akash pun bergegas naik ke lantai dua, dan masuk ke kamarnya. Namun sayang, saat ia membuka pintu kamarnya, di sana tidak ada siapa-siapa selain ruangan kamar yang tertara rapi dan kosong tanpa ada kehadiran Shira di sana.
“Kemana gadis itu?” gumam Akash mengernyit. Lalu kembali menutup pintu kamarnya.
“Apa dia di kamar bawah?” gumamnya, bergegas pergi menuju kamar yang ada di lantai bawah.
Akash kembali membuka kamar bekas Shira, tetapi tetap saja, ia tidak bisa menemukan keberadan istrinya di sana.
“Ke mana dia ini?!” ucapnya sedikit kesal dan mulai panik.
Lalu, Akash pun menghampiri penjaga yang berdiri di dekat tangga.
“Pak, apa kamu melihat istriku?” tanya Akash khawatir.
“Siap! Ada di ruang makan, Tuan,” ucapnya lantang dan tegas.
“Rurang makan?” Akash menegrnyit heran, lalu ia pun bergegas pergi menuju ruang makan, untuk menemui istrinya tersebut.
Dan saat Akash berhasil membuka pintu ruang makan itu, kedua netranya dibuat terbelalak dengan apa yang ia lihat. Yaitu, sebuah pemandangan yang membuat hatinya sedikit terenyuuh saat melihat posisi istrinya di meja sana.
“Shira!" ucapnya pelan, langsung berlari menghampiri.
.
.
.
Bersambung...
Makasih buat kalian yang sudah baca sampai bab ini. Semoga rezeki kalian lancar terus dan diberi kesehatan. Aamiin
__ADS_1