
“Sial! Siapa yang berani masuk ke sini,” gumamya pelan, langsung masuk ke dalam lorong berukuran lebar satu meter itu. Dan saat dirinya baru dua langkah memasuki lorong tersebut, sambil senter yang terus ia arahkan ke depan sana, tiba-tiba ....
Gedebug!
Sebuah tendangan keras berhasil menimpa tengkuk kepala penjaga tersebut. Akash yang sejak tadi bersembunyi di atas plafon, dengan kedua tangannya yang bergelantung pada besi dan kedua kaki yang berpijak di sisi lorong layaknya spidermen, akhirinya ia pun harus ketahuan.
“Shit!” Penjaga itu tersungkur ke tanah berlumpur yang dipijaknya.
Akash langsung turun melompat, lalu saat penjaga itu berbalik hendak melihat ke arahnya, Akash kembali melayangkan tendangan dahsyatnya, menimpuk mengenai wajah penjaga itu. Hingga penjaga itu pun pingsan tidak sadarkan diri.
Nafas Akash tampak terengah-engah, bagaimana tidak, dirinya hampir saja tertangkap oleh penjaga tersebut. Untung saja, karena kelincahan dan pola pikirnya yang cepat ia bisa menyiapkan strategi dadakannya itu.
Akash mengambil alih senapan yang ada di tangan penjaga itu, lalu ia mengalungkannya di tubuhnya.
Jackson yang berada di dalam sel, ia terperangah bahkan benar-benar terkejut saat tahu kalau lelaki yang beradu dengan penjaga itu adalah Akash—saudranya sendiri.
Begitu pun dengan Akash, ia cukup tercenang melihat kondisi Jakson yang benar-benar tampak kumal, lusuh bahkan sedikit lebih kurus dengan kantung mata hitam yang melingkar di area matanya.
“Akash,” ucap Jackson berdiri memegangi besi sel, memandang takjub ke arah Akash.
Akash menempelkan satu telunjuk di bibirnya. Memberi kode agar Jackson tidak bersuara.
Akash pun langsung menghampiri sel yang ditempati Jackson, sambil sesekali mengawasi ke sekeliling untuk memastikan tidak ada siapa-siapa di sana.
“Akash, kau bisa tahu aku ada di sini?” tanya Jackson.
“Sttt ... aku akan menjelaskannya nanti, sekarang kau harus keluar dulu dari tempat ini,” ucap Akash sambil sibuk membuka gembong yang terpasang di pintu sel.
“Ayo! Cepat keluar,” ajak Akash begitu ia berhasil membuka pintu sel tersebut.
Jackson mengangguk mengiyakan. Lalu mereka pun bergegas masuk ke dalam lorong tadi. Namun naas, saat Akash dan Jackson memasuki lorong tersebut, secara bersamaan ada dua orang penjaga yang masuk ke dalam ruang bawah tanah ini.
“Hey! Jangan kabur!” teriak penjaga itu, langsung berlari mengejar Akash dan Jackson memasuki lorong.
Satu orangnya lagi pergi ke luar untuk memberi tahukan penjaga yang lain agar mengawasi di pintu belakang lorong yang ada di belakang rumah.
“Oh ****! Ayo Jackson percepat langkahmu!” teriak Akash saat penjaga itu berada sepuluh meter di belakangnya.
Jackson terus mempercepat langkahnya, berlari menginjak tanah berlumpur, di mana kakinya hanya beralaskan sendal, bukan sepatu.
“Helper A, siaga.”
“Edwin, meluncur!” seru Akash menekan tombol handly talky miliknya memberi kode kepada para pasukannya untuk menjalankan rencananya.
Dan sialnya, di ujung pintu sana, terlihat seorang penjaga yang turun hendak mengepung mereka.
Akash terpaksa harus mengambil jalan cepat. Tidak ada pilihan lain selain menembak mereka. Dan senapan yang sudah ia ambil dari penjaga yang ia tendang sebelumnya, ia todongkan ke arah penjaga yang sedari tadi mengejarnya.
Duar!
Tembakan pun mengenai sasaran. Penjaga bertubuh kurus yang tadi mengejarnya itu langsung terjatuh ke tanah berlumpur, entah mati atau tidak, Akash tidak ingin peduli.
Sedetik kemudian, ia langsung mengarahkan senapan itu kepada penjaga yang baru saja memasuki lorong dari ujung pintu sana. Sepertinya penjaga itu ketakutan, karena ia tidak membawa senjata apa-apa, selain pisau yang ada di tangannya.
__ADS_1
Dan tanpa segan, Akash pun kembali menarik pelatuk senapannya, hingga peluru berukuran 7mm itu melesat cepat, menembus tubuh bagian dada dari pria tersebut.
Dorrr!
“Akash! Kau ....” Jackson yang melihat orang sekarat di depannya, tubuhnya langsung berggetar dengan badan yang terasa lemas dan kaku.
“Abaikan dia Jackson! Cepat lari, kita harus segera keluar dari sini!” teriak Akash begitu emosi, karena Jackson malah terpaku di tempatnya.
Akash langsung menarik lengan Jackson dengan begitu kuat, bahkan sampai Jackson meringis karena pergelangan tangannay di cekal dengan begitu kencang.
Sementara itu, Marvel yang berada di ruang khusus miliknya, ia sudah tidak terkejut mendengar suara tembakan itu. Hal seperti ini memang sudah sangat biasa baginya.
“Kerahkan sebagian pengawal di pintu depan dan belakang rumah, pastikan mereka berdua jangan sampai lolos,” ucap Marvel kepada asistennya.
“Baik, Tuan!” Asistennya itu langsung pergi memerintah seluruh anak buahnya.
Marvel tersenyum sinis. “Haha, ternyata kau sebegitu pedulinya terhadap adikmu, Akash,” ucap Marvel menyeringai tajam.
Ia menarik nafas begitu dalam, lalu berdiri dari duduknya. “Argh! Sial! ... Penjaga!!!!” teriaknya memanggil penjaga yang ada di luar ruangan.
“Siap, Tuan.”
“Siapkan mantel anti peluru untukku sekarang juga! Dan berikan tembakan peringatan untuk mereka! CEPAT!” teriaknya begitu emosi.
Sementara itu, kini seseorang yang disuruhnya sudah kembali membawakan mantel anti peluru. Lalu membalutkan ke seluruh tubuhnya yang kekar.
Marvel berjalan dengan penuh emosi, langsung mengambil pistol bermodel Raging Bull 454 yang tersimpan di laci nakasnya. Lalu keluar dari ruangannya dan berjalan menuju area belakang rumah bersama para pasukannya.
Dan benar saja, kekacauan sudah terjadi tepat di depan gerbang rumahnya. Di mana, satu persatu dari para penjaga masing-masing menodongkan pistol dari setiap lawan. Antara pasukan dari Akash dan pasukan dari Marvel. Semua nyawa kini sedang dalam ancaman.
Dan saat Akash serta Jackson sudah berhasil melewati tembok berpaku itu, akhirnya mereka bisa sedikit bernafas lega, karena sebentar lagi mereka bisa bebas dari tempat ini.
Namun, baru saja Jackson dan Akash melangkah, tiba-tiba sebuah tembakan hampir saja mengenai dirinya.
Duar!
Peluru berkecepatan 2700joule itu memecahkan pohon pisang yang ada di depannya. Membuat Jackson dan Akash yang melihatnya begitu terkejut.
“Sial! Tetap diam di sini,” ucap Akash menahan dada Jackson.
“Keluar kau Akash!” teriak Marvel begitu kencang.
Akash sadar, sepertinya peluru yang ditembakan tadi itu bukan mengarah kepadanya, tapi peluru yang asal tembak saja, memberi peringatan.
“Keluar atau nyawa para pasukanmu menjadi taruhannya!” teriak Marvel.
Akash melirik ke arah Jackson. “Diam, jangan bergerak sedikit pun,” bisiknya dengan nafas yang terengah-engah.
Duar!
Tembakan peringatan kedua pun kembali dilayangakan olehnya.
“Di mana kau Akash! Kalau kau tidak keluar, aku yakinkan, nyawa pasukanmu menjadi taruhannya!” teriak Marvel lagi yang sepertinya ada di sisi tembok besar ini.
__ADS_1
“Akash, bagaimana ini?” tanya Jackson dengan perasaan yang berdebar-debar tidak karuan.
“Kau tenang saja, itu hanya ancaman. Semua pasukanku sudah memakai pakaian anti peluru, mereka tidak akan mati semudah itu,” ucap Akash sangat pelan. Jackson mengangguk paham.
Suara grasak-grusuk terdengar seolah semakin mendekat ke arah mereka. Akash dan Jackson tidak bisa tinggal diam saja, mereka harus bergerak cepat. Jika tidak, maka nyawa mereka berdua yang menjadi taruhannya.
Akash melihat ke bawah, di mana hanya ada rerumputan dan bebatuan yang dipijaknya. Ia pun meraih satu batu yang sangat besar yang ada di dekatnya, lalu mengambil ancang-ancang dan melemparkannya sembarangan.
Prang!!!
Suara pecahan kaca jendela pun terdengar keras, mengalihkan perhatian para penjaga Marvel yang sejak tadi berjalan-jalan di area tembok belakang menuju kebun. Bahkan sebagian dari mereka berlari untuk melihat ke tempat jendela pecah.
Dan di saat mereka berlari lah, Akash harus sebisa mungkin memanfaatkan waktu agar dirinya bisa bergerak menjauh dari area berbahaya itu.
“Cepat, kita lari ke kebun sana!” seru Akash, menarik lengan Jakcson membawanya lari menerobos masuk ke dalam semak-semak tinggi menuju kebun.
“Disana!” teriak seseorang, membuat perhatian Marvel langsung tertuju ke arah sekelebat bayangan dua orang yang tengah berlari.
“KEJAR MEREKA!!!” teriak Marvel menyuruh para pasukannya.
Dan beberapa orang pasukannya langsung berlari mengepung dan berpencar ke dalam kebun yang cukup luas itu.
Edwin yang mengawasi dari jauh, ia pun terpaksa meluncurkan tembakannya ke beberapa orang pasukan khusus milik Marvel yang tengah berlari mengejar Akash.
Dor! ... Dorr! ... Dorrr!
Tiga tembakan berhasil melumpuhkan kaki dari tiga orang yang mengejar Akash.
“Sial!” Marvel yang tahu adanya penembakan dari musuh, ia pun terpaksa harus mengorbankan para pasukannya agar berperang dengan pasukan khusus dari lawannya.
“Tidak ada ampun lagi! SEMUANYA .... LAWAAAANNN!!!” teriaknya begitu kencang.
Dan pada akhirnya, baku hantam pun terjadi di antara helper B dan juga beberapa anak buah Marvel. Sementara helper A mereka baku hantam bersama pasukan khusus dari Marvel.
Jika kata “Lawan” sudah diteriakkan, maka diantara mereka hanya diperbolehkan baku hantam tanpa memakai senjata. Namun jika teriakkan dari bosnya itu adalah kata “Perang” maka penembakan atau penusukan menggunakan senjata tajam pun diperbolehkan.
Keadaan yang sangat gelap gulita ini ada untungnya juga bagi Akash dan Jackson, karena dengan begitu, musuh akan lebih sulit untuk mendapatkan keberadaannya. Meski suara grasak-grusuk dari langkah kakinya terdengar orang mereka.
“Mobilnya di sana, kau masuklah terlebih dahulu, Jackson!” Akash mendorong tubuh Jackson agar menjauh darinya, dan agar adiknya itu lebih dulu menaiki mobil tersebut.
“Hah? Mobil?” Jackson yang tidak melihat dimana letak mobil itu, ia kebingungan, tapi di sisi lain ia juga takut. Yang terpenting sekarang adalah ia harus menuruti perintah saudaranya tersebut.
Jackson yang berlari terpincang-pincang karena kakinya sudah berdarah-darah akibat terkena bebatuan dan ranting pohon kering yang dipijaknya, semua rasa sakit itu benar-benar tidak dirasakannya.
Dan karena kurangnya energi di dalam tubuhnya, sebenarnya Jackson sudah sangat kelelahan, hingga ia pun terhuyung jatuh memeluk pohon besar yang ada di depannya.
Namun, sebuah tarikan kencang dilengannya begitu mengejutkannya, sehingga Jackson pun langsung menoleh ke arah seseorang yang tengah mencekalnya. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat orang itu ternyata ....
.
.
.
__ADS_1
Ternyata bersambung haha .....
Siap lanjut lagi????