Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Menikah Karena Harta


__ADS_3

Hai readers tersayang, silakan bab sebelumnya di baca dulu ya, maaf kemarin malam belum tuntas baru negtik sedikit, udah author perbaiki, bisa di baca lagi biar nyambung.


Happy reading and enjoy~~~


***


Pagi itu, Baker beserta istri dan kedua anaknya serta menantunya tengah sarapan pagi bersama. Hari ini, kebetulan Shira libur dari kuliahnya, jadi ia bisa ikut makan pagi bersama keluarga besar suaminya itu.


Keadaannya cukup hening, hanya terdengar suara garpu dan sendok yang beradu di atas piring. Dan setelah selesai menghabiskan menu utama sarapannya kini mereka beralih menikmati sepiring kecil puding sebagai penutup.


Dan di sela-sela aktivitas makan menuju akhir, tiba-tiba Baker mengajukan sebuah pertanyaan yang cukup mengejutkan bagi mereka semua yang mendengarnya, terutama Jackson.


“Kapan kau akan membawa gadis itu kembali menemui Ayah?” tanya Baker menatap serius ke arah Jackson.


Jackson langsung terbatuk-batuk, mendengarnya, dan buru-buru ia meneguk segelas air putih yang ada di samping piringnya, lalu mengelap sisa-sisa air di bibirnya menggunakan tisu.


Kini pandangan ayah dan anak itu saling bertautan serius.


“A-a-aku tidak tahu, Ayah,” jawab Jackson gugup.


“Memang siapa gadis yang kamu maksud suamiku?” tanya Asten, karena ia tidak tahu apa-apa soal kedatangan Kalala waktu itu.


“Calon istrinya,” jawabnya dengan santai, lalu meneguk air minum miliknya.


“Calon istri?” Asten masih bingung tidak mengerti.


Baker mengangguk sambil mengangkat kedua alisnya sekilas dengan bibir yang sedikit melengkung ke bawah. “Hm, minggu lalu dia membawa seorang gadis ke rumah ini, dan gadis itu adalah calon istrinya,” sambungnya.


Asten membeliakkan kadua matanya dengan ekspresi wajahnya yang cengo, telinganya begitu dikejutkan mendengarkan penuturan dari suaminya tersebut.


Dan kini pandangannya beralih kepada anak kesayangannya.


“Apa benar itu Jackson?” tanya Asten begitu serius.


Jackson terpaku, ia bingung harus menjawab apa. “Emh, Ayah, Ibu, jadi sebenarnya, wanita itu—” Jackson menghentikan ucapannya, ia bingung antara harus jujur atau harus bagaimana.


Tapi, hanya Kalala yang menjadi satu-satunya harapan agar ia juga bisa mendapat kekuasaan yang sama dari ayahnya, layaknya Akash yang mendapatkan Shira.


Akash dan Shira masih berfokus melihat ke arah Jackson, menantikan ucapan yang akan keluar dari mulut lelaki itu. Apakah ia akan jujur soal Kalala yang sebenarnya, atau dia akan memanfaatkan kesempatan ini.


“Wanita itu ....”


“Wanita itu apa, Jackson?” tanya Baker.


“Wanita itu, sengaja akan aku kenalkan ke kalian, nanti di saat yang pas,” ucap Jackson berbohong.


Akash yang mendengarnya langsung mengerutkan dahinya.

__ADS_1


“Dia masih gugup, jadi sementara ini, dia belum siap untuk bertemu dengan, Ayah,” sambungnya tersenyum meringis.


“Belum siap?” tanya Baker, Jackson mengangguk.


“Lalu, kapan dia siapnya?”


“A-aku tidak tahu, Ayah.”


“Jadi benar, kau sudah mempunyai pacar Jackson?” tanya Asten untuk memastikan.


Jackson kembali harus berbohong kepada Ibunya, agar misinya ini bisa berjalan lancar. “Hm, aku dan dia tidak pacaran, Bu. Akan tetapi, dia akan menjadi calon istriku,” jawabnya lagi setengah berbohong.


___


Setelah sarapan bersama, dengan obrolan yang sedikit menguji jantung, kini Akash mengajak Jackson untuk pergi ke ruang kerjanya, ada hal yang ingin ia bicarakan dengan adik tirinya itu.


Sementara Shira, gadis itu pergi ke taman belakang, menemani para pelayan yang tengah membersihkan taman.


“Kenapa kau tidak jujur, Jackson?!” tanya Akash dengan peringai tatapannya yang sangat tajam.


“Kenapa memangnya hah, jujur atau tidak, itu bukan urusanmu?” tanya Jackson, memasang wajah penuh tantang.


“Jelas ini menjadi urusanku, Kalala itu sahabatnya Shira, dia sahabat istriku Jackson! Tidak mungkin aku membiarkan kamu untuk memanfaatkan gadis polos itu,” jawab Akash, yang sudah tahu kalau Jackson menikah tahun ini, maka Ayahnya itu akan memberikan ia kekuasaan yang sama dengan Akash.


Akash sebenarnya tidak mempermasalahkan kekuasaan itu, hanya saja empatinya kepada Kalala dirasa cukup tinggi, ia tidak ingin membiarkan Kalala jatuh kepada lelaki licik seperti Jackson.


___


“Waduh, Nona, jangan! Biar sama saya aja di stiknya, ini duri mawarnya cukup tajam, takut tangan Nona terluka,” ucap seorang pelayan wanita yang tengah sibuk menyetik tangkai bunga mawar.


“Tidak apa-apa, biar saya aja, lagi pula saya bosan enggak ada kegiatan,” ucap Shira.


Belum juga satu menit, tiba-tiba Shira mengaduh kesakitan. “Aw... tanganku,” pekiknya.


Pelayan yang ada di sampingnya langsung terkejut saat melihat ada darah di jari telunjuk Shira. Pelayan itu langsung menjatuhkan gunting di tangannya. Lalu mendekati Shira buru-buru.


“Ya ampun, Nona, bagaimana ini? Tangan Nona jadi berdarah,” ucap Pelayan itu khawatir.


Shira meringis, merasakan rasa sakit dan perih akibat goresan pisau kecil yang mengenai jari telunjuknya, sehingga jari Shira pun sedikit sobek dan mengeluarkan cukup banyak darah.


“Sudah, sudah tidak apa-apa, saya akan mengobatinya,” ucap Shira tersenyum.


“Tidak, Nona, ini gara-gara saya membiarkan Anda melakukan ini. Saya bantu obati ya, Nona,” ucap Pelayan itu dengan mimik wajahnya yang tampak cemas dan panik.


Shira menggeleng sambil teersenyum. “Ini bukan salah, Mbak, ini keteledoran saya aja yang ceroboh. Sudah tidak apa-apa, Mbak lanjutkan saja pekerjaan Mbak, saya mau ke atas dulu ngobatin luka saya.”


“Serius, Nona? T-tapi ....”

__ADS_1


“Sttt... sudah enggak apa-apa, lukanya juga kecil kok,” jawab Shira.


Dan akhirnya pelayan itu pun mengikuti perintah Shira untuk kembali melanjutkan pekerjaannya, sementara Shira, ia pergi ke kamarnya untuk mengobati luka tangannya.


Ia membasuhnya terlebih dahulu di kamar mandi, setelah itu ia mencari-cari kotak P3K, akan tetapi ia tidak bisa menemukannya.


“Aduh, di mana ya? Darahnya masih deres lagi,” gumam Shira, mencari-cari kotak P3K itu di kamarnya, ia mengobrak-abrik lemari dan laci yang ada di kamar, akan tetapi tetap ia tidak bisa menemukannya.


“Akash! Aku harus bertanya padanya,” ucap Shira, mengangguk. Lalu bergegas pergi untuk menemui Akash yang ada di ruang kerja.


___


“Kau menikahi gadis itu karena kau ingin mendapatkan kekuasaan, Ayah ‘kan?” ucap Jackson dengan puas.


“Jangan asal bicara kau, Jackson!” tegas Akash menatapnya emosi.


Jackosn kembali tersenyum sinis sambil membuang wajahnya sejenak. “Aku tidak asal bicara, Akash! Kau menikahi gadis itu karena kau menginginkan harta, Ayah! Sama seperti yang ingin aku lakukan sekarang.”


“Lalu, apa bedanya aku dengan kau, yang niat menikahi wanita hanya sebatas karena harta, hah?!” tanya Jackson dengan tatapannya yang semakin dingin.


“Tutup mulutmu, Jackson! Jangan samakan aku dengan dirimu!” sentak Akash begitu keras.


Suara Akash yang terdengar sampai ke luar ruang kerja, membuat Shira yang hendak masuk dan mengetuk pintu itu terdiam dan memundurkan langkahnya, mengurungkan niatnya untuk menemui suaminya.


“Apa Aaksh dan Jackson tengah bertengkar di dalam?” gumam Shira dalam hati, masih mematung di depan pintu tuang kerja itu.


“Kita sama Akash!” teriak Jackson penuh emosi. “Sama! Tidak ada perbedaan dari diri kita! Kau menikah berambisi untuk mendapatkan kekuasaan ayah, sama sepertiku yang saat ini ingin menikah demi mendapatkan kekuasaan ayah!”


“Diam!”


“Aku tidak akan diam, Akash! Kau harus mengakuinya! Kau menikahi Shira karena ambisimu mendapatkan harta ayah kan. Aku juga tahu, ayah akan memberikan kekuasaan penuh kepadamu kalau istrimu itu hamil. Dan aku tahu, alasan kau buru-buru mengajak istrimu itu bulan madu, semata-mata karena kau ingin, istrimu itu secepatnya hamil dan kalau itu terwujud kau akan dengan mudah mendapatkan segalanya dari ayah, tidak seperti usahaku saat ini!” seru Jackson dengan suaranya yang semakin keras terdengar.


“Apa?!” Shira yang tidak sengaja mendengar seruan Jackson, ia langsung tertegun, menutup mulutnya yang sedikit menganga, dan langkahnya yang perlahan mundur.


Mendengar seruan menohok dari Jackson, membuat hatinya bagai ditombak. Ada sesak yang tiba-tiba menguar di dadanya. Sesak yang membuat dirinya tidak bisa berkata apa-apa, selain tertegun dengan pikirannya sendiri.


.


.


.


Bersambung...


Waduh, Jackson mulutnya enggak ada remnya nih. Jangan lupa yang punya kupon Vote bantu vote novel ini ya, ramaikan juga kolom komentarnya. Terima kasih.


 

__ADS_1


 


__ADS_2