Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Munculnya si Pramu


__ADS_3

Setelah selesai bergulat, Akash buru-buru untuk pergi menemui Edwin terlebih dahulu di halaman parkir di rumah. Hanya menggunakan celana trening hitam dan kaos putih andalannya.


“Ayo, kemari masuk dulu,” ajak Akash.


“Maaf, Tuan. T-tapi, saya membawa orang lain tidak apa-apa?” tanya Edwin ragu-ragu.


“Siapa?”


“Temannya istri Anda, Tuan.”


Edwin pun mengetuk kaca mobil, memberi kode kepada Kalala yang diam di dalam mobil untuk segera keluar.


Kalala pun keluar, ia tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya menatap Akash.


“Oh... kamu temannya Shira ‘kan ya?” tanya Akash.


“I-iya, Tuan, saya Kalala.” Kalala memperkenalkan diri.


“Ya sudah, ayo! Kalian masuk dulu,” ajak Akash, mereka pun bergegas masuk ke rumah besar nan mewah itu.


Kalala dibuat terperangah melihat keindahan rumah yang bak istana megah itu. Ia melenggangkan kakinya memasuki ruang tamu dan duduk di sana.


Sementara Edwin dan Akash, mereka tampak berbincang bisik-bisik.


“Oh, ya, kamu kita tinggal di sini sebentar apa tidak apa-apa?” tanya Akash pada Kalala.


“Hah?” Kalala malah cengo.


“Aku dan sekretarisku ada urusan, kita mau ke atas. Kau tunggu di sini sebntar tidak apa-apa ‘kan? Nanti biar aku panggilkan Shira biar menemanimu di sini,” lanjut Akash menjelaskan.


“Apa, Shira?” tanyanya heran.


“Iya! Kau tunggu lah di sini sebentar aku ada urusan dengan, Tuanku terlebih dahulu,” ucap Edwin ikut menjelaskan.

__ADS_1


Kalala pun mengangguk mengerti. “Ah, iya silakan,” jawabnya meski sebenarnya ia merasa begitu berat jika harus ditinggalkan di ruang tamu orang asing yang tidak dikenalnya. Apalagi rumah ini sangatlah besar dan megah.


“Oh... jadi ini rumah pacarnya, Shira,” gumam Kalala mengedarkan pandangannya melihat keindangan seisi ruangan yang membuat matanya dibuat takjub.


“Eh, tapi tadi tuan itu bilang, kalau dia akan menyuruh Shira untuk menemaniku. Apa Shira memang benar ada di sini? T-tapi kok, bisa sih?” gumam Kalala terherna-heran.


_


“Semalaman kau tidak pulang! Kemana saja kau hah? Ibu mencari kamu di kamar, tapi tidak ada!” Asten kini tengah menggerutu kesal kepada Jackson. Karena kepergian Jackson semalam tidak meminta izin dulu padanya.


“Aku hanya pergi ke hotelnya ayah, Bu,” jawab Jackson.


“Ya tapi, kenapa tidak mengabari Ibu hah? Untung saja, semalam dan seharian ini ayahmu tidak mencari keberadaanmu! Kalau dia tahu kau semalam pergi dari rumah tanpa izin, kamu pasti akan terkena masalah lagi, Jackson!” seru Asten masih nyerocos melampiaskan kekesalannya.


Jackson hanya bisa terdiam, memendam semua beban di pikirannya yang tidak bisa ia curahkan kepada siapa pun.


“Belum lagi, kau minum-minum ‘kan? Kau tidak tahu apa aturan di keluarga kita? Kalau ayahmu mencium aroma wine dari mulutmu ini, dia bisa menghukummu, Jackson!” tegas Asten geregetan.


Jackson mendecak, lalu menatap kedua manik ibunya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


Jackson terlalu lelah, ia terlalu muak dengan apa yang dikatakan oleh ibunya, apalagi kalau sudah menyangkut peraturan keluarga dan menggunakan ayahnya sebagai ancaman padanya.


Asten membeliakkan kedua matanya begitu tidak percaya, kalau anaknya yang penurut itu tiab-tiba beragumen padanya.


“Oh ... jadi sekarang kamu udah berani melawan omongan ibu ya?!” Asten menatapnya nanar.


Jackson kembali melenguh. “Bu! ... Aku tidak melawan omongan Ibu. Aku hanya capek, Bu! Aku capek harus dituntut untuk melakukan sesuatu dengan sempurna!”


“Apa? Capek?!” Asten sudah berkacak pinggang, menatap wajah Jackson penuh amarah.


“Lebih capek siapa antara ibu dengan kamu hah?! ... Ibu menuntut kamu untuk menjadi sempurna agar kau bisa menjadi prioritas ayahmu, Jackson! Memangnya Ibu tidak capek apa? Setiap hari memikirkan nasib kamu, berusaha menjadikan kamu anak kebanggaan ayahmu. Ibu juga capek, Jackson, capek!”


Jackson terdiam, tidak berani berkata apa-apa lagi. Bahkan di saat ia menyuarakan hatinya yang memang benar-benar terasa lelah itu. Ibunya malah beradu nasib padanya.

__ADS_1


Memang benar, ia sudah terperangkap dalam lingkup toxic familly. Ia tidak bisa keluar dari zona itu.


“Ibu hanya ingin kamu menjadi yang terbaik di keluarga ini. Ibu tidak ingin kamu dikesampingkan terus oleh ayahmu! Ibu takut, Jackson. Ibu takut akan masa depanmu. Ayahmu memperlakukan kamu dengan Akash sangat berbeda. Dan ibu tidak mau kamu terkalahkan oleh saudaramu itu! Apa selama ini kau tidak paham maksud dan tujuan Ibu hah?”


Jackson masih teridam, seribu bahasa. Sementara Asten, wanita itu terus saja mengeluh tiada henti. Mengucapkan semua kekhawatirannya pun membanding-bandingakan dirinya dengan Akash. Padahal jujur saja, Jackson paling tidak suka jika ibunya itu sudah membandingkan dirinya dengan Akash.


“Bu, stop!” Asten langsung terdiam mendengar seruan dari anaknya.


“Aku akan keluar, lebih baik, antara ibu dan aku kita sama-sama menenangkan diri saja, Bu,” ucap Jackson pelan, sambil menunduk. Lalu keluar dari kamarnya dengan raut wajah yang tampak sendu dan di tekuk.


Jackson melenggangkan kakinya, meniti anak tangga menuju lantai satu.


Akan tetapi, sesampainya di anak tangag paling bawah, kini kedua matanya dikejutkan saat melihat sesosok wanita yang dikenalnya tengah duduk di sofa sana.


“Loh, itu ‘kan pramu yang menemaniku semalam,” gumam Jackson menautkan kedua alisnya, bahkan sampai mengucek kedua matanya agar ia bisa memastikan kalau dirinya tidak salah lihat.


“Loh, benar, itu dia.”


“Tapi, kenapa dia bisa ada di sini? Apa dia mencariku?” gumamnya kegeeran.


.


.


.


Bersambung....


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2