Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Bertemulah Denganku di Masa Depan


__ADS_3

“Kau melangkah pergi, aku tidak akan segan menembakmu!” tegas Edwin saat lawannya itu hendak berpindah posisi untuk mengejar Shira.


“Tembak dia!” teriak lelaki yang masih aduk kekuatan dengan Akash.


Namun, sebelum lelaki itu menarik pelautknya, Edwin terlebih dahulu melakuannya.


Dorr! Tembakan itu pun kembali terjadi tepat mengenai kaki si penjahat, hingga ia langsung menjatuhkan dan menggulingkan tubuhnya saking sakitnya saat peluru itu menembus betisnya.


“Argh!!!”


“Hey brengsek! Sudah tidak ada harapan lagi, sekarang tinggal giliranmu,” ucap Edwin menyeringai, menatap lelaki yang masih adu kekuatan dengan Akash.


Lelaki itu tampak sangat ketakutan, sekuat tenaga ia mengerahkan seluruh ototnya agar bisa melawan kekutan Akash, tapi ia benar-benar kesulitan. Ia tidak menyangka, kalau lawannya akan benar-benar sepintar dan sekuat ini.


Edwin pun semakin mendekat, lalu menempelkan pistolnya tepat di pinggang lelaki tersebut, membuat pemimpin dari penjahat ini tremor, bahkan Akash dapat merasakan ketakutannya saat tangannya sedikit melemas.


“Satu, dua, tiga.”


Sreb!


Pistol itu langsung masuk ke dalam perutnya, membuatnya terbatuk dan langsung memuntahkan cairan merah dari dalam mulutnya. Tangannya yang tengah beradu kekuatan dengan Akash, langsung melemas dan perlahan turun ke bawah melepaskan pistol di tangannya.


“Uhuk! Uhuk!” Pria itu terbatuk, sambil memegang perutnya yang kini sudah bersimbah darah.


“Ayo, Tuan!”


Jackson yang selama satu menit memerhatikan mereka, ia ikut tenang saat tahu Akash dan Edwin selamat, dan tembakan yang terdengar itu adalah tembakan yang mengenai musuh mereka.


“Shira, Akash dan Edwin selamat,” ucap Jackson memberi tahu.


Shira hanya bisa menangis. Menangis menahan sakit dan menangis terharus karena tahu kalau suaminya selamat.


Kalala yang tahu kalau Edwin selamat, ia pun bergegas keluar untuk menemui kekasihnya itu, dan ingin langsung memeluknya.


Jackson melambaikan tangannya kepada Akash, memberi tahu keberadaannya. Akash tersenyum dan segera berlari kepada Jackson.


Sementara Edwin, lelaki itu hendak mengambil satu barang di mobilnya. Ia juga melihat Kalala yang berdiri di dekat mobil putih itu, menunggunya, sambil menatapnya penuh haru.


Setelah mengambil kotak hitam di dalam laci mobil, Edwin pun keluar. Namun, saat ia berjalan hendak menghampiri Kalala.


Tiba-tiba.


Dorrr!


Tembakan yang entah dari mana arahnya, tiba-tiba melayang tepat di sebelah bahu Edwin. Tubuh lelaki itu langsung terhuyung ke depan, terjatuh dan meringkuk di atas aspal, menahan rasa sakit yang sangat luar biasa menyeruak di tubuhnya.


“Edwin!” teriak Kalala, saat tahu kekasihnya itu ada yang menembak. Kalala langsung berlari, mengahmpirinya.


Edwin yang tahu situasi masih berbahaya, ia pun mencoba bangkit, lalu menatap ke arah Kalala yang tengah berlari padanya.


“Tidak, Kalala ... jangan kema—”


Dorrr!!!


Tembakan itu kembali mengenai bahu Edwin, masih di posisi yang sama.


"Edwiiiin!!!" teriak Kalala histeris.


Jackson yang melihat penembakan itu, ia langsung berlari mengejar Kalala, Jackson tahu betul dari mana arah tembakan itu. Dan ia juga melihat kalau Ibunya sudah berada di lokasi ini bersama seorang pria penembak.

__ADS_1


Asten bersembunyi di balik mobil, bersama seorang pria yang menembak Edwin. Dan penembak itu, diarahkan oleh Asten untuk menembak siapa saja yang dilihatnya.


Edwin langsung terkapar lemah di atas aspal.


“Arahkan senapanmu kepada wanita itu!” titah Asten dari kejauhan, yang melihat Kalala tengah berlari mendekati Edwin. “Rupaya dia kekasih si sekretaris brengsek ini,” gumam dalam hati menyeringai.


Asten sebenarnya tidak terlalu jelas melihat Kalala, karena tubuh Kalala terhalang oleh mobil, yang terparkir asal di tengah jalan.


“Edwin!” pekik Kalala meraih tangan kekasihnya itu dengan erat, langsung menangis histeris.


“Tembak wanita itu sekarang juga!” ucap Asten.


Si penembak mengangguk, lalu kembali mengarahkan senapannya ke arah Kalala.


Jackson yang mengetahui hal itu, ia langsung berteriak. “Kalala! Awas!” teriaknya memeluk Kalala, melindunginya dari samping.


Dorr! ... Dorr!


Dan saat itu pula, tembakan kembali terdengar memekik di telinga mereka semua. Bahkan Asten sangat begitu terkejut saat melihat anaknya tiba-tiba muncul di sana dan harus tertembak oleh orang suruhannya.


Dunia rasanya berhenti sejenak, darah terlihat berceceran di atas aspal. Lelaki yang tengah membungkuk melindungi wanita itu mulai terbatuk, mengeluarkan dahak merah dari dalam mulutnya.


Pandangannya menghitam, seiring rasa sakit yang begitu menyeruak di punggung dan tulang belakangnya.


Dua peluru kini sudah terbenam di dalam tubuhnya. Ia tidak tahu, apakah umurnya hanya akan sampai di malam ini saja.


Lalu sedetik kemudian, teriakkan panjang pun terdengar memecah di telinga.


“Jacksoooonn!!!” Asten dari kejauhan langsung berlari mencoba mendekati anaknya. Sementara si penembak, ia khawatir dan langsung kabur, melarikan diri memasuki area hutan yang ada di sisi jalan sana.


Akan tetapi, Asten langsung duduk ambruk begitu saja. Kakinya rasanya tidak kuat, bahkan tubuhnya pun seolah menolak untuk mendekati anaknya saking besarnya dosa yang kini sudah ia perbuat.


Tubuh Jackson yang hampir terjatuh langsung ditahan oleh Kalala. Wanita itu menahan punggung Jackson dan merebahkannya perlahan di lahunannya.


“Jackson ....” Kalala tidak bisa berkata-kata, ia bingung harus bagaimana. Air matanya kian menetes, membasahi kedua pipinya, bahkan jatuh membasahi kening Jackson.


Begitu pun dengan Edwin, yang tidak menyangka kalau Jackson akan melindungi wanitanya itu sampai sebegitunya.


“Tuan Jackson,” ucap Edwin sangat khawatir.


“Ka-Kalala ....” Jackson berucap dengan sisa-sisa suaranya yang terdengar begitu lemah.


Ia tersenyum, memandang wajah wanita galak yang sering ia sebut sebagai macan tutul. Perempuan yang selalu galak padanya itu, malam ini ia malah menangisi serta memegang erat tanagnnya.


“Ti-tidak apa-apa, Kalala,” ucap Jackson dengan suaranya yang terdengar begitu berat.


Kalala menangkup wajah Jackson, melihat lelehan cairan merah yang terus keluar secara perlahan dari hidung dan mulut Jackson. Lelaki itu tampak begitu menyedihkan. Bahkan, Kalala sangat tidak tega melihatnya terluka seperti ini.


Asten meratapi kesalahannya, ia duduk bersimpuh dari kejauhan tidak berani mendekati anaknya yang terlihat tengah sekarat itu.


Akash berlari mendekati Jackson, ia terpaksa meninggalkan Shira di sana karena merasa keadaan sudah baik-baik saja.


“Jackson!” teriak Akash menekuk lututnya dengan lemas dan duduk di samping Jackson dengan kedua lututnya yang ditekuk.


“Jackson.” Air mata Akash tidak bisa terbendung lagi, sedih, kesal, marah dan kecewa semua menyatu di dalam hatinya. Sungguh perasaannya saat ini benar-benar kalut.


Lagi-lagi, ia merasa bersalah karena sudah menempatkan adik tirinya itu di situasi yang sangat berbahaya hingga adiknya itu harus tertembak mengenaskan.


Akash menangis sesenggukkan sambil memegang tangan Jackson, menciumnya. Bahkan tangsinya semakin pecah.

__ADS_1


“Akash, ma-maafkan aku, Akash.”


“Tidak Jackson! Jangan berkata seperti itu, kau akan selamat, aku akan menyelamatkanmu,” tutur Akash tidak kuat.


Jackson kembali tersenyum, mendengar pekataan saudara tirinya itu. “Ma-maafkan a-aku dan ibuku, Akash.”


“Tidak! Kau tidak boleh meminta maaf. Bertahanlah Jackson,” seru Akash sangat emosional. Ia tidak ingin, adik satu-satunya itu harus mengakhiri hayatnya seperti ini.


Dan Akash harus memastikan kalau adik satu-satunya itu harus selamat dari kejadian ini. "Bertahanlah, Jackson, bertahanlah."


Jackson kembali terbatuk, mengeluarkan darah yang semakin banyak dari dalam mulutnya. Kalala yang melihatnya ia semakin tidak kuat, ia memejamkan matanya meratapi lelaki yang ada di lahunannya. Kalala juga sangat takut kalau nyawa Jackson akan berakhir saat ini juga.


“Tuan Akash, ayo kita bawa Jackson dan Edwin ke rumah sakit, kita tidak bisa membiarkan Jackson seperti ini,” ucap Kalala memohon.


“Tuan, ayo, Tuan!” pinta Kalala semakin emosional.


Akash menyeka air matanya, lalu mengangguk mengiyakan perkataan Kalala. “Bertahanlah, Jackson, a-aku akan menelepon ambulance agar mereka segera datang ke sini.”


Jackson hanya bisa tersenyum, menikmati rasa sakit yang luar biasa yang baru pertama kali ia rasakan seumur hidupnya.


Lalu ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kotak hitam yang sedari tadi ingin ia berikan kepada Kalala.


“Ka-Kalala ... te-terimalah ini," ucapnya dengan nada yang bergetar. Kalala menyeka air matanya menatap kota hitam yang ada di tangan jackson.


"Gelang ini memang ti-tidak seberapa, ta-tapi aku harap k-kamu bisa memakainya untukku, Kalala,” ucap Jackson terbata-bata.


Kalala membuka kotak tersebut, melihat ada sebuah gelang tangan di dalamnya, yang mempunyai hiasan berbentuk kepala macan tutul yang kecil dan menggemaskan.


Kalala semakin menangis dibuatnya, ia menggenggam erat gelang tersebut. Dan merintih menahan pedih yang menyesakkan di dadanya.


“Ka-Kalala, berjanjilah u-untuk bertemu de-denganku di masa depan,” ucap Jackson.


Kalala hanya bisa mengangguk sambil terus menangis melihat Jackson yang sudah tidak berdaya. Edwin juga ikut sedih mendengarnya. Di saat seperti ini sudah tidak ada lagi api cemburu di antara mereka. Hanya ada rasa sedih, iba dan kecewa di antara mereka semua.


“Tuan Jackson, bertahanlah,” ucap Edwin mencoba menguatkan. "Jika kau ingin melihat Kalala di masa depan, kau harus bertahan, Tuan."


"A-aku ti-tidak sekuat dirimu, Edwin."


"A-aku ...."


Tiba-tiba .... wiuw ... wiuw ... wiuw.


Suara sirine mobil polisi terdengar di telinga mereka semua, Akash langsung bangkit dan melambaikan tangannya ke arah mobil polisi itu, namun saat ia tengah melambai-lambaikan tangannya ke atas, sudut matanya tidak sengaja menangkap sesosok wanita bergaun hitam yang tengah duduk bersimpuh di kejauhan sana.


“Perempuan iblis!" ucap Akash benar-benar emosi melihatnya.


.


.


.


Bersambung....


Harap bersabar teman-teman, mari kita doakan agar Jackson baik-baik saja.


Authornya kabur dulu ah, takut didemo haha....


Jangan lupa ramaikan kolom komentarnya ya gengs, like dan votenya jangan ketinggalan. hari ini udah up 2 bab nih wkwkwk.

__ADS_1


__ADS_2