
Akash dan Edwin mengangguk paham. Lalu mereka pun pergi meninggalkan Baker.
Di basement rumah sakit, saat Akash dan Edwin baru keluar dari lift, mereka dikejutkan dengan hadirnya seseorang yang berdiri di dekat mobil mereka.
Siapa lagi kalau bukan Asten, wanita setengah baya itu berdiri melipat kedua tangan tepat di samping mobil milik Edwin. Seraya melayangkan tatapan mematikannya, yang masih menunjukkan amarahnya kepada Akash.
“Sakit dibayar sakit, darah dibayar darah, dan kesengsaraan harus dibayar juga dengan kesengsaraan. Jangan harap hidupku akan tenang setelah ini, Akash!”
Edwin yang mendengar hal itu, rasanya ia ingin menyumpali mulut wanita tua itu. Ia begitu kesal, karena bukannya berterima kasih kepada Akash, wanita itu malah mengucapkan kata-kata yang dirasa sangat tidak pantas, bahkan seharusnya tidak perlu diucapkan.
Edwin maju, selangkah lebih depan dari Akash, tapi, Akash langsung menahannya.
“Tidak apa-apa, Ed,” ucapnya pelan, menoleh, memeberi kode kepada Edwin agar lelaki itu tidak terpancing emosi.
Edwin hanya bisa mendengus kasar, lalu kembali berdiri tegap menatap tajam ke arah Asten.
“Kau dan babumu itu memang sama-sama menyebalkan!”
“Meski kau sudah kembali membawa anak saya dari rumah mafia jahanam itu, saya tidak akan berterima kasih padamu, lagi pula itu sudah kewajibanmu menyelamatkan Jackson, karena bagaimana pun kau yang menyebabkan Jackson terlibat dalam masalah ini. Jadi, kau tetap bersalah, karena kau membawa pulang Jackson dalam keadaan terluka! Dan aku, tidak terima atas luka dan derita yang ditanggung anakku. Aku akan memastikan aku akan membayar luka itu pada orang-orang terdekatmu, Akash!” tegasnya penuh emosi.
“Hey Nyonya Tua! Apa kau tidak berkaca pada dirimu sendiri! Tidak seharusnya Anda berkata seperti itu kepada Tuanku ini. Jika kau memang tidak tahu cara berterima kasih, sebaiknya kau diam saja, tidak perlu mengatakan ancaman-ancaman menjijikan seperti itu. Dasar tidak tahu diri!” seru Edwin yang tidak bisa lagi menahan amarahnya saat Tuannya itu dicaci maki oleh Asten.
“Diam kau Edwin! Aku tidak punya urusan denganmu!”
“Dan kau, Akash! Jangan pernah temui Jackson lagi! Dan aku tidak akan tinggal diam, lambat laun aku akan membayarkan semua ini pada keluargamu!” serunya lalu pergi begitu saja meninggalkan basement tersebut.
Edwin semakin begitu kesal, ia mengepalkan kedua tangannya, bergaya seolah ingin meninju wanita yang sudah pergi menjauh dari pandangannya itu.
“Dasar, dari dulu wanita tua itu memang tidak pernah sadar diri. Aku yakin, kelak dia akan mendapatkan balasnnya dari apa yang sudah dia perbuat selama ini,” imbuh Edwin masih menatap kepergian Asten.
__ADS_1
Akash mengusap pelan bahu Edwin. “Sudahlah, ayo, kita pulang sudah terlalu pagi, Shira dan ibuku pasti akan mengkhawatirkanku,” ucap Akash mengajak Edwin untuk pergi. Edwin mengangguk paham, lalu segera membukakan pintu mobil untuk Tuannya tersebut.
***
“Shira, apa Akash sudah pulang?” tanya Tessa, mendekati menantunya yang tengah duduk di ruang TV.
Shira menggeleng pelan, ia pun sama begitu bimbang dan khawatir kalau ada hal buruk terjadi pada suaminya. “Belum, Bu,” jawabnya pelan.
“Ya Tuhan ... sudah jam berapa ini, kenapa dia belum sampai juga,” lirihnya semakin cemas memikirkan keselamatan anaknya.
“Nyonya, tenanglah, Tuan Akash sebentar lagi pasti sampai. Mungkin permasalahan semalam tidak bisa diselesaikan secepat itu. Tuan Akash pasti selemat, dia hanya telat pulang saja,” ucap Kalala mencoba menenangkan.
Tessa mengangguk pelan. “Semoga saja ya, Nak Kalala.”
“Kalala!” panggil Shira.
“Bukankah Edwin akan ke sini juga? Bisakah kamu meneleponnya?” tanya Shira.
“Iya, t-tapi ponselnya tidak aktif, aku sudah mencoba menghubunginya sejak tadi.”
“Kalau begitu, coba saja lagi sekarang, siapa tahu sekarang ponselnya aktif,” pinat Shira, karena ia benar-benar gundah dan tidak bisa tenang memikirkan suaminya yang entah ada di mana itu.
“Baiklah.” Kalala kembali mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu segera menelepon nomor Edwin.
“Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi.”
Lagi dan lagi, suara operator yang menjawab.
Wajah Shira dan Tessa langsung berubah terlihat begitu sedih.
__ADS_1
Tiba-tiba, seorang penjaga yang berada di luar, masuk ke dalam begitu saja berlari menghampiri merek semua.
“Nyonya, Tuan Akash sudah kembali,” lapornya.
Shira, Tessa dan Kalala langsung berdiri dari duduknya, dengan wajah mereka yang begitu senang. Lalu beberapa penjaga lainnya tiba-tiba masuk, mengangkut sebuah mayat dengan tangan yang terlihat berdarah-darah.
“Cepat! Bawa masuk ke dalam!” seru Edwin kepada penjaga lain yang ada di luar.
Shira, Tessa dan Kalala begitu shock melihat hal itu.
“Akash!” pekik Tessa langsung pingsan saat itu juga, untungnya ada Kalala yang sigap menahan tubuh wanita setengah baya itu.
“Nyonya!” Kalala, mencoba menahannya, lalu membaringkannya dengan sekuat tenaga di atas sofa.
Sementara Shira, wanita itu kembali mengalirkan air matanya. Tubuhnya sangat gemetar melihat seseorang yang tengah diangkut dan ditutupi oleh selembar kain putih itu.
Edwin, lalu masuk melambaikan tangannya sambil tersenyum ke arah Kalala dan Shira.
Shira langsung berlari mendekati mayat yang tengah diangkut oleh dua orang penjaga itu.
“Akash!” pekik Shira langsung menarik kain yang menutupi tubuh seseorang itu. Dan betapa terkejutnya Shira saat mengetahui itu bukanlah Akash, tetapi itu adalah.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1