Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Tawaran Menggoda


__ADS_3

Setelah selesai makan di tengah malam, Shira dan Akash kembali ke kamar mereka di lantai dua.


Shira meremas gaun yang dikenakannya, ia tengah berdiri di depan westafel di kamar mandi Akash. Sedari tadi hatinya berdebar tidak karuan, dengan pikiran yang terus-menerus berkutat pada solusi untuk pekerjaan Kalala.


Bagai buntu tidak mendapat jalan, pikiran Shira benar-benar dibuat neblenk. Tidak ada pilihan lain, selain hanya ada cara satu-satunya yaitu harus membuang rasa malunya dan meminta bantuan kepada Akash.


Ia pun meyakinkan diri, "Oke, tenangkan dirimu, Shira. Bagaimana pun kamu harus bisa membujuknya agar dia bisa memberikan bantuan," batin Shira penuh keyakinan.


Lalu ia pun segera keluar dari kamar mandi dan bergegas menghampiri Akash yang tengah duduk selonjoran di tepi ranjang sambil membaca buku di tangannya.


"Okey, rencana A dimulai," batinnya.


Shira duduk di tepi ranjang sedikit jauh dari Akash. Lebih tepatnya ia duduk menyamping ke arah cermin yang tak jauh darinya.


Sejenak ia menoleh ke arah Akash yang masih fokus membaca buku di tangannya.


“Emh ... aku beneran harus bilang sama dia gak ya?” pikirnya. “Tapi, kalau aku gak minta bantuan sama dia, harus sama siapa lagi?” gumamnya dalam hati merasa bingung.


"Oke, tenang-tenang. Pertama-tama mulai dengan senyuman manis terlebih dahulu," gumamnya dalam hati, sambil mencoba memperaktikan senyuman semanis mungkin menurutnya.


"Senyum unjuk gigi apa bagus untuk memulai bicara?" Ia mempraktikannya terlebih dahulu senyum sendiri sambil melihat ke arah cermin yang berada jauh darinya.


"Hem, sepertinya kurang cocok." Ia mencebik.


"Emh, apa senyum menggoda gitu sambil gigit bibir bawah ya?" batinnya. Langsung memperaktikannya. Akan tetapi, yang ada ia malah merasa geli melihat pantulan dirinya di cermin dengan senyum menggoda seperti itu.


"Tidak-tidak! Yang ada nanti tweeter dia yang bangun kalau senyumanku menggoda seperti itu."


"Ah, iya ... apa aku harus senyum seperti wanita elegant," gumamnya memperaktikannya senyum seanggun mungkin, akan tetapi tetap, dirinya merasa tidak cocok.


"Hih, wajahku tidak mendukung untuk senyum elegant seperti itu," gerutunya dalam hati sambil mencebik.


Sementara itu, sedari tadi ada dua mata yang mengintip di balik buku. Siapa lagi kalau bukan Akash.


"Sedang apa dia? Senyum-senyum gak karuan seperti itu?" batin Akash penasaran.


Akash menutup buku yang tengah dibacanya, lalu menatap lurus ke arah Shira yang tengah tersenyum tidak jelas, sendirian.


“Shira," panggil Akash pelan.


Shira yang mendengar panggilan namanya, ia langsung menoleh. "Hah? Iya? Ada apa?" tanyanya spontan.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Akash Heran.


Shira mengembangkan senyuman manisnya, senyuman yang paling manis yang belum pernah ia berikan pada Akash. “Emh, aku baik-baik saja, kenapa memangnya?” tanya Shira, berharap Akash akan memuji senyumannya.


Alih-alih terpesona, yang ada senyuman itu malah terlihat aneh di mata Akash.

__ADS_1


“Tidak, kau terlihat aneh sekali, dari tadi senyum-senyum sendiri,” jawab Akash masih dengan keningnya yang berkerung.


"Sialan! Harusnya dia memujiku, bukan mengatakan aku aneh," batinnya mengegrutu.


"Aneh?" tanya Shira dengan senyuman yang menyurut di wajahnya.


"Hm, aneh sekali. Tidak biasanya kamu tersenyum seperti itu padaku," jawab Akash dengan jujur, yang semakin membuat Shira mencebikan bibirnya karena harapannya tidak sesuai ekspetasi.


"Kau belum mau tidur?" tanya Akash.


"Hah? Tidak, eh, maksudku aku belum ngantuk. Memangnya kamu mau tidur sekarang ya?" tanya Shira.


Akash tidak langsung menjawab, ia terdiam sejenak lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, aku ingin menyelesaikan bacaanku," jawabnya dingin langsung dibalas anggukkan oleh Shira.


Akash pun kembali membuka bukunya dan melanjutkan bacaannya.


Shira tampak kebingungan, ia tidak tahu harus memulai percakapannya dari mana. Jika langsung to the point, ia benar-benar sangat malu, karena sudah sering menyusahkan Akash. Tapi, ia juga bingung, ingin berbicara tapi tidak tahu harus bagaimana bicaranya.


"Baiklah, akan aku coba rencana B."


"Akash." Panggil Shira pelan dengan suaranya yang manja.


"Hm." Akash tidak mengalihkan fokusnya, ia masih sibuk dengan bacaannya.


"Akash, apa kamu mau aku pijit?" tawar Shira.


Tiba-tiba, Akash menutup bukunya dengan cepat. Karena merasa ada sesuatu yang janggal dari penawaran Shira barusan.


"Tunggu, barusan kau menawariku apa?" tanya Akash antusias.


"Pijit," jawab Shira.


"Pijit?" tanyanya meyakinkan. Dibalas anggukkan cepat oleh Shira.


"Coba kau ulangi lagi," titah Akash sambil menahan senyum.


"Akash, apa kamu mau aku pijit?" tawar Shira yang dengan polosnya menuruti perintah Akash untuk kembali mengulang pernawarannya.


Akash semakin tidak bisa menahan senyumannya. Dan bibir tipis milik seorang Akash Orion Atkinson itu akhirnya mengembang lebar, menampilkan senyuman mansi di wajahnya yang kini tengah berseri-seri seolah mendapat kebahagiaan.


"Kemasukan jin apa kamu tiba-tiba menawariku untuk dipijit?" tanya Akash sambil tersenyum mesem.


"Tidak kemasukan jin apa-apa," jawab Shira sambil menatap Akash dengan tatapan penuh goda dan kedua telunjuk yang sengaja dimainkan semakin menambah kesan menggemaskan.


"Memangnya, enggak boleh ya, kalau seorang istri menawari suaminya untuk dipijit. Aku juga 'kan pengen jadi istri yang baik kayak orang-orang," jawabnya pelan dengan nada suara yang terdengar sedikit mendayu-dayu.


Andai ada di dunia kartun, mungkin saat ini hati Akash sudah meledakan ribuah bunga dan love-love yang berterbangan menghujani dirinya. Dan kalau tidak ada rasa malu, mungkin saat ini ia ingin jingkrak-jingkrak di atas kasur sambil berteriak, kalau ia sedang bahagia.

__ADS_1


Akan tetapi, itu hanya imajinasi saja. Nyatanya, dalam keadaan yang tengah membahagiakan seperti ini, Akash masih tetap menjaga imagenya, ia harus tetap tampil cool di depan Shira.


Meski kedua pipinya kini sudah bersemu kemerahan menahan senang dan bahagia di hati.


"Benarkah? Kau ingin memijitku?" tanya Akash menatap penuh damba, yang dibalas anggukkan gemas oleh Shira.


"Ya sudah, kalau begitu, cepat, pijit aku," ucap Akash, langsung menyimpan bukunya di nakas.


"Ayo!" Shira tersenyum kegirangan karena dengan begitu ia bisa lebih mudah untuk meminta bantuan pada Akash di tengah aktivitas memijitnya nanti.


Akash membuka kancing piyamanya satu persatu. Namun, langsung mendapat protes dari Shira.


"Akash! Kenapa kamu membuka kancing bajumu?" tanyanya malu.


"Bukannya kamu mau mijitin aku ya?" Shira mengangguk bingung.


Lalu, Akash pun melepaskan bajunya, dan kini tampak roti sobek yang ada di perutnya, pun sedikit bulu-bulu halus di dada suaminay itu, membuat Shira yang melihatnya malah menunduk malu.


Akash berbalik membelakangi Shira, duduk bersila memberikan punggungnya pada Shira.


"Kalau begitu, pijit pundakku," ucap Akash, sambil menoleh sejenak dan menepuk pundaknya yang ingin dipijit.


Shira mengangguk mengiyakan. Kedua pipinya semakin bersemu kemerahan. "Duh, kenapa jadi ada godaan gini sih," batin Shira merasa gugup, sambil tersenyum tersipu malu.


Kini kedua tangannya sudah menempel di kedua pundak Akash yang cukup lebar. Punggung kekar dengan otot-otot sexy itu, semakin membuat debaran di hati Shira tidak terkendali.


Perlahan dan semakin lama, pijatan Shira mulai merambah ke bagian leher dan punggung bawah. Bahkan, beberapa sentuhan yang diberikan Shira, perlahan iktu membangunkan sesuatu yang ada di tubuh Akash.


"Pijatanmu ternyata enak juga ya," ucap Akash memuji sambil menikmati sensasi yang membuat tubuhnya benar-benar tengah ada dalam kenikmatan.


"He he, suamiku bisa aja," jawab Shira malu-malu.


Mendengar ucapan itu, Akash kembali melebarkan senyumannya, senyuman yang menggetarkan gelora jiwa.


Enggak ada angin enggak ada hujan, tapi perlakuan Shira malam ini padanya benar-benar membuat Akash senang bukan main. Dan ini adalah untuk yang pertama kalinya, hatinya dibuat berbunga-bunga oleh wanita. Dan untuk pertama kali juga ada wanita yang memijit tubuhnya.


"Oke, sepertinya ini waktu yang tepat untuk meminta bantuannya," gumam Shira dalam hati.


.


.


.


Bersambung....


Wah kira-kira kalau dimintai bantuan, Akash bakalan gimana ya? Kira-kira Akash bakal minta syarat gak tuh sama Shira? Hahaha

__ADS_1


__ADS_2