
“Kalala!”
“Mama!” Kalala begitu terkejut melihat kehadiran mama dan bibinya yang sudah ada di dekat tangga, memperhatikannya.
Buru-buru Kalala membenarkan posisi duduknya, begitu pun dengan Jackson, pria itu langsung berdiri dari duduknya, menghormati kedatangan orang tua.
“Mbak, aku ke dapur dulu ya bawa minuman,” ucap Nissa kepada Sarah—mamanya Kalala.
Sarah perlahan mengayunkan kembali langkahnya mendekati anaknya itu.
Kalala mencium tangan mamanya dengan takzim, lalu memeluknya sejenak sambil melemparkan senyuman kaku karena masih merasa tidak enak atas kejadian barusan.
“Mama apa kabar, Ma? Udah sehat ‘kan, Ma? Enggak sesak lagi?” tanya Kalal begitu perhatian.
Wajah Sarah yang awalnya tampak datar, kini mulai terlihat roman-roman senyuman manisnya.
“Iya, kabar Mama baik,” jawab Sarah mengembangkan senyumnya, sambil mengusap pelan puncak kepala Kalala.
Sarah kembali mengalihkan pandangannya ke arah Jackson yang masih berdiri kaku di tempatnya. Tampak ketegangan terpancar dari wajah Jackson. Jantung dan perasaan lelaki itu benar-benar tidak bisa dikontrol.
Jackson hanya bisa meremas celana hitam yang digunakannya, karena saking groginya, apalgi melihat tatap mata mamanya Kalala yang dirasa cukup dingin melebihi dinginnya Kutub Utara.
“Di-dia, Jackson, temanku,” ucap Kalala memperkenalkan Jackson.
“Ja-Jackson, Tante,” ucapnya sambil mengulurkan tangan hendak berjabat tangan.
Sarah tidak langsung membalas uluran tangan Jackson, wanita itu dengan teliti menilik terlebih dahulu wajah Jackson.
“Saya Sarah—mamanya Kalala,” jawabnya menjabat tangan Jackson.
Jackson tersenyum sumringah, saat nada lembut dan suara merdu itu terlontar dari mulut wanita setengah baya yang ada di depannya.
“Duduklah, tidak usah tegang seperti itu,” ucap Sarah melemparkan senyumannya sekilas, sedikit membuat Jackson bisa bernafas lega.
Dan setelah Sarah duduk, Jackson dan Kalala pun ikut duduk.
“I-ini, saya bawa oleh-oleh buat, Tante sekeluarga.” Jackson mengambil alih beberapa paper bag yang ada di atas lantai, menyimpannya di atas meja menyodorkan sebagian paper bag itu ke dekat Sarah.
Sarah kembali mengembangkan senyuman teduhnya. “Tidak perlu repot-repot. Kamu, pasti yang menemani anak saya naik pesawat ya?” tanya Sarah, Jackson pun mengangguk sopan sambil tersenyum malu.
“Iya, Tante.”
“Terima kasih ya, kamu sudah nemenin anak, Tante,” ucapnya memandang Kalala dan Jackson secara bergantian. “Dari dulu, Kalala memang tidak pernah naik pesawat, paling-paling kalau dari Jakarta ke sini, kita cuma naik kereta atau bus. Dan mungkin, ini pengalaman pertamanya Kalala bisa naik pesawat.”
__ADS_1
“Eh, kamu enggak mabuk ‘kan?” tanya Sarah, membuat kedua mata Kalala membeliak saat mendengarnya.
“Mama .... ya enggak lah,” jawabnya pelan, sambil menggigit gigi gerahamnya.
“Yo syukur kalau enggak mabuk perjalanan. Kan dari dulu biasanya kalau naik bus kamu pasti harus sedia kantung kresek,” ucap Sarah sambil terkekeh, yang ikuti oleh Jackson kekehannya.
“Ish... Mama apa sih!” Kalala mencebikkan bibirnya merasa kesal kepada Mamanya karena sudah membongkar aibnya.
“Oh, begitu ya, pantas saja tadi di tas kamu ada beberapa lembar kantung kresek, aku kira itu buat apa, ternyata ....” Jackson terkekeh mengatakannya.
“Apa!” Kalala memelototkan matanya sambil memasang wajah judes kepada Jackson.
“Eh, Kalala, enggak boleh gitu sama tamu, jangan galak-galak!” tegur Sarah.
Jackson semakin melebarkan senyumannya, bahkan deretan giginya tampak terlihat berjajar rapi. “Tidak apa-apa, Tante, saya sudah biasa kok digalakin Kalala,” ucap Jackson sambil melirik ke arah Kalala.
Kalala semakin meringsutkan wajahnya. “Ih, apaan! Enggak bener juga! Kamu mau aku pelototin lagi!”
“Nah ‘kan, Tante, macan tutulnya keluar,” lanjut Jackson.
Sarah yang mendengar panggilan macan tutul dari mulut Jackson ia malah tertawa renyah, seolah ada yang menggelitik di perutnya ketika anaknya disebutkan sebagai macan tutul.
“Girang banget! Ada apa nih?” Ardian yang baru pulang membeli cemilan, ia pun mendekat dan duduk di atas sofa bulat dekat Jackson sambil menaruh belanjaannya di atas meja.
“Tau ah, aku mau ke dapur aja bantu Bibi,” ucap Kalala langsung pergi meninggalkan mereka semua di ruang tamu.
“Maaf ya, Nak Jac- Je—”
“Jackson, Tante,” timpal Jackson memebri tahu.
“Iya, maafin Kalala ya Nak Jhonson—”
“Jackson Budhe, bukan Jhonson, kalau Jhonson tuh merk bedak bayi!” seloroh Ardian menjelaskan.
“Ah iya, itu maksudnya, maafin anak Tante ya, Kalala memang sedikit galak dan gampang ngambek,” ucap Sarah menjelaskan.
Sementara itu, Kalala kini tengah mengintip mereka bertiga di balik sekat kayu yang memberi jarak antara dapur dengan ruang tengah.
Melihat Jackson, Ardian dan Mamanya yang tampak asyik mengobrol, membuat bibirnya secara tidak sadar sudah mengerucut seperti keong India.
“Sok asik banget sih dia tuh. Pake panggil aku macan tutul segala lagi di depan mama, huft.” Kalala mendengus pelan sambil membuang nafasnya.
“Eh, lagi ngapain kamu di situ?” tegur Bi Nissa.
__ADS_1
Kalala langsung menoleh ke arah sumber suara. “Eh, Bibi,” ucapnya kebingungan. “I-ini mau bantuin Bibi. Oh ya, kemari biar aku bawain minumannya ke depan,” ucap Kalala hendak mengambil alih nampan berisi 5 gelas minuman.
“Sudah biar sama Bibi aja.”
“Enggak, aku aja, Bi.”
Dengan pasrah akhirnya Nissa pun memberikan nampan tersebut kepada Kalala—keponakannya.
“Hati-hati, jangan sampai tumpah nanti nyimpennya.”
“Iya enggak bakalan kok, Bi.”
Kalala pun kembali mendekati mereka, lalu menyimpan nampan itu di atas meja, sambil menyingkirkan terlebih dahulu beberapa paper bag yang memakan banyak tempat di atas meja. Lalu setelahnya ia pun mulai menyimpan gelas-gelas bertatakan itu di atas meja. Memberikannya ke arah Ardian, mamanya lalu kemudian saat ia hendak menyimpan gelas itu di depan Jackson, secara tidak sengaja, tatakan kaca yang ia pegang sedikit miring sehingga membuat gelasnya oleh dan.
Prang!
Gelas pun pecah terjatuh membasahi sebagian celana Jackson.
“Ah, ya ampun, Jackson!” pekik Kalala begitu terkejut tidak menyangka.
“Astaga, Kalala!” Sarah ikut berdiri terkejut melihatnya.
“T-tidak apa-apa, tidak apa-apa, tenang saja, aku membawa celana ganti kok,” ucap Jackson, berusaha membuat suasana agar tidak terasa canggung.
“T-tapi, Jackson, kamu ‘kan ....”
“Sudah tidak apa-apa, Kalala, aku bisa menggantinya.”
“Benarkah?” Kalala menatapnya sendu merasa sangat bersalah.
“Iya, tidak apa-apa, aku akan pergi ke luar dulu untuk mengambil pakaian gantiku,” ucap Jackson pamitan keluar.
Kalala yang tidak enak hati, ia hanya bisa diam merutuki kecerobohannya.
“Grogi ya sampai jantuhin minuman ke mas pacar,” imbuh Ardian membuat Kalala gemas ingin mencekiknya.
“Ish!” Kalala pun keluar untuk memastikan Jackson.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Lanjutin gak nih? Detik-detik mau tamat nih, jangan lupa tabur vote, like dan komennya ya. Terima kasih.