
“Jawab sejujur-jujurnya, apa kamu menyukai sepupumu ini?” tiba-tiba sebuah pertanyaan aneh keluar dari mulut Jackson, entah apa dan kenapa lelaki itu malah mengajukan pertanyaan semacam itu.
Edwin dan Kalala pun cukup terkejut mendengarnya.
Hening ....
“Ya aku menyukainya,” jawab Ardian lembut, sambil menoleh ke arah Kalala, lalu tersenyum tipis padanya. “Aku suka menjahilinya, aku suka melihatnya marah dan aku suka melihat dia dimarahi ibunya, ahahaha,” jawabnya terkekeh yang langsung dibalas pukulan bertubi dari Kalala.
“Ish, kau ini! Kau hampir saja merenggut nyawaku! Kalau jantungku beneran copot gimana, Ardian!” ucap Kalala gemas, lalu membenarkan anak rambutnya ke belakang telinga.
Permainan pun dilanjut kembali, kini Ardian yang kebagian memutar botol, dan tepat setelah diputar botol vodka itu mengarah kepada Jackson.
“Hey, kau, jawab atau lakukan?” tanya Ardian.
Jackson terdiam sejenak, ia menerka beberapa bayangan pertanyaan jika dirinya memilih jawab.
“Lebih baik aku melakukan apa saja, dari pada Kalala atau Edwin memberiku pertanyaan jebakan,” batinnya merasa was-was.
“Lakukan!”
“Oke, kalau begitu cium temanmu itu,” ucap Ardian memberinya tantangan diluar nalar.
“Siapa yang kau maksud, Kalala?” tanya Jackson.
Edwin merengutkan wajahnya begitu mendengar pertanyaan Jackson, jangan sampai Ardian mengiyakan ucapan Jackson.
“Bukanlah, enak saja! Kau cium saja bibir temanmu itu.”
“Edwin maksud kamu?!”
“Ya iyalah, memang siapa lagi.”
“Ardian, apa kau gila memberikan dia tantangan seperti itu!” seru Kalala.
“Memangnya kenapa? Bukankah tidak ada peraturan apapun dalam permainan ini, mau memberikan tantangan apa saja boleh, asal tidak membahayakan.”
“Tapi ini membahayakan!” seru Jackson tidak terima.
“Bahaya apa?”
“Aish! Kau tidak mengerti, mana mungkin lah aku menciumnya, kau kira aku ini gay! Lebih baik aku minum vodka ini saja, dari pada mencium dia!” seru Jackson dengan kesal.
Ardian merasa senang, akhirnya ada juga yang kalah dan akan meminum vodka ini. Dan dengan terpaksa Jackon pun meminumnya, meski vodka ini benar-benar sangat pahit saat ia meneguknya.
“Aish! Vodka macam apa ini, benar-benar pahit!” keluhnya langsung menyimpan gelas kecil itu di atas meja.
Permainan pun berlanjut, kepada Edwin, Edwin diberi tantangan untuk berjoget, dan lelaki itu tidak mau melakukannya, hingga pada akhirnya Edwin pun harus meneguk vodka pahit itu karena kegagalannya dalam memenuhi tantangan. Kemudian lanjut lagi botol berputar kepada Ardian, Jackon dan kembali kepada Edwin lagi.
Sejak tadi, sepertinya botol itu tidak berpihak kepada Kalala, sehingga sampai dua putaran ini Kalala masih aman dari tantangan jawab atau lakukan itu.
“Jawab atau Lakukan?!” tanya Jackson kepada Edwin, sambil setengah mabuk, karena Jackson sudah menghabiskan dua gelas vodka yang membuat kepalanya mulai pusing.
“Jawab.” Kali ini Edwin memilih untuk menjawab saja.
“Apa tujuanmu kemari?” tanya Jackson setengah sadar.
__ADS_1
Edwin tidak langsung menjawab, ia terlebih dahulu menautkan matanya ke arah Kalala, membuat wanita yang ada di depannya itu langsung membuang muka.
“Karena Kalala,” jawabnya serius.
“Kenapa karena Kalala? Apa kau menyukainya hah?” tanya Jackson dengan suaranya yang mulai terdengar melemah.
“Hey ... satu putaran untuk satu pertanyaan, kalau kau ingin bertanya padanya lagi, kau harus memutar botolnya lagi,” ucap Ardian yang sama-sama sudah setengah sadar akibat dari vodka yang ia minum.
Jackson dan Ardian memang benar-benar payah dalam hal minum, baru dua gelas kecil yang mereka minum, tapi mereka sudah benar-benar mabuk setengah sadar.
Botol pun kembali diputar oleh Edwin, dan hal yang paling dinantikan pun akhirnya terjadi. Tutup botol itu akhirnya berhenti tepat ke arah Kalala.
“Jawab atau Lakukan?” tantang Edwin.
“Hey Kalala, kau lebih baik menjawabnya saja, kalau tidak, aku akan menyuruhmu mencium mereka,” ucap Ardian meracau tidak terlalu jelas.
Kalala menghela nafas, lalu ia pun menjawab, “Jawab.”
Kini tatapan Edwin dan Kalala saling bertautan satu sama lain dengan begitu serius.
“Jawab jujur ... malam itu, saat kita di tenda apa benar semua yang terjadi di antara kita hanya mimpi?” tanya Edwin menatap serius kedua manik indah milik Kalala.
Kalala terpaku di tempatnya. “Kenapa harus pertanyaan ini?” batin Kalala, ragu menjawabnya.
“Bukankah sebelumnya aku pernah menajwabnya,” balas Kalala.
“Aku ingin kau menjawabnya dengan jujur sekarang, Kalala,” ucap Edwin penuh penekanan.
Kalala mengehla nafas, keraguan dan rasa bingung kini menyelimutinya. Entah apa yang harus ia katakan untuk menjawab pertanyaan Edwin itu.
Kalala sudah menuangkan vodka itu ke dalam gelas, dan saat ia hendak meminumnya, tiba-tiba tangan Jackson menahannya.
“Hei macan tutul, kau tidak boleh meminum ini, kemari biar aku saja yang meminumnya.” Jackson mengambil paksa gelas itu lalu meneguknya hingga membuat dirinya cegukan.
Permainan tidak dilanjut lagi, keadaan pun terasa semakin canggung. Jackson tengah menumpukan kepalanya di atas meja, lelaki itu benar-benar sudah mabuk. Sementara Ardian lelaki itu malah tertidur pulas dengan kepalanya yang bertumpu di atas meja.
Kini hanya ada Edwin dan Kalala yang masih sadar dengan jelas.
“Kenapa Kalala?” tanya Edwin serius.
Kalala yang gugup, ia memilih untuk melarikan diri. “Ini tidak bisa dibiarkan, aku tidak ingin dia dan diriku jadi canggung,” gumamnya dalam hati.
“A-aku akan pulang, aku harus memberi tahu bibiku kalau Ardian tidur di sini,” ucap Kalala gugup. Lalu bergegas pergi meninggalkan Edwin.
Edwin yang melihat sikap dari Kalala, ia pun bergegas menyusulnya.
“Ya ampun, kenapa dia malah membahasnya lagi, padahal itu ‘kan sudah lama, apa dia mengingatnya lagi?” batin Kalala berjalan tergesa-gesa melewati lapang volli.
Tiba-tiba, sebuah tangan berhasil menarik lengannya, menahannya hingga Kalala menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
“E-Edwin,” ucap Kalala semakin gugup, karena ternyata lelaki ini sampai menyusulnya.
“Kenapa, Kalala? Kenapa kau membohongiku?” tanya Edwin sangat serius, menatapnya dari mata ke mata dengan tatapan yang begitu dalam.
Kalala menunduk, menghindari tatapan mata Edwin.
__ADS_1
“Tatap mataku, Kalala! Kenapa kau membohongiku hah? Kenapa?”
“Lepaskan tanganku, Edwin!” Kalala menepiskan genggaman tangan Edwin dari lengannya, lalu terpaksa mendongak menatap wajah Edwin meski sedikit takut.
“Aku tidak membohongimu, Edwin. Aku ... aku hanya ingin menganggap itu sebagai mimpi!” jelasnya.
Edwin cukup terhenyak mendengar jawaban Kalala. “Kenapa? Kenapa kau ingin menganggap itu sebagai mimpi, sementara aku berharap kalau itu adalah nyata?!”
Kalala terdiam, menelan salivanya dengan kuat. Menatap nanar kedua bola mata Edwin, yang tampak berkaca-kaca, ia juga cukup terkejut mendengar ucapan lelaki yang ada di depannya itu.
Hening .... Hanya ada tatapan sendu di antara keduanya.
“Kenapa, Kalala, jawab aku,” ucapnya memegang kedua bahu Kalala.
“A-aku—” Entah kenapa, tapi untuk berbicara saat ini, Kalala begitu merasa berat, seolah ada yang mencekat di kerongkongannya.
“A-aku, takut ... aku takut kalau diantara kita menjadi canggung, Edwin,” jawabnya yang tiba-tiba meneteskan ari mata di pipinya.
Edwin semakin percaya dan yakin, kalau Kalala juga mempunyai perasaan yang sama padanya.
“Aku menykaimu, Kalala. Aku mencintaimu,” ucapnya lugas, begitu serius, membuat kedua mata Kalala langsung membeliak sempurna.
Kalala menunduk, dan air matanya kembali menetes membasahi kedua pipinya. “Jangan bercanda denganku, Edwin.”
Edwin langsung menarik dagu Kalala, menatapnya dengan tatapan penuh damba. Air mata Kalala semakin terlihat berjatuhan ke sisi sudut matanya.
“Apa aku terlihat bercanda, Kalala? Apa kau tidak tahu betapa sulitnya aku mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan ini semua padamu. Dan sekarang kau mengatakan aku bercanda?” tanyanya.
Kalala dibuat serba salah. “Tidak, bukan itu maksudku, a-aku ha—”
Belum sempat Kalala melanjutkan ucapannya, kedua tangan Edwin lebih dulu menangkup wajah Kalala, bibir Edwin pun berhasil membungkam bibirnya Kalala. Kini kedua bibir itu kembali bertemu, saling memberikan kehangatan di tengan cuaca malam dan angin dingin yang menerpa mereka.
Kalala memejamkan matanya yang sedikit berair itu, saat Edwin mulai menyesap bibinya dengan lembut. Dan sebelah tangan Edwin pun menarik pinggul Kalala, merekatkannya dengan tubuhnya.
Kalala membalasnya, dengan memeluk pinggang Edwin dengan sebelah tangannya, dan sebelah tangannya lagi kini tengah meremas kemeja yang digunakan Edwin karena jujur saja, Kalala masih grogi melakukannya.
Sungguh, dua insan ini kini tengah memadu kasih, merasakan bahagia yang sesungguhnya, dan akhirnya perasaan yang selama ini terpendam dapat mereka utarakan pula.
.
.
.
Bersambung...
Akhirnya kapal Kalala dan Edwin berllayar ya...
Tapi tenang saja, jalan masih panjang gengs...
Selagi menunggu Ending cerita ini, kalian bisa baca karya baruku yang berjudul Noda Pengantin, akan update setiap hari, mulai besok ya. Setiap jam 7 pagi.
Untuk novel Love's Mr. Arrogant juga akan dilanjut update setiap hari mulai besok tgl 1 Januari 2022
Sekian pengumumannya jangan lupa bantu like, komen dan vote.
__ADS_1