Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Membuatmu Bahagia


__ADS_3

Setelah sempat terbangun, Jackson kembali tertidur. Dan tepat di tengah malam, pria yang terbaring lemah itu kembali tersadar.


Jackson membuka matanya perlahan, lalu menolehkan kepalanya ke sisi kanan, melihat pria tua yang tengah duduk tertidur di atas kursi di dekatnya.


“Ayah,” ucapnya sangat pelan.


“A-Ayah,” panggilnya lagi, sambil meringis kesakitan saat ia hendak menggerakkan tangannya.


Baker masih tertidur pulas dengan posisi tidurnya yang duduk. Tidak ada siapa-siapa di sana, kecuali hanya Jackson dan Baker berdua.


Jackson terus berusaha dengan sekuat tenaga untuk menggapai tangan Ayahnya. Ia terus menggerangkan tanggannya perlahan demi perlahan, hingga pada akhirnya. Tangannya terkulai lemas dan jatuh menyentuh paha Baker.


Baker langsung mengerjap bangun saat merasakan sentuhan di tubuhnya. Ia melihat ke arah Jackson yang terngah tersenyum padannya.


“Jackson! Kamu sudah bangun, Nak?” tanya Baker mendekatkan tubuhnya.


Jackson mengangguk pelan. Masih dengan senyuman yang terpancar di wajah pucatnya.


“A-Ayah, apa aku di rumah sakit?” tanya Jackson, Baker mengangguk mengiyakan.


Jackson teridam, lalu Baker pun menawari anaknya itu untuk minum, tapi Jackson menolaknya, lalu ditawari hal yang lain dan Jackson masih tidak menjawabnya.


Keadaan sangat hening. Jackson kembali menoleh menatap tubuh Ayahnya. Namun, ada sesuatu yang menarik perhatian Jackson.


“A-Ayah, ji-jidat Ayah kenapa memar seperti itu?” tanya Jackson dengan suaranya yang terdengar parau.


Baker langsung meraba jidatnya yang mungkin masih menimbulkan luka memar akibat pertarungannya waktu itu dengan para penjahat.


“Oh i-ini, bukan kenapa-napa, Ayah hanya tersandung dan kepala Ayah terbentur tiang.”


Jackson menautkan kedua alisnya. “Benarkah?”


“Hm, kamu tidak perlu mengkhawatirkan luka ini. Ayah baik-baik saja.”


“Apakah sakit, Ayah?” tanyanya, bak anak kecil yang menanyakan rasa sakit pada orang tua.


Baker terdiam, ia jadi teringat akan masa kecil Jackson. Di mana kalau ia sepulang beraksi dengan anggota mafianya, tidak jarang Baker pulang dengan memar atau luka di badannya. Dan sejak dulu, setiap dirinya terluka Jackson pasti akan bertanya hal yang sama ‘apakah lukanya sakit, Ayah’ ‘apakah Ayah tidak apa-apa’ ‘Ayah jangan sakit, aku sayang Ayah’.


Baker hanya bisa tersenyum getir saat mengingat pertanyaan-pertanyaan itu di masa kecil Jackson. Dan kali ini pun sama. Ia hanya bisa mengangguk, menahan sesak di dadanya. Tidak mungkin juga Baker menceritakan kalau dirinya saat ini mempunyai luka sayatan akibat pisau di perutnya.


“Tidak, ini tidak sakit,” jawab Baker tersenyum.


Keadaan kembali hening.


Selagi terdiam melamun, pikiran Jackson seolah tengah bekerja keras untuk mengembalikan memory yang terjadi sebelum dirinya kecelakaan. Dan berbagai macam bayangan ibarat putaran film, tergambar jelas dibenaknya. Di mana, ia mengingat mulai dari dirinya yang tengah mengobrol dengan Akash, memberikan hadiah kepada Kalala, lalu mengantar Akash untuk pulang, hingga bayangan saat diirnya dan penembakan itu terjadi, semua kini tergambar jelas, mengingatkannya akan semuanya, termasuk dengan ibunya.


Tiba-tiba, air matanya kembali menetes. Membuat Baker yang melihatnya sedikit panik.


“Jackson, kamu kenapa, Nak? Kenapa menangis? Apa kamu merasakan sakit di tubuhmu?” tanya Baker khawatir.


Jackson mengangguk, menatap sendu wajah Ayahnya yang sudah tua renta itu.

__ADS_1


“Di bagian mana yang sakit? Sini, biar Ayah lihat,” ucap Baker.


Jackson perlahan mengangkat tangannya, menggesernya ke bagian tengah dadanya.


“Di sini, Ayah,” jawabnya sambil kembali meneteskan air mata dari kedua sudut matanya.


“Apa dadamu sakit?”


Kepalanya menggeleng. “Hatiku sakit, Yah. Ha-hatiku sakit mengingat i-ibu,” ucapnya terbata-bata, menahan sesak dan sakit hati di dada.


Baker menunduk paham. Ia sadar, kalau ingatan putranya ternyata sudah pulih.


“Ibu di mana, Yah? Kenapa ibu tidak menjagaku di sini?” tanyanya dengan suaranya yang terdengar serak dan berat.


Mendengar pertanyaan tersebut, Baker hanya bisa terdiam, hatinya bergemuruh hebat saat mengingat wanita jahanam yang sudah mencelakai anaknya tersebut. Baker masih begitu emosi jika pikirannya kembali mengingat Asten. Bahkan sampai sekarang Baker masih belum puas, karena seharusnya Asten dihukum mati saja, tidak membiarkannya hidup di penjara.


Baker menarik nafasnya dengan panjang. Matanya terlihat sedikit memerah, pun rahangnya yang mengeras, karena sedang berusaha melawan emosi di dadanya.


“Sudah, lupakan wanita itu! Dia bukan ibumu lagi!” jawab Baker dengan tegas, kemudian berlalu meninggalkan Jackson begitu saja di dalam kamar sendirian.


Baker terduduk lemas, di atas kursi tunggu di luar ruangan. Keadaan waktu itu sangat sepi, di lorong tersebut hanya ada dirinya seorang, sambil membungkukkan badan dan merintih menahan tangis dan kesal di dada.


“Ya Tuhan, kenapa hidup anakku harus seperti ini, Tuhan. Sungguh, dia tidak berdosa Tuhan, jangan kau biarkan hidup anak bungsuku menderita. Kalau memang ini adalah karma dari perbuatanku di masa dulu, tolong Tuhan, hukum aku saja, jangan anak-anakku,” rintihnya dalam isak dan tangisnya.


Seorang wanita terlihat tengah berjalan sendirian di tengah lorong, langkahnya terhenti saat melihat Baker yang tengah bersedih menghapus air matanya di kursi sana.


Kalala menghela nafas, turut bersedih dengan keadaan keluarga tuan Baker saat ini. Kalala baru saja pulang dari rumah baru Shira di pusat kota Singapura. Ia terlihat membawa satu tas besar serta selimut di tangannya.


“Tuan,” panggil Kalala.


Baker yang tengah menunduk sambil menangis itu, langsung terdiam sejenak dan buru-buru mengahapus air matanya menggunakan kedua punggung tangannya, jangan sampai menyisakan buliran ai mata di pipinya.


Lalu setelahnya ia pun mendongak, menatap Kalala yang tengah berdiri di depannya.


“Istirahatlah, Tuan. Tuan Jackson biar saya yang jaga,” ucap Kalala penuh kelembutan sambil melempar senyuman.


Baker terdiam, lalu ia pun memandang selimut dan tas yang dibawa oleh Kalala.


“Di sini ada makanan yang dibuat khusus oleh nyonya Tessa, sekaligus baju ganti untuk Tuan, dan ini selimut agar Tuan tidak kedinginan.” Kalala menyodorkannya.


Baker yang masih terlihat sedih itu, ia hanya bisa mengangguk tanpa berkata-kata. Lalu perlahan tangannya meraih semua barang yang diberikan oleh Kalala, ia pun berdiri tegap di hadapan wanita mungil tersebut.


“Baiklah, saya titip Jackson dulu. Dia sudah sadar, kalau kau mau, kau bisa mengajaknya berbicara,” ucap Baker.


Kalala tampak terkejut senang. “Benarkah? Eh, ma-maksud saya, baiklah, Tuan. S-saya akan menemani Tuan Jackson terlebih dahulu,” ucap Kalala begitu antusias, karena sejak tadi saat Jackson sempat sadar, sampai saat ini Kalala belum sempat menengoknya lagi.


Kalala pun pamit dan masuk ke dalam ruangan menemui Jackson yang tengah terbaring sendirian sambil melamunkan sesuatu, bahkan sampai Kalala masuk pun Jackson tidak menyadarinya.


“Tuan Jackson,” panggil Kalala pelan, sambil tersenyum lebar melihat Jackson yang sudah sadar.


Jackson menoleh, melihat wanita yang sudah berdiri di sampingnya sambil mengembangkan senyuman indahnya yang semanis delima.

__ADS_1


“Kalala,” balas Jackson ikut tersenyum.


“Syukurlah akhirnya kamu sudah sadar. A-aku dan Edwin sejak awal selalu menunggu kamu bangun,” ucap Kalala sangat senang.


Jackson tersenyum mendengarnya. “Apa kau dan Edwin selalu menjagaku di sini?” tanya Jackson, Kalala mengangguk malu.


“Terima kasih ya, Kalala.”


“Tidak! Jangan berterima kasih!” Kalala langsung memegang lengan Jackson secara refleks. “Maaf, seharusnya aku tidak bilang hal ini padamu. A-aku yang seharusnya meminta maaf dan berterima kasih kepadamu, karena aku ... k-kamu jadi seperti ini, Jackson. A-aku benar-benar minta maaf, Jackson,” ucap Kalala begitu menyesal, bahkan raut wajahnya yang semula tersenyum ceria tiba-tiba berubah sendu dan mendung.


Jackson hanya tersenyum, merasa gemas melihat wajah Kalala yang tengah sedih tapi tetap terlihat imut itu.


“Sudah tidak apa-apa, aku akan semakin menyesal jika kamu yang terluka. Ini bukan salahmu, aku hanya ingin melindungimu dari ibuku. Dan seharusnya aku yang meminta maaf, karena ulah ibuku kalian semua ada dalam bahaya,” ucap Jackson.


Kalala tidak bisa menyangkal lagi, ia hanya bisa mengangguk diam tak bisa berkata-kata.


Selagi saling diam, Kalala sadar, kalau sejak tadi tangannya masih bertumpu di tangan Jackson, lalu ia pun segera menjauhkannya dan kembali meminta maaf, sambil tersipu malu, merasa tidak enak.


Lagi dan lagi, Jackson hanya bisa tersenyum melihat tingkah wanita itu. Lalu, matanya kini tiba-tiba terfokus akan sebuah perhiasan cantik yang terpasang di pergelangan tangan Kalala.


Ia tersenyum senang saat melihat Kalala memakai gelang pemberiannya. “Macan tutul itu memang cocok untukmu,” ucap Jackson tiba-tiba.


Kalala langsung terdiam, lalu mengerutkan dahinya sejenak karena tidak mengerti, namun setelah mencerna perkataan itu, Kalala akhirnya sadar, hal apa yang tengah dibahas oleh Jackson saat ini.


“Kenapa kau memakainya?” tanya Jackson menatap kedua bola mata Kalala dengan tatapan yang sangat dalam.


Kalala jadi gugup. Ia menggaruk kepalanya karena merasa malu. “Ah i-ini ya, a-aku memakainya karena waktu itu kau menyuruhku. A-aku, hanya merasa tidak nyaman saja, jika kau memintanya tapi tidak aku lakukan,” ucapnya.


“Kalau begitu, sekarang kamu bisa melepaskannya. Kamu tidak perlu merasa tidak enak padaku. Jika kamu tidak menyukainya kamu tidak perlu memakainya, Kalala,” jawab Jackson.


Kalala jadi salah tingkah. “T-tidak, bukan begitu maksudku, a-aku sangat menyukainya kok. Aku ingin memakainya ka-karena ada macan tutulnya, hehe,” jawabnya tidak enak hati, takut Jackson salah arti atas ucapannya yang tadi. "Lihat, cantik bukan?" tanya Kalala.


"Cantik."


Jackson menghela nafasnya. Lalu menautkan kedua alisnya, masih tidak yakin dengan ucapan Kalala barusan. "Tapi, benarkah, kau menyukainya?” tanya Jackson meyakinkan.


Kalala mengangguk pelan. “Apa kau meragukanku? Lagi pula kamu sudah memberikan ini padaku ‘kan, jadi terserah aku dong ingin memakainya atau tidak,” jawab Kalala dengan penuh percaya diri.


Jackson menyunggingkan sudut bibirnya. “Baiklah-baiklah terserah kamu saja, aku hanya merasa senang karena kau memakainya.”


Sementara itu, dibalik jendela pintu, Baker sejak tadi belum angkat kaki dari tempatnya. Lelaki itu masih memandangi ke dalam ruangan lewat kaca kecil yang ada di tengah pintu masuk. Ia memandangi Jackson dan Kalala yang tengah mengobrol dan bercanda bersama. Bahkan Baker jadi ikut tersenyum saat melihat anaknya itu tersenyum ceria.


“Ayah tidak akan tinggal diam, Jackson. Ayah akan melakukan segala cara demi membuatmu bahagia,” ucapnya penuh keyakinan. “Dan sekarang, Ayah tahu, dengan siapa kamu bisa bahagia.”


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


Wah kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Tuan Baker untuk Jakson ya?


__ADS_2