
Malam ini, jalanan Jakarta cukup ramai. Akash baru pulang dari tempat kerjanya. Selain itu, hari ini ia juga menyelesaikan urusannya dengan Hellboy. Karena, ada suatu hal yang mesti ia beli dari pria lintah darat itu.
Entah apa yang tengah disiapkan oleh Akash, yang pasti itu adalah hal special untuk istrinya, bahkan bisa menjadi kejutan tidak terduga.
Namun, sepanjang jalan menyetir sendirian. Ia menjadi ingat akan permintaan Shira waktu itu.
“Kalau kau tidak ingin aku meninggalkanmu. Maka, tinggalkan pekerjaanmu ini.” Perkataan Shira waktu itu, masih terdengar jelas di telinganya.
Ia mendesah pelan, masih fokus melihat lurus ke jalana. Pikirannya pun kembali teringat akan tawaran ayahnya, kalau seandainya Shira hamil, setengah dari kekuasaan ayahnya itu akan menjadi miliknya.
Karena, selain mengincar harta ayahnya, ada hal penting yang paling Akash rencanakan sejak dulu. Rencana yang mungkin akan banyak mengundang pro dan kontra. Bahkan, dirinya pun masih bergelut dengan berbagai kemungkinan jika rencananya itu berhasil.
“Tidak! Aku harus melepaskannya, aku tidak ingin selamanya seperti ini,” lirihnya, bergumam pelan.
Sesampainya di rumah, Tessa menyambut kedatangan Akash dengan begitu ceria bahkan tampak sedang bahagia berbunga-bunga. Lantara senyuman di wajah ibunya itu tidak henti-hentinya terus terkembang.
“Kenapa, Bu? Lagi bahagia banget kayaknya,” tanya Akash, sambil menaiki anak tangga hendak menuju kamarnya.
“Tentu dong, Ibu bahagia. Kamu juga pasti akan bahagia sekali kalau mendengar kabar baik dari Shira,” ucap Tessa. Membuat langkah Akash terhenti seketika.
“Kabar baik dari Shira?” tanya Akash menautkan kedua alisnya, merasa bingung.
Tessa mengangguk semangat. “Iya.”
“Apa memangnya?”
“Hm, nanti saja, lebih baik kamu tanya langsung kepada istrimu itu,” ucap Tessa.
Akash menyunggingkan sebelah sudut bibirnya, tampak senyuman penuh rasa penasaran itu tergambar jelas di wajahnya. Ia pun buru-buru mempercepat langkah kakinya memasuki kamar miliknya.
Di sana, tengah ada Shira yang baru saja menaruh gelas, sepertinya selesai minum.
“Akash,” ucap Shira begitu suaminya itu datang membuka pintu kamar.
“Apa kamu sudah sembuh?” tanya Akash mendekat, lalu duduk di samping Shira, sambil memberi kecupan singkat di kening istrinya itu.
“Hm, sudah lebih baik,” jawabnya.
__ADS_1
“Syukurlah, aku senang kalau melihatmu sehat lagi,” jawabnya tersenyum, lalu membelai lembut kepala Shira.
“Pantes saja ibu senyum-senyum sendiri pas aku pulang, ternyata menantunya ini sudah sembuh kembali,” imbuhnya pelan.
“Bukan,” timpal Shira tiba-tiba.
Akash menghentikan belaiannya di kepala Shira. Menatap kedua bola mata istirnya itu dengan bingung. “Apanya yang bukan?”
“Ibumu ... Ibumu senyum-senyum sendiri bukan karena aku sudah sembuh.”
“Terus?” Akash menatapnya heran.
“Ini.” Shira memberikan tespek yang baru diambilnya dari nakas kepada Akash.
“Karena ini.”
Akash meraih tespek tersebut. Ia melihat dua garis merah di benda kecil nan pipih itu. Ia membeliakan kedua matanya, sambil melebarkan mulutnya, mangap tidak menyangka.
“K-kamu hamil?” tanya Akash dengan ekspresi wajah yang jauh dari biasanya.
“Serius, kamu hamil? Hamil anakku?” tanyanya langsung berdiri begitu antusias bahagia.
“Ya iyalah, anak kamu, masa anaknya Jackson!” jawab Shira.
Dengan perasaan yang senang luar biasa, dirinya tidak bisa berkata-kata. Ia langsung memeluk istrinya itu dengan erat, lalu menghujani wajah Shira dengan ciuman.
Sungguh, Akash benar-benar bahagia, karena sekarang dirinya akan menjadi calon ayah. “Ya Tuhan, terima kasih, Tuhan. Akhirnya istriku hamil dan aku akan menjadi seorang ayah,” ucapnya.
Masih memeluk Shira dalam dekapan erat tubuhnya.
“Akash .... lepaskan, aku engap,” ucap Shira merasakan sesak akibat pelukan suaminya yang terlalu kencang.
“Ah, iya maaf-maaf, aku terlalu bahagia Shira, aku benar-benar bahagia, akhirnya keluarga kita akan semakin lengkap,” ucap Akash dengan binar matanya yang memperlihatkan genangan air mata. Namun, bukan air mata sedih, melainkan air mata haru, karena saking bahagianya.
“Keluarga?” batin Shira, tersenyum simpul.
“Terima kasih ya, Shira, aku benar-benar mencintaimu,” ucap Akash kembali memeluk Shira dengan lembut.
__ADS_1
“Benarkah? Kau mencintaiku?” tanya Shira tiba-tiba, membuat Akash langsung melepaskan pelukannya dan menatap istrinya itu dengan rasa heran.
“Apa kau tidak mempercayaiku?” tanya Akash, membuat suasana sedikit agak berbeda.
Shira tidak langsung menjawab. Ia menunduk, lalu sesaat kemudian kembali menatap wajah suaminya itu. “Kalau kau benar-benar mencintaiku, tinggalkan orang-orang yang bisa mengancam nyawamu.”
Akash terdiam, mendengarkan ucapan istrinya itu.
“Aku tidak ingin, hidup dengan lelaki yang nyawanya penuh ancaman,” lanjut Shira, dengan air mata yang tiba-tiba terjatuh membasahi pipinya begitu saja.
Hati Akash seolah tertusuk dengan perkataan istrinya itu. Dadanya terasa sesak, pun saliva yang hendak ia telan seolah tercekat di tenggorokan.
Sungguh, ia tidak tega membiarkan Shira tenggelam dalam bayang-bayang menakutkan mengenai kehidupannya.
Akash mengusap pelan kedua pipi Shira, mengeringkan air mata di wajah istrinya itu. “Baiklah, tunggu sebentar lagi, Shira, tunggu,” ucapnya merangkul Shira dalam dekapannya, sambil memejamkan mata ikut merasakan keresahan hati istrinya.
.
.
.
Bersambung....
Hayooo rencana apa ya yang mau dilakukan Akash? Ada yang bisa nebak?
__ADS_1