
“Kalau begitu, besok kita ke Eropa.” Suara Akash tiba-tiba menyambar dari belakang.
Keterkejutan tampak di wajah Shira saat ia menoleh dan mendapati suaminya yang tengah berjalan ke arahnya.
“Wah, ide yang bagus. Eropa memang terkenal dengan keindahannya, apalagi yang terkenal di sosial media itu banyak tempat wisata yang menakjubkan di sana.” Tessa ikut kegirangan. Padahal yang berencana untuk bulan madu adalah anak dan menantunya, tapi girangnya sampai ke lubuk hati Tessa.
“Bagaimana? Kau siap?” tanya Akash, yang duduk di atas sofa, sebrangnya Shira.
Shira tergagap, ia tersenyum meringis, tidak tahu harus menjawab apa, tetapi ia juga tidak mau jika harus pergi ke luar negri secepat ini.
“Hehe, sepertinya tidak mendadak juga Akash. A-aku kan kuliah, masih banyak hal yang perlu aku urus jika aku ingin izin,” kilahnya sebagai alasan.
“Tenang saja, kalau masalah izin, biar Edwin yang mengurusnya,” jawabnya simple.
Shira semakin kebingungan. Ia memandang melas ke arah Akash, berharap suaminya itu akan peka padanya. Namun, memang dasar Akash yang cuek, dia tidak peka dengan tatapan melas yang ditunjukan oleh istrinya itu.
“Ah, iya ... aku lupa, aku ‘kan harus membicarakan masalah pekerjaan dengan Kalala besok. Terus, lusa aku juga akan mengikuti festival di kampusku, j-jadi aku rasa ... untuk beberapa hari ini aku tidak bisa.” Ia menyengir kaku.
Akash menatapnya curiga. “Benarkah?" tanyanya, langsung dibalas anggukan semangat oleh Shira.
"Terus, kamu bisanya kapan?” Tatapan Akash mulai terlihat dingin.
Shira tanpak berpikir. “Emh, mungkin setelah semuanya beres.” Ia memberi jawaban tanpa kejelasan.
“Baiklah, akan aku tunggu sampai semuanya, beres,” ucapnya menekankan kata 'beres'.
"Ya ampun, mati aku kalau semua tugas kuliahku beres dengan cepat, aku harus mengulurnya," batin Shira berdebar panik.
Kini, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 23.00 malam. Tessa tampak menguap berulang kali, menandakan bahwa tubuhnya sudah mengirim sinyal untuk segera beristirahat. Tetapi tidak dengan Shira, yang berharap bisa begadang sampai pagi hari, karena ia tahu, malam ini dirinya pasti akan disuruh tidur dengan Akash.
“Shira, Ibu matikan TV-nya ya, Ibu sudah mengantuk," ucap Tessa.
“Matikan saja, Bu. Lagi pula aku dan Shira juga sama-sama sudah mengantuk, kami ingin beristirahat,” timpal Akash, yang langsung mendapat lirikan mematikan dari Shira.
Setelah mematikan TV, mereka bertiga keluar dari ruang menonton. Lalu berjalan menuju kamarnya masing-masing.
Saat Shira hendak berbelok menuju kamarnya, Tessa langsung merangkul lengan Shira. “Kamu ini, sepertinya pelupa ya. Kamarmu ‘kan sekarang di atas, bukan di situ lagi,” ucap Tessa, merangkul tangan Shira, membawanya menaiki anak tangga.
“Ah ... he he, iya, Bu, aku lupa,” balasnya terkekeh kecil, menjadikan lupa sebagai alasannya. Padahal ia memang sengaja ingin pergi ke kamar yang biasa ditempatinya.
Tessa menghentikan langkahnya di depan pintu kamar miliknya. “Ibu masuk ya, kalian juga cepat istriahat ya,” ucap Tessa.
“Iya, Bu. Good night,” ucap Akash, lalu mencium kening Tessa sejenak.
“Akash, jangan lupa buatkan Ibu cucu,” bisiknya tersenyum penuh maksud, saat Akash sedang mencium keningnya.
Akash pun menunduk malu. “Iya, sudah, Ibu sebaiknya segera tidur,” ucapnya, dengan pipi yang sudah bersemu kemerahan, menahan grogi di depan ibunya.
Lalu Akash pun menggiring tubuh Ibunya agar segera masuk ke dalam kamar itu. Setelah masuk, Tessa tersenyum penuh maksud pada Akash dan Shira, lalu segera menutup pintu kamarnya.
Di lantai dua ternyata ruangannya cukup megah juga, banyak pintu-pintu yang berjajar di sepanjang jalan setelah tangga.
Shira menghentikan langkahnya. “Ka-kamarmu yang mana?” tanya Shira menoleh ke arah Akash yang ada di sampingnya.
Akash menunjuk ke arah sebuah pintu yang ada di ujung sana, mungkin berjarak sekitar 20 meter dari tempat ia berdiri sekarang.
“Itu kamar utama di rumah ini. Dan sekarang kamar itu akan menjadi kamarmu juga,” ucapnya melangkah maju terlebih dahulu.
__ADS_1
"Oh ...."
Akash memutar gagang pintu kamarnya, lalu membukanya dan mempersilakan Shira untuk masuk ke dalam kamar yang biasa ia tempati itu.
Shira kembali dibuat takjub saat melihat keindangan dan kemewahan seisi kamar. Matanya tidak henti-hentinya berkeliling mengamati setiap benda dan hal baru yang ia lihat. Ia benar-benar tak percaya, kalau suaminya memang orang yang sangat kaya raya.
Akash menutup pintu dengan pelan, lalu menguncinya, berjalan mendekati Shira.
"Wah... Akash, kamarmu luas sekali ya. Tempat tidurnya juga besar banget," ucap Shira, cukup heboh. Kedua matanya bahkan masih fokus mengitari seisi kamar.
Akash tersenyum mendengarnya, kepribadian jahilnya kembali muncul di saat-saat seperti ini. Kini, ia sudah berdiri di belakang Shira dengan jarak yang cukup dekat.
Tiba-tiba, tangan Akash menelisik menarik tubuh Shira. Memeluk pinggang istirnya itu, sambil menenggelamkan wajahnya di tengkuk kepala Shira. Membuat Shira terkejut, dan secara spontan dia melepaskan tangan Akash yang melingkar di perutnya.
“Akash, apa yang kamu lakukan!” Ia berbalik menghadap suaminya.
Akash berjalan perlahan dengan tatapannya yang penuh damba. Sorot netranya mengarah ke bibir tipis milik Shira yang berwarna merah cerry. Menggoda hasrat Akash untuk mengecup bibir manis itu.
"Kau bilang, tempat tidurnya besar, apa kau ingin ... kita mencobanya?" tanya Akash semakin mendekat.
Shira yang tidak paham, ia malah menautkan kedua alisnya. "Kita? ... Kita Mencoba apa?" tanyanya dengan polos.
"Mencoba kasurnya lah, memang kau ingin mencoba apa selain mencoba tidur di atas kasur itu?" Kini Shira paham apa yang diinginkan oleh suaminya itu.
Akash kembali menarik pinggul Shira, merekatkannya dengan tubuhnya.
"Lagi pula, kamu harus aku beri pelajaran."
"Pelajaran?" tanya Shira gugup. "Pelajaran apa?"
"Pelajaran mengeksplorasi tubuh," bisiknya penuh maksud.
Shira yang tidak ingin kena harapan palsu lagi, ia harus sebisa mungkin menghindar dari tatapan maut suaminya itu.
"A-Akash, aku ingin--" Sebelum Shira melanjutkan ucapannya, Akash terlebih dahulu membungkam mulut istrinya itu dengan bibirnya.
Debar, dan semakin berdebar. Suasana pun tiba-tiba terasa sedikit panas.
Perlahan, sangat pelan dan begitu hati-hati. Akash menggiringnya pelan menuju tempat tidur. Lalu menjatuhkan tubuh Shira secara lembut, tanpa melepaskan ciumannya.
Shira sudah tidak bisa berupaya lagi, ia pun sudah terbuai akan sentuhan yang diberikan Akash di setiap titik sensitifnya.
Perlahan, tangan Akash menelisik masuk ke dalam baju yang digunakan Shira, memainkan puncak piramida kesukaannya yang semakin lama dimainkan, suara Shira semakin terdengar mengeras memberi semangat untuk Akash.
Dan semakin lama, suara ******* yang keluar dari mulut istrinya itu semakin memacu keinginannya.
Akash sudah tidak tahan, tangannya yang semakin jahil itu, kini menggapai ke bawah rok yang digunakan Shira. Namun, tangannya kesulitan untuk menjangkaunya. Ia pun terpaksa sedikit menjauhkan tubuhnya dari tubuh Shira.
Saat ia berhasil melucuti rok milik Shira, kedua matanya tiba-tiba terbelakak, melihat noda merah yang tersemat di ****** ***** milik istrinya itu.
"Shira, kamu kenapa?" tanya Akash begitu terkejut.
Shira yang tengah terbaring itu, ia malah balik bertanya. "Memangnya ada apa?"
"Kenapa milikmu berdarah?" tanya Akash dengan polosnya, yang tidak tahu kalau sebenarnya noda merah yang ada di celana Shira itu adalah darah haid.
Shira langsung bangun dan ia pun cukup terkejut saat melihat darah di ****** ********. Ia menunduk malu, lalu dengan cepat merebut rok yang masih ada di tangan Akash, memakainya dan langsung berlari menuju pintu kamar.
__ADS_1
"Sial, kenapa pintunya dikunci?" batin Shira panik.
"Shira! Kau mau ke mana?" tanya Akash yang menatap Shira kebingungan. Tampilan Akash bahkan sedikit tampak memalukan, tidak memakai baju, dan hanya memakai bokser saja.
"A-aku mau ke toilet," jawab Shira gugup.
"Toiletnya di sana." Akash menunjuk ke arah pintu yang ada di pojok dekat lemari, di mana letak kamar mandinya berada.
Shira pun langsung berlari menuju kamar mandi itu, Akash yang ikutan panik, lelaki itu malah ikut menghampiri Shira. Dan saat Shira hendak menutup pintu kamar mandinya, Akash malah menahannya.
"Akash, kau mau apa? Jangan ikut masuk!" ucap Shira, menatap bingung.
"Biarkan aku masuk, aku khawatir dengan keadaanmu!" jawabnya panik.
"Tidak! Jangan masuk! Biar aku bersihkan dulu." Shira benar-benar sangat malu, di saat-saat seperti ini, ia malah datang bulan. Bahkan, darahnya sampai terlihat oleh suaminya itu.
"Tapi aku khawatir padamu, kenapa milikmu itu bisa sampai berdarah!"
"Ya ampun, Akash! Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku, ini bukan apa-apa!" Ia masih berusaha menutup pintu yang ditahan oleh Akash.
"Tidak Shira, kamu kenapa-napa, kamu dalam bahaya, apa aku harus panggilkan dokter untukmu?" tanya Akash yang memang terlihat begitu khawatir.
Shira langsung membulatkan kedua matanya, begitu terkejut mendengar ucapan suaminya itu. "Tidak, jangan! Aku hanya datang bulan, Akash! Tidak usah sampai panggilkan dokter."
"Apa?! Datang bulan?" tanyanya terkejut.
"Iya, sudah, sana!" ucap Shira geregetan, lalu mendorong dada Akash agar menjauh dari pintu kamar mandi.
Dan ... brak!
Pintu kamar mandi pun berhasil ditutup oleh Shira.
Shira bergitu gemetar, perasaannya terasa kalut, anatara kesal, sedih, dan malu.
"Ya ampun, kenapa malah datang sekarang sih! Gak pake aba-aba lagi, datangnya," ucap Shira yang berdiri di dekat westafel.
Untuk ke dua kalinya, ia dibuat malu di saat keadaan sedang memanas seperti tadi. Ini bukan salah Akash, pun bukan salah dirinya. Mungkin memang Tuhan yang belum menghendaki mereka.
Sementara itu, lelaki yang hanya memakai bokser hitam di luar kamar mandi itu, ia masih termenung bergeming di depan pintu kamar mandi.
"J-jadi, darah tadi itu ... darah haid?" gumamnya pelan membeliakan kedua matanya.
"Kalau itu darah haid, berarti aku harus menahan keinginanku dong!" Ia semakin resah.
Ia menatap juniornya yang sudah berdiri sejak tadi di balik bokser miliknya. Akash menunduk dengan wajah yang memelas. "Maafkan aku ya, jun. Tempat yang kau ingin kunjungi malam ini, ternyata sedang tidak baik-baik saja," ucapnya mencebikan bibirnya merasa kecewa.
"Huft... malang sekali nasibmu, jun, apa perlu aku beri kamu sabun saja?" Ia mengembuskan nafasnya pasrah, menghadapi kekecewaan yang kedua kalinya.
.
.
.
Bersambung...
Haha Juniornya Akash kasian banget, sabar ya, bertahan seminggu lagi.
__ADS_1
Eh iya, buat readers semuanya makasih banyak ya, yang udah kirim hadiah dan vote di novel ini, Author sayang kalian. Makasih juga udah mau baca sampai sini, semoga kita semua selalu ada dalam kebaikan, sehat-sehat dan selalu dilancarkan terus rezekinya aamiin.
Yang mau lihat visual Akash dan Shira bisa cek ig author ya @dela.delia25 terima kasih.