Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Jangan Takut Ditolak


__ADS_3

“Kau bisa ganti di kamar Ardian. A-aku akan ke bawah dulu,” ucap Kalala setelah mengantar Jackson untuk berganti pakaiannya di kamar Ardian.


Jackson menyapu pandangannya ke seluruh sudut kamar, melihat-lihat isi di dalam kamar yang berukuran 3x4 meter itu, kamar yang cukup sempit baginya. Bagaimana tidak sempit, kamarnya saja berluaskan sekitar 12x15 meter.


Ia pun buru-buru melepaskan celananya yang basah terkena tumpahan air yang disajikan Kalala tadi. Untung saja dirinya membawa celana dengan warna senada, jadi ia tidak perlu repot-repot mengganti pakaian atasnya.


Setelah selesai, ia pun sejenak menilik ke arah dinding yang terpajang beberapa figura foto di sana. Mulai dari ukuran sekitar 5r sampai yang seukuran 10r.


Jackson tersenyum, kala manik indahnya mendapati foto Kalala waktu masih kecil bersama Ardian.


“Ternyata, sedari kecil dia memang cantik,” gumam Jackson dalam hati. “T-tapi, kenapa dia menyembunyikan kecantikannya itu dengan tampilannya yang kuno?” gumamnya, berpikir keras.


Lalu kini matanya kembali menangkap sebuah foto keluarga yang cukup lengkap. Di mana di foto tersebut terdapat Ardian, Kalala, budhenya dan juga foto seorang lelaki, yang kemungkinan itu adalah foto pakdhenya.


“Hm, keluarga yang harmonis,” lirihnya pelan.


__


Setelah selesai berganti pakaian, Jackson kembali turun menemui keluarga Kalala di ruang tengah. Kini beberapa camilan, minuman sudah tersaji dengan rapi di atas meja.

__ADS_1


“Nak Jackson, nanti malam tidurnya di mana?” tanya Sarah.


“Emh, di hotel, Tante, enggak jauh dari sini kok,” jawabnya.


“Hotel yang mana emangnya?”


“Hotel Aston, Tante.”


“Oh iya-iya, di dekat sana ya. Kalau begitu, kalau nanti Nak Jackson tidak sibuk, kamu bisa kemari lagi, kita makan malam bersama,” ucap Sarah.


“Mama!” Kalala protes tidak terima.


Setelah mengobrol dan berbincang panjang, jam kini sudah menunjukkan pukul 12.00 siang. Dua jam lagi acara rapat pemenang tender akan digelar. Dengan berat hati Jackson pun akhirnya harus pamit pergi, karena dirinya haru sudah ada di sana satu jam sebelum acara dimulai.


___


Sementara itu, Edwin kini tengah berada di bandara International Soekarno Hatta-Jakarta. Lebih tepatnya ia sudah duduk manis di dalam pesawat Batik Air 6574, tujuan Surabaya yang akan segera take off di jam 12.00 siang.


Edwin kembali meyakinkan dirinya, kalau ia harus benar-benar mengungkapkan perasaannya kepada Kalala. Ia tidak ingin, wanita yang sejak pertama pertemuannya itu perlahan-lahan bersemayan di relung hatinya itu dimiliki oleh orang lain.

__ADS_1


Kini matanya menunduk, menoleh ke arah paper bag yang dibawanya, berisi cotto Makassar kesukaan mamanya Kalala. Edwin sengaja membeli ini dengan dalih titipan dari Shira. Padahal ke datangannya ke Surabaya memang karena niatnya yang ingin bertemu dengan Kalala bukan karena perintah Shira.


Edwin menarik kedua sudut bibirnya hingga menciptakan senyuman manisnya yang indah dan menawan. Lelaki itu sangat benar-benar berterima kasih kepada Shira yang sudah mau membantunya untuk menjalankan rencananya itu agar berjalan mulus. Bahkan, Shira juga sampai merekomendasikan tempat caffe yang paling suka dikunjungi oleh Kalala, serta makanan apa yang selalu di pesan Kalala di caffe itu. Semua sudah Edwin tuliskan di notebook kecilnya.


“Kalau kau berniat baik padanya, aku akan mendukungmu Tuan Edwin. Kau tidak perlu takut untuk ditolak. Meski penolakan pertama akan sangat menyakitkan, tetapi kau harus tetap berjuang, agar penolakan kedua tidak akan terjadi.” Perkataan Shira kembali memenuhi isi kepalanya.


“Ya, aku tidak boleh takut ditolak, aku harus mengatakannya meski ini terlalu cepat,” ucapnya penuh keyakinan.


.


.


.


Bersambung


Maaf ya kemarin enggak up, ini juga baru bisa dapat sedikit, soalnya di rumah lagi riweh banget ada acara. Nanti kalau sempat Dela up lagi agak sorean ya.


Happy weekend mentemen semuanya.

__ADS_1


__ADS_2