
Malam itu, di atap sebuah gedung apartemen milik keluarga Atkinson, terdapat sebuah helikopter yang tengah terparkir di tengah-tengah rooftop tersebut. Suaranya yang bising dan baling-balingnya yang memutar begitu kencang, membuat semua tanaman dan bunga yang ada di rooftop tersebut goyang seolah melambai-lambai ikut menyambut kepergian Akash dan Shira yang baru saja naik ke dalam helikopter tersebut.
Di dalam helikopter itu terdapat lima seater, yang ditempati oleh satu pilot di depan, Tessa dan orang khusus yang akan mengantar mereka, Akash dan Shira yang duduk di dua seater belakang.
Setelah selesai memakai rompi khusus, sabuk pengaman dan beberapa alat yang dipakai di telinga dan kepala, sang pilotpun mulai melajukan helikopternya. Perlahan-lahan helikopter pun mulai naik, terbang semakin tinggi dan melaju menuju tempat yang di tuju.
“Kamu tidak apa-apa ‘kan, Sayang?” tanya Akash, saat tangan Shira menggenggam erat lengan Akash saking takutnya.
Wanita yang tengah berbadan dua itu perlahan membuka matanya, lalu menatap ke arah suaminya.
Ia mengangguk. “A-aku tidak apa-apa, hanya saja barusan entah kenapa aku bisa setegang itu,” jawabnya.
“Tenang ya, ini tidak akan lama kok,” jawabnya. Shira mengangguk paham, sekaligus mencoba menenangkan diri. Karena bagaimana pun, ini adalah pengalaman Shira menaiki helikopter yang cukup besar.
Rasa grogi, bimbang dan gundahnya semakin diperparah karena ia belum tahu tujuan utama suaminya itu akan mengajaknya ke mana. Karena yang Shira dan Tessa tahu, mereka hanya akan dibawa ke tempat aman, rahasia dan jauh dari jangkauan manusia.
Sementara itu, di jalan raya Jackson semakain melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata untuk mengejar mobil yang ditumpangi oleh Kalala dan Edwin.
Edwin yang merasa ada yang mengikutinya, ia menoleh ke belakang, menatap dengan fokus siapa pengendara mobil di belakang yang jaraknya 10 meter darinya. Ia meniti fokuskan pandangannya ke arah si penyetir.
Edwin langsung membelalakan kedua matanya saat tahu, kalau mobil yang mengikutinya itu adalah mobil Jackson.
“Sialan! Untuk apa dia mengikuti mobil ini!” umpatnya pelan, terdengar di telinga Kalala.
Kalala menoleh. “Ada apa, Edwin?” tanyanya heran.
“Ada yang mengikuti kita,” jawabnya pelan.
“Hah? Ada yang mengikuti?” Kalala begitu terkejut lalu ia menengok pula kebelakang. “Siapa itu?”
“Jackson.”
“Jackson?” ucap Kalala pelan, begitu heran. “Kenapa dia mengikuti kita?” tanyanya menoleh menatap Edwin.
Edwin yang masih begitu serius melihat ke arah mobil Jackson, ia menggeleng pelan. Lalu ie melihat ke depan, mengasawi sekitar jalanan.
“Pak, perlambat dulu Pak, lajunya,” ucap Edwin.
__ADS_1
Pak sopir yang duduk di depan menurut, ia memperlambat laju kecepatan mobilnya.
Kini kedua mata Edwin fokus melihat ke arah lampu jalan di pertigaan depan sana, yang menunjukkan perhitungan mundur dari angka 10, karena sebentar lagi lampu merah akan menyala.
“Pak, mulai lajukan kencang lagi, Pak,” ucapnya saat lampu merah hijau menunjukkan 5 detik menuju lampu merah.
“Lebih kencang, Pak!” seru Edwin, Pak Sopir menurut tapi tetap hati-hati.
Dan begitu lampu hijau itu menunjukkan angka 1 saat itu pula, mobil yang ditumpangi Edwin dan Kalala berhasil lolos menerobos lampu rambu lalu lintas. Sementara mobil Jackson, harus terjebak di lampu merah yang kemungkinan akan menghabiskan satu menit di sana.
“Yes! Berhasil,” ucap Edwin, kembali duduk dengan nyaman di kursinya.
Kalala menatapnya begitu bangga. “Ternyata, kamu ahli juga ya menghitung situasi jalan seperti ini,” ucap Kalala memuji.
Edwin melirik kekasih yang duduk di sampingnya itu. “Menghitung situasi seperti ini memang sudah menjadi kebiasaanku. Makanya kamu dan Tuan Akash tidak ingin kehilangan aku,” jawab Edwin yang langsung dibalas kerungan dahi oleh Kalala.
“Dih! Geer banget kamu!” jawabnya terkekeh.
“Bukan geer, tapi emang begitu kenyataannya. Kau tidak mungkin ‘kan rela kehilanganku,” ucap Edwin.
Kalala menggeleng-gelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum mesem. “Ya udah, kalau gitu biar aku aja yang hilang dari hidupmu,” ucap Kalala bercanda.
Sementara Jackson lelaki itu kini tengah uring-uringan saat diirnya terjebak di lampu merah. Kedua matanya masih mengawasi ke arah lampu merah yang menunjukkan angka 15 detik menuju lampu hijau.
“Aish! Kalau begini aku bisa terlambat,” ucapnya, tidak bisa berupaya selain menunggu lampu merah itu berubah ke hijau.
Ingin rasanya ia menerobos rambu lalu lintas ini, akan tetapi itu tidak memungkinkan, selian dirinya bisa celaka, hal itu juga bisa mencelakakan orang lain.
Dan setelah kurang lebih satu menit menunggu akhirnya ia pun bisa melajukan kembali mobilnya untuk mengejar Kalala dan Edwin.
Namun, sepanjang perjalanan menuju bandara, ia sama sekali tidak bisa menemukan jejak mobil yang tadi ditumpangi oleh Kalala dan Edwin.
Setelah sampai, ia pun buru-buru pergi ke terminal keberangkatan di bandara. Ia juga menanyakan ke bagian staff check in, untuk jadwal keberangkatan menuju surabaya.
Akan tetapi, sialnya, Jackson tidak tahu Kalala menumpangi pesawat apa. Ia juga bingung. Lalu Jackson pun mencoba menelepon Kalala, tapi tidak terhubung.
“Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi.” Begitulah jawaban dari operator saat ia hendak menelepon nomor Kalala berulang kali.
__ADS_1
“Argh! Ya Tuhan, bagaimana ini? Kalau aku bawa pulang lagi, nanti ayah bisa marah lagi,” gumamnya dalam hati begitu bingung.
“Masa iya aku harus menyusulnya ke Surabaya,” gumam Jackson sambil berpikir keras.
Tapi ia semakin bingung, karena hari besok sampai lusa ia harus menyelesaikan pekerjaannya bersama Haru—sekretarisnya. Hingga pada akhirnya, setelah satu jam berdiam di kursi tunggu, ia pun memilih untuk pulang saja, berhubung jam sudah menunjukkan pukul 00.00 dini hari.
***
Tepat pukul 01.00 dini hari, Shira, Akash, Edwin, Kalala dan Tessa, kini mereka sudah sampai di sebuah pulau terpencil yang tidak lain adalah pulau rahasia milik Akash.
Istana kecil yang Akash bangun sebegai hunian sementara mereka, tampak berdiri begitu kokoh dan mewah, hampir sama dengan rumah Akash yang ada di Jakarta, hanya saja yang ini lebih luas dan terdapat beberapa bangunan lainnya di sekeliling rumah.
“Wah ... luas banget, Shir,” ucap Kalala menengadahkan kepalanya melihat ke atas, kanan dan ke kiri.
“Iya benar, aku kira seperti villa biasa, ternyata ini jauh diluar ekspetasiku,” ucap ibu hamil satu ini.
“Gimana, kamu suka ‘kan Sayang?” tanya Akash merangkul Shira dengan lembut.
Shira menoleh sambil tersenyum mengangguk. “Hm, suka sekali, Sayang. Kalau seperti ini sih, aku juga bisa betah, asal tiggalnya bareng kamu aja,” jawabnya, membuat bibir Akash melengkung, menciptakan sebuah senyuman manis yang menyejukkan pandangan.
Akash mengecup pelan kening Shira. Lalu ia menoleh ke arah Ibunya yang masih sibuk mengamati sekeliling rumah.
“Gimana, Bu, menurut Ibu ini bagus gak?”
Tessa mengangguk takjub. “Bagus. Bahkan ini lebih luas dari rumah kamu yang di Jakarta. Ibu suka,” jawab Tessa.
Akash begitu senang mendengarnya, ia pun menarik nafas lalu mengembuskannya dengan pelan. “Syukurlah kalau kamu dan Ibu suka, aku senang mendengarnya. Dan semoga, dengan kita tinggal di sini, kita akan aman dari jangakauan para mafia itu,” ucap Akash.
“Tapi, Sayang, bagaimana kalau ada yang tahu soal keberadaan kita di sini?” tanya Shira sedikit khawatir.
“Tenang saja, aku sudah menyiapkan tempat rahasia lainnya di tempat ini, mereka tidak akan sampai bisa menemukan kita,” jawab Akash.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....