Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Soup Jamur Mematikan


__ADS_3

Satu minggu sudah, Akash dan Shira berada di pulau rahasia itu. Meski kehidupan mereka benar-benar terasa berbeda 180 derajat dari sebelumnya, akan tetapi, dengan seperti ini, Shira merasa kalau Akash jauh jadi lebih dekat dengannya, selain itu mereka juga lebih banyak menghabiskan waktu bersama, dan Akash sering sekali memanjakan Shira dengan mengikuti keinginan istrinya itu dengan dalih, ngidam.


Contohnya seperti pagi ini, di saat Tessa dan Kalala tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi dengan menu sederhana yaitu cheese pastel dan juga macaroni pasta barbaqur, Shira malah meminta soup jamur, dan ia ingin Akash yang membuatnya.


Akash sebenarnya sangat anti bahkan tidak tahu soal memasak. Dan baru kali ini istrinya itu memberikannya tantangan yang cukup membuatnya harus berpikir lebih keras.


“Shira, biar aku saja yang buat, kasihan suamimu, dia ‘kan enggak bisa masak,” ucap Kalala membujuk.


“Enggak, aku pengen soup jamur buatan suamiku, lagi pula soup jamur kan ada yang instan, tinggal dia masak sekaligus campur sedikit bumbu saja, pasti jadi kok,” jawabnya pada Kalala.


Kalala melirik ke arah Tessa yang sedang sibuk mengaduk saus pasta di atas panci. Wanita setengah baya itu, mengangguk memberi kode kepada Kalala agar dia membiarkan Shira melakukan keinginannya.


Kalala mendengus pelan. “Ya sudah, kalau begitu aku dan Nyonya Tessa sarapan duluan ya,” ucap Kalala.


Shira mengangguk sigap, mengiyakan.


Tidak lama kemudian, Akash keluar dari kamar mandi. Ia memandang ke arah Shira dan Kalala yang tengah berdiam di dekat meja bar.


“Kalian sedang apa? Kenapa belum sarapan?” tanya Akash memandang mereka dengan bingung.


Kalala terdiam, sementara Shira ia sudah mengembangkan senyuman lebarnya, menampilkan deretan giginya yang rapi dan putih.


Akash menatapnya ragu. Ia tahu, kalau senyuman itu sudah terlukis di wajah istrinya, sudah di pastikan bahwa istrinya itu tengah menginginkan sesuatu.


“Apa?” tanya Akash pasrah.


Shira langsung bergelayut manja di lengan suaminya itu.


“Emh, Sayang, boleh buatin aku soup jamur enggak?” pinta Shira dengan manja.


“Soup jamur?” Akash mengerutkan dahinya, merasa bingung. “Tapi aku ‘kan enggak bisa masak.”


Shira langsung mencebikkan bibirnya dengan kesal. “Ah... jangan nolak, lagian bikin soup jamur kan mudah, kamu pasti bisa kok, Sayang .... ya, buatin ya ....” Pintanya memasang wajah manja dan menggemaskan.


Akash membuang nafasnya pasrah. “Ya sudah, tapi kamu juga kasih tahu aku caranya ya,” ucap Akash. Shira mengangguk penuh semangat.


“Yeay! Tuh ‘kan, apa kataku juga, suamiku pasti akan menuruti keinginanku,” ucap Shira kepada Kalala, yang tadi sempat melarangnya.


Kalala mengangguk bete. “Ya ya ya, terserah Nyonya Shira saja,” jawabnya menggelengkan kepala.


“Ya sudah, kalau begitu Ibu dan Kalala sarapan duluan ya,” pamit Tessa begitu ia sudah selesai membuat saus pastanya.


Shira dan Akash mengangguk membolehkan.


“Tuh, ‘kan, Nyonya, makin hari Shira permintaannya makin aneh,” ucap Kalala.


“Ya namanya juga orang hamil. Selagi permintaannya masih bisa dituruti dan tidak membahayakan, tidak apa-apa. Nanti juga kalau kamu sudah menikah dan hamil pasti bakalan ngidam yang aneh-aneh, Kal,” ucap Tessa begitu mereka berdua mendudukan tubuhnya di atas kursi meja makan.


“Ya tapi, Nyonya kemarin aja, masa Tuan Akash di dandani kayak barbie, mana rambutnya diiket dua lagi,” ucap Kalala, mengingat permintaan Shira kemarin untuk mendandani suaminya itu dengan gaya barbie, tapi bukannya gaya barbie yang terlihat malah lebih seperti ke banci.


Bahkan di hari sebelumnya pun Shira juga pernah bermain mewarnai kuku Akash dengan kutek warna pink, ungu, kuning dan hijau. Jari-jari suaminya itu sudah seperti taman anak-anak saja, penuh dengan warna mencolok dan menyala.


“Iya enggak apa-apa, lagian itu bisa jadi hiburan buat dia, bair Shira enggak stress.”

__ADS_1


“Oh ya, kalau Nyonya dulu pernah enggak ngidam yang aneh-aneh?” tanya Kalala tiba-tiba.


Tessa yang tengah menguyah macaroni pasta miliknya ia berpikir sejenak, sambil sedikit tersenyum demi mengingat kejadian waktu dulu.


“Pernah, dan itu benar-benar moment yang paling memalukan,” ucap Tessa terkekeh lalu mengambil air minum dan meneguknya.


“Memangnya gimana?”


“Saya pernah menyuruh suami saya berdandan jadi badut sirkus, dan saat suami saya selesai memakai semua perlengkapannya, tiba-tiba ibu dan bapak saya datang bersama kerabat yang lainnya, karena memang waktu itu adalah hari ulang tahun saya. Dan semua orang yang melihat penampilan suami saya mereka tertawa, karena mereka baru pertam kali melihat badut berwajah sangar,” jawab Tessa sambil tertawa serasa digelitik.


Kalala yang ikut membayangakan, ia pun jadi tertawa, karena Kalala merasa akan betapa sangat lucunya Tuan Baker jika Tuan Baker yang berwajah sangar itu berdandan layaknya badut dengan hidung berbola merah pipi berblush on putih, serta perut buncit seperti ibu hamil, apalagi tone kulit tuan Baker cukup gelap, belum lagi postur tubuhnya yang teramat tinggi.


Kini kedua wanita itu tergelak bersama, membayangkan wajah lucu dari Tuan Baker.


“Nanti kalau kamu hamil, jangan ngidam yang aneh-aneh, kasihan Edwin, dia hampir sama seperti suami saya, orangnya kaku dan tidak tahu caranya melucu,” ucap Tessa.


“Hehe, iya, Nyonya,” jawab Kalala yang tiba-tiba membuat dirinya membayangkan bagaimana kalau ia sudah berumah tangga dengan Edwin nanti. Kalala pun jadi senyum-senyum sendiri, merasa malu membayangkannya.


Sementara itu, Akash dan Shira yang sejak tadi  sibuk membuat soup di dapur, mereka tampaknya sesekali bertengkar, karena Akash yang benar-benar tidak tahu apa-apa soal perabotan dapur. Di suruh Shira mengambil panci, malah ngambil wajan. Di suruh mengambil sepatula, malah mengambil pencapit gorengan. Bahkan saat Shira menyuruh untuk menuangkan merica, Akash malah menuangkan bubuk ketumbar. Entah akan jadi rasa apa, soup jamur buatan suaminya itu.


“Tara .... selesai juga, fyuh!” Akash menyimpan semangkuk soup jamur itu di dekat kompor. Lalu ia melepaskan celemek yang menempel di tubuhnya.


“Yeay ... makasih, Sayangku, ayo, kita makan di depan sana, sama Ibu sama Kalala,” ajaknya. Akash pun mengangguk, lalu menyimpan semangkuk soup jamur itu di atas nampan dan membawanya ke ruang makan.


Mereka pun duduk di sana saling bersampingan. Soup jamur yang cukup banyak dan kental itu masih mengepulkan uap panasnya yang menguap ke udara, aroma dari soup tersebut benar-benar begitu menggugah selera. Sepertinya akan sangat nikmat meski tadi ada beberapa kesalahan saat Akash menuangkan bumbu ke dalam soup itu.


“Tunggu dingin dulu, Sayang, jangan ditiup seperti itu, tidak baik,” ucap Akash, saat Shira menyendokkan soup jamur tersebut sambil meniup-niupnya menggunakan mulut.


“Nih.” Kalala menyodorkan kipas angin portable, yang berukuran sekepal tangan.


Dan di rasa sudah sedikit hangat, ia pun langsung melahapnya. Dan hap, pada suapan pertama, kedua mata Shira langsung membelalak. Sementara Akash, lelaki itu tengah menunggu Shira menelannya, berharap kalau istrinya itu akan suka dengan masakannya.


“Gimana?” tanya Akash, cengo.


Shira menoleh. Lalu sebelah jempolnya mengacung ke atas. Dan saat ia menelankan, Shira langsung bersuara. “Benar-benar enak!” pekiknya begitu senang,, langsung melahapnya lagi.


Akash sedikit terkejut, tapi ia senang melihat istrinya itu begitu lahap memakan masakan buatannya.


“Benarkah? Apa seenak itu?” tanya Akash.


Shira mengangguk semangat, dengan mulut yang dipenuhi oleh soup.


“Iya, kamu harus mencobanya, Sayang.” Shira menyendokan satu sendok soup jamur ke dalam mulut Akash.


Namun, saat Akash menelannya, tiba-tiba kedua mata Akash langsung berair, tampak sekali kilauan genanangannya.


“Enak apanya, lidahku bahkan jadi mati rasa gara-gara soup asin ini,” batin Akash. Langsung mengambil air minum dan meneguknya.


“Enak ‘kan?” tanya Shira.


Akash hanya mengangguk sambil tersenyum paksa. “Iya, enak,” jawabnya, “Menurutmu,” lanjutnya pelan tidak terdengar.


“Ayo, Sayang lagi.” Shira menyodorkan satu sendok soup itu ke mulut Akash.

__ADS_1


“Tidak, Sayang, kamu makan saja semuanya. Aku ‘kan tadi udah nyoba,” tolaknya secara halus.


Tessa dan Kalala yang paham akan tolakan dari Akash, mereka hanya salin tersenyum sambil memandang satu sama lain.


“Haha, pasti soup itu rasanya aneh,” batin Kalala.


“Iya enggak apa-apa, Sayang, kan kita bikin berdua, jadi habisinnya juga harus berdua,” ucapnya, langsung membuat kedua mata Akash memeblalak terkejut.


"Waduh, gawat ini, kalau aku memakannya lagi, bisa-bisa aku keracunan karena masakanku sendiri," gumamnya dalam hati, begitu bingung.


Namun, tiba-tiba sekilas ide telintas di benaknya. “Ah, iya aku lupa mematikan kompor. Kamu lanjutkan makannya ya, Sayang, aku mau ke dapur dulu,” ucapnya langsung melarikan diri ke dapur.


Sesendok soup jamur itu, akhirnya ia lahap sendiri. “Mematikan kompor? Bukannya tadi udah ya?” gumamnya bertanya pada diri sendiri.


Lalu, Shira pun melirik ke arah Tessa dan Kalala yang tengah cekikikan pelan di sampingnya.


“Oh ya, Bu, Kal, kalian mau nyoba soup buatan Akash?” tawarnya pada mereka.


Kalala dan Tessa yang tengah cekikikan itu langsung diam, memandang satu sama lain, lalu menolak dengan kompak.


“Tidak perlu,” ucap mereka bersamaan.


“Loh kenapa? Ini enak loh.”


“Ibu udah kenyang,” ucap Tessa tersenyum kaku.


“I-iya, Shir, aku juga udah kenyang,” timpal Kalala.


“Sesendok aja, biar kalian tahu, kalau suami aku jago masak, ayo, ini kalian harus cobain pokoknya,” ucapnya memaksa.


Kalala yang memang berada dekat dengan Shira, akhirnya ia pun menjadi korban dari percobaan soup tersebut. Dan begitu soup itu masuk ke dalam mulutnya, Kalala langsung menggerakkan badannya secara refleks seperti cacing kepanasan, dengan matanya yang memejam dan sekuat mungkin ia harus menelannya.


“Kamu kenapa, Kal?”


Kalala membuka matanya yang sedikit berair akibat menahan rasa asin yang benar-benar mematikan rasa lidahnya. “Tidak apa-apa, a-aku ingin pipis,” ucapnya langsung berlari ke taman belakang di mana toilet berada.


Dan saat Shira melirik ke arah Tessa, wanita setengah baya itu langsung terbatuk-batuk, ia pura-pura batuk agar tidak menyantap soup yang pasti tidak enak itu.


“Bu, Ibu kenapa?” tanya Shira, khawatir.


“Tidak apa-apa, tenggorokan Ibu gatal, Ibu harus ke kamar mengambil obat,” jawab Tessa beralasan. Masih sambil ter-uhuk-uhuk, lalu bergegas pergi ke kamarnya.


“Huft untung saja, aku tidak kehabisan ide,” ucap Tessa begitu ia menutup pintu kamarnya.


Sementara Shira kini wanita itu duduk sendirian di meja makan, masih asyik menyantap soup jamur asin buatan suami tercinta.


“Emm... benar-benar enak. Kapan-kapan, aku akan meminta suamiku membuatkan makanan yang lainnya ah,” ucapnya saat ia selesai menghabiskan satu mangkuk soup jamur asin tersebut.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2