
Mentari pagi kembali menyapa dan membuai wajah Jackson dengan hangat cahayanya. Lelaki itu terbangun dari tidurnya, lalu bergegas masuk ke kamar mandinya untuk membersihkan diri. Setelah selesai ia pun bersiap-siap dan turun menuju meja makan, tidak lupa ponsel yang sudah dicharge full ia bawa di dalam saku celananya. Berjaga-jaga, jika Edwin tiba-tiba menghubunginya.
Suasana pagi ini, tampak sedikit berbeda, karena terlihat Asten yang berpenampilan sangat berbeda dari biasanya.
“Bu, bajunya heboh banget, kayak mau ke kondangan,” celetuk Jackson saat ia baru saja mendudukan tubuhnya di atas kursi meja makan.
“Iya, hari ini Ibu mau keluar sama teman-teman, Ibu. Berhubung sudah lama sekali Ibu tidak ikut pertemuan bulanan bareng mereka,” jawab Asten begitu elegant.
Jackson hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tidak tahu niat asli dibalik dandanan Ibunya tersebut. Sementara Baker yang duduk di sampingnya, ia sebenarnya sudah sangat curiga, tapi jika dirinya melarang, tentu Asten akan berbalik curiga padanya.
Setelah makan pagi selesai, dan saat pelayan tengah menyiapkan buah potong sebagai makanan penutup untuk mereka. Tiba-tiba, ponsel milik Jackson membunyikan suara notif pesan masuk. Membuat lelaki itu buru-buru merogoh saku celananya dan membuka ponselnya dengan posisi ponsel berada di bawah meja makan.
Bibirnya tampak melengkung, menciptakan sebuah senyuman manis di wajahnya.
“Ayah, Ibu, aku akan pergi dulu, ada hal yang harus aku lakukan di luar,” ucap Jackson, begitu ia selesai membaca pesan di ponselnya.
“Pergi ke mana, Jackson?” tanya Asten, sedikit panik, takut kalau anaknya benar akan menemui sekretaris Edwin.
“Emh, ke sesuatu tempat. Kenapa memangnya, Bu?”
Asten sedikit kebingungan, tampaknya ia tengah mencari alasan agar dirinya bisa ikut dengan anaknya tersebut.
“Bolehkah, Ibu ikut? Ibu juga takut kesiangan, nanti teman-teman Ibu sudah menunggu lagi di sana,” ucap Asten.
Baker yang paham akan maksud dari istrinya itu, ia pun ikut bersuara. “Asten, lebih baik kau berangkat dengan sopir saja. Kalau Jackson harus mengantarmu terlebih dahulu, nanti urusannya jadi terhambat.”
“T-tapi, Suamiku—”
“Sudah, kau berangkat dengan sopir saja. Kita punya sopir, kenapa masih mengandalkan Jackson untuk pergi mengantarmu. Tujuanmu dengan Jackson saja pasti sudah berbeda,” lanjut Baker, memotong ucapan istrinya.
Asten mencebikkan bibirnya sedikit. “Ya sudah, aku akan pergi dengan sopir saja!” cetus Asten meringsutkan wajahnya.
“Ya sudah, kalau begitu aku pamit ya, Bu, Yah,” ucap Jackson lalu pergi meninggalkan ruang makan.
Asten memutar kedua bola matanya, mendelik dengan kesal karena suaminya yang menggagalkan rencananya. “Dasar! Suamiku ini selalu saja ikut campur dan menggagalkan rencanaku!” batinnya menggerutu kesal.
Lalu setelah itu Asten pun pamit keluar dan memanggil sopir untuk mengantarnya pergi.
Kini dirinya sudah ada di dalam mobil bersama Pak sopir.
“Pak, tolong ikuti mobil Jacskon ya,” ucap Asten. Pak sopir mengangguk mengiyakan.
“Baik, Nyonya.”
Setelah melaju kurang lebih sepuluh menit, akhirnya Asten dapat melihat mobil anaknya yang jauh sepuluh meter ada di depannya.
“Pak, ikutinya pelan-pelan saja, jangan terlalu dekat-dekat,” ucap Asten, masih memantau ke mana arah pergi mobil anaknya itu.
Semakin lama, semakin melaju kencang, Asten pun kembali menyuruh sopirnya itu untuk terus mengikuti mobil Jackson.
__ADS_1
Dan kini, mobil Jackson pun melaju ke sebuah hotel. Jackson tampak turun dari mobilnya, lalu masuk ke dalam lobby.
Asten pun ikut turun dari mobilnya. “Tolong tunggu sebentar ya,” ucap Asten kepada Pak sopir.
Asten melenggankan kakinya memasuki area lobby. Mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang. Di lihatnya, lift yang baru saja naik menuju lantai empat.
“Dia pasti ada di lantai empat,” ucap Asten, langsung pergi menuju lift yang terbuka di sebelah lift yang tengah naik.
Ia pun masuk ke dalam lift kosong tersebut, menekan tombol f4. Dan setelah beberapa saat, pintu lift pun terbuka, lalu Asten pun segera keluar dari lift tersebut. Dan benar saja, Sekilas bayangan Jackson terlihat memasuki sebuah kamar yang ada di ujung lorong sana.
Asten kebingungan, antara mengikuti Jackson sampai ke depan pintu tersebut, tertap berdiam di tempat atau mungkin mencari tempat persembunyian, ia tidak tahu.
“Baiklah terima kasih, maaf sudah merepotkanmu di hari libur,” ucap Jackson, saat ia menerima sebuah bingkisan berwarna merah dari Haru—skretarisnya.
“Iya, Tuan tidak apa-apa, senang rasanya bisa membantu. Terima kasih juga untuk bonusnya, Tuan,” balas Haru tersenyum senang, karena semalam ia baru mendapatkan transferan yang cukup besar dari Jackson, bonus karena sudah membantu Jackson memesankan sebuah hadiah kecil untuk seorang wanita.
“Hm, baiklah, kalau begitu selamat menikmati hari liburmu,” ucap Jackson, Haru mengangguk mengiyakan.
“Kalau begitu, aku pamit pulang.” Haru kembali mengangguk sopan, lalu ia membukakan pintu kamar hotelnya untuk Tuannya tersebut.
Namun, hal mengejutkan membuat kedua mata Jackson langsung membeliak sempurna, saat ia melihat sekelebat bayangan Ibunya di balik pintu.
“Loh, Ibu!” pekiknya, saat wanita bergaun hitam itu tiba-tiba pergi menjauh dari pintu kamar tersebut.
Jackson langsung keluar. “Ibu!” panggilnya lagi.
Asten yang tengah berjalan rusuh langsung menghentikan langkahnya saat dirinya mendengar panggilan dari anaknya yang ada di belakang. “Sial! Ketahuan aku!” batinnya memejamkan mata, sambil mendesis pelan menggigit bibir bawahnya.
“Ibu sedang apa di sini?” tanya Jackson curiga, sementara Haru, lelaki itu masih berdiri di depan pintu kamar hotelnya yang terbuka.
Asten sejenak melirik ke arah Haru, karena merasa tidak enak diperhatikan seperti itu oleh sekretaris anaknya tersebut. Jackson kemudian menoleh, lalu memberi kode kepada Haru, agar dia masuk kembali ke kamarnya. Haru yang paham, ia pun mengangguk sambil meminta maaf, lalu masuk kembali ke kamarnya.
“Ibu kok bisa ada di sini?” tanya Jackson, karena sejak beberapa detik ini, Ibunya masih diam terpaku seperti tengah memikirakan sesuatu.
“Hah? I-iya, Ibu kesini ingin menemui teman Ibu yang minta dijemput, tapi ternyata Ibu salah lantai, teman Ibu ada di lantai tujuh bukan di lantai empat,” jawabnya gugup.
“Hm, begitu ya. Lalu, sekarang Ibu mau ke mana?” tanya Jackson, sedikit curiga.
“Ibu akan pergi ke lantai tujuh. K-kamu sendiri, di sini sedang apa? Bukankah kamu bilang tadi kamu mau pergi karena ada sesuatu yang harus kamu kerjakan?”
Jackson menyengir malu. “Hehe, iya, Bu. Aku ke sini ingin mengambil ini,” jawabnya, sambil menunjukkan paper bag kecil berwarna merah tua yang dipegangnya.
“Apa itu?”
“Ini hadiah.”
“Hadiah? Untuk siapa?”
Jackson masih malu-malu untuk mengakuinya, tapi entah kenapa saat semalam Baker mengabari kalau ia bisa bertemu dengan Edwin, ia jadi teringat akan Kalala, dan ingin memberikan kado khusus untuk wanita itu. Karena dulu, Kalala pernah menceritakan suatu hal yang ingin sekali dibeli olehnya, dan hal yang diinginkan Kalala itu, sekarang ada di dalam paper bag yang dibawa oleh Jackson.
__ADS_1
“Emh, untuk Kalala, Bu.”
“Kalala? ... Bukankah Kalala itu wanita yang sering mengikuti Shira dan Akash?” tanyanya, dengan nada bicara yang terdengar sedikit kesal.
Jackson mengangguk mengiyakan. “Kenapa memangnya, Bu?”
“Apa hubungan kalian memang sedekat itu? Sampai-sampai ayahmu juga menginginkan wanita itu untuk menjadi menantu di keluarga kita?” tanyanya tidak santai.
“Hah? Maksud Ibu?” tanya Jackson kurang paham.
“Dengarkan Ibu, Jackson! .... Kalala itu bukan wanita yang baik! Dia itu pengacau! Sejak Ibu bertemu dengannya di acara makan malam keluarga kita waktu itu, dari situ Ibu sudah tidak menyukainya. Dia sepertinya penghalang. Apalagi sikapnya yang sok menjadi pahlawan bagi Shira! Ibu benar-benar tidak menyukainya.”
Jackson langsung mengernyitkan dahinya, merasa heran kenapa Ibunya tiba-tiba berkata panjang lebar seperti itu mengenai Kalala.
“Bagaimana bisa hanya dalam satu pertemuan, Ibu langsung menyimpulkan kalau dia itu bukan wanita yang baik?” tanya Jackson.
“Semuanya sudah terlihat, Jackson. Feelling orang tua itu selalu benar!”
“Kalau feelling orang tua selalu benar, lalu bagaimana dengan feelling ayah? Apakah penilaian ayah kepada Kalala juga benar?”
Asten terdiam menatap wajah anaknya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
“Bukankah Ibu selalu menginginkan aku lebih unggul dari Akash? Dan bukankah Ibu sudah tahu hal apa saja yang akan aku dapatkan jika aku berhasil menikahi gadis itu?!”
Asten mendengus pelan, melipat kedua tangannya di dada, merasa bingung harus menjawab apa atas pertanyaan yang diajukan oleh anaknya tersebut.
“Ya tapi tetap saja, Ibu tidak menyukainya. Kau lebih baik mengencani gadis lain saja yang setara dan sepadan dengan keluarga kita. Asal jangan gadis pengacau itu!”
Karena sejak saat pertemuan pertama dirinya dan Kalala saat itu, Asten sudah tidak menyukai Kalala, karena akibat Kalala pula, rencana yang sudah ia susun jadi berantakan, bahkan malah ankanya yang menjadi korban. Dan karena hal itu lah, Asten benar-benar langsung membenci Kalala.
Jackson menarik nafasnya dalam, ia tidak ingin berdebat dengan Ibunya di pagi hari seperti ini, apalagi ini di tempat umum. Ia juga tidak ingin suara seruan Ibunya terdengar oleh para tamu hotel yang tengah berada di dalam kamar.
“Baiklah, aku akan mengikuti perintah Ibu, jika Kalala menolak pemberianku ini,” ucapnya sedikit kesal.
“Bagusalah kalau begitu. Jangan hanya berbicara saja, tapi nanti kau harus menepati janjimu itu, Jackson!”
“Tenang saja, Bu. Aku seorang lelaki yang selalu menepati janji, dan tidak akan pernah ingkar,” jawabnya. Lalu Jackson pun pergi dari sana meninggalkan Ibunya.
.
.
.
Bersambung....
Maaf baru update lagi, baru sempat nulis.
Terima kasih juga buat teman-teman yang sudah ikut mendoakan untuk kesembuhan Umi dan keponakan aku, alhamdulillah keadaannya semakin membaik. Insyaallah, mulai hari ini Dela up rutin lagi. Udah enggak sabar pengen namatin ini cerita haha.
__ADS_1
*Jangan lupa ramaikan like dan kolom komentarnya ya. Terima kasih. lope lope sejagat raya buat para pembacaku semua.