
Pagi ini, Akash tengah pergi ke sebuah pulau bersama Edwin dan juga beberapa orang untuk mengontrol sebuah tempat rahasia, tempat yang akan Akash jadikan sebagai tempat pelarian mereka nanti.
Di pulau ini terdapat sebuah rumah mewah bak villa megah yang cukup luas dan begitu mempesona. Gedung tiga tingkat itu, berlapis cat putih dan hijau gold. Puluhan pohon kelapa mengelilingi area rumah tersebut, membuat dinding pembatas dari rumah tersebut tertutup sebagian.
Tempatnya memang sangat indah dan memanjakan mata, namun suasananya sedikit agak menyeramkan jika hanya ditinggali sendirian.
Meski begitu, itu tidak akan menjadi masalah bagi Akash. Ia tentunya tahu, cara membuat tempat ini menjadi tempat hangat dan ramai.
Kini mereka berlima menginjakkan kaki ke dalam rumah megah tersebut. Area teras rumah yang dipenuhi oleh dedaunan kering yang berserakan. Daun gugur yang tertiup oleh angin. Tempat tersebut memang sudah dibersihkan, akan tetapi itu seminggu yang lalu. Dan saat kunjungan Akash saat ini, tempatnya terlihat sedikit kotor.
Edwin membuka pintu rumah tersebut lebar-lebar. Kedua mata Akash cukup takjub melihat ke dalam rumah yang begitu jauh dari perkiraannya. Rumah yang ternyata di dalamnya begitu tampil dengan penuh kemewahan.
“Kau memang tahu seleraku, Edwin,” puji Akash tersenyum, dengan kedua netranya yang sibuk mengitari seisi rumah.
Meski area depan tampak begitu kotor karena dedaunan, tetapi di dalam rumah benar-benar sangat bersih dan terasa begitu sejuk.
Rumah ini dikelilingi oleh banyak jendela dan kaca. Bahkan jika kita menengok ke arah kanan, terdapat pintu menuju kolam renang. Kolam renang yang airnya begitu bersih dan biru mengenclang.
“Kau yakin, tidak pernah ada orang asing yang menjamah pulau ini?” tanya Akash, saat ia memandangi air di kolam renang tersebut.
“Sesuai informasi yang saya dapat, tidak ada, kecuali keluarga dari pemilik villa ini, Tuan.”
“Berapa orang?”
“Hanya sang pemilik berserta istrinya, Tuan,” jawab Edwin, yang tahu betul seluk beluk tempat ini.
__ADS_1
“Anak-anak sang pemilik?”
“Pasangan itu tidak mempunyai anak, Tuan.”
Akash mengangguk paham. Ia kemudian berbalik, menghadap ke pada Edwin dan tiga orang penting yang sudah membantunya.
“Baiklah, kalau begitu, aku pilih tempat ini. Dan kalian bertiga, tinggallah sementara di rumah ini, sebelum aku benar-benar pindah ke sini,” ucap Akash kepada tiga orang lelaki berbadan besar itu.
“Siap, Tuan.” Mereka berucap sigap secara bersamaan.
Akash mendongak, menatap lurus ke arah daun kelapa yang melambai-lambai tertiup angin. Bibirnya tampak menyingging, kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana.
Pikirannya tengah melanglang buana, memikirkan kehidupan bahagia keluarga kecilnya jika mereka tinggal di tempat ini.
***
“Kau mau ke mana Jackson?!” seru Asten, saat anak sulungnya itu hendak pergi di jadwal makan malam.
Jackson tidak menjawab, ia masih begitu kesal akibat kejadian kemarin malam. Meski dirinya sedikit merasa bersalah kepada Ibunya itu, tapi ia juga terlalu kukuh akan pendapat dan pemikirannya sendiri.
“Jackson!” teriak Asten begitu kencang penuh emosi.
“Kalau kau melangkah lagi, Ibu tidak akan pernah merestuimu dengan gadis incaranmu itu.”
Jackson langsung menghentikan langkahnya, lalu menoleh tajam ke arah Asten.
__ADS_1
“Terserah Ibu mau mengancamku seperti apa, aku sudah tidak peduli! Lagi pula, apa pun yang aku dapatkan, Ibu tidak pernah bangga kepadaku!” serunya begitu keras.
“Ada apa ini?!” gelegar suara Baker mengejutkan keduanya.
“Ayah!” Jackson menoleh ke arah Ayahnya yang muncul dari balik pintu bersama kedua bodyguardnya.
“Su-suamiku,” gumam Asten begitu terkejut.
“Apa yang kau katakan, Asten! Siapa yang tidak engkau restui?” tanya Baker mendekat ke arah Jackson dan Asten.
Asten terdiam, kakinya seolah terpaku di dalam bumi. Ia tidak bisa bergerak karena rasa takutnya kepada suaminya itu yang begitu besar.
“Siapa yang tidak kau restui hah?!” seru Baker, begitu emosi, karena baru kali ini Baker melihat Asten berteriak kencang kepada anak keduanya itu.
.
.
.
Bersambung....
Maaf ya updatenya dikit, soalnya Dela lagi pindahan rumah, jadi belum bisa lanjutin cerita yang ini, sementara Dela update tiap hari novel Noda Pengantin dan Love’s Mr. Arrogant.
Sebentar lagi novel ini akan mencapai puncak masalah, jadi Dela harus hati-hati banget nulis ceritanya biar enggak kepanjangan. Makanya uplaod seadanya dulu ya. Mohon dimengerti ya mentemen. Terima kasih.
__ADS_1