Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Aku Abangnya Aku Harus Menyelamatkannya


__ADS_3

“Bu, aku mohon, izinkan aku, aku janji aku akan kembali sebelum matahari terbit, aku janji, Bu.” Akash memegang lengan Tessa mendekapnya di dadanya.


Air mata Tessa sudah tidak bisa dibendung lagi, wanita itu tidak berdaya. Ia takut, kejadian yang menimpa anaknya dalam beberapa tahun di masa kelam itu, kembali terulang.


Tessa menepiskan lengan Akash, lalu duduk memebalakanginya, karena kedua lututnya yang semakin tremor tidak tenang.


Akash menatap sendu ke arah istrinya. “Shira, tolong yakinkan Ibu, aku akan kembali besok pagi, aku janji ....”


“Tapi, Suamiku, apa yang dikatakan Ibumu itu benar. Bagaimana kalau hal yang tidak diinginkan terjadi padamu?” Shira menatapnya dengan mata yang sudah berembun, bahkan secara perlahan melelehkan air matanya.


Rasa takut dan tidak tega semakin berat menyelimuti hati Akash. “Sayang ... percayalah, aku sudah menyiapkan strategi, tidak mungkin aku mengulangi kesalahan di masa lalu. Kau pasti percaya padaku kan? Tidak mungkin juga aku menghancurkan rencana yang sudah aku buat selama ini. Tapi untuk masalah Jackson kali ini, aku mohon, aku butuh izin kalian demi keselamatanku juga.”


“Bu, aku mohon, izinkan aku Bu, untuk sekali ini saja, Bu,” ucap Akash beralih berlutut di depan ibunya.


Air mata Tessa semakin berderai. Ia tidak bisa memberikan izin begitu saja kepada anak kesayangan satu-satunya itu.


“Bu, di sana ada tante Asten yang sama sedang menunggu kepulangan anaknya. Tolong, Bu, izinkan aku, aku melakukan ini tidak lain karena aku ingin menyelamatkan Jackson. Dia adikku, Bu, bagiamana pun status di antara kami, aku adalah abangnya, aku harus bisa melindunginya. Ayah dan tante Asten juga sangat mengkhawatirkannya, Bu, aku harus menolongnya, Bu.”


“Sudah! Hentikan!” Perasaan Tessa semakin tidak karuan. Shira pun begitu. Kedua hati wanita ini begitu kalut  saat mendengar penuturan menohok yang baru saja diucapkan oleh Akash. Ucapan yang benar-benar sangat menyentuh hati.


“Kau berkata seperti itu, apa kau tidak memikirkan dirimu sendiri, Akash?! Ya Tuha, bagaimana bisa ibu mempunyai anak yang mempunyai hati sebegitu baiknya. Ibu tidak suka dengan kebaikanmu yang seperti ini, Akash.” Tessa menangis sesenggukkan.


“Ibu  juga mengkhawatirkanmu. Lihatlah, di sini yang khawatir padamu bukan hanya ibu tapi Shira! Istrimu, Akash! ... dan juga calon anakmu! Kami semua sangat mengkhawatirkanmu. Kau jangan hanya memikrikan kekhawatiran ayahmu dan si nyonya Asten itu! Apa mereka akan peduli pada keselamatanmu, tidak Akash! Tidak!” teriak Tessa begitu emosi.


“Bu ... aku mohon, izinkan aku. Aku perlu izin dari Ibu demi keselamatanku,” ucap Akash memohon sambil menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut Tessa.


Tiba-tiba, kepala Tessa menimpa dia tas kepala Akash, membuat Akash dan semua orang langsung histeris.


“Bu!” pekik Akash saat Ibunya pingsan tidak sadarkan diri.


***

__ADS_1


Kini Tessa sudah terbaring di kamar, masih belum sadarkan diri.


Kalala terus mencoba untuk membangunkan Tessa, agar wanita setengah baya itu segera sadar dari pingsannya.


Dan setelah beberapa kali percobaan akhirnya Tessa terbangun, dan sudah mendapati Akash yang sudah berpenampilan berbeda dari biasanya.


“Akash ....” Tessa berlirih pelan.


Akash yang tengah berbicara dan menenangkan Shira di kursi sudut kamar, langsung beralih mendekati ibunya.


“Bu, Ibu sudah sadar?” tanya Akash dengan haru.


Melihat anaknya yang sudah siap pergi meninggallkannya, air mata Tessa kembali berjatuhan memabasahi setiap sudut matanya.


“Akash, kau benar-benar akan pergi, Nak?”


Akash mengangguk pelan, sambil memegang lengan Tessa dan menciuminya pelan.


Tessa yang masih dilanda ketakutan, ia tidak punya pilihan lain selain mengizinkan anaknya itu untuk pergi.


“Baiklah, tapi tolong, jaga dirimu, selamatkan dirimu, dan tolong kembali lagi besok pagi,” ucap Tessa lirih.


Akash tersenyum mengangguk. “Baik, Bu, aku akan kembali dengan selamat, secepatnya,” ucapnya.


Lalu setelah menciumi Ibunya, Akash pun beralih mendekati Shira, kembali memeluk dan menenangkannya, meyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik saja dan kembali dengan selamat.


“Aku besok akan kembali bersama Edwin,” ucapnya setelah ia sampai di depan pintu rumah.


“Edwin?” gumam Kalala dalam hati tidak sengaja mendengar ucapan Tuannya itu.


“Apa Edwin akan ikut menyelamatkan Jackson juga?” tanya Shira. Akash mengangguk.

__ADS_1


“Selain Edwin, aku juga akan membawa beberapa pengawalku yang dulu, dan pasukan khusus dari ayah. Jadi kau tenang saja, aku pasti akan baik-baik saja. Aku hanya perlu membawa Jackson keluar dari rumah itu, setelah itu aku akan kembali menemuimu,” ucapnya tersenyum.


“Apa? Edwin akan ikut dalam pertarungan ini?” batin Kalala begitu khawatir. Hatinya jadi semakin gundah, karena selain keselamatan Tuannya yang ia khawatirkan, kini ada nyawa kekasihnya yang semakin membuat dirinya ketakutan.


“Ya Tuhan, jagalah kekasihku, semoga Edwin dan Tuan Akash selamat dan bisa pulang dalam keadaan baik-baik saja,” batinnya berdoa bersungguh-sungguh dalam hati, sambil mengepalkan kedua tangannya di dada.


Shira mengangguk pelan, sambil mengusap sisa-sisa air matanya yang masih berjatuhan. “Baiklah, ingat, kalau semuanya sudah selesai, pulang kembali secepatnya ya,” pinta Shira dengan manja sambil mencebikkan bibirnya.


Akash mengangguk, lalu mengecup singkat bibir Shira. “Iya, Sayang.” Kemudian Akash berjongkok di depan Shira, mengusap pelan perut istrinya yang semakin besar membuncit itu.


“Hallo, jagoan Papa, malam ini Papa pergi dulu ya, kamu jangan nakal di dalam ya. Malam ini, kamu harus bisa nenangin Mamamu ini ya, besok kalau Ayah sudah kembali, Ayah pasti nengok kamu lagi di dalam,” ucap Akash dengan jahil.


“Ih... Sayang!” rengek Shira, Akash terkekeh. Lalu segera berdiri dan kembali memeberikan beberapa kecupan di wajah cantik istrinya itu.


“Baiklah, aku berangkat dulu,” pamitnya segera pergi meninggalkan area rumah tersebut. Karena hellikopter sudah menunggunya di tepi pantai sana.


Dan Akash pun pergi diantar oleh Roy, menuju hellikopternya.


.


.


.


Bersambung....


Jangan lupa like, komen dan votenya ya mentemen... terima kasih. Besok up lagi.


Semoga lancar ga ada halangan atau sakit2 lagi. Kalian juga jaga kesehatan ya mentemen, sekarang lagi musim demam. Jangan lupa selalu pakai masker jika pergi keluar.


Semoga semua pembacaku sehat-sehat. Aku sayang kalian. Haha

__ADS_1


__ADS_2