
Setelah selesai mencuci cd nya yang terkena noda darah, Shira merasa bingung, karena saat ini dirinya tidak mempunyai pembalut.
"Aduh, bagaimana ini? Apa aku meminta bantuan Akash saja gitu ya untuk membelikan pembalut untukku?" gumamnya.
Ia pun beranjak hendak keluar dari kamar mandi. Namun, sebelum ia benar-benar keluar dari kamar mandi, ia mengintip terlebih dahulu ke luar.
Matanya berkeliling mencari keberadaan Akash.
"Akash," panggil Shira, pelan. Namun, tidak ada sahutan dari Akash. Entah di mana lelaki itu berada.
Shira mencebikkan bibirnya, karena sudah tiga kali ia memanggil Akash, tetapi Akash tidak menyahut juga. Terpaksa ia pun keluar dari kamar mandi.
Dilihatnya ke sekeliling ternyata, Akash tidak ada di kamarnya.
"Ke mana dia?" gumamnya kebingungan.
Ia pun menggeledah lemari milik Akash, mencari barang yang diinginkannya. Namun, ia tidak menemukannya sama sekali. "Huh! Lagian bodoh banget sih kamu Shira, mana ada Akash menyimpan pembalut di kamarnya, dia kan cowok!" gerutunya.
Ia semakin merasa tidak nyaman, karena sekarang ia merasakan ada sesuatu yang semakin deras keluar dari kepemilikannya di bawah rok.
Ceklek .... Tiba-tiba, pintu kamar terbuka, terlihat Akash yang baru datang, dan sudah lengkap memakai pakaian tidurnya kembali.
"Shira," panggil Akash, melangkah mendekati.
"Akash."
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanyanya.
Shira menggeleng pelan, sambil mencebikan bibirnya memelas.
"Lalu apa yang terjadi?" tanyanya kembali panik, melihat ekspresi istrinya itu.
"Akash ...." Ia memandang sendu ke arah Akash. Kini Akash sudah berdiri di depannya.
"Iya, kenapa?"
"Akash ... emh, apa kamu bisa menolongku?" tanyanya ragu-ragu.
"Menolong apa?"
Shira tampak enggan meminta hal ini pada Akash, tetapi tidak ada pilihan lain. Jika tidak, yang dibawah pasti akan bocor dan tembus lagi.
Ia semakin resah. "A-anu Akash."
"Iya, kenapa? Apa kamu sakit? Perlu aku telepon dokter untuk memeriksa keadaanmu?" tawar Akash.
"Tidak, Akash. Bukan itu, te-tapi ...." Shira malah menggigit bibir bawahnya menahan malu dan resah.
"Tetapi apa?" tanya Akash bingung.
__ADS_1
Shira mendongak, memelaskan wajahnya menatap Akash. "Akash, bisakah kamu membelikan aku pembalut?" tanya Shira, merendahkan ujung suaranya karena merasa canggung.
"Apa? Pembalut?" tanya Akash dengan suaranya yang lantang.
"Stttt...." Shira langsung menutup bibir Akash dengan telapak tangannya. "Jangan keras-keras!"
"Please, ya Akash, tolong belikan aku pembalut, aku tidak punya soalnya."
Akash menatapnya bingung, ini untuk pertama kalinya ada wanita yang menyuruhnya membelikan pembalut untuknya.
"Ya sudah, ayo," ajak Akash, menarik lengan Shira.
Shira terdiam mematung ditempatnya. "Tidak, Akash. Kamu sendiri yang beli, aku tidak bisa ikut, aku takut nanti bocor dan malah menodai kursi mobilmu," ucap Shira.
Secara perlahan Akash melapaskan genggamannya dengan tangan Shira. "T-tapi, Shira, aku kan lelaki, aku tidak tahu pembalut itu yang seperti apa," ucapnya.
"Ya, nanti di supermarket, kamu tinggal minta tolong sama penjaga tokonya saja, mereka pasti akan membantumu kok," ucapnya. "Ya, Akash, ya aku mohon ...." Wajah Shira kembali memelas, memohon agar Akash mau membelikannya pembalut sendirian.
Akash mengembuskan nafasnya pasrah. "Ya sudah, baiklah. Aku akan pergi sekarang," ucap Akash, kemudian berlalu keluar dari kamar. Sementara Shira, wanita itu kembali masuk ke kamar mandi lagi.
Akash menuruni anak tangga, selagi menuruni anak tangga, tiba-tiba ia mendapat ide. "Ah iya, kenapa aku tidak menyuruh pelayan wanita saja untuk membeli pembalut," ucap Akash. Akan tetapi, saat ia ada di anak tangga terakhir di bawah, ia melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 23.45 tengah malam.
Ia mencebikkan bibirnya. "Tapi, tidak mungkin aku menyuruh mereka keluar selarut ini," batinnya. Hingga pada akhirnya, ia sendirilah yang terpaksa harus keluar untuk membeli pembalu untuk Shira.
Setelah menyetir beberapa menit dari rumahnya, kini ia menghentikan mobilnya di sebuah halaman parkir sebuah minimarket 24 jam.
Ia memasuki minimarket. Terlihat di bagian kasir ada beberapa lelaki yang tengah mengantre membayar belanjaan mereka.
"Permisi," ucap seorang lelaki di belakang Akash.
"Oh, iya." Akash pun memebri jalan kepada lelaki yang membawa keranjang berisi beberapa dus susu.
"Sepertinya, dia petugas di sini," gumam Akash dalam hati. "Apa aku tanya sama dia aja ya?" batinnya.
Akash pun mendekat kepada petugas lelaki yang kini tengah menyusun kotak susu di etalase.
"Permisi," ucap Akash ragu-ragu.
Lelaki itu pun menoleh, "Iya, ada apa ya, Pak?" tanyanya.
"Begini, apa kamu tahu tempat pembalut di rak sebelah mana?" tanya Akash canggung.
"Hah? Pembalut?" tanyanya lagi, dibalas anggukkan polos oleh Akash.
"Oh, ada di sana, mari ikut dengan saya," ucapnya. Lalu mereka berdua pun berjalan menuju rak di mana pembalut berada.
"Itu, Pak."
"Oh iya, makasih ya," ucap Akash, lelaki itu mengangguk lalu kembali ke tempatnnya yang tadi.
__ADS_1
Kini Akash berdiri di depan rak yang dipenuhi oleh pembalut dengan berbagai macam merk dan ukuran. Akash menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Setelah kebingungan mencari rak pembalut, kini Akash dibuat bingung karena entah pembalut yang seperti apa yang harus ia beli. Ia pun merogoh sakunya hendak menelepon Shira, akan tetapi, setelah meraba-raba semua sakunya, ternyata handphonnya tidak ada.
"Ya ampun, kenapa ketinggalan segala lagi!" gumamnya merasa pusing.
"Ah sudahlah, ambil yang ada saja," gerutunya.
Sementara itu, di rumah Shira masih menunggu kedatangan Akash. Ia maasih setia berdiam di dalam kamar mandi menanti kedatangan suaminya tersebut.
"Kenapa lama sekali dia ini," gumam Shira.
Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, akhirnya suara Akash pun terdengar memanggilnya di luar kamar mandi.
Buru-buru, Shira membukakan pintu kamar mandi, dan ternyata suaminya sudah berdiri di depan pintu, menjinjing dua kantung kresek putih besar di tangannya.
Akash mengembangkan senyumannya, sambil menyodorkan dua kresek besar belanjaan yang ada di tangannya, memeberikannya pada Shira.
"Ini," ucapnya.
Shira terpaku, kedua matanya membulat dengan mulutnya yang menganga, melongo melihat belanjaan yang dibeli oleh suaminya itu.
"Akash ...." Ia mendongak sebelum mengambil kantung kresek itu.
"Kenapa kamu membeli sebanyak ini?" tanya Shira, tak percaya.
"Memangnya kenapa? Apa aku salah membeli pembalutnya?" tanya Akash dengan mukanya yang polos tidak berdosa.
Shira menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak Akash, tidak salah. Hanya saja ... kenapa kamu membelinya sebanyak ini?" tanya Shira seolah ingin pingsan.
"Ya memangnya kenapa kalau banyak? Kan ini untuk kamu pakai setiap hari," ucap Akash.
"Ya tapi, tidak perlu sebanyak ini juga!"
"Terus, kalau seperti ini, harus aku apakan?" tanya Akash yang benar-benar tidak tahu sosal pembalut.
Shira mendengus pelan, lalu menunduk menggelengkan kepalanya. "Ya sudah, tidak apa-apa, aku akan mengambil semuanya," ucapnya tersenyum terpaksa mengambil dua kresek besar itu dari tangan Akash. "Terima kasih," ucapnya lalu menutup pintu kamar mandi dengan keras.
Brug ....
Akash cukup terkejut mendengar gebrakan pintu itu, ia pun mengangkat kedua bahunya sejenak, sambil melengkungkan bibirnya ke bawah.
"Hm, sepertinya dia sedang terkana mood pms," ucapnya lalu kembali ke tempat tidurnya.
Sementara itu, kini Shira di kamar mandi tengah bergutat memakai pembalutnya.
"Mentang-mentang lelaki dan orang kaya, dia malah membrong semua pembalutnya, mana semua merk ada lagi!" gumamnya. "Kalau sebanyak ini, bisa-bisa habisnya tahun depan," ucapnya menggeleng pelan sambil berkacak pinggang, menyayangkan kebodohan suaminya.
Bersambung...
__ADS_1