Menikahi Pria Misterius

Menikahi Pria Misterius
Panggilan Khusus


__ADS_3

“Shira, menurutmu, kalau anak kita nanti lahir, bagusnya dia panggil kita apa ya? Dady-Momy, Ayah-Bunda, atau mungkin Papa-Mama. Menurutmu mana yang bagus?” tanya Akash sambil memegang perut Shira, sambil mendekapnya dalam hangat peluk tubuhnya.


Shira mencebik. “Kamu ini, anak belum lahir saja sudah memikirkan nama panggilan. Kita saja yang masih menjalin hubungan enggak punya nama panggilan khusus,” jawabnya.


Karena selama ini, diantara keduanya selalu saja saling memanggil menggunakan nama, Akash dan Shira.


Akash tersenyum malu, karena ia baru sadar selama ini memang sepertinya tidak ada panggilan romantis diantara keduanya. “Iya, ya, kenapa aku tidak kepikiran,” jawabnya bingung sendiri.


“Kau ini! Memangnya tidak sepenting itu ya, sebuah panggilan sayang bagimu?”


“Penting dong, Sayang,” jawabnya tersenyum mesem.


Shira langsung mengerutkan dahinya, lalu menjauhkan tubuhnya dari dekap suaminya itu.


“Kamu panggil aku apa barusan?” tanya Shira, menahan senyumnya.


Akash tersenyum malu. “Emh ... Sayang,” jawabnya begitu menggemaskan.


“Apa, apa? Kurang keras?” goda Shira.


“Sayang....”


“Duh, kenapa telingaku mendadak tuli sih! Lebih keras dong!”


“Sayaaaang.... Sayangku, Cintaku,” jawab Akash sedikit menggelikan.


Shira tertawa keras, terbahak-bahak saat mendengar Akash memanggilnya dengan sebutan ‘Sayangku, Cintaku’ sepertinya kedua panggilan itu membuat telinganya seperti digelitik.


“Kenapa tertawa? Kau tidak menyukainya ya?” tanya Akash heran, memandangi istrinya yang masih tertawa girang sendirian.

__ADS_1


Shira menggeleng pelan, mencoba menghentikan tawanya, lalu dengan reflek seblah tangannya menepuk paha Akash.


“Tidak ... aku menyukainya, sangat-sangat menyukainya. Hanya saja, rasanya masih terasa geli aku mendengarnya,” jawabnya dengan jujur.


“Geli?” Akash menautkan kedua alisnya, lalu tatap matanya pun berubah jadi jahil.


“Kalau geli itu, yang begini.” Tiba-tiba, Akash menggelitik pinggang Shira, membuat tubuh Shira menggelinjang menahan geli yang terasa di tubuhnya.


Gelak tawa diantara keduanya pun memenuhi ruangan TV yang sedari tadi hanya ditinggali oleh mereka berdua, karena Tessa tengah pergi ke kamarnya untuk menelepon dengan teman arisannya.


Tiba-tiba ....


“Ekhem!” Sebuah deheman dari seseorang yang cukup keras menghentikan aktivitas mereka berdua.


Shira dan Akash membenarkan posisi duduknya, lalu menoleh ke arah sumber suara, yang ternyata di sana sudah berdiri Edwin dan Kalala, yang beberapa saat lalu, memperhatian Tuan dan Nyonyanya itu tengah asyik bercanda sambil berpelukan begitu intim.


“Eh, Kalala, kamu udah pulang?” tanya Shira sedikit canggung.


Gadis berpenampilan culun itu pun menyimpan rujak mangga sekaligus dua box sushi di atas meja.


“Wah... rujakku.” Senyum cerah dan ceria tampak di wajah cantik Shira, ibu hami itu segera meraih satu wadah rujak mangga itu dan membukanya dengan senang.


Sementara, Akash, lelaki itu masih memperhatikan raut wajah Edwin yang jauh dari biasanya.


“Edwin, apa kau baik-baik saja?” tanya Akash.


“Iya.” “Tidak.” Jawab Edwin dan Kalala secara bersamaan, menjawab dengan tidak sinkron.


“Iya, saya baik-baik saja, Tuan,” jelas Edwin buru-buru.

__ADS_1


Kalala menoleh sebal. “Tidak, dia sedang tidak baik-baik saja, Tuan,” timpal Kalala.


Membuat Akash dan Shira menatap mereka berdua dengan bingung.


Edwin berdecak kesal, memberi kode agar Kalala diam dan tidak banyak bicara. Namun, pada kenyataannya, Kalala malah memilih untuk bersuara.


“Tuan Edwin tadi muntah, gara-gara saya,” jawab Kalala. “Maafkan saya, Tuan. Sudah membuat sekretaris Anda pucat kelelahan,” lanjut Kalala.


Akash masih tidak mengerti. “Maksud kamu apa?”


“Jadi, Tuan Edwin tadi muntah gara-gara saya ajak naik kora-kora, Tuan. Dia jadi masuk angin,” jawab Kalala.


“Naik kora-kora jadi muntah?” tanya Shira cukup tidak percaya, sambil menahan tawa.


Kalala yang polos mengangguk mengiyakan, membuat Edwin melayangkan lirikan sinis pada wanita sembrono itu.


Karena tadi, sepulang dari restoran jepang, Edwin muntah di pinggir jalan. Mungkin akibat masuk angin gara-gara naik kora-kora yang membuatnya ketakutan sampai wajahnya berubah pucat.


“Kau ini! Selalu saja mencari gara-gara dengan sekretarisku! Ya sudah, kau obati Edwin sekarang juga. Besok dia harus mulai kembali kerja normal!” seru Akash dengan serius.


“Ba-baik, Tuan,” jawab Kalala dengan sigap.


“Ya sudah, ayo ke kamar, aku akan mengerok punggungmu,” ucap Kalala dengan jutek sambil mendorong tubuh Edwin, agar lelaki itu melangkah pergi.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2